4. Surat dari Dekan
“Bukan, dia kakakku.”
“Oalah, ngerti deh.”
Juanda duduk bersila di lantai, berharap Eros segera pergi. Eros pun berhenti melangkah dan menoleh ke arah Dori.
“Kamu nggak apa-apa aku tinggal di sini sendirian sekarang, kan?” tanyanya.
Dori melirik sekilas ke arah Juanda, merasa risih mendengar nada bicara kakaknya itu. “Aku baik-baik saja, nggak usah khawatir.”
Eros tersenyum tipis ke arah Juanda, lalu membungkuk dan mencium pipi Dori sebentar.
“Malam pertama jauh dari rumah. Yakin nggak mau menginap di kamarku saja?"
Perut Dori terasa mual mendengar tawaran itu. “Aku yakin kok.”
“Kalau nanti kamu … mimpi buruk lagi, gimana?” tanya Eros pelan hampir berbisik.
“Aku bisa atasinya sendiri,” jawab Dori setegas mungkin.
Eros hanya mengangguk mengerti. “Baiklah, Bayi Paus.” Dia lalu menoleh ke Juanda dengan senyum iseng. “Panggil dia gitu aja. Dijamin dia bakal kesal dan marah—”
“Waktunya kamu pulang sekarang,” potong Dori cepat.
Dia mendorong tubuh Eros perlahan sampai keluar dari ambang pintu kamar. Eros pun tersenyum ke arahnya.
“Oke. Besok aku ada kuliah seharian, tapi jam enam lewat lima belas aku jemput kamu di sini buat ke Retory.”
“Iya, siap.” Dori mendorong tubuh pria itu perlahan untuk memberi isyarat kalau dia ingin menutup pintu.
Namun Eros tetap diam di tempat. “Selamat malam, ya.”
“Selamat malam.”
Juanda terus bicara tanpa henti. Dia berbagi banyak hal meski baru saja bertemu dengan Dori. Sambil membuka kopernya dan mengeluarkan perlengkapan, seprai, serta pakaian, Dori hanya mengangguk dan menjawab seperlunya.
“Aku nggak ikut acara penyambutan mahasiswa baru,” kata Juanda. “Tempatnya rame banget dan aku sendirian. Semua orang kelihatannya sudah akrab, jadi aku pikir kita sebagai teman sekamar harus kompak aja. Kita sama-sama anak baru, kan?”
“Jujur, agak sulit ngikutin kecepatan bicaramu,” pikir Dori dalam hati.
Melihat semua barangnya muat hanya di satu sisi ruangan, Dori merasa sedikit sedih. Dia lalu mengambil bungkusan plastik bubbles dan membukanya. Di dalamnya ada satu benda yang sangat berharga baginya. Sebuah patung unicorn dari logam seukuran telapak tangan. Nilainya tak tergantikan baginya.
Dori mengusap kaki depan patung itu dengan ujung jarinya. Tubuhnya sedikit bergetar saat mengingat siapa yang memberikannya. Dia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan untuk menenangkan diri.
Patung itu diletakkannya di sisi meja tempat tidur agar selalu terlihat setiap pagi.
Juanda masih terus berbicara. “Kamu kan belum kenal banyak orang, sama kayak aku. Eh, beneran kan kamu belum kenal siapa-siapa selain aku?”
Dori menggeleng pelan. “Cuma kenal Eros.”
Wajah Juanda langsung berseri-seri. “Asyik. Mamaku dulu juga kuliah di sini. Katanya punya teman sekamar itu bisa dijadiin keluarga sendiri. Sampai tahun kedua mereka masih satu kamar dan tetap berteman sampai sekarang. Di minggu awal kuliah biasanya—”
“Sebentar,” potong Dori. Dia memberi jeda agar Juanda berhenti bicara sejenak. “Aku mau dengerin musik sambil beres-beres. Kamu setuju nggak?”
Juanda langsung antusias. “Boleh bangeeeeeet! Aku putarin daftar laguku di Spotify ya!”
“Oke, bagus tuh.”
Dori pun mengamati gerak-gerik Juanda yang terasa unik. Gadis itu melompat-lompat saat berjalan dan senyumnya tak pernah hilang. Tanpa sadar, Dori merasa mulai nyaman dengan teman barunya ini.
Begitu musik mulai terdengar, Dori melanjutkan membereskan barang-barangnya. Dia mengangguk mengikuti irama lagu sambil menyisir dan mengikat rambut panjangnya. Dia mengambil perlengkapan mandi serta pakaian ganti yang sudah disiapkan.
Pakaiannya berupa celana olahraga hitam, kaos berwarna hijau muda, dan sepatu datar.
“Aku mau mandi dulu,” kata Dori. “Kamar mandinya di sebelah mana?”
Juanda segera mendekat. Dori secara otomatis melangkah mundur memberi jarak.
“Pintu ketiga di sebelah kiri,” jelas Juanda sambil menggerakkan tangannya. “Tapi dua yang pertama kondisinya kotor, pakai yang ketiga atau keempat aja. Di lantai ini cuma ada empat pancuran, jadi usahain mandinya pas nggak rame biar bisa dapat air panas. Itu saran mamaku yang dulu juga tinggal di gedung ini.”
Juanda menarik napas panjang sambil tersenyum. “Nah, kan aku banyak kasih info penting.”
Dori menatapnya dengan tulus. “Makasih ya. Sampai ketemu lagi, si paling tahu segala hal.”
Wajah Juanda pun terlihat makin cerah mendengar ucapan itu.
Dori membalas senyumnya, lalu melangkah keluar menuju koridor dan masuk ke dalam kamar mandi.
***
Di tempat lain ....
Silvan mengamati Tiffany sedang yang tidur tengkurap. Rambutnya terhampar di atas bantal. Tiffany tampak lebih tenang dan menyenangkan saat tidur. Sikap buruknya baru akan muncul begitu dia berbicara. Silvan sebenarnya ingin bisa menyayanginya. Dia berharap Tiffany tidak bersikap menyebalkan setiap hari.
Selama satu jam terakhir keduanya berhubungan intim. Silvan sebenarnya menikmati setiap momen itu. Dia menyukai wajah, mata, dan rambut Tiffany. Namun perasaan sayang itu tidak tumbuh di hatinya. Bagaimana mungkin dia bisa sayang, kalau perempuan itu selalu kaku dan suka menghakimi orang lain.
Silvan menyentuh rambut Tiffany dengan lembut. Sentuhan itu membuat Tiffany mengeluarkan suara puas. Silvan pun menggeleng pelan. Dia sudah dua jam tidak minum alkohol dan tubuhnya mulai terasa tegang. Pikiran dan perasaannya jadi lebih tajam dan sulit dikendalikan. Dia butuh minuman untuk menenangkan diri.
Dia bangun perlahan agar tidak membangunkan Tiffany, lalu memakai celana dalam dan berjalan ke dapur. Apartemen ini disewa oleh orang tuanya. Ruangnya cukup luas untuk keduanya tinggal bersama. Meskipun mereka punya kamar masing masing di asrama kampus, tapi Tiffany lebih sering tidur di sini.
"Iya lah ... Tempat ini mewah, enak juga hidup di sini," pikir Silvan dalam hati.
Orang tuanya bilang tinggal di apartemen akan membuatnya menjadi lebih dewasa. Kondisinya memang cukup nyaman.
Silvan menuang minuman, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia masuk ke dalam bilik pancuran dan membuka keran air panas selagi meneguk minumannya sesekali terkena semprotan air. Badannya terasa lebih rileks.
Keduanya punya kebiasaan sama, yaitu suka tidur siang. Silvan banyak tidur karena sering mabuk. Siklus itu terus berulang.
Sekarang sudah jam setengah tujuh malam, sedangkan teman-temannya pasti sudah menunggu di bar.
"Silvan! Ada surat dari dekan kampus lho!" teriak Tiffany dari luar.
"Taruh aja di meja, nanti aku baca sendiri," jawab Silvan sambil terus menyabuni tubuhnya.
Saat membungkuk membersihkan kaki, betisnya terasa nyeri. Latihan futsal kemarin terasa lebih berat dari biasanya. Dia sudah bermain futsal sejak umur sembilan tahun. Olahraga itu selalu membuatnya merasa hidup dan bertenaga.
Setelah selesai mandi, Silvan pun berharap Tiffany ikut masuk. Tapi dia tahu hal itu tidak akan terjadi. Tiffany selalu enggan basah-basahan karena takut merusak riasan wajahnya.
"Ahh, sialan! Kenapa dia malah buka suratku duluan sih?" batin Silvan kesal.
