Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Siapa?

Terik matahari menembus gorden kamar nuansa krem itu. Celine menguap, matanya masih terasa berat untuk bangun. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 6 pagi.

“Bahkan ayah tidak pernah membangunkan aku lagi,” gumam Celine, padahal di setiap pagi Adiwangsa ke kamarnya, membangunkannya dan menyuruh bersiap untuk sarapan bersama.

Mata Celine terasa perih karena menangis tadi malam. Seakan kemarin itu hanya mimpi buruknya, ia ingin memastikan lagi jika status cerita Zack bukanlah kenyataan. Namun, status itu masih ada hingga sekarang, pesannya kemarin hanya dibaca tanpa ada balasan apapun dari Zack.

Menarik napas dalam-dalam. Sekarang, Celine tau harus bagaimana.

Setelah selesai membersihkan diri, kini Celine menuju ke dapur, pada saat melewati meja makan hanya ada secangkir gelas yang sudah kosong. Adiwangsa tidak sarapan.

Dari jendela dapur yang terdapat jendela kaca yang tidak begitu tinggi, Celine melihat Adiwangsa mulai menyalakan mesin mobilnya.

Ingin sekali Celine berlari keluar dan memanggil ayahnya, tapi itu mustahil. Adiwangsa masih marah dengannya.

Mie instan goreng dan segelas air putih biasa menjadi menu sarapan Celine. Dengan terburu-buru menghabiskan sarapannya, Celine bergegas cepat. Namun…

Prang!

Suara barang yang jatuh, Celine menolehkan kepalanya cepat melihat sumber suara yang berasal dari kamar Adiwangsa.

“Siapa disana?” Celine sedikit meninggikan suaranya, ia mencengkram roknya, ada rasa takut yang menyergap perasaannya.

Celine memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Adiwangsa, dan tidak ada siapapun. Tidak ada barang yang berantakan, semuanya rapi.

Berlari ke jendela dan mengintip keluar, Celine hanya melihat sebuah sedan hitam melaju menjauh.

“Sialan! Dia kabur! Dasar maling! Aku harus beritahu ayah.”

***

Baru saja menginjakkan kaki di parkiran kantor, hawa dingin pendingin ruangan langsung menyambutnya. Namun, bukan itu yang membuat bulu kuduk Celine meremang. Bukan dinginnya AC, melainkan tatapan-tatapan sekilas dari beberapa rekan kerja yang kebetulan berpapasan dengannya.

“Dia tau tidak ya?” Bisik salah satu karyawan yang berpapasan dengan Celine.

“Kasihan sekali dia.”

Tenggorokan Celine tercekat. Celine menundukkan kepalanya, ia mempercepat langkahnya menjauhi mereka. Telinganya sudah mual mendengar bisikan-bisikan itu.

Setibanya di ruangan kerjanya. Saat Celine menyalakan komputernya, ia melihat sebuah email HRD yang baru saja ia terima. Email dari HRD dengan subjek: "Pemberitahuan Mendesak Terkait Insiden Keamanan.”

Jantung Celine berdebar kencang. Apakah ini tentang kejadian pagi tadi di rumah? Atau ada sesuatu yang lebih besar yang ia lewatkan?

Tangannya gemetar saat mengklik email itu, isi pesannya masih terpotong, tapi kata-kata kebocoran data dan investigasi internal sudah cukup untuk membuat darahnya berdesir dingin.

Celine membuka email itu sepenuhnya. Matanya menyapu cepat baris demi baris, setiap kata terasa seperti pukulan.

Pengumuman itu menjelaskan bahwa ada insiden keamanan siber serius yang mengakibatkan kebocoran data klien penting. Semua karyawan diminta untuk kooperatif dalam penyelidikan yang akan datang, dan yang paling mencengangkan, email itu juga menyebutkan bahwa salah satu server utama perusahaan telah diretas, dan akses ilegal terdeteksi dari IP address yang terlacak… dari area perumahan Adiwangsa, ayahnya.

Suara interkom di mejanya berbunyi, memecah fokusnya. “Celine, ke ruangan Pak Adiwangsa sekarang.” Suara seorang laki-laki, sekretaris ayahnya terdengar datar dan serius.

Celine bangkit dengan kaki gemetar. Bisikan-bisikan di sekitarnya semakin jelas, dan kali ini, ia bisa merasakan tatapan penuh curiga mengikutinya.

“Aku tidak menyangka, ternyata Pak Adiwangsa sangat ceroboh.”

“Mereka berdua sama-sama bersekongkol!”

Mereka semua pasti sudah membaca email itu, dan mereka tahu siapa ayahnya.

***

Ketika Celine melangkah masuk ke ruangan ayahnya, suasana terasa beku. Adiwangsa duduk di balik meja besarnya, wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat pucat pasi dan tegang, dengan kerutan dalam di antara alisnya.

“Duduk, Celine,” perintah Adiwangsa, suaranya rendah dan serak, hampir tidak dikenali. “Kamu sudah baca email dari HRD?”

Celine mengangguk, menelan ludah. “Sudah, Yah. Tapi… kenapa…?”

Adiwangsa menghela napas berat, mencondongkan tubuhnya ke depan. “Ini bencana, Celine. Data klien kita… semuanya bocor. Dan yang lebih parah, mereka melacak IP address-nya dari rumah kita,” Matanya menatap tajam, seolah mencari jawaban di wajah Celine. “Ayah bersumpah, Ayah tidak tahu apa-apa soal ini. Ayah bahkan tidak menyalakan komputer kerja Ayah di rumah semalam. Tapi bukti-bukti ini… mereka memberatkan Ayah.”

Adiwangsa mengusap wajahnya kasar, frustrasi. “Ayah bahkan belum sempat sarapan tadi pagi. Ada hal aneh di rumah, Ayah tidak tahu siapa yang masuk, tapi… siapa yang akan percaya? Mereka semua akan berpikir Ayah pelakunya,” nada suaranya semakin tinggi, bercampur antara kemarahan dan keputusasaan. "Ini pasti ulah seseorang yang ingin menjatuhkan Ayah!”

Adiwangsa kemudian terdiam, memijat pelipisnya. Tatapannya kini beralih pada Celine, ragu-ragu dan penuh kecurigaan yang samar. “Kamu… kamu tidak tahu apa-apa soal ini, kan, Celine? Apa ada seseorang yang datang ke rumah saat Ayah tidak ada?” Suaranya merendah, mencurigai, seolah ia sedang mempertanyakan putrinya sendiri.

***

Berdiam diri di perusahaan membuat hati Celine terhimpit batu besar, kepalanya sangat pusing. Di jam makan siang ini, ia ingin keluar dan menemui Zack.

Setibanya di kampus, Celine melihat Zack yang duduk sendirian di bawah pohon. Untung saja Zack mudah ditemukan.

Mengambil duduk di sebelah Zack, Celine tersenyum.

Merasakan adanya kehadiran seseorang, Zack menoleh cepat. “Kamu lagi?” Matanya melotot marah.

Senyuman Celine seketika pudar, apakah kedatangannya mengganggu?

“Aku kesini ingin makan siang bareng kamu, boleh ya?” Seolah meminta izin, Celine takut Zack menolak lagi.

Tapi Zack tidak menghindar, ia tetap di posisinya. “Ini jam makan siangmu di kantor. Makan saja disana, tidak perlu repot-repot kesini. Buang ongkos saja,” gerutunya tidak suka, nada kesal yang penuh penekanan.

Tersenyum getir, menurut Celine membuang uang sedikit tidak ada apa-apanya jika digantikan kehangatan dari orang yang dicintai.

Celine mengambil sebuah Snack dari dalam tasnya dan memberikannya pada Zack, “Aku tadi kebetulan beli ini, biskuit gandum kesukaanmu.”

Melirik sekilas, Zack tidak minat. “Makan saja untukmu, aku tidak lapar.”

Kepala Celine tertunduk sedih. “Kamu bisa buat aku bahagia ‘kan?” Ia mendongak menatap wajah Zack tanpa ekspresi, bahkan laki-laki itu enggan menatapnya walaupun sedetik saja.

“Bahagia?” Zack berdiri, ia menatap Celine dari bawah. Kuat sekali hati perempuan ini, pikirnya. Bukannya menyerah dan meninggalkannya justru masih bertahan.

“Kenapa? Kamu masih suka beli perempuan lain? Aku tidak cukup, huh?” Celine ikut berdiri, ia menatap Zack tajam. Tangannya meremas Snack hingga remuk.

Zack mengangguk. “Lihat dirimu sendiri di cermin, membosankan, kamu sudah tidak cantik seperti dulu lagi. Jangan salahkan aku bermain perempuan,” dengan bangganya Zack menghina Celine habis-habisan.

“Kamu gila, huh? Itu karena matamu yang buta!” Celine mengerang kesal dan memukul Zack.

Sret!

Menjambak rambut Celine hingga berteriak kesakitan. “Dasar tidak tau diri! Enyahlah!”

“Akkhhh! Sakittt, Zack!” Dan teriakan Celine mengundang tatapan mahasiswa.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel