Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Senin pagi yang cerah di kota Sidney, nampak beberapa orang sudah duduk manis di kursi masing-masing di salah satu ruangan yang diperuntukkan untuk rapat. Aroma wewangian semerbak tercium hingga masuk ke indera penciuman Ella ketika Ella melangkah masuk ke dalam ruangan. Ada aroma kopi, aroma pengharum ruangan, aroma parfum, semua bercampur aduk. Termasuk aroma parfum milik Ella yang tercium seperti aroma bunga.

Hentakan sepatu hak tinggi milik Ella membuat tiga orang yang berada dalam ruangan dengan kepala menunduk, mengangkat wajahnya dari layar laptop di hadapan mereka dan menoleh ke arah pintu ketika terdengar bunyi pintu kaca didorong dari arah luar. Mereka mengira klien yang mereka tunggu yang memasuki ruangan dan ketika mereka melihat siapa yang melangkah masuk, mereka kompak tersenyum ke Ella, sosok yang dengan anggun melangkah memasuki ruangan.

Dengan setelan kerja rapi dan penampilan prima karena wajahnya telah dirias sedemikian rupa, Ella balas tersenyum pada ketiga pria yang sedari dia membuka pintu kaca, menatap padanya. Seiring langkah kakinya melangkah menuju kursi miliknya yang terletak di ujung meja membuatnya membalas sapaan para manager maupun direksi yang berada dalam ruangan.

"Ella, kamu habis dempul wajahmu di mana?" bisik Clarise, teman kantor yang juga berasal dari Indonesia. Namun Clarise bekerja di bidang yang berbeda dalam perusahaan ini.

Setelah bokong Ella mendarat dengan nyaman di kursi berbusa miliknya, Ella baru menoleh ke arah Clarise. Rekan kerjanya. Direktur bagian perencanaan.

"Aku yang merias wajahku sendiri. Memang wajahku nampak aneh?" Ella berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

"Tampak sempurna. Kamu selalu terlihat memukau. Kenapa kamu tidak memilih profesi sebagai MUA atau buka salon kecantikan saja. Penghasilannya lumayan."

Ella menaruh laptop miliknya dan menekan tombol power guna menghidupkan alat tersebut.

"Gila. Bisa dipecat aku tuh jadi putri keluarga Handoro kalau memilih profesi itu. Kamu mau belajar merias diri denganku?" Ella menawarkan diri untuk mengajari rekan kerjanya yang nampak berpenampilan natural tapi terlihat memukau juga. Mungkin karena kulitnya yang putih bersih. Tidak seperti kulit Ella yang agak langsat.

"Suamiku tidak suka aku terlalu mempercantik diri. Kata dia aku sudah nampak sempurna. Lagipula make up tidak terlalu berguna bagiku karena setelah lepas dari jam kerja, aku harus mengurus dua anakku di rumah." Clarise menghela napas.

"Justru sebagai istri harus pandai merawat diri. Karena pelakor zaman sekarang, menghabiskan uang dari para pria untuk mempercantik diri," Sahut Ella .

Clarise terkikik geli dan mengangkat bahu tak acuh.

"Ehm...Ella...nanti malam kita hang out yuk," ucap rekan kerja pria yang merupakan salah satu pria yang memberinya senyuman saat Ella membuka pintu. Pria itu duduk di seberang meja. Berhadapan dengan Clarise.

"Kerjaanku lagi banyak, Pak Darwin. Mungkin lain kali," Ella menyengir di akhir ucapannya.

"Bagaimana acara pertunanganmu? Acaranya sukses pastinya. Sayang sekali kamu sudah menjadi milik pria lain," Darwin mendesah dramatis. Membuat Clarise dan Ella tertawa terpingkal melihat ekspresi Darwin.

"Cie...salah satu pengagummu patah hati. Masih ada dua lagi yang juga akan segera patah hati," Goda Clarise pada rekan kerja yang duduk di sampingnya.

Pipi Ella merona merah karena malu telah berdusta pada rekan-rekan kerjanya. Dia sengaja berbohong kalau kepulangannya ke tanah air minggu lalu untuk merayakan pesta pertunangannya. Yang tentu saja bukan dia yang bertunangan. Adik lelakinya yang baru berusia 20 tahun yang menjadi tokoh utama. Sedangkan dia yang sudah berusia 26 tahun, hanya menjadi saksi mata pertunangan antara Edwin Handoro dengan Silvia Japar.

"Acaranya berjalan lancar. Pestanya sangat meriah. Sayang aku tidak bisa mengundang kalian untuk hadir. Lagipula kalian belum tentu mau hadir ke acara pertunanganku. Nanti saat aku menikah, akan kukirimkan undangan untuk kalian beserta tiket pesawat PP," Ucap Ella dengan maksud hati hanya sebagai candaan belaka.

Namun tanpa dia sangka, Darwin dan Clarise malah menanggapi serius dan mereka juga menjawab kompak, "Ditunggu undangannya." Darwin menyengir sedangkan Clarise tersenyum simpul.

Ella hanya tersenyum misuh-misuh alias malu-malu karena memang dia malu akan dusta yang diucapkannya.

$#$#$

Pintu kaca dibuka dari arah luar, beberapa pria berjas rapi memasuki ruang rapat. Semua karyawan di perusahaan Golden Globe Company serempak berdiri menyambut kehadiran klien mereka. Tiga pria berjas menduduki kursi di pinggir ruangan. Yang diperuntukkan untuk asisten, sekretaris, atau tangan kanan klien mereka. Sementara pemimpin rapat dari perusahaan Golden Globe, Pak Richie mengulurkan tangan untuk menyambut kehadiran klien mereka.

Pria yang sepertinya utusan dari klien tersebut, membuka kacamata hitam yang sedari tadi menutup bola mata pria itu. Lalu dia dengan gesit memasukkan kacamata hitam miliknya ke saku jasnya.

Semua peserta rapat menatap dalam diam ketika tangan klien belum menyambut jabatan dari Pak Richie. Mata klien mulai menjelajahi isi ruangan. Kepalanya menoleh ke kiri dan perlahan menatap satu per satu karyawan PT Golden Globe Company. Sampai tatapan matanya terhenti ketika melihat sosok Ella.

Ditatap sedemikian tajam oleh klien perusahaan membuat bulu kuduk Ella meremang. Kakinya bergerak gelisah dengan menghentak-hentak kecil di lantai yang tertutup karpet. Mata Ella saling menatap tanpa berkedip dengan mata tajam milik klien perusahaan.

"OH MY GOD...pria ini....pria yang aku salip di antrian cek in bandara..." begitu suatu pemahaman masuk dalam pikiran kosong Ella mengenai sosok yang menatapnya. Ternyata pria itu masih mengenalinya, dan itu alasan yang membuat tubuh Ella gugup luar biasa.

Mata cokelat milik pria tinggi, berkulit gelap, dan berbadan kekar itu menyipit hingga membuat Clarise dan Darwin yang berada di dekat Ella bingung dengan ekspresi aneh sang klien.

Untuk menghindari tatapan tajam yang berubah sinis dari pria yang menjadi sorotan seisi peserta rapat, Ella mengerjap kelopak matanya beberapa kali dan tersenyum lebar seakan baru kali ini bertemu dengan si klien.

"Selamat datang di Golden Globe Company, Pak."

Ella menundukkan kepala sekali sebagai salam hormat.

Wajah lelaki ini nampak kaku dan tidak membalas senyuman Ella. Membuat suasana makin hening mencekam. Apalagi tangan Pak Richie yang masih terulur dan belum disambut.

"Selamat pagi Miss Cinder Ella Handoro," ucap pria itu dengan suara bass-nya.

Tentu saja ucapan King Kongsley membuat para peserta rapat menatap heran ke arah Ella. Pasalnya, pria itu menyebut nama lengkap Ella dan menyapa Ella secara personal. Seakan mereka saling mengenal.

Ella berharap bisa segera melangkah keluar dari ruang rapat, penyebabnya apalagi kalau bukan karena disapa secara personal oleh pria itu. Ella sengaja menundukkan kepala menatap motif karpet di bawah kakinya, upaya agar tidak bertemu tatap lagi dengan pria itu serta tak perlu melihat tatapan heran dari para rekan kerjanya.

$#$#$

Acara rapat pagi ini berlangsung lancar walaupun masih banyak pertanyaan yang mengantung di benak para direksi, manager, yang mengikuti jalannya rapat.

Sepanjang rapat, mata Ella menatap lurus ke arah layar laptop tanpa menoleh ke arah kursi seberangnya. Tempat di mana pria itu duduk.

Para peserta rapat membereskan kertas dan layar laptopnya milik mereka masing-masing, setelah mendengar pemimpin rapat menyudahi kegiatan pertemuan pembahasan bisnis kerjasama.

"Nona Ella, bisa kita bicara berdua ?" Ella menghentikan kegiatannya yang saat ini sedang merapikan kertas catatan miliknya di atas meja. Setelah mendengar suara perintah King Kongsley, entah mengapa jantung Ella berdegup kencang saat ini.

"Cie...hati-hati jatuh cinta sama big boss," bisik Clarise yang duduk di samping Ella, berpura-pura sedang merapikan barang bawaannya.

Ella menepuk lengan Clarise karena dia merasa kesal dengan ucapan unfaedah dari direktur bagian perencanaan itu.

"Aw... sakit Cinder Ella Handoro," pekik Clarise. Membuat kepala para rekan kerja yang masih berada di dalam ruangan sontak menoleh ke asal suara.

"Ish...tolong kecilkan volume suara indahmu, Nyonya Clarise," mata Ella melotot sembari berkacak pinggang.

Plok plok plok

"Ayo semuanya segera kosongkan ruangan ini. Pak Kongsley mau menggunakan ruangan ini," ucap Pak Richie melihat betapa lambatnya para karyawannya membubarkan diri.

"Aku balik ke ruanganku dulu ya. Jangan lupa cerita padaku ya," Clarise meninggalkan kursi kerjanya dan melangkah pergi.

Darwin pun mengekor di belakang Clarise dengan tampang cengengesan.

Tidak butuh lama untuk mengosongkan ruang rapat yang tadinya dihuni kurang lebih 15 peserta rapat karena perintah sang atasan. Mereka membubarkan diri otomatis tanpa perintah lebih lanjut.

Sementara Ella hanya bisa berpura-pura mengulur waktu dengan menonaktifkan layar laptopnya. Sengaja dia melakukan hal itu agar tidak perlu saling tatap dengan King Kongsley yang menyebabkan hari ini menjadi hari buruk untuknya.

$#$$$

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel