Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

"Cinder Ella Handoro...tolong bantu saya untuk mengirimkan notulen rapat hari ini ke alamat surel saya," King menatap lurus ke arah depan. Nampaknya gadis itu menyibukkan diri dengan berpura-pura membereskan kertas yang tadinya berserakan di atas meja.

"Maaf Pak. Tugas saya di kantor ini bukan sebagai sekretaris. Saya di sini bertugas membuat laporan keuangan terkait proyek kerja sama," sahut Ella mengangkat wajah dan menyorotkan tatapan menghunus ke mata King.

"Ooo. Jadi kamu tidak bersedia membantu saya karena bukan job desk kamu? atau jangan-jangan sepanjang jalannya rapat, kamu tidak menyimak sehingga mengelak untuk menolong saya," sindir King Kongsley sengaja untuk melihat tanggapan wanita yang melebarkan matanya dan menganga. Ekspresi yang sungguh spontan dan mengundang gelak tawa.

"Saya menyimak pertemuan tadi dengan rinci. Bapak Kongsley yang terhormat jangan asal menuduh saya sembarangan ya. Baik, saya akan kirimkan hasil notulen rapat saat ini juga. Tidak butuh lama untuk mengirimkan email," sahut Ella dengan nada suara meninggi ditambah raut wajah cemberut.

King Kongsley mengambil pen lalu mulai menuliskan catatan di sebuah kertas. Didorongnya kertas itu ke meja seberang tempat Ella duduk. Ella sedari tadi menatap semua gerak gerik pria menyebalkan di hadapannya.

Ella menunduk membaca tulisan di atas kertas lalu dengan gerakan cepat, Ella bangkit dari kursi.

Sembari mengacungkan kertas, Ella menarik napas berulang kali, biasanya teknik menarik napas yang dia lakukan berhasil meredam emosinya.

"Mengapa anda memberikan nomor ponsel anda kepadaku? Tadi anda katakan alamat surel," kertas melambai-lambai di hadapan King namun King hanya mengulas senyum sekilas.

"Maaf, saya baru teringat bahwa alamat email saya yang panjang suku katanya, tidak bisa saya berikan kepada sembarang orang. Itu, nomor ponsel saya. Kirimkan ke nomor itu berupa file PDF supaya bisa saya baca saat perjalanan kembali ke kantor. Terima kasih."

King mengangkat pantatnya dari kursi yang terasa cukup panas karena sudah diduduki cukup lama, lalu melangkah santai meninggalkan Ella yang mengumpat dalam pikirannya. Dasar KingKong.

$#$$#

Ella baru menurunkan bokongnya ke atas kursi kerjanya saat Clarise membuka pintu ruang kerjanya. Dilihatnya Clarise menaikturunkan alis matanya dengan senyuman miring seakan mengejek Ella.

"Bagaimana kamu bisa mengenal Pak Kongsley, bahkan dia tahu nama lengkapmu? Apa benar dugaanku kalau dia kekasih gelapmu?" Clarise melangkah anggun memasuki ruang kerja milik Ella dan menempati sofa tunggal di balik meja kerja Ella.

"Kami tidak ada hubungan khusus seperti yang otakmu pikirkan. Kami cuma pernah satu kali bertemu dan itu juga sebuah masalah kecil," sahut Ella memutar bola matanya.

"Lalu mengapa dia mengingat nama lengkapmu jika kalian hanya bertemu sekali?" Selidik Clarise tidak percaya dengan penjelasan Ella.

"Karena dia mungkin masih marah padaku atas pertemuan pertama kami. Dia tadi sengaja menahanku di ruang rapat untuk mengirimkannya notulen rapat. Bayangkan, pekerjaanku yang sudah setumpuk menjadi prioritas kedua saat ini. Notulen rapat pun butuh waktu untuk membuat. Dia dengan niat jahatnya, minta tolong padaku."

Clarise tertawa terpingkal mendengar cerita Ella tentang peristiwa di ruang rapat tadi. Tapi masih tidak menjelaskan awal pertemuan mereka.

"Di mana kalian bertemu pertama kali dan mengapa dia masih marah padamu?" Tanya Clarise setelah puas tertawa.

"Di bandara Soekarno Hatta dua hari yang lalu dan saat itu aku menyerobot antriannya karena waktu untuk cek in sudah sangat mepet. Mungkin karena itu dia mengingat namaku," ucap Ella mendesahkan napas.

"OOO. Karena itu ya. Memang masalah kecil sih. Tapi sepertinya dia masih jengkel karena kamu menyerobot antrian dia. Lain kali berhati-hati dalam bertindak. Budaya Indonesia dan barat itu berbeda. Aku tidak mau kamu jadi sasaran kemarahan pria seperti King Kongsley lagi. Kamu tahu kan dia itu adik pemilik perusahaan yang akan menjadi klien kita," papar Clarise membuka jati diri King.

"Ya ampun, semula aku mengira dia pemilik perusahaan yang akan kerja sama perusahaan ini. Ternyata dia hanya anak buah sepertiku. Berarti aku tidak perlu menanggapi permintaan konyolnya," Ella membuang kertas yang berisi nomor ponsel pria menyebalkan itu ke tong sampah yang terletak di samping kaki meja kerjanya.

"Tapi dia juga pe..." Ucapan Clarise terpotong karena suara Ella

"Tolong tinggalkan aku. Saat ini aku sedang mengejar setoran laporan untuk proyek baru. Maaf ya. Kita mengobrol lain kali," ucap Ella dengan senyuman ramah andalannya.

Clarise menggelengkan kepala melihat tingkah Ella yang ajaib. Rekan kerjanya pandai mengubah topik pembicaraan dengan cara sehalus ini. Pantas saja bisa menjabat sebagai direksi bagian keuangan di usia 26 tahun.

"Baik Nona Ella Kongsley," ledek Clarise. Melangkahkan kaki secepat dia bisa untuk menghindari amukan Ella.

"Clarise...." pekikan Ella yang sempat terdengar oleh Clarise sebelum menutup kembali pintu ruang kerja Ella.

$#$$#

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel