Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Foto Status

Zack menghela nafas panjang, sebuah gestur frustasi yang membuat hati Celine mencelos. "Celine, kamu tahu kan situasinya?" Suaranya pelan, tapi setiap kata adalah pukulan telak. "Aku tidak bisa bersikap seperti ini di kampus. Ini... berbahaya.”

Celine mengerutkan kening. "Berbahaya? Apa maksudmu?" Matanya menyiratkan kebingungan dan sedikit rasa sakit, tidak mengerti apa yang bisa sebegitu berbahayanya dari seorang kekasih yang membawakan makan siang.

"Aku sudah bilang, jangan temui aku di sini," Zack akhirnya berbalik, menatap Celine, tapi tatapannya bukan tatapan rindu yang Celine harapkan. Itu adalah tatapan yang keras, bahkan ada sedikit kekesalan, "Kamu mengerti apa yang bisa terjadi kalau ada yang melihat kita?” Nada suara Zack penuh peringatan, seolah ada ancaman tak terlihat yang mengintai.

"Aku... aku hanya ingin memberimu makan siang," suara Celine mengecil. Ia merasa begitu kecil dihadapan Zack yang tiba-tiba berubah dingin. Apakah ia salah ingin bertemu? Kerinduan yang membuncah di dadanya kini berubah menjadi lara.

Zack mengamati rantang itu lagi, kali ini dengan ekspresi yang tak terbaca. "Simpan saja. Aku tidak lapar,” ucapnya seperti ada ketegasan penolakan keras. Matanya sama sekali tidak menunjukkan jejak belas kasihan, hanya kekosongan.

"Tapi... aku membuatnya khusus untukmu," Celine mencoba membujuk, nada suaranya penuh harapan yang rapuh. Ia pikir Zack akan menerima makanannya, nyatanya Zack menolak mentah-mentah bersama emosinya.

"Sudah kubilang, aku tidak butuh." Zack meraih rantang itu dari tangan Celine dengan gerakan kasar, seolah itu adalah beban yang menjijikkan, "Dan jangan pernah datang ke sini lagi.”

Tubuh Celine terkejut, dadanya sedikit sesak saat Zack bertindak kasar merampas rantang makanannya. Matanya terpejam menyembunyikan air mata yang sebentar lagi akan runtuh.

Celine hanya bisa menatap nanar punggung Zack yang menghilang di balik gedung. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Marah? Sedih? Kecewa? Semua bercampur aduk menjadi satu. Ia menunduk, matanya terpaku pada tempat di mana Zack tadi berdiri, seolah berharap laki-laki itu akan kembali.

Matanya kembali melihat Zack yang semakin mengecil di sudut lorong. Namun, Celine masih melihatnya secara jelas.

Tiba-tiba, dari kejauhan, ia melihat sesuatu. Ia melihat lengan Zack bergerak. Sebuah gerakan melempar. Matanya melebar, membelalak tak percaya.

Setelah Zack pergi dari sana, Celine bergegas dan lari. Tidak! Makanannya dibuang!

Berlari dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipi. Celine terisak pilu.

Kakinya berhenti tepat di depan tong sampah hijau. Disana, capcay buatannya, lengkap dengan topping sosis dan telur yang tadi ia tata dengan penuh cinta, kini tergeletak begitu saja, di samping tumpukan sampah. Seolah itu adalah sampah, sesuatu yang tak berharga, sesuatu yang jijik untuk disentuh.

Napas Celine tercekat. Dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Ia merasakan pukulan telak yang jauh lebih menyakitkan daripada penolakan Zack secara langsung. Zack... membuang makanannya?

Tubuh Celine ambruk terduduk di lantai. Menangisi makanannya berakhir di tempat sampah. Sungguh, itukah Zack yang ia kenal? Pria yang selalu hangat, lembut, dan penuh perhatian itu? Mengapa ia berubah menjadi sedingin dan sekasar ini? Apakah ada yang salah dengannya? Atau Zack memang tidak pernah benar-benar mencintainya?

***

Jari-jari lentik itu meraih boneka Teddy bear merah muda, boneka mungil pemberian Zack saat kencan pertama mereka. Sebuah hadiah yang dulu terasa begitu manis, kini terasa pahit di genggamannya.

Dibelainya boneka itu dalam dekapan tubuhnya. Celine membayangkan jika boneka itu adalah Zack yang memeluknya. Kejadian tadi masih berputar dalam ingatannya, rantang makanannya di lempar seolah itu adalah sampah busuk yang tidak pantas dimakan.

Dini hari ini, Celine tidak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul 00:17 dini hari, namun matanya tetap terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia kembali mengecek ponselnya, deretan kalimat maaf belum terbaca sedikit pun bersama pesan-pesan lama 3 hari yang lalu. Ia bingung, Zack kenapa menghindarinya?

“Sayang, jangan pernah benci aku ya?” Bisik Celine suaranya gemetar, ia ingin menangis sekali lagi. Jari telunjuknya mengusap wallpaper foto Zack pada saat date pertama kali saat ia menerima cinta Zack. Di foto itu, Zack tersenyum hangat, memeluknya erat, menatapnya penuh kasih.

Suara dari dalam perut Celine, ia mengusap perutnya yang belum terisi makanan sama sekali.

Seharian ini ia tidak makan apa pun. Bukan karena tidak ada, tapi karena tenggorokannya terasa tercekat, nafsu makannya hilang bersamaan dengan hatinya yang hancur. Ia merasa hampa, kosong, seolah ada lubang besar di dadanya. Apakah ia harus meminta maaf? Tapi untuk apa? Ia tidak merasa melakukan kesalahan. Apakah ini pertanda bahwa hubungannya sudah di ambang kehancuran?

***

Sedangkan di tempat warnet, seseorang telah selesai menekan klik dan mengunggah isi chat yang tidak seharusnya di publikasikan.

“Dia akan tau Zack yang sebenarnya. Cih, laki-laki brengsek ini tidak pantas di cintai,” ia bernafas lega setelah membobol ponsel Zack. Melihat air mata yang masih disimpan di ingatannya, wajah cantik itu menangisi Zack.

***

Celine memutuskan untuk membuka media sosial, berharap menemukan sedikit pengalih perhatian. Ia menggulir feed Instagramnya, melihat postingan teman-temannya. Tiba-tiba, matanya terhenti pada salah satu status media sosial yang baru saja diunggah oleh akun milik Zack. Jantungnya berdebar kencang. Ini aneh, Zack jarang sekali mengunggah status.

Celine mengetuk status itu. Layar menampilkan sebuah tangkapan layar (screenshot) obrolan chat. Obrolan itu terlihat seperti dari aplikasi perpesanan, dengan nama pengirim yang tidak dikenal. Namun, isi pesannya membuat napas Celine berhenti.

Itu adalah tawaran yang sangat jelas. Tawaran dari seorang perempuan dengan foto profil yang sangat seksi dan cantik, dengan latar belakang lampu-lampu gemerlap khas klub malam. Kalimat-kalimat di chat itu begitu gamblang:

Hai, sayang... kapan kita bisa bertemu lagi? Semalam sangat menyenangkan, aku ingin lagi... Ada tawaran spesial untukmu malam ini di The Black Dahlia. Datang ya, aku tunggu.

Dan balasan Zack menyetujui itu.

Iya sayang, tunggu aku nanti malam. Tenang saja, kamu paling mahal dari sekian perempuan yang aku temui.

Tersenyum licik, Celine mengangguk mengerti. “Jadi, ini rupanya alasan kamu tidak aktif dan jarang kabari aku,” sedikit ada keberanian, tangannya membalas status Zack.

Ternyata ini, perilaku burukmu di belakangku? Selingkuh dengan perempuan lain?

Dan kebetulan Zack sedang aktif, namun disisi lain Zack yang mendapat pesan interogasi pedas dari Celine pun membuatnya terkejut setengah mati.

Pada saat Zack melihat pesan Celine, matanya menyipit tengah berpikir penasaran, status isi chat? Seingatnya ia tidak mempublikasikannya.

Mata Zack melebar, sontak ia melempar ponselnya dengan keras hingga hancur tak terbentuk. Dahinya berkeringat dingin, jantungnya berpacu cepat. Matanya melihat sekeliling dengan cemas.

“Sialan! Siapa yang berani-beraninya menyadap ponselku?” Gumam Zack, ia mengacak rambutnya frustasi. Bahkan status cerita itu sudah di lihat ribuan orang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel