Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

1. Hari Pertama Ospek

“Ingat, cuma ada kita berdua. Selalu hanya kita berdua,” gumam Eros berulang kali.

Eros menarik pakaian Dori ke atas, menghilangkan satu per satu kain pembatas di antara mereka. Dori pun seketika gemetar hebat.

Eros menghela napas panjang dengan nada puas. “Nggak ada orang lain yang bisa bikin aku begini selain kamu .…”

Dori mencengkeram lantai dengan kuat hingga kuku-kukunya terasa nyeri. Dia terus menangis dalam keadaan terkurung oleh badan kekar itu, berharap semua ini segera berakhir dengan cepat.

Eros berbicara dengan nada rendah dan penuh nafsu. Ia membangkitkan ingatan tentang hubungan badan pertama mereka.

“Kamu nggak ingat betapa nikmatnya dulu? Waktu pertama kali kita lakuin itu? Rasanya bikin kita makin erat, menjadi saudara sekaligus kekasih. Aku nggak mau lagi pura-pura hal itu nggak pernah terjadi. Bayangin Silvan nyentuh kamu aja … sial, itu bikin aku hilang kendali dan jadi gila. Sekarang aku tahu caranya, iya ... Aku cuma perlu bikin kamu ingat lagi rasa nikmat itu! Aahhh ... sini sayang, aku udah enggak tahan!”

Eros langsung menjilat air mata yang mengalir di pipi Dori. Ia meminta agar Dori berhenti menangis. Dori ingin berteriak keras, tapi hanya bisa mengeluarkan sedu sedan. “Eros! Berheeeenti.”

“Aku masih satu-satunya cowok yang pernah masukin Vaggy - mu kan, Dori? Hah ... Jawab aku!!!” tanya Eros sambil menekankan batangnya yang mulai ereksi ke tubuh Dori.

Dori pun mengangguk cepat tanpa sadar, masih dalam tindihan Eros, ia sangat ketakutan.

“Bagus.”

Eros pun membuka kancing celananya lalu menurunkannya perlahan. Dan di situlah pelecehan itu terulang kembali.

***

(SATU MINGGU SEBELUMNYA)

Taksi berhenti tepat di depan area kampus. Dori memandangi gedung dan keramaian mahasiswa baru dengan perasaan gugup. Dia membayar grabcarnya dan menitipkan barang bawaannya di bagian resepsionis kampus.

Alih-alih langsung menuju asrama tempat tinggalnya, dia malah berjalan menuju arah perpustakaan. Ia sudah menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Baginya, cerita fiksi jauh lebih menggairahkan daripada kehidupannya sehari-hari.

"Di sini pasti ada koleksi romance yang lebih lengkap," pikirnya saat melihat bangunan itu berdiri megah.

Perpustakaan itu memiliki sepuluh lantai dengan tiang penyangga yang menjulang tinggi. Dia merasa betah hanya dengan menghirup suasana tempat itu. Begitu dia duduk, ponselnya langsung berdering.

Pesan dari ayahnya tertulis di layar. Isinya mengingatkan dia untuk berhati-hati dan membiarkan Eros membantunya selama di sana.

Dori adalah satu-satunya perempuan yang tersisa dalam keluarga. Ibunya sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu karena kanker.

"Bisa-bisanya aku nemuin kamu di sini?"

Suara Eros terdengar keras dari balik tiang besar hingga menarik perhatian pengunjung lain.

Dori segera menempelkan jari di depan bibirnya sebagai isyarat agar pria itu diam.

"Ssst ... Jangan berisik! Orang-orang lagi fokus baca di sini," bisiknya saat kakaknya mendekat.

Eros duduk tepat di sampingnya. Kakaknya bertubuh tinggi, dan berotot karena sering berolahraga.

"Gimana perjalananmu sampai sini?" tanya Eros sambil tersenyum.

Dori pun menghela napas pelan lalu menjawab dengan nada datar. "Biasa aja, nggak ada kejadian apa-apa."

"Terus ... kangen nggak sama aku?"

"Enggak. Justru aku ngerasa sengsara banget ketemu kamu!"

"Wah, lucu banget deh mulutmu sekarang," balas Eros sambil berdeham pelan. "Papa di rumah sehat-sehat aja kan?" tanyanya lagi.

"Iya, dia aman dan sehat semua."

Suasana menjadi hening seketika. Dori merasa canggung karena sudah lama tidak mengobrol panjang lebar dengan kakaknya itu.

"Panas banget ya hari ini?" tanya Eros memecah keheningan.

Dori hanya mendengus pendek mendengar pertanyaan itu.

"Sudah aku duga, tempat pertama yang kamu cari, pasti tempat yang paling nggak seru di kampus ini. Ke cafetaria kek. Malah ke perpus!" kata Eros.

Dia mengambil buku yang sedang dibaca Dori lalu meletakkannya sembarangan di rak sebelah. Dori langsung mengingat posisi aslinya untuk dikembalikan nanti.

Hening kembali melingkupi mereka. Dori pun akhirnya mencoba memulai lagi percakapan.

"Kamu lihat nggak sih, perpustakaannya gede banget dan keren lho."

"Oh justru aku belum pernah ke sini sama sekali. Padahal aku udah tiga tahun kuliah di sini, kan Bayi Paus?" jawab Eros dengan nada menyindir.

Dia sengaja memanggil panggilan kesayangan yang sangat dibenci Dori.

"Panggilanmu nggak lucu tahu, bikin kesal aja," protes Dori. "Sayang banget otak cerdasmu enggak pernah dipakai."

Mendengar itu, Eros langsung tertawa lepas. Mendengar tawanya, rasa kaku dan tegang di hati Dori perlahan menghilang juga.

 

"Sudah ah, aku mulai bosan nih. Kamu telat buat acara pengenalan kampus." Eros berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Dori. "Ayo bangun."

"Hah?"

"Acara ospekmu, Dori."

"Boleh tunda beberapa menit lagi gak?" pinta Dori.

Kampus ini terasa sangat luas dan melelahkan. Meskipun tujuan utamanya datang ke sini sempat membuat Dori bersemangat, suasana kehidupan mahasiswa justru terasa memberatkannya.

"Nggak ada," ledek Eros. "Ayo bangun, Bayi Paus!"

Dori tidak suka kalimat itu. "Eros, jangan panggil gitu kalau ada orang lain ya," katanya sambil mengerutkan dahi.

"Bangun dulu, Dori." Eros tersenyum lebar dan terus menggerakkan tangannya menandakan tidak sabar.

Dori menatap tangan itu dan memutuskan untuk menerimanya. Dia tidak bisa bersembunyi di tempat ini seharian penuh. Dori meletakkan telapak tangannya ke genggaman Eros. Kakaknya itu menariknya berdiri dengan mudah.

Setelah merapikan rok dan menyisir rambutnya, Dori menatap Eros dengan canggung. "Aku kelihatan udah oke belum?"

Eros mendengus pelan. "Kamu sendiri tahu kok kalo tuh kamu cantik." Dia menatap Dori sejenak. "Semua orang yang punya mata juga bakal sadar hal itu."

Dori menarik napas panjang lalu mengambil ransel dan memakainya di bahu.

"Baiklah. Lets go."

"Rambutmu makin panjang nih, Rambut Kuntilanak!" Eros pun menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi dahinya.

"Jangan panggil gitu!" gerutu Dori sambil melangkah mendahului menuju pintu.

Eros tertawa kecil. "Hahaha langsung marah, dia!"

"Aku nggak marah." Dori memegang ujung kemejanya dengan gelisah. "Aku cuma deg-degan."

Eros berbalik lalu memegang kedua bahu Dori dengan tangannya yang besar. "Jangan lebay. Kamu pasti bisa kok. Di sini aku terkenal, kok, jadi kamu pasti bakal aman, tenang aja."

Eros berjalan lebih dulu menuju lokasi acara ospek. Dori memutar matanya lalu berlari kecil mengejar agar tidak tertinggal. Dia berusaha terlihat tenang.

"Terkenalmu cuma di sini aja, nggak lebih," komentar Dori.

Eros tidak menanggapi ucapannya. Setiap kali melewati sekelompok mahasiswi, dia tersenyum lebar atau mengedipkan mata secara genit.

"Dasar! Ternyata sifatnya masih sama saja," gumam Dori pelan.

"Kan udah aku bilang," Eros menolehnya sambil tersenyum. "Di kampus ini aku dikenal semua orang."

Di lapangan terlihat ratusan mahasiswa berjalan mondar-mandir. Matahari bersinar terang tanpa awan, dan Dori merasa lega bisa memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan rasa cemasnya. Di bagian tengah lapangan berdiri sebuah panggung besar yang dikelilingi banyak tenda. Tenda-tenda itu digunakan untuk memperkenalkan berbagai kegiatan organisasi dan himpunan mahasiswa. Ada himpunan mahasiswa, klub olahraga, hingga klub debat yang semuanya buka pendaftaran.

Suasana di sana sangat ramai, penuh warna, dan bising. Kebanyakan mahasiswi memakai celana jeans dan sepatu santai, membuat Dori merasa tidak cocok dengan rok dan sepatu hak tingginya.

Tubuh Dori menegang saat Eros meletakkan tangannya di bagian pinggang belakangnya. Sikapnya memang sering memerintah dan melindungi, tapi Dori sadar tujuan Eros hanya ingin menjaganya. Ingin memastikan dia tetap berada di dekatnya.

Dori memahami maksud baik itu. Meski begitu, sikap over protektif itu tetap membuatnya terasa tidak nyaman. Mungkin bagi Eros, semuanya masih sama seperti dulu. Mungkin dia masih menganggap Dori sebagai adik yang lemah dan butuh dijaga terus-menerus.

 

Eros langsung menarik Dori mendekat ke sisinya. Napasnya terhenti saat mereka menghadapi sekelompok orang yang menatapnya dengan antusias.

“Heh, goblok!” teriak seorang pria muda sambil menjabat tangan Eros dengan keras. “Ini Dori yang sering kamu ceritain?”

Eros pun tertawa lepas mendengar sapaannya. “Iya, ini adikku, Dori.”

“Hai, Bayi Paus. Aku Kenzo,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Aku sering dengar nama kamu. Nggak keberatan dipanggil begitu, kan?”

“Dia sebenarnya keberatan,” potong Eros cepat.

“Santai aja, aku nggak masalah kok,” jawab Dori sambil menjabat tangannya. Jabat tangan itu terasa aneh dan kaku. “Tapi jangan harap aku bakal respons kalau dipanggil begitu terus.”

Semua orang di sekitar langsung tertawa terbahak. Dori tidak mengerti apa yang lucu dari ucapannya.

“Jadi ini adik yang terkenal itu?” tanya Kenzo sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. “Kamu nggak bilang kalau adikmu secantik ini, Eros.”

Tubuh Eros seketika menegang dan wajahnya berubah serius. “Bro, serius deh! Dia adikku. Hargain dikit dong, bisa kan?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel