Bab 4
Di salah satu gedung raksasa yang menjulang di kota Sidney, Australia, nampak seorang pria bersetelan rapi bolak-balik di depan meja kerjanya. Hentakan sepatu yang berirama serta raut wajah yang tegang membuat sekretarisnya nampak gugup ketika dipanggil masuk sepuluh menit yang lalu.
Willy Tanoto, sang pemilik gedung nampak menatap kertas kosong yang diserahkan oleh adik iparnya, King Kongsley tadi siang. Setelah kembali dari pertemuan di gedung Golden Globe Company-GGC-.
"Apa kamu yakin, kertas ini yang dititipkan oleh Pak King?" Tanya Willy mengayunkan selembar kertas putih ukuran F4 di tangan kanannya.
Posisi berdiri sekretaris dengan Willy berjarak cukup jauh, wanita itu tidak dapat melihat apa isi kertas yang terdapat di amplop cokelat yang tadi dititipkan oleh Pak King Kongsley, sang adik ipar boss padanya, yang dikibaskan oleh Willy Tan.
Wajah tegang atasannya sudah memberi sedikit clue apa masalah yang saat ini dia hadapi. Beginilah nasib bawahan yang tidak berbuat salah namun dijadikan bersalah. Hanya karena menjadi perantara surat saja membuat dia gugup setengah mati menunggu apa yang ingin atasannya perintahkan.
Willy Tan sudah berpikir selama beberapa menit sebelum memanggil sekretarisnya masuk ruangan. Dia masih tidak tahu alasan King memasukkan kertas kosong dalam amplop cokelat seolah itu hasil pertemuan yang ingin diketahui informasinya.
"Ada masalah dengan isi amplop yang anda terima, Pak Tan?" Karena sudah tidak tahan dengan kesunyian ruangan dan pekerjaan di meja kerjanya yang belum rampung, sekretaris memberanikan diri untuk bertanya.
Willy menatap sesaat wajah sekretarisnya yang nampak terlihat gugup, dan Willy merasa kurang bersikap baik pada anak buahnya sehingga anak buahnya berekspresi seperti itu.
"Apa Pak King masih berada di gedung ini?"
"Sepertinya dia datang kemari hanya untuk menyerahkan amplop," sahut si sekretaris.
"Apa kamu tahu dia tadi pergi ke kantor GGC bersama siapa saja?" Willy ingin mencari tahu alasan adik iparnya mengajukan diri untuk membantunya hari ini.
"Setahu saya, dia bersama asisten dan salah satu staf senior di kantor ini. Pak Jeremy kalau saya tidak salah mengingat."
Jeremy... salah satu karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan ini. Dan Willy bertekad mencari tahu apa alasan King melakukan hal konyol ini.
"Baiklah, kamu bisa kembali ke meja kerjamu. Tolong kamu panggilkan Jeremy untuk menemuiku di ruangan tapi selepas makan siang ya. Aku sudah ada janji makan siang dengan istriku."
"Baik Pak Tan. Saya permisi," ucap sang sekretaris berjalan selebar mungkin dengan napas tertahan untuk dapat segera keluar dari ruang atasannya.
Setelah pintu tertutup dibalik punggungnya, sekretaris itu baru bisa bernapas lega dan tersenyum.
$#$$$
"Wil, kenapa raut wajahmu seperti itu?" Tanya Renny Tan melihat wajah suaminya yang nampak gusar.
Renny merasa tidak nyaman memberitahu kabar bahagia yang baru saja dia ketahui tadi ke suaminya namun melihat raut wajah suaminya yang nampak gusar akan sesuatu membuat Renny mempertimbangkan ulang untuk berbicara hal penting di rumah makan ini.
"Adikmu tadi mewakiliku untuk mengikuti rapat di gedung GGC. Namun setelah kembali, dia menitipkan amplop cokelat yang berisi kertas kosong ke sekretarisku. Aku tidak tahu hasil pertemuan tadi pagi dan maksud dari kertas kosong yang kuterima."
Renny meletakkan kembali sendok makannya dan dia nampak terdiam sejenak. Dia memikirkan alasan mengapa adik lelakinya melakukan hal konyol yang baru pertama King lakukan pada mereka.
"Itu bukan surat ancaman, kan? Apa kamu menyimpan suatu rahasia dariku?" Tanya Renny yang asal menebak.
Willy meraih jemari tangan istrinya dan menggenggam erat kedua jemari tangan wanita yang sudah dia nikahi 10 tahun silam. Willy merasa bahagia dengan pernikahannya dan dia juga bahagia memiliki Renny dalam hidupnya. Walaupun sampai saat ini mereka belum dikarunia buah hati oleh Tuhan namun rasa cinta Willy tetap sama besar seperti awal dia mengenal istrinya saat mereka menempuh kuliah di universitas yang sama.
"Untuk apa King mengancamku dengan kertas kosong. Lagipula aku tidak menyimpan rahasia darimu, Ren. Aku juga tidak habis pikir dengan ulah King yang aneh ini. Oh iya, bagaimana hasil pemeriksaanmu? Apa ada hal serius pada tubuhmu?" Seketika Willy teringat bahwa beberapa pekan terakhir, istrinya nampak lelah dan tidak nafsu makan. Willy cemas istrinya terserang virus.
Renny menatap haru atas perhatian pria yang sangat mencintainya ini. Renny mengeluarkan kertas yang terlipat rapi di dalam tas miliknya. Dia letakkan kertas itu di meja.
Wajah Willy nampak bingung melihat kertas yang Renny letakkan di atas meja.
"Apa ini semacam prank yang kalian buat untukku?" Tanya Willy menggoda istrinya.
Renny cemberut mendengar guyonan Willy namun jantungnya berdebar melihat ekspresi Willy ketika membaca isi tulisan yang tertera di atas kertas.
Willy membuka kertas dengan jantung berdegup. Dia takut melihat hasil pemeriksaan Renny. Namun ketika matanya menelusuri huruf tiap huruf dengan seksama. Willy terpekik, "Wow. Aku akan menjadi ayah," membuat para pengunjung rumah makan menoleh ke arah meja makan mereka.
"Terima kasih REN. Ini yang kita tunggu selama ini." Dikecupnya kening istrinya walaupun tubuh mereka terhalang meja makan namun Willy tetap mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening istrinya.
"Terima kasih juga suamiku. Ternyata perutku yang sudah agak membesar ini karena aku sudah hamil 15 Minggu," ucap Renny dengan terkikik geli.
"Aku juga hanya mengira nafsu makanmu yang menurun karena kamu kelelahan. Mulai sekarang, kamu hanya perlu fokus menjaga kesehatan. Kamu tidak perlu datang ke kantor keluargamu lagi."
"Tapi aku masih ingin membantu King untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya."
"Pria itu membuang masa mudanya dengan menjadi relawan di SAR. Sudah saatnya dia fokus mengurus perusahaan peninggalan opa. Orangtua kamu juga sibuk di Jakarta mengurus bisnis mereka kan?" Sindir Willy.
Dia menikahi istrinya karena cinta namun banyak orang yang menyangka dia menikahi istrinya karena kekayaan sang istri yang luar biasa. Tepatnya kekayaan keluarga Kongsley yang sudah turun temurun.
"$#$#
