BAB 2 Mulutnya minta diplester
Hari lebaran datang, semua keluarga datang kerumah ibuku, ya maklum saja karena ayahku adalah anak tertua, jadi setiap lebaran rumah orangtuaku yang dijadikan untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat
“ee.. chika makin cantik aja” itu kata dari tante jauhku, yaitu sepupu bapakku
“makasih tante” jawabku singkat “ayuk dimana tan ? kok belum kelihatan?” aku melihat sekeliling tak melihat sepupuku yang bernama ayuk, ayuk emang sepupu dekatku, dia sering main atupun curhat sama aku, dia usianya dibawahku 2 tahun
“ada, masih dibelakang tadi” jawabnya yang kemudian duduk setelah bersalaman dengan semua orang yang ada di rumahku “kamu udah kerja dimana chik?” pertanyaan sama yang dilontarkan beberapa hari yang lalu ketika aku sampai dirumah, aku yang ditanya itu hanya nyengir, kakakku hanya melihat reaksiku
“kamu itu lho chik, sekolah tinggi-tinggi enggak kerja, mau jadi apa?” itu kata yang diucapkan oleh suaminya tanteku alias ayahnya ayuk
“iya bener itu chik, kuliahmu aja udah mahal, di universitas swasta lagi, kan dari dulu tante udah bilang masuk dikuliah yang negeri, biar bisa jadi pegawai negeri, banggain ibumu, kamunya aja yang ngeyel” imbuh tanteku
“lihat itu kakakknya ayuk si nindi, dia sekarang jadi pegawai negeri, dan besok habis lebaran dia berangkat ke belanda untuk kuliah, dikuliahin sama kantornya” omku yang ayahnya ayuk mulai pamer atas prestasi anak pertamanya yang diangkat menjadi pegawai negeri sehabis lulus, dan sekarang dia sedang mengurus untuk kuliahnya ke belanda, iya si nindi itu usianya 5tahun di atasku
Aku mau membantah tapi sudah mendapatkan lirikan dari ibu dan ketiga kakak perempuanku yang maksudnya diam tak perlu dibantah, aku memiliki 3 kakak perempuan yang kakak pertamaku dia PNS Guru IPS di SMP, sedangkan kakakku nomer 2 dia juga mengajar tapi dia megajar TK meskipun ijazahnya guru matematika, tapi dia ngajar di TK swasta dan dia menjadi kepala sekolah disana, sedangkan kakak ketigaku awalnya dia enggak bekerja, dia lulus langsung menikah dan setelah putri keduanya berusia dua tahun, dia mendapatkan tawaran mengajar di SMK.
“hai chik” sapa si ayuk yang sudah memelukku “kedepan aja chik, jangan disini banyak emak-emak rempong” itu kata yang terucap oleh ayuk, au tidak tau siapa yang dimaksud ayuk, yang pasti aku langsung berdiri dan mengobrol dengan ayuk dan sepupuku yang lainnya, setidaknya si ayuk menyelamatkanku dari mulut nyinyir tanteku yang minta di plester itu
“capek kan chik di dalem, dinyinyirin para orangtua” kata sepupu cowokku yang bernama ridwan
“habis kamu tadi yang di habisin, ganti aku wan” ridwan emang sepupuku dia seumuran dengan nindi, tapi dia sudah bekerja di perusahaan swasta, tadi ridwan juga dinyinyirin sama tanteku yang satunya, kapan nikah keburu tua dan bla...bla..bla.. , itulah para manusia yang mulutnya tak pernah sekolah, dan mendapatkan pendidikan verbal, serta tak bisa terbuka oleh jaman yang sudah berkembang
“aku tau, dinyinyirin sama ibunya ayuk kan?” ayuk yang mendengar itu hanya nyengir dia tau gimana sifat ibu dan ayanya itu
“kalo enggak dapat lirikan dari ibuku sama kakak-kakakku langsung tu kubales dengan semua kata kasarku yang kudapatkan dari jaman kuliah yang berteman dengan para cowok-cowok” gerutuku
“pasti kamu mau berkata kasar, aku hafal betul siapa kamu chik” aku langsung ketawa ngakak “anggaplah karena ini hari lebaran, kamu mengontrol mulut pedasmu yang suka marahin orang nyinyir” aku malah ketawa ngakak, dikira mulutku mengandung cabe setan kali ya yang sangat pedas itu
“aku juga heran sama orangtuaku, ntah kapan tobatnya, itu Cuma gara-gara mbak nindi aja dia seperti itu, aku takut karmanya berimbas padaku, kamu tau sendiri aku ngajuin judul skripsi selalu ditolak dosenku” gerutu si ayu karena melihat tingkah sombong orang tuanya
Hari sudah semakin sore, beberapa kerabatku sudah kembali kerumah masing-masing, tinggal kerabat jauhku yang emang dia nginep dirumah ibuku, dan tentunya dirumahku masih ada ketiga kakak iparku beserta semua cucu-cucu ibuku “jangan diammbil hati dek omongan tantemu itu” kata ibuku yang takut aku memikirkan semua perkataan tante-tanteku
“ya mulutnya itu lho bu nyebelin, pengen aku robek aja” gerutuku, ibuku type orang yang enggak banyak bicara seperti kakak pertamaku
“meskipun kamu enggak kerja kamu juga masih anakku, kamu juga masih aku kasih makan” kata ibukku, mungkin ibukku sebenarnya yang memikirkan perkataan tante-tanteku, dia type pemikir tapi tak pernah diperlihatkan kepada anak-anaknya
“kamu jadi balik sendiri sama si mei?” tanya kakak keduaku
“iyalah mbak, aku mau reunian sama temen-temenku SMA, sama aku mau ke kota S sehari-dua hari temu kangen sama temen kampus” aku sebetulnya males balik ke kota B barengan dengan arus balik yang terjadi, karena pasti macet sana-sini, jadi aku milih balik ke kota B jika kendaraan umum udah tak seramai waktu lebaran
***
“woi chik” sapa salah satu sahabatku bernama Dibta, dia adalah sahabatku ketika kuliah dulu, dan aku ke kota S juga mengunjungi dia dan keluarganya, karena semasa kuliah aku sering main kerumah Dibta untuk ngerjain tugas dan kadang nemenin Dibta jika kedua orangtuanya tidak dirumah, karena papa dibta kerjanya juga dikota J, dikementrian penelitian
“I miss you so much ta” aku memeluk dibta dengan erat, dan aku dijemput oleh dibta di stasiun untuk menuju kerumahnya “besok acara sama yang lain kalo kamu enggak ikut aku juga enggak ikut ta” kataku, karena mantan dibta pasti hadir, dan aku takut jika dibta tak mau hadir, dan membiarkanku hadir sendirian
“tenang aku hadir kok, masalah sama roy aku bodo amat, mau dia datang apa enggak aku enggak peduli” kata dibta yang sudah mulai cuek, iya dibta pernah diselingkuhi pacarnya itu, kurang ajar emang si roy itu, dia nyari cewek yang sexy yang sukany apake rok mini, dan pastinya bisa diajak berhubungan seks sebelum nikah, dan itu pantangan bagiku dan dibta, kita tak pernah mau memberikan apapun sebelum halal
“ish............ bijak banget sih sahabtku ini, udah berubah ya semenjak ku tinggal setahun yang lalu” godaku, dan dia hanya nyengir “gimana kerjaan ta lancar kan?” iya dibta bekerja di perusahaan telekomunikasi dikota S, sudah 6bulanan ini, sudah selesai masa training yang anya 4bulan
“nginep berapa hari chik? 2hari ya?” mohon dibta, maklum dia sudah lama tak bertemu dengan sahabatnya yang seperti saudara itu
“sesuai keinginanmu sista, lusa kembalikan aku ke stasiun” mereka tertawa bersama “Assalamu’alaikum” sapa chika ke kedua orangtua dibta yang ternyata dirumah, karena masih masa cuti lebaran, tak lupa chika mencium tangan orangtua dibta, terutama mamah dibta yang seperti mamahnya sendiri ketika di masa kuliah dulu
“tante om sehatkan?” tanya chika dan chika harus duduk diruang tamu dulu karena diajak ngobrol orangtua dan bahkan ada neneknya dibta
“alhamdulillah” jawab mamah dan papah dibta secara bersamaan
“kamu sendiri gimana? Sehatkan?” dibta mengangguk “ibu sehatkan nak?” imbuh mamahnya Dibta yang bernama Arra, mereka pernah bertemu dan mengobrol ketika wisudanya dibta dan chika dulu
“alhamdulillah sehat tan, masih bisa beraktifitas seperti biasa, mengajar dan siangnya ngecek toko” ibu chika emang guru SD, dan memiliki toko bahan pokok yang tak terlalu besar dan cukup ramai, dan memiliki 2 pegawai, toko itu hanya bukak sampai jam 08.00-16.30 sore
“tante seneng dengernya, melihat ibumu, tante seperti melihat mertua tante yang mungil seperti ibumu” chika tersenyum mendengarnya, bahkan ibunya pun membawakannya oleh-oleh untuk dititipkan ke tante Arra “gimana tokomu di kota B? Rame kan ya pastinya?” tanya tante arra yang pastinya mendapatkan kabar dari anak gadisnya siapa lagi kalo bukan dibta
“alhamdullillah tante setidaknya bisa buat chika main, nongkrong” mereka tertawa semuanya dengan ngakak
“ya udah sana ke kamar dibta” chika tersenyum “makasih oleh-olehnya ya chik, bilang ibu” tita hanya menjawab oke dan berjalan mengikuti dibta untuk masuk ke kamarnya, dan pastinya mereka akan menghabiskan dengan obrolan yang tak utu ngalor ngidul hingga tertidur
“pasti kamu dinyinyirin keluarga ibumu kan?” itulah dibta dia paling tau, karena chika dulu dari jaman kuliah sering dicurhati chika masalah tante-tante dan budhenya
“mulutnya minta diplester itu, heran sudah tau enggak tobat, ada aja yang disombongin” gerutu chika setelah dia masuk kekamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju rumahan, dan mereka asyik ngobrol dibalkon kamar dibta sambil meminum es sirup serta camilan lebaran yang sengaja dibta ambil untuk menemani mereka mengobrol
Malam hari mereka ke cafe yang sudah direservasi untuk acara chika dan teman-teman kuliahnya mereka berdua hanya menggunakan celana jeans, dan hem aja sih, seperti biasa, karena gaya berpakaian dibta dan chika tak jauh berbeda yang membedakan hanya mungkin tasnya dibta agak ke feminim, menggunakan tas slempang, dan anting panjang untuk menunjang penampilannya, sedangkan chika, dia menggunakan tas ransel kecilnya, dan anting biasa, dia juga tak terlalu suka rambut digerai seperti dibta, dia tetap dengan kuncir kudanya, dan anting kecil berbentuk bintang, dan jam tangan karet kesukaannya
“haduuuuh....... tu orang ngrusak suasana aja, heran aku ngapain harus bawa wanita telanjang kesini sih” gerutu chika yang disetujui teman-temannya, ya mereka semua melihat sepasang pria wanta yang berjalan ke arahnya, si pria sudah pasti mantannya dibta, sedangkan si wanita yang pakai pakaian kurang bahan itu sudah pasti pacarnya atau mainan barunya entahlah
“udah tenang aja, aku enggak peduli sama dia, aku juga enggak butuh cowok kayak dia” ucap dita dengan santai, dan langsung mendaptkan tepukan tangan dari para teman-temannya, iya pertemanan mereka hampir rusak karena sifat main cewek yang dilakukan mantan dibta
