Chapter 13: Samudra Perak
Angin laut membawa aroma garam dan logam yang tajam saat Caelen melangkah keluar dari lebatnya hutan pinus. Di hadapannya, Samudra Perak membentang luas tanpa ujung. Permukaan airnya tidak berwarna biru, melainkan kelabu metalik yang memantulkan cahaya bulan dengan sangat statis. Gelombang air menghantam karang-karang hitam dengan suara dentuman yang berat, menyerupai suara palu yang memukul landasan besi.
Caelen merapatkan jubahnya yang compang-camping, menahan dingin yang merambat hingga ke sela-sela zirah peraknya yang rusak.
Lengan mekanisnya mengeluarkan suara derit halus. Pelat-pelat logam yang tergores dalam oleh pedang Varick kini mulai berkarat karena kelembapan laut yang tinggi.
Caelen meraba saku bagian dalam, memastikan peta menuju Benua Hitam masih tersimpan aman. Dia melihat ke arah pelabuhan kecil yang tersembunyi di balik teluk berbatu. Hanya ada beberapa lampu minyak yang berkedip ditiup angin kencang.
Caelen berjalan menuruni jalan setapak yang licin. Sepatu botnya menginjak kerang-kerang mati yang hancur menjadi serbuk putih.
Di pelabuhan itu, sebuah kapal kayu tua dengan layar yang terbuat dari jaring logam sedang bersiap untuk angkat sauh. Kapal itu tidak memiliki awak manusia yang terlihat dari kejauhan. Hanya ada kepulan asap hitam dari cerobong kecil di bagian belakang deknya.
"Siapa yang mencari penyeberangan di malam badai seperti ini?" sebuah suara serak muncul dari tumpukan kotak kayu di dermaga.
Seorang pria dengan satu mata yang ditutupi perban kotor muncul sambil memegang pipa rokok yang tidak menyala. Dia menatap lengan perak Caelen dengan pandangan yang sulit dibaca. Tangannya yang kasar memegang sebilah parang pendek yang bilahnya sudah hitam karena oksidasi.
"Aku butuh kapal menuju barat laut," jawab Caelen sambil menunjukkan sekeping koin emas dengan lambang matahari yang dia ambil dari salah satu ksatria yang tewas.
Pria itu mengambil koin tersebut dan menggigitnya.
"Matahari kerajaan tidak laku di sini, nak. Tapi besi di bahumu itu punya nilai lain. Berikan aku satu baut dari persendian sikutmu, maka kau bisa naik ke kapal."
Caelen menatap lengan peraknya. Dia melihat sebuah baut cadangan yang longgar di dekat bagian hidrolik. Dia memutarnya dengan jari-jari tangan kirinya hingga baut itu lepas, lalu melemparkannya ke arah pria tersebut. Pria itu menangkapnya dengan tangkas dan tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang terbuat dari tembaga.
"Naiklah ke The Rusty Whale. Jangan bicara pada kemudi, dan jangan sekali-kali turun ke ruang mesin jika kau masih sayang pada nyawamu," pria itu menunjuk ke arah kapal kayu tersebut.
Caelen melangkah menaiki jembatan kayu yang berderit. Begitu kakinya menyentuh dek kapal, dia merasakan getaran mesin yang sangat aneh. Itu bukan getaran mesin uap biasa. Rasanya seperti ada makhluk besar yang sedang bernapas dengan susah payah di bawah lantai kayu. Dia berjalan menuju bagian haluan, menatap air samudra yang mulai bergejolak saat sauh ditarik ke atas.
Kapal itu bergerak menjauh dari dermaga. Caelen melihat daratan utama perlahan menghilang ditelan kabut malam.
Di belakangnya, pegunungan utara tempat Iron Haven berada kini hanya terlihat sebagai siluet hitam yang diam. Dia duduk di sudut dek, memegang The Silent Dirge yang terbungkus kain kasar. Retakan pada kristal pedangnya seolah-olah bernapas, menyerap uap air dari samudra untuk mendinginkan suhu internalnya.
Tengah malam tiba, dan Samudra Perak mulai menunjukkan keganasannya. Pusaran air raksasa muncul di permukaan laut, memperlihatkan gigi-gigi batu tajam yang tersembunyi di bawah air. Kapal itu bergoyang hebat. Caelen mencengkeram pagar kapal, merasakan tangan peraknya secara otomatis mengunci posisi agar dia tidak terlempar ke laut.
Tiba-tiba, suara nyanyian rendah terdengar dari bawah permukaan air. Itu bukan suara manusia, melainkan suara frekuensi tinggi yang membuat telinga Caelen berdenging.
Lengan mekanisnya bereaksi dengan mengeluarkan cahaya ungu yang berkedip-kedip.
Dari balik air perak, muncul makhluk-makhluk dengan kulit bersisik logam dan mata yang bercahaya seperti lampu merkuri.
"Jangan melihat mereka!" teriak pria bermata satu dari ruang kemudi.
Caelen memejamkan matanya, namun indera resonansinya justru menangkap gambaran yang lebih mengerikan. Makhluk-makhluk itu adalah Echo Dwellers, sisa-sisa jiwa ksatria yang tenggelam bersama senjata mereka berabad-abad lalu. Mereka mencoba menarik kapal itu masuk ke dalam kedalaman samudra untuk mencari energi baru.
Caelen menghunus The Silent Dirge. Dia tidak mengayunkannya. Dia menyentuhkan ujung pedangnya ke lantai kayu kapal. Cairan hitam di dalam kristal pedang itu segera mengalir masuk ke dalam struktur kayu kapal, menyebarkan frekuensi sunyi ke seluruh permukaan dek. Suara nyanyian dari bawah air mendadak berhenti. Makhluk-makhluk itu mundur perlahan.
Kapal melaju lebih cepat, membelah ombak perak dengan kekuatan yang tidak alami. Pria bermata satu itu keluar dari ruang kemudi dan menatap Caelen dengan ngeri. Dia melihat tato hitam di leher Caelen yang kini mulai bercabang menuju pipinya.
"Sepertinya kau bukan pelarian biasa" pria itu meludah ke samping. "Kau adalah pembawa kutukan dari Benua Hitam."
Caelen tidak menanggapi. Dia menatap ke arah horison barat laut. Di sana, awan badai permanen berkumpul, menciptakan dinding kegelapan yang memisahkan dunia luar dengan Benua Hitam. Dia merasakan besi hitam di dalam tulangnya mulai berdenyut dengan irama yang sangat cepat, seolah-olah sedang menyambut panggilan dari tanah kelahirannya yang misterius.
Saat kapal mulai memasuki wilayah badai, kilat ungu menyambar-nyambar di langit. Caelen melihat bayangan menara-menara besi raksasa yang mencuat dari laut di kejauhan. Menara-menara itu tidak memiliki lampu, hanya struktur geometris yang menjulang ribuan meter ke langit, berfungsi sebagai penangkal petir alami bagi benua di belakangnya.
Kapal The Rusty Whale mulai melambat saat mendekati sebuah gerbang besi raksasa yang memotong jalur laut. Gerbang itu tidak memiliki penjaga, namun di permukaannya terdapat lubang-lubang sensor yang memindai setiap inci kapal. Caelen berdiri tegak, membiarkan sensor itu memindai lengan peraknya.
Suara dentuman logam berat bergema saat gerbang itu terbuka perlahan ke arah dalam. Di balik gerbang, pemandangan berubah drastis. Tidak ada lagi air perak. Yang ada hanyalah rawa-rawa minyak hitam dan hutan tiang-tiang besi yang terbakar.
Langit di sini selalu berwarna merah tembaga karena aktivitas industri yang tidak pernah berhenti.
Kapal itu menepi di sebuah dermaga yang terbuat dari tumpukan rongsokan kapal perang. Pria bermata satu itu segera melemparkan tali tambang ke arah seorang pria bertubuh besar yang menunggu di dermaga. Pria di dermaga itu tidak memiliki kepala organik, melainkan sebuah tungku kecil yang mengeluarkan api biru sebagai pengganti otaknya.
"Turunlah," pria bermata satu itu mendorong bahu Caelen. "Aku sudah memenuhi janjiku. Sekarang urusanmu adalah dengan para Pengumpul Besi di sini."
Caelen melangkah turun ke dermaga yang terasa panas. Dia melihat ke sekeliling. Ribuan orang dengan bagian tubuh mekanis yang ekstrem sedang bekerja membongkar bangkai-bangkai mesin raksasa. Mereka tidak bicara, hanya berkomunikasi melalui ketukan logam pada pipa-pipa yang menjalar di sepanjang jalan.
Pria dengan tungku di kepalanya mendekati Caelen. Dia mengeluarkan sebuah piringan logam kecil dan menempelkannya ke dada Caelen. Piringan itu segera melekat kuat, mengeluarkan suara klik yang menandakan bahwa Caelen kini telah terdaftar sebagai properti baru di pelabuhan tersebut.
"Ikut," suara pria itu keluar dari celah di dadanya, terdengar seperti suara besi yang digesekkan.
Caelen melihat ke arah kapal The Rusty Whale yang segera berbalik arah dan pergi meninggalkan pelabuhan. Dia memegang gagang pedangnya, menyadari bahwa di tempat ini, statusnya sebagai murid atau ksatria tidak lagi memiliki arti. Dia ditarik masuk ke dalam barisan pekerja yang menuju ke arah sebuah lift besar di kaki menara besi.
Lift itu mulai bergerak turun menuju kedalaman Benua Hitam. Caelen melihat keluar dari celah lift, menyaksikan kota bawah tanah yang jauh lebih besar dan lebih brutal daripada Iron Haven. Di bawah sana, ribuan tungku pembakaran menyala serentak, menciptakan lautan api yang tidak pernah padam untuk menempa senjata-senjata yang akan dikirim kembali ke daratan utama.
Dia meraba dokumen kakeknya, namun tangannya berhenti saat dia menyadari bahwa piringan logam di dadanya mulai memancarkan panas yang menyiksa.
Sebuah pesan singkat muncul di permukaan piringan tersebut, tertulis dalam kode biner ksatria yang dia pelajari di akademi:
"Subjek 0-14, selamat datang di rumah produksi orisinal."
Caelen menyadari bahwa pelariannya selama ini sebenarnya adalah perjalanan yang sudah diatur untuk membawanya kembali ke pusat kendali musuh. Dia mengepalkan tangan peraknya, menatap wajah-wajah tanpa ekspresi dari para pekerja di sekelilingnya yang semuanya memiliki tato hitam yang sama di leher mereka. Lift terus meluncur ke bawah, membawanya menuju ruang pemrosesan utama di mana identitas aslinya telah menunggu selama sepuluh tahun.
