Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 11: Arsitektur Besi

Caelen terbangun dengan rasa pening yang menghantam ubun-ubunnya.

Langit-langit ruangan tempatnya berada terbuat dari lempengan baja yang disambung kasar dengan baut-baut raksasa. Lampu minyak yang tergantung di sudut tembok bergoyang pelan, menebarkan cahaya temaram ke atas lantai semen yang lembap. Dia mencoba menggerakkan tangan kanannya.

Bunyi desis hidrolik dan gesekan logam terdengar sangat dekat di telinganya.

Lengan peraknya kini terikat oleh empat sabuk magnetik tebal yang memaksanya menempel pada meja logam di samping tempat tidur.

Dia menarik napas panjang. Udara di sini tidak lagi berbau belerang. Bau oli mesin, uap panas, dan aroma roti gandum memenuhi ruangan tersebut.

Caelen menoleh ke samping. Terdapat sebuah kursi kayu tempat wanita dari tepi tebing tadi duduk sambil mengasah sebilah pisau pendek. Di atas meja di sudut ruangan, buku catatan kakeknya dan lencana perunggu yang retak diletakkan secara terbuka.

"Kau tidur selama empat belas jam," ucap wanita itu tanpa mengalihkan pandangan dari pisaunya. "Suhu tubuhmu sempat naik hingga titik didih air, tapi tangan perak itu berhasil membuang panasnya melalui katup di bahumu."

Caelen mencoba duduk. Sabuk magnetik itu mengeluarkan percikan listrik kecil saat dia berusaha menarik lengannya. "Di mana aku?"

Wanita itu berdiri. Dia berjalan mendekati Caelen, memperlihatkan tato berbentuk sayap patah di lehernya yang tampak lebih jelas di bawah cahaya lampu.

"Selamat datang di Iron Haven. Ini adalah bekas tambang terdalam yang kami ubah menjadi kota pelarian. Di atas sana, ksatria matahari masih mencari mayatmu di sungai air raksa."

Caelen menatap lengan peraknya. Garis-garis hitam di kulitnya telah surut, namun warna perak pada pelindung mekanisnya kini memiliki guratan ungu permanen yang berpendar redup. "Kenapa kau membawaku ke sini?"

"Karena kau membawa kunci yang kami butuhkan untuk membuka gudang senjata di sektor bawah," wanita itu mengambil buku catatan kakek Caelen. Dia membuka halaman yang menunjukkan sketsa pedang tanpa bilah.

"Kakekmu, Master Alaric, bukan sekadar pandai besi. Dia adalah kepala arsitek untuk faksi perlawanan sebelum Dewan Tetua menangkap dan menghapus keberadaannya."

Caelen terdiam. Informasi itu terasa seperti hantaman fisik di dadanya. Dia teringat kembali dokumen yang menyebutnya sebagai subjek pengganti. Rasa sesak mulai naik ke tenggorokannya. Dia menatap wanita di depannya dengan pandangan tajam.

"Siapa namamu?" tanya Caelen.

"Valerie," jawabnya pendek. "Dan aku butuh kau untuk menggerakkan mesin di lantai dasar. Tanpa energi dari besi hitam di tubuhmu, kami tidak bisa mengisi ulang cadangan energi untuk pelindung kota ini. Pasukan Dewan akan menemukan celah masuk dalam hitungan hari jika mesin itu tetap mati."

Valerie menekan tombol di samping meja logam. Sabuk magnetik yang mengikat lengan Caelen terlepas dengan suara denting yang keras. Caelen memijat bahunya yang kaku. Lengan perak itu terasa lebih ringan sekarang, seolah-olah telah menyatu sempurna dengan sistem sarafnya. Dia bangkit dari tempat tidur, merasakan lantai semen yang dingin di bawah telapak kaki telanjangnya.

Mereka keluar dari ruangan menuju lorong panjang yang dipenuhi oleh pipa-pipa uap besar. Caelen melihat ratusan orang berlalu-lalang dengan pakaian kerja yang kotor. Ada anak-anak yang berlari di sela-sela tumpukan gir raksasa dan pria-pria yang menggotong peti berisi kristal esensi mentah.

Valerie membawanya menuju sebuah lift besi terbuka yang bergerak turun dengan kecepatan tinggi. Semakin dalam mereka turun, udara menjadi semakin panas dan getaran mesin terdengar semakin kuat.

Lift berhenti di sebuah aula raksasa yang di tengahnya berdiri sebuah reaktor logam berbentuk bola dengan lubang berbentuk bintang berujung enam di permukaannya.

"Masukkan tanganmu ke sana," Valerie menunjuk ke arah reaktor tersebut. "Jangan gunakan energi perak. Biarkan besi hitam di dalam dirimu yang berbicara pada mesin itu."

Caelen melangkah mendekati reaktor. Suara dengungan yang dia dengar sejak di akademi kini berubah menjadi raungan yang memanggil-manggil di dalam kepalanya. Dia mengangkat tangan peraknya. Lubang di reaktor itu tampak pas dengan pola di telapak tangan mekanisnya.

Saat dia memasukkan tangannya, Caelen merasakan tarikan yang sangat kuat. Besi hitam di sumsum tulangnya melonjak keluar, mengalir melalui lengan perak menuju jantung reaktor. Seluruh ruangan itu bergetar hebat.

Lampu-lampu di sepanjang dinding menyala dengan cahaya ungu yang terang. Suara putaran turbin raksasa di bawah lantai mulai terdengar, menandakan kembalinya aliran energi ke seluruh kota bawah tanah.

Caelen jatuh berlutut saat koneksi itu terputus. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dia melihat telapak tangan peraknya mengeluarkan uap ungu yang kental. Di tengah reaktor, sebuah pintu rahasia bergeser terbuka, menyingkap sebuah ruangan kecil yang berisi sebuah peti logam putih yang sangat bersih.

Valerie mendekati peti itu dengan langkah hati-hati. Dia membukanya dan mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kain sutra hitam. Saat kain itu dibuka, Caelen melihat sebuah bilah pedang yang tidak terbuat dari logam, melainkan dari kristal bening yang di dalamnya terdapat cairan hitam yang terus bergerak seperti badai kecil.

"Ini adalah The Silent Dirge," Valerie menyerahkan pedang itu kepada Caelen. "Senjata terakhir yang dikerjakan Alaric sebelum dia menghilang. Hanya seseorang dengan tangan perak dan besi hitam yang bisa memegang gagangnya tanpa hancur menjadi debu."

Caelen menerima pedang itu dengan tangan mekanisnya. Seketika, getaran liar di dalam tubuhnya menjadi tenang. Pedang itu tidak terasa berat. Itu terasa seperti manifestasi dari jiwanya sendiri. Saat dia menggenggamnya, cairan hitam di dalam kristal itu mulai berputar searah dengan detak jantungnya.

Namun, kegembiraan Valerie terhenti saat seorang penjaga berlari masuk ke dalam aula reaktor dengan wajah pucat. Dia membawa sebuah perangkat komunikasi yang terus mengeluarkan suara statis dan teriakan.

"Mereka sudah di sini!" teriak penjaga itu. "Ksatria matahari tidak mencari mayat di sungai. Mereka membawa bor penghancur tebing dari Sektor Barat. Mereka sudah menembus lapisan pertama pelindung di pintu masuk utara!"

Valerie segera menarik senapan mekanis dari punggungnya. "Bagaimana mungkin? Sensor kita seharusnya mendeteksi getaran bor itu dari jarak lima kilometer."

"Mereka menggunakan frekuensi peredam yang sama dengan yang ada di buku catatan Alaric," penjaga itu memberikan sebuah fragmen logam yang ditemukan di lokasi ledakan.

Caelen mengambil fragmen itu. Matanya menyipit melihat inisial yang terukir di sana. Itu adalah inisial Varick. Instruktur yang dia percayai selama di akademi ternyata adalah orang yang memegang kunci untuk menembus pertahanan kota bawah tanah ini.

"Valerie, bawa warga ke sektor evakuasi terdalam," Caelen menghunus The Silent Dirge. Kristal bilahnya mulai berpendar dengan cahaya ungu yang mematikan. "Aku akan menahan mereka di terowongan utama."

"Kau gila?" Valerie menatapnya tidak percaya. "Ada setidaknya dua batalyon di sana, dipimpin oleh ksatria tingkat tinggi."

"Mereka datang mencari aset ini," Caelen mengangkat tangan peraknya.

"Jika aku diam saja, mereka akan meratakan seluruh tempat ini hanya untuk menemukan mayatku."

Caelen tidak menunggu jawaban. Dia berlari menuju lift, memacu energinya untuk mempercepat gerakan mesin pendaki. Di dalam pikirannya, dia melihat wajah Varick. Dia teringat bagaimana instruktur itu selalu menekankan tentang pentingnya menyembunyikan getaran. Sekarang dia tahu alasannya. Varick tidak melindunginya. Dia hanya sedang berusaha mempelajari cara untuk menetralkan frekuensinya.

Sesampainya di gerbang atas, suara dentuman bor raksasa terdengar sangat dekat. Dinding batu mulai retak dan runtuh.

Caelen berdiri di tengah jalan sempit yang menuju ke jantung kota, memegang pedang kristalnya dengan mantap. Asap hitam mulai keluar dari sela-sela baju zirahnya, menyelimuti tubuhnya seperti jubah kegelapan.

Bor raksasa itu akhirnya menembus dinding terakhir. Besi berputar itu berhenti tepat beberapa meter di depan Caelen. Dari lubang yang tercipta, puluhan ksatria matahari melompat masuk dengan senjata yang sudah siap. Di tengah mereka, Varick berjalan keluar dengan tenang, memegang pedang panjang yang memancarkan cahaya putih yang menyilaukan.

"Kau melakukan pekerjaan yang bagus dengan mesin reaktor itu, Caelen," ucap Varick tanpa nada penyesalan sedikit pun. "Kini seluruh energi kota ini terkumpul di satu titik. Itu membuat tugas pemanenan kami menjadi jauh lebih mudah."

Caelen tidak berkata apa-apa. Dia mengayunkan The Silent Dirge, menciptakan gelombang vakum yang memadamkan semua obor di sekitar mereka. Dia menyadari bahwa pelarian ini hanyalah bagian dari skenario yang lebih besar untuk memancingnya mengaktifkan senjata terakhir kakeknya.

Varick mengangkat pedangnya, memberi isyarat kepada pasukannya untuk maju. Caelen mengambil satu langkah ke depan, merasakan kekuatan besi hitam di tubuhnya menyatu dengan kristal di tangannya, siap untuk melepaskan getaran yang akan meruntuhkan seluruh gua ini jika perlu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel