Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Teman Satu Asrama

Dori mengeluh dalam hati, "Jangan lagu itu, Eros!" Kepalanya tiba-tiba terasa pusing. “Aku nggak mau tampil di sana, Nanti aku malah ketemu orang-orang itu setiap hari di kampus.”

Selama ini ia bisa tenggelam dalam musik. Tapi ini berbeda. Ia akan melihat mereka lagi di kelas, kantin, asrama, dan tempat lain. Ia tak bisa lagi berpura-pura seolah mereka tidak ada.

“Wah, mukamu sampai pucat gitu,” ejek Eros santai.

Ia memegang kedua pipi Dori dan memaksa matanya menatap lurus ke depan.

 

"Anggap aja yang ada di sana cuma aku." Eros menatap Dori yang terlihat gugup.

"Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Kenzo sambil melangkah mendekat.

Eros pun menurunkan tangannya lalu melingkarkan satu lengan ke bahu Dori dengan sikap melindungi, disertai remasan ringan. "Dori bakal nyanyi di Retory."

Eros bicara dengan nada antusias dan bangga. Sebaliknya, perut malah Dori terasa mual. Kenzo pun tertawa melihat senyum kaku di wajah Dori.

"Kamu kelihatan deg-degan banget, lho."

Dori berdeham sebentar. "Nggak kok, aku baik-baik aja. Cuma haus aja sebenernya."

Suaranya terdengar terbata-bata. Saat memalingkan pandangan, kakinya sendiri tersandung. Eros segera memegang siku Dori agar tidak jatuh, sedangkan Kenzo hanya tersenyum geli.

"Aku nggak apa-apa, beneran." Dori mengusap wajahnya untuk menyembunyikan kegelisahan, tapi usahanya gagal. "Tenang aja, aku nggak kenapa-napa."

Kenzo berdiri di sampingnya dan menatapnya seolah merasa kasihan.

"Kamu yakin mau lakuin ini?" tanya Eros. "Kalau ragu, aku bisa hubungi Leon sekarang dan batalin itu. Bilang aja kamu masih terlalu cengeng buat tampil di depan orang."

Eros dan Kenzo langsung tertawa mendengar ucapan itu. Dori pun kesal dalam hati. Dia bertanya-tanya kenapa Eros selalu ingin membuatnya merasa lemah.

"Nggak usah dibatalin. Aku mau kok." Dori memaksakan senyum yang lebih meyakinkan.

"Kamu main alat musik apa aja?" tanya Kenzo sambil melipat tangan di dada.

Dori hanya diam, menggeser posisi tali tas yang terasa makin berat di bahu. "Cuma gitar akustik aja."

Angin bertiup makin kencang sehingga roknya berkibar. Dia pun menekan roknya dengan satu tangan, lalu menyisir rambut yang menutupi wajah dengan tangan lain. Kenzo memperhatikan tingkahnya dan tersenyum.

Dori mengerutkan dahi. Saat dia menoleh, dia melihat Kenzo sengaja menatap pahanya cukup lama saat rok itu terus tertiup angin.

"Jangan merendah, dong. Dia yang nulis lagunya sendiri, main musik sekaligus nyanyi. Keren banget lho," puji Eros dengan nada bangga.

Kenzo pun tersenyum sambil mengangkat satu alis, coba menggoda. "Aku nggak sabar deh lihat aksi kamu nanti."

"Makasih."

Setelah mengambil koper dan gitar di ruang administrasi, mereka berjalan menuju lokasi asrama. Di sanalah rumah barunya nanti.

Dori menarik napas panjang. Saat tiba di tangga masuk, matahari mulai bersembunyi di balik awan tebal. Udara sore mulai terasa dingin menusuk kulit. Dori melirik barang bawaannya yang jumlahnya sedikit dan hanya barang sederhana. Hanya berisi kebutuhan pokok saja. Memang dia tidak suka membawa barang terlalu banyak. Apalagi pernak-pernik hiasan atau poster dinding.

Semua itu cuma memakan tempat, buang uang, dan mengingatkannya bahwa dirinya berbeda dari orang lain. Mengingatkannya kalau hidupnya tak pernah berjalan normal seperti kebanyakan orang.

Mereka melewati patung batu berbentuk makhluk aneh yang menjadi penjaga tangga masuk. Dori terkejut melihat bangunan asramanya ternyata sangat modern. Koridornya menyala terang dua puluh empat jam dan khusus dihuni oleh mahasiswi, hal itu membuat Eros merasa lebih tenang.

Dori melangkah hingga berhenti tepat di depan kamar nomor tujuh puluh tiga. Dia akan tinggal di ruangan ini selama satu tahun ke depan. Hatinya terasa berdebar campur aduk. Ada semangat, tapi juga ada ketakutan yang luar biasa besar. Setiap tahun, kampus ini didatangi banyak orang cerdas, penemu ide, dan seniman berbakat. Mungkin kamar ini pernah ditempati oleh seseorang yang sangat hebat.

Dori meletakkan kopernya ke lantai lalu berdiri diam memandangi pintu itu. Tempat ini akan menjadi bagian dari kesehariannya mulai hari ini.

"Kamu cuma mau berdiri di situ aja atau mau masuk?" tanya Eros menatapnya dengan wajah bingung.

 Dori menghela napas panjang. “Ini rumahku selama satu tahun ke depan. Aku ingin benar-benar menikmati waktunya,” katanya sambil menoleh ke arah Eros.

Eros pun mendengus pelan. “Aneh juga pikiranmu.”

Dori menarik napas dalam. Lalu dia memasukkan kunci ke lubang pintu dan memutarnya hingga terdengar bunyi, "CETAAAAR!"

Pintu pun terbuka. Dia mengambil barang bawaannya dan melangkah masuk perlahan.

“Hai!”

Seorang gadis melompat dari posisi duduknya di atas karpet tengah ruangan.

“Hai, namaku Juanda!” serunya.

Gadis itu langsung mengambil kotak gitar dari tangan Dori, membawanya ke tempat tidur, lalu meletakkannya di atas kasur. Dori merasa lega karena Juanda tidak berusaha menjabat tangannya. Setidaknya mereka melewati bagian yang biasanya terasa kaku.

“Ini tempat tidurmu. Aku udah nunggu dari tadi pagi. Kamu ikut acara ospek kampus tadi? Berapa sih umurmu? Jujur aku deg-degan banget ketemu kamu. Semoga kita bisa akrab dan cocok, biar setahun ini nggak terasa berat. Maaf ya, jangan merasa aku terlalu heboh,” ucap Juanda beruntun.

Dori terdiam sesaat, terkejut sekaligus tak menyangka dengan semangat gadis itu.

“Hai, aku Dori,” jawabnya akhirnya.

“Nama apa itu? Kayak nama ikan?” tanya Juanda antusias sambil bergoyang-goyang ringan.

Eros masuk menyusul dari balik pintu. “Santai dong, dia baru sampai. Kamu sudah minum kopi berapa gelas sih hari ini?” candanya sambil tertawa kecil.

Semangat Juanda pun langsung redup saat melihat wajah Eros yang kini terlihat serius.

“Hai … Cuma satu gelas kok,” jawabnya lirih.

“Aku cuma bercanda, nggak butuh jawaban kok. Dan nama dia nggak ada hubungannya sama ikan. Dia memang dipanggil begitu. Umurnya dua puluh satu tahun, dan tadi kami baru selesai acara ospek. Tenang saja,” jelas Eros.

Mulut Dori masih terbuka hendak menjawab satu per satu pertanyaan itu, tapi Eros sudah lebih dulu bicara.

“Maafin dia,” kata Dori menghampiri Juanda yang tampak bingung. “Aku Dori Agnasia Guntoro, senang bisa sekamar sama kamu.”

Dia melirik Eros dengan tatapan ingin menegur. Tapi Eros hanya memandang ke arah luar asrama tidak peduli.

Juanda bertubuh mungil dan berpenampilan unik. Dia berkacamata bingkai tebal berwarna cokelat, dengan mata biru yang terlihat jelas. Di wajahnya ada bintik-bintik halus, garis mata hitam tebal dan cat kuku dengan warna yang tidak serasi. Secara keseluruhan, dia terlihat menarik.

Ruangan itu lebih kecil dari perkiraan Dori, tapi sudah dilengkapi perabotan dasar. Jadi tidak ada alasan untuk mengeluh. Ada dua tempat tidur, dua meja belajar, dan dua lemari pakaian.

Bagian sisi milik Juanda sudah penuh dengan hiasan. Terdapat poster penyanyi Katy Perry, Lady Gaga, dan aktor Ryan Gosling menempel di dinding.

Dori menghela napas panjang melihat sisi kamarnya yang masih polos tanpa hiasan apa pun. Dia berharap Juanda tidak kecewa melihat dirinya yang tidak suka menghiasi ruangan. Memang dia bukan tipe orang yang suka memperlihatkan kepribadian lewat barang-barang.

Juanda mendekat dan berbisik pelan, “Itu pacar kamu ya?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel