Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Retory Bar's II

Silvan keluar ke ruang tengah hanya terbalut handuk. "Suratnya di mana?" tanyanya langsung.

Tiffany duduk santai di meja makan. Dia memakai kaos milik Silvan dan tidak mengenakan pakaian dalam. Pandangan Silvan pun langsung tertuju pada amplop yang sudah terbuka di depan perempuan itu.

"Apa-apaan sih ini? Kamu buka suratku sembarangan?" tanya Silvan kesal. "Kita kan sudah sepakat nggak boleh buka barang masing-masing."

Wajah cantik Tiffany berubah dingin dan tatapannya jadi tajam. "Jangan bicara keras gitu ke aku! Kamu lagi lapar ya makanya emosi?" bentaknya.

"Sini kasih ke aku!" Silvan segera merebut surat itu dari tangan Tiffany.

Di dalam surat tertulis konfirmasi pembayaran uang kuliah dan laporan sumbangan dari orang tuanya untuk fasilitas kampus. Ada juga nomor kontak kantor rektor jika butuh penjelasan lebih lanjut. Silvan membaca isinya sekilas. Dia sadar keluarganya memiliki kekayaan yang cukup banyak. Dia tidak mau melihat rincian angka pembayarannya. Dia langsung melipat kertas itu kembali.

"Ini kan ditujukan buat papa dan mamaku, bukan buat aku," katanya datar.

Tiffany berdiri dan menuangkan minuman ke gelas, lalu menyodorkannya ke tangan Silvan. "Minum aja dulu. Biar kamu nggak ngomel terus," ucapnya santai.

Silvan menatap wajah perempuan itu. Dia bertanya-tanya lagi, kenapa masih bertahan dalam hubungan ini. Mungkin hanya karena fisiknya yang menarik.

"Oke deh, aku tahu aku sering minum. Makasih udah ingetin," jawabnya dengan nada menyindir. Dia tetap menerima gelas itu, mengangkatnya sedikit ke arah Tiffany, lalu tersenyum sinis. "Makasih banyak ya."

Silvan sering menatap mata cokelat milik Tiffany dengan saksama. Dia berharap bisa melihat sedikit kelembutan atau ketulusan di sana, tapi harapan itu tak pernah terwujud.

“Kamu mau pakai apa?” tanya Tiffany sambil menunjuk ke arah tubuh Silvan yang masih telanjang.

Silvan pun menggerakkan pinggulnya dengan sengaja. Keperkasaannya tampak bergelantungan di pahanya sendiri.

“Ini baju hadiah ulang tahunku,” jawabnya santai.

Tiffany menghela napas panjang lalu memalingkan wajah. “Bukan itu maksudku. Nanti ke bar mau pakai baju apa?”

Saat melintas di hadapannya, Silvan mencubit pantat Tiffany tanpa ragu. “Sudah ada,” katanya sambil berjalan masuk ke kamar.

Tiffany mendengus kesal. Baginya, Silvan adalah orang paling tidak peka yang pernah dia kenal. “Serius dong! Aku mau penampilan kita couple an!”

“Ini cuma ke bar, bukan kondangan,” teriak Silvan dari dalam kamar sambil membongkar lemari. Dia mencari celana jins atau setidaknya celana santai yang masih bersih.

“Kamu nggak pernah peduli sama perasaanku ya? Aku mau kita kelihatan kayak pasangan sungguhan.”

“Memang kita pasangan, kan?” jawab Silvan keras, lalu bergumam pelan. “Tapi pasangan yang nggak jelas arahnya.”

Silvan masih mendengar ocehan kesal dari luar kamar. Kata-kata makian samar terdengar, entah menyebut dia pemalas, pecandu minuman, atau cuma orang bodoh. Ia akhirnya menemukan kaos. “Yang warna putih saja deh!”

“Ya sudah!”

Dia hanya butuh lima menit untuk mengenakan celana jins yang cukup layak dan kaos tadi. Baginya itu sudah lebih dari cukup. Sekarang giliran dia menunggu Tiffany bersiap, sambil menghabiskan beberapa teguk bourbon.

Tak lama kemudian Tiffany keluar dari kamar dengan sengaja memperlihatkan penampilannya. Dia mengenakan gaun putih ketat yang memperlihatkan lekuk dada dan pahanya. Dia terlihat sangat menarik, dan Silvan langsung memujinya tanpa ragu. Untuk pertama kalinya hari itu, Tiffany tersenyum tulus.

Rambut Silvan masih agak basah saat mereka melangkah keluar apartemen. Hal itu membuat Tiffany kesal, tapi Silvan sudah agak mabuk jadi dia tidak memedulikannya.

***

Mereka masuk ke dalam tempat bernama Retory Bar's dan mulai mencari keberadaan teman-teman mereka.

“Nah itu mereka ada di sana,” tunjuk Tiffany ke arah sudut ruangan.

Begitu melihat Kenzo, Silvan menoleh ke Tiffany lalu berkata, “Dia ini sering bikin aku naik darah sendiri.”

Kenzo hanya tertawa kecil. Dia paham betul sifat Tiffany yang memang kadang menyebalkan. Saat melihat sekeliling meja, Silvan sadar ada yang aneh pada wajah Eros. Wajahnya tegang, alisnya mengerut, dan mulutnya terkatup rapat.

Silvan mengambil uang lima ratus ribu dari dompet lalu memberikannya pada Tiffany. “Beliin aku satu botol JD campur soda ya,” katanya sambil mencium pipi pasangannya itu. Kalau di tempat umum, sikap Tiffany akan berubah menjadi lebih menyenangkan. Meski tetap ada saja kekurangannya.

Tiffany berjalan menuju meja pelayan. Silvan segera menghampiri teman-temannya yang sudah duduk menunggu.

Retory adalah tempat minum paling nyaman di area kampus, selain tempat bernama Star Nine Lounge. Tapi Silvan tak bisa pergi ke sana karena aksesnya harus lewat lorong sempit di antara gedung perpustakaan dan kantin kampus.

Dia tak sanggup melaluinya. Silvan sangat takut berada di ruang tertutup dan sempit. Setiap kali mencoba masuk, tubuhnya akan langsung kaku dan kadang sampai pingsan. Rasa takut itu sudah ada sejak dia masih kecil.

Suasana di Retory jauh lebih santai. Orang-orang boleh berbicara keras, tempatnya agak berantakan, dan terasa lebih bebas. Kelompok mereka pun sering merasa nyaman dengan kondisi seperti itu.

Leon, selaku pemilik tempat ini cukup sabar menghadapi mereka. Mungkin karena mereka sudah menjadi pelanggan tetap, atau karena sikap mereka masih bisa menjaga tata krama dibanding pengunjung lain yang sering pulang dalam keadaan mabuk.

Tapi Leon tetap orang yang tegas dan kadang terasa kejam. Silvan pernah beberapa kali melihat pelayan baru menangis karena dimarahi olehnya.

Sedangkan Kenzo, dia berperawakan kuat. Di balik sikapnya yang maskulin, dia termasuk orang yang tulus dan cukup peka. Keduanya sama-sama bermain futsal, sehingga terjalin persahabatan karena menghadapi kompetisi yang ketat di lapangan.

Berbeda dengan Eros. Menurut Silvan, Eros sering kali terasa dibuat-buat dan sangat tertutup. Mungkin perasaan tidak nyaman ini muncul karena Eros pernah berhubungan intim dengan Tiffany. Namun yang pasti, Silvan merasa Eros menyimpan sisi yang lebih buruk dari yang diperlihatkan. Sikapnya sulit dimengerti dan terasa berlebihan, meski begitu tetap saja dia anggap teman.

"Closing statement kamu keren banget, Silvan. Kamu emang beda. Tunggu aja cewek-cewek bakal rebutan kamu!” kata Kenzo sambil menyenggol bahunya. “Dasar bocah sok asyik.”

Silvan tertawa kecil. “Aku cuma ngasih apa yang mereka mau denger aja, hahaha.”

Dia menyandarkan siku di meja dekat Eros lalu bertanya, “Ada masalah, bro?”

Eros menatapnya sekilas. “Nggak ada apa-apa.”

Kenzo menyandarkan bahunya ke tubuh Silvan. “Adik kita sebentar lagi tampil, lho,” ejeknya sambil bersuara melengking. “Katanya dia lagi deg-degan nih. Lagian, dia juga cantik banget sih! Uuhh!”

Eros langsung menegang dan mukanya berubah kesal. Silvan makin tertawa melihat reaksi itu. Benar saja, sifatnya memang suka berlebihan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel