2. Menemui Zack
“Aku ke toilet dulu ya,” Jeny beranjak dari duduknya, meninggalkan Tiffany yang kembali duduk sendirian.
Suara langkah Jeny menjauh terasa semakin samar, seolah menjauhkan Tiffany dari satu-satunya sandaran yang ia miliki saat ini. Ruangan itu terasa dingin, AC menyemburkan udara dingin yang menusuk tulang, namun Tiffany merasakan hawa panas yang membakar di dadanya. Ibunya masih terbaring tak berdaya di balik pintu putih itu, terhubung dengan selang-selang dan mesin yang berdenyut pelan, menjaga denyut kehidupan yang kian rapuh.
Tangannya gemetar, mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi ayahnya, namun hanya kotak suara yang menyambut.
"Ayah... kenapa Ayah tidak mengangkat teleponku?" bisiknya parau, air mata yang selama ini ia tahan kini mendesak keluar, membasahi pipinya.
Beban biaya rumah sakit yang terus membengkak juga menghantui pikirannya, menghimpitnya dengan realitas pahit.
***
Pada saat di ujung lorong, Jeny menghentikan langkahnya ketika kakinya menginjak sesuatu.
Jenny mengambilnya, matanya mengamati dengan kebingungan. “Kancing?” jarinya mengusap tekstur kancing itu. Ia merasakan adanya ukiran halus, ia menemukan ukiran huruf AV yang terpancar di tengah-tengah siluet mahkota raja. Ini bukan kancing biasa. Bahan onyx hitam pekatnya memancarkan kilau misterius, dan ukurannya yang sedikit lebih besar dari kancing jas pada umumnya membuatnya terasa signifikan di telapak tangannya.
Jeny menoleh ke belakang, matanya melihat sekeliling ingin memastikan apakah masih ada orang atau tidak.
Tapi, keheningan lorong yang remang-remang ini membuat penglihatannya sulit. Hanya ada pantulan cahaya samar dari lampu darurat di ujung koridor.
“Tidak ada orang. Ini kancing baju punya siapa ya?”
***
Menatap pantulan diri di cermin, mata tajamnya menyipit saat menyadari ia lupa memasang kancingnya.
“A-apa? Ah, pasti ada di jaketku,” ia melangkah lebar mengambil jaket yang tergeletak diatas ranjang. Saat memeriksanya ia tidak menemukan kancing. Itu adalah kancing terakhir dari set khusus yang diberikan mendiang kakeknya, sebuah simbol garis keturunan yang tak bisa digantikan.
“Astaga! Seingatku, aku bawa kancingnya tadi. Kenapa sekarang tidak ada sih!” Geramnya frustasi, ia mengetuk dahinya mencoba berpikir tajam mengulik ingatannya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia ingat betul sensasi kancing itu di tangannya saat ia terburu-buru tadi.
“Apa…kancingnya jatuh disana?” Matanya terbelalak terkejut. Ia mengangguk percaya diri, karena yakin ia berlari keluar dari kamar.
Kancing itu sangat penting. Karena ada logo mahkota raja yang hanya dimiliki sebuah simbol marga di keluarganya.
“Jangan sampai ada orang yang menemukan kancingku! Bisa gawat kalau identitas keluargaku terbongkar!” Ucapnya, kakinya menginjak pedal gas menambah kecepatan mobilnya.
***
“Kosong?” Celine menatap nanar isi kulkasnya yang kosong. Ia berdecak kesal, jika begini ia harus berbelanja ke minimarket.
Karena jarak minimarket sangat jauh, Celine memilih mobil sport merah yang jarang digunakan Adiwangsa.
Setelah tiba di minimarket fresh, Celine mengambil beberapa bahan untuk memasak.
Bibirnya tak berhenti menahan senyuman. Setelah di cek bahannya lengkap, Celine membawa keranjang yang sudah dipenuhi beberapa sayuran ke meja kasir.
Celine mengambil dompetnya dari dalam tas selempang. Ia menyodorkan gold card kepada kasir.
Setelah kartu Celine di gesek. Kasir itu menatap Celine ragu. “Maaf, kartu anda tidak bisa diakses. Apa ada kartu lain? Atau anda membayar cash saja?”
“Ha? Tidak bisa bagaimana? Coba lagi,” ketus Celine, dan gold card itu satu-satunya aset yang selalu ia bawa kemana saja.
Lagi dan lagi sudah ketiga kalinya kasir itu menggeleng. “Tidak bisa. Apa ada kartu lain? Sepertinya ini di blokir,” ia mengembalikan gold card kepada Celine.
Helaan nafas kesal, Celine berdecak kesal. ‘Huh, bagaimana ini? Semua uangku aku transfer ke gold card,’ bisik Celine dalam hati.
“Biar saya yang bayar. Berapa total belanjanya?”
Menoleh cepat dan Celine melihat pria tinggi, wajahnya tertutupi oleh topi.
“Empat ratus lima puluh ribu.”
Memberikan lima lembar uang ratusan, kemudian pergi begitu saja.
“Tunggu!” Teriak Celine, dengan menenteng kantong plastik, ia mengejar langkah pria itu.
Namun, pria yang sudah menolongnya memasuki taksi dan pergi.
“Siapapun dia, aku sangat berhutang budi,” Celine menghela nafas lega. Ia hampir saja malu tidak bisa membayar belanjaannya sendiri hanya karena gold card miliknya tidak bisa diakses.
Sedangkan seseorang yang duduk di belakang kursi penumpang. Bibirnya tersenyum.
“Ternyata, dia secantik itu.”
Suara itu terdengar asing, namun menyimpan nada kepuasan.
***
Butuh waktu 2 jam Celine memasak capcay, setelah matang dan menyajikannya dengan beberapa hiasan toping sosis dan telur hingga membentuk senyuman manis di atas makanan itu.
“Semoga Zack suka,” ucap Celine bangga, rasanya sudah sangat pas. Ia akan memberikannya kepada Zack untuk makan siang kekasihnya itu. Senyum di bibirnya tak luntur membayangkan reaksi Zack.
Kampus universitas Indonesia. Celine melangkah menuju ke fakultas Ekonomi. Di pukul 9 pagi ini pasti Zack masih mengajar.
Dan benar saja, saat Celine mengintip di jendela Zack mengajar para mahasiswa. Matanya bersinar penuh cinta, akhirnya bisa melihat Zack lagi. Ia sangat merindukan laki-laki itu. Tak butuh waktu lama, akhirnya kelas selesai. Beberapa mahasiswa keluar, mereka menatap Celine heran karena berdiri di depan kelas ekonomi seperti menunggu seseorang. Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka, membuat Celine merasa sedikit tidak nyaman, namun ia mengabaikannya demi Zack.
Zack melangkah dengan kepala tertunduk, ia membenarkan letak kacamatanya, sampai tubuhnya menabrak seseorang. Ia menatap orang itu, dan Celine?
“Kamu?” Zack bertanya keheranan, nada suaranya datar, tanpa emosi, membuat senyum di bibir Celine sedikit memudar. Melihat kehadiran Celine yang terlalu tiba-tiba membuat matanya waspada melihat sekitar, seolah takut ada yang melihat mereka berdua.
“Ikut aku,” Zack berjalan lebih dulu. Ia sudah tau jika beberapa mahasiswa menatap ke arahnya dan Celine secara bergantian seolah ingin tau Celine siapa.
Namun, cara Zack berucap dan berjalan seolah Celine adalah aib, dan itu melukai hati Celine.
“Kemana? Kamu jangan lari ihh!” Seru Celine kesal, ia berlari kecil menyamai langkah Zack dari belakang. Tinggi tubuh cowok itu sekitar 195 cm.
Di tempat yang sepi di belakang kampus. Hanya ada Zack dan Celine. Kesunyian mengisi mereka berdua, namun kali ini kesunyian itu terasa mencekam, penuh ketegangan yang tak terucap. Zack memunggungi Celine, bahunya kaku, seolah enggan melihat gadis itu.
Karena tidak ingin di diamkan seperti ini, Celine memberanikan diri untuk buka suara, “Aku bawakan kamu makan siang nih,” ia mengulurkan rantangnya pada Zack, ada 3 lapis rantang yang tersusun diatasnya.
Alis Zack terangkat sebelah, mengamati tempat makan yang disodorkan oleh Celine. Namun dengan cepat ia berpaling melihat ke arah lain.
“Kamu kenapa disini?” Zack bertanya serius. Suaranya lebih dingin dari sebelumnya.
“Aku rindu kamu, memangnya tidak boleh ya?” Jawab Celine bersuara lesu, kepalanya mendongak menatap Zack yang enggan melihatnya. Ingin sekali ia memeluk tubuh laki-laki itu, tapi keinginannya ia tahan.
