1. Nomor Tidak Aktif
Tidak ada lagi kepulan hangat kentang goreng yang tersaji diatas piring. Snack gorengan itu utuh belum disentuh sedikitpun.
“Cel, kok melamun. Kenapa?” Tanya Jeny khawatir, ia memegang pundak Celine.
“Ada masalah?” Tiffany ikut bertanya, seperti ada yang dipendam oleh Celine. Tidak biasanya Celine melamun seperti ini.
Kepala Celine tertunduk, ia menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia mendongak menatap kedua sahabatnya. “Aku, kangen Zack,” setengah berbisik dengan suara lemah. Hatinya bergemuruh menahan rasa rindu.
Jenny dan Tiffany saling pandang.
“Zack lagi? Dia masih belum ada kabar ya?” tanya Jeny seolah ini bukan kali pertama. Seperti berbeda dari biasanya.
Celine mengangguk lesu. “Nomornya tidak aktif. Ini sudah dua hari lebih. Aku kirim SMS berkali-kali tapi pesanku gagal tidak terkirim. Aku harap, Zack baik-baik saja kalau memang sesibuk itu ngajar di kampus.”
“Tenang Cel. Jangan overthinking ya?” Tiffany menenangkan sedikit kepanikan Celine, “Mungkin kalau sudah tidak sibuk dia-” belum sempat Tiffany melanjutkan ucapannya, Celine langsung memotongnya.
“Sibuk? Atau tidak ada sinyal? Sekarang, zamannya sudah canggih, Tiffany. Sehari pasti bisa dong kirim satu chat. Aku ini…kepikiran, perempuan mana sih yang sudah mulai nyaman, sayang, cinta itu butuh kabar!” Suara Celine sedikit meninggi, ia kesal dan kurang setuju dengan apa yang di katakan Tiffany.
“Aku...juga iri sama kalian. Selalu di kabari, di cintai, kalian juga di rayakan. Sedangkan aku? Huh, merasakan itu semua hanya di awal. Sakittt! Apa jatuh cinta sementara itu?” Gejolak hati yang selama ini Celine pendam akhirnya runtuh, tanpa sadar air matanya membasahi pipi.
“Tapi…bukannya kamu sudah mengenalkan Zack ke orang tuamu? Jadi, pasti dia setia banget karena Om Adiwangsa menaruh harapan besar sama Zack,” sanggah Jeny, ia meyakinkan Celine bahwa semua akan baik-baik saja.
Ponsel Tiffany berdering, ia mengangkat telepon dari seseorang. Wajahnya yang tadinya tenang, seketika memucat. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, seolah suara di seberang sana adalah pukulan telak.
“A..apa? Ibuku kecelakaan?” Teriak Tiffany kaget, seketika matanya berkaca-kaca. Genggamannya pada ponsel mengerat, buku-buku jarinya memutih. Pikirannya berkelana ke mana-mana, membayangkan skenario terburuk. Ia harap ibunya baik-baik saja.
Tiffany menatap Jeny dan Celine. Ia berdiri dari kursinya. “Maaf, aku harus ke rumah sakit,” ucapnya dingin, suaranya menahan getaran tangis.
“Cel, mending pulang aja ya? Aku mau nyusul Tiffany ke rumah sakit,” ucap Jeny merasa tak enak hati. Ia tidak bisa membiarkan Tiffany sendirian, Tiffany pasti membutuhkan sebuah kekuatan dukungan.
“I-iya, aku juga bakal balik ke kantor. Aku pergi dulu ya, Jen,” pamit Celine, ia melangkah pergi. Dirinya merasa tak enak hati, ia tidak boleh egois. Sekarang situasinya semakin runyam, Zack dan ibu Tiffany yang kecelakaan.
***
Langkah kaki berlari menyusuri lorong rumah sakit, Jeny mencari keberadaan Tiffany di ruang tunggu pasien. Dan pada akhirnya ia menemukan Tiffany duduk bersandar pada dinding dengan pandangan kosongnya.
“G-gimana keadaan ibu kamu?” Tanya Jeny gugup, ia duduk disebelah Tiffany.
Tiffany hanya membisu.
“Tiffany? Kamu dengar aku ‘kan?” Sekali lagi Jeny bertanya. Ia bisa mengetahui dari diamnya Tiffany.
Namun, tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan.
Tiffany dengan sigap berdiri dan menyerbu berbagai pertanyaan. “Bagaimana kondisi ibu saya? Apa dia baik-baik saja? Ibu saya bisa sembuh ‘kan, dok?”
Helaan nafas itu seketika membuat jantung Tiffany berdetak kencang. Tiffany belum siap.
“Maaf, ibu anda di nyatakan koma. Sekarang kondisinya sedang kritis. Sabar ya, doakan saja ada keajaiban dari Tuhan. Saya permisi,” sang dokter pun pergi setelah menyampaikan kabar terburuk itu.
Tiffany membekap mulutnya, tangisnya pecah. Jeny segera memeluk Tiffany, mendekap tubuh rapuh itu erat.
Dan begitupun Jeny ikut larut dalam kesedihan yang di rasakan oleh Tiffany, “Sssttt, ibu kamu pasti kuat.”
Sedangkan di ujung lorong gelap rumah sakit, seorang pria yang melangkah kebingungan itu mengacak rambutnya frustasi. Menggigit kuku jarinya, kecemasan dan ketakutan memukulnya begitu keras.
“Sialan! Kenapa aku harus menabrak wanita itu!” Ia berteriak emosi. Ini kesalahannya yang mengebut menguasai jalan raya hanya karena tidak ingin terjebak macet.
“Arghhh! Aku tidak peduli! Yang terpenting, aku tidak perlu ganti rugi,” kedua tangannya berkacak pinggang, bibirnya membentuk senyuman angkuh.
Klik.
Rekaman suara telah selesai, sesosok tubuh dari balik dinding berpakaian serba hitam itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Selesai merekam pengakuan itu, di dalam jaket tudung yang menutupi kepalanya. Bibirnya tertarik membentuk senyuman angkuh. Ia mengeluarkan sebuah foto.
“Lihat saja, akan aku balaskan dendamku. Hidupmu tidak pernah tenang,” setelahnya, ia terburu-buru mengantongi kembali foto itu. Ia segera pergi darisana, namun secara tidak sengaja ia menjatuhkan sesuatu disana.
***
Meraih ponsel dan mengecek chat yang terakhir di kirim. Celine menghela nafas lelah, Zack belum juga online. Keringat dingin membasahi punggungnya. Pikirannya berkelana berspekulasi buruk.
“Apa jangan-jangan Zack menghilang?” Gumam Celine, kepalanya menggeleng. Tidak mungkin.
Sore ini, Celine harus menyelesaikan 4 dokumen lagi yang menumpuk diatas mejanya. Sedikit lagi ia akan pulang.
“Kamu belum selesai juga?” suara berat yang di kenalin Celine, sosok pria jangkung memakai jas hitam. Dialah Adiwangsa, ayahnya.
“Ini sudah sore, dan cuma kamu saja yang ada di kantor. Kenapa kinerjamu lambat?” Adiwangsa bertanya setengah kesal, ia tidak pulang gara-gara Celine yang belum menyelesaikan dokumennya.
“Sabar, ayah. Aku berusaha-” belum sempat Celine menjawab, Adiwangsa menyela.
“Usaha apa? Kamu tidak becus, Celine! Kamu tidak malu, huh? Anak magang saja bisa selesaikan 10 dokumen cuma 3 jam. Sedangkan kamu?” Sebelah alis Adiwangsa terangkat, ia memandang Celine remeh, “Kamu kalah jauh sama meraka!”
"Kalau terus begini, jangan harap kamu bisa mewarisi perusahaan ini, Celine! Atau jangan-jangan, kamu memang sengaja menghancurkan reputasi keluarga karena pria tidak jelas itu?” Tuduh Adiwangsa sedikit murka. Zack benar-benar sudah mengganggu pikiran Celine sejauh ini.
Jari-jari lentik itu mencengkram dokumen. Celine menyalurkan rasa kesalnya. Posisinya terancam, mewarisi perusahaan Adiwangsa Properti adalah idamannya.
“Kenapa ayah banding-bandingkan aku sama anak magang?” Tatapan matanya kecewa, baru kali ini Adiwangsa seperti itu, bukannya di berikan semangat melainkan membandingkan kemampuannya.
“Ayah tidak habis pikir sama kamu yang sekarang. Dulu, kamu selalu cepat dan profesional, tidak pernah kamu lambat sedikitpun. Ada apa, Celine? Apa yang kamu pikirkan huh?” tanya Adiwangsa marah, nafasnya memburu naik turun.
Celine diam.
“Karena pacarmu itu?” Tebak Adiwangsa seolah mampu membaca apa yang ada di dalam pikiran Celine.
“Jangan asal menuduh Zack, ayah!” Sela Celine cepat, ia berdiri dari kursinya. Tapi yang di katakan Adiwangsa ada benarnya, ia sulit berkonsentrasi karena terlalu sering memikirkan Zack.
“Ayah tidak peduli! Kalau kamu masih sama seperti ini, ayah tidak sudi memberikan restu dan menerima Zack!” Ucap Adiwangsa memberikan ultimatum menyakitkan. Ia melangkah pergi dan menutup keras pintunya.
Kedua tangan Celine saling terkepal erat. Sialan, jangan sampai ia tidak mewarisi Adiwangsa Properti.
Ponsel Celine berbunyi, Celine mengambil ponselnya yang tergelatak diatas meja. Melihat ada pesan asing dari nomor tidak diketahui.
Saat membuka pesan itu, Celine penasaran karena ada foto juga yang di kirimkan untuknya.
Foto itu terbuka, menampilkan sosok yang selama ini ia rindukan.
Nomor tidak diketahui
[Foto Zack]
Zack baik-baik saja
Tempat itu, Celine seperti mengenalinya. Ternyata Zack tidak menghilang.
