Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Retory Bar's I

Dori hanya meringis mendengar nada bicara mereka. Seharusnya Eros mengatakan hal itu setelah dia pergi saja. Kenzo bertubuh kekar dan berotot. Dia rutin berolahraga dan terlihat kuat secara fisik. Otot tangannya menonjol jelas. Rambutnya pendek berwarna cokelat tua, matanya abu-abu gelap, dan rahangnya tegas. Dia cukup tampan.

“Aku ngomong begini bukan buat bikin kamu marah, tapi jujur aja dia makin terlihat menarik buatku,” pekik Kenzo tersenyum sambil memandangi tubuh Dori dari atas ke bawah.

Dori hanya bisa diam dan merasa tidak nyaman mendengarnya. Dia berdiri di tempat itu tanpa tahu harus berbuat apa.

Seorang gadis berambut pirang melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya. Dori pun menjabat tangan gadis itu kembali. Sekarang dia harus terbiasa berjabat tangan dengan banyak orang.

“Maafin kelakuan mereka, ya. Dasar manusia purba yang kurang ajar,” ujar gadis itu ramah. “Namaku Tiffany.”

Penampilan Tiffany sangat menarik dan proporsional. Dia lebih tinggi dan sedikit lebih ramping dibanding Dori, dengan kaki jenjang serta mata berwarna cokelat gelap. Pakaian dan riasannya terlihat mahal dan rapi. Dori yakin rambut pirang Tiffany bukan warna aslinya, meski tetap terlihat bagus. Tanpa sadar, perasaan minder muncul dalam diri Dori meski sambutan Tiffany tadi sangat baik.

“Hai, aku Dori,” jawabnya sambil melepaskan jabatan tangan itu, sementara para pria di sekitar masih berteriak-teriak riuh.

Tiba-tiba pandangan Tiffany beralih ke arah panggung. Dia langsung memukul lengan Kenzo cukup keras lalu menyuruhnya diam.

“Dengerin, ihhh! Sebentar lagi Silvan tampil! Diam dulu!”

Kenzo meringis kesakitan lalu mendorong bahu Tiffany secara pelan. Dari raut wajah gadis itu, jelas dia tidak suka diperlakukan seperti itu. Eros lalu membungkuk dan mendekatkan mulutnya ke telinga Dori.

“Teman kita itu mau bicara di panggung. Nggak tahu juga dia dapat kesempatan itu lewat jalan apa. Mungkin orang tuanya nyogok panitia atau dia cari muka saja.”

“Kok kamu bicara begitu sih?” tanya Dori pelan.

Eros tetap berbisik agar tidak terdengar orang lain di sekitar mereka. “Karena dia itu pecandu minuman keras. Hampir semua orang tahu, tapi nggak ada yang berani buka suara.”

“Nah, itu dia!” seru Tiffany sambil menunjuk antusias ke arah panggung.

Seluruh area lapangan langsung dipenuhi suara siulan dan sorakan keras. Napas Dori terhenti dan dadanya terasa sesak saat sosok di atas panggung memutar badan menghadap kerumunan.

Pria itu terlihat sangat gagah dan menawan. Meski belum jelas warna matanya dan rambutnya, bentuk bahu serta dadanya terlihat kokoh dan kekar di balik kemeja yang dikenakannya.

“Woi, Silvan Bajo!” teriak Kenzo sambil melengkungkan kedua tangannya di depan mulut agar suaranya keras.

“Ayo Silvan!” Tiffany bertepuk tangan riang dengan senyum lebar yang tak hilang dari wajahnya.

“Halo semuanya. Namaku Silvan Bajo.”

Suaranya berat dan sedikit serak, membuat kepala Dori terasa sedikit pusing. Dia terus menggeser posisi tubuhnya dengan gelisah, namun matanya tidak beranjak sedikit pun dari arah panggung.

“Pendidikan bukan sekadar pilihan atau previllage. Ini adalah dasar bagi keberadaan setiap manusia. Pendidikan bukan cuma untuk yang muda, pintar, atau pandai bicara, tapi milik semua orang. Bukan hanya untuk satu masa atau satu tahun saja, tapi berlangsung seumur hidup.”

Meskipun tadi kerumunan menyambutnya dengan sorakan keras, kini semuanya terdiam. Itu bentuk penghormatan jelas atas ucapannya dan dirinya sendiri.

Silvan pun melanjutkan berbicara.

“Aku mau bilang kalian punya hak untuk terima atau abaikan pendidikan, kalau memang beruntung, kalian bisa memilih. Tapi menurutku cuma ada satu pilihan yang tepat. Pendidikan ada dalam setiap hal yang kalian lakukan, mulai cara berpakaian hingga cara bergerak. Ia bisa melahirkan kehebatan sekaligus bisa menciptakan kerusakan, dan yang paling penting, pendidikan memberi kita kekuatan untuk terus maju. Dengan itu kita bisa jadi siapa saja yang kita inginkan. Percayalah, kepintaran bukan satu-satunya syarat menuju sukses.”

Dia berhenti sebentar.

“Aku bisa berdiri di sini kan? Itu bukti kalau aku nggak harus pintar, kan?”

Dia tertawa sendiri, lalu disusul tawa dan tepuk tangan dari penonton.

“Ini bukan masalah uang, keturunan, atau masa lalu kalian. Yang penting adalah apa yang kalian putuskan dan lakukan mulai sekarang. Masa lalu biarlah jadi kenangan saja.”

Dia berjalan menyusuri panggung sambil memegang mikrofon, lalu menatap langsung ke arah kerumunan.

“Pendidikan akan mengubah hidup dan membuka wawasan kalian. Hargai kesempatan ini, ajari dan dukung orang lain di sekitarmu. Terima kasih.”

Dia mulai turun dari panggung, lalu berhenti sejenak dan berteriak. “Hai ... kawan-kawan!”

Memang benar, dia suka mencari perhatian.

Dori baru sadar dia sudah menahan napas cukup lama. Ia berusaha menahan senyum yang terasa agak konyol.

Melihat Silvan bicara penuh percaya diri di depan ratusan orang, Dori tak hanya kagum. Semua gadis di sekitarnya juga tampak terpesona. Wajah mereka nampak memerah dan gelisah.

Nama Silvan Bajo kembali bergema saat ia melangkah turun. Tiffany bertepuk tangan sangat keras sampai Dori yakin telapak tangannya pasti terasa perih. Gadis itu langsung menerobos kerumunan dan menyambut Silvan dengan antusias.

“Dia keren banget sih,” kata Dori pada Eros sambil melihat Silvan memeluk Tiffany.

Mereka berdua terlihat sangat cocok satu sama lain. Jelas sekali Tiffany sangat mengaguminya.

Eros hanya mendengus pelan. “Iya, dan dia juga sadar banget kalau dirinya keren.”

“Kamu juga jangan banyak omong!” ejek Dori.

“Ya ampun…” Eros menunjuk dadanya sendiri. “Kamu Lupa ya? Aku ini kan king of tebar pesona.”

Eros tertawa, lalu pandangannya beralih ke seorang gadis cantik yang duduk di rumput tak jauh dari sana. Ia langsung mengedipkan mata menggoda. Dori menjentikkan jari tepat di depan wajah Eros agar perhatiannya kembali.

“Aku nggak bakal sanggup berdiri di panggung sebesar itu dan bicara sebanyak dia.”

Eros menoleh dan mengangkat bahu santai. “Kenapa? Bukannya kamu sering nyanyi di depan banyak orang?”

Dori menggeleng cepat. “Itu beda. Waktu nyanyi aku nggak pernah berani menatap penonton atau berinteraksi. Fokusku cuma nyanyi!"

Mata Eros langsung berbinar dan tersenyum lebar. Dori pun langsung merasa curiga.

“Ngomong-ngomong,” kata Eros sambil mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya. “Aku sudah carikan tempat kerja buat kamu.”

Mulut Dori langsung terbuka kaget. “Maksudnya apa?”

Dori segera menyambar kertas itu dan membaca isinya dengan suara pelan.

“Tempat: Retory Bar.”

“Hari: Selasa dan Jumat, mulai jam tujuh malam.”

“Hubungi Leon Rasheed, nomor 08133xxxxx.”

Ia menatap Eros dengan bingung. “Kerja apa? Jadi pelayan?”

Eros mendongakkan kepala dengan bangga. “Bukanlah. Ini kesempatan manggung. Mereka mau kamu nyanyi dua kali seminggu. Leon sempat dengar lagu Senyum Matahari di hpku dan dia seneng banget.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel