Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4

Salju masih terus mengguyur kota Bianjing.

Namun di kediaman keluarga Qin, suasana justru sangat meriah.

Baru saja kembali dari Kantor Pengadilan Ibu Kota, Qin Wuyou langsung "ditangani" oleh kedua kakak iparnya.

“Sanlang, kamu benar-benar mengharumkan nama keluarga kita dengan menjadi menantu kekaisaran. Aku ingin lihat siapa lagi yang berani meremehkan keluarga Qin mulai sekarang!” seru Meng Manjiao dengan penuh semangat, sambil menatap titah Permaisuri berulang-ulang, senyumnya tak bisa disembunyikan.

Shen Sanniang, yang biasanya kalem dan penuh perhitungan, kali ini pun tampak lebih bahagia dari biasanya.

“Sanlang memang hebat. Sanlang, kamu lapar tidak? Mau makan apa? Hari ini Kakak Ipar yang masak langsung, akan kubuatkan hidangan spesial untukmu.”

“……”

Dikelilingi oleh dua wanita cantik yang begitu antusias, Qin Wuyou sampai-sampai merasa malu sendiri.

Bagaimanapun, mereka itu kakak iparnya. Diperlakukan seperti ini, apa… ini tidak terlalu berlebihan?

“Aku… ingin makan jiaozi (pangsit).”

“Baik, baik! Kakak ipar akan buatkan pangsit untukmu,” jawab Shen Sanniang dengan lembut, langsung menuju dapur. Meng Manjiao meletakkan titah kekaisaran dengan hati-hati, lalu menyusul ke dapur untuk membantu.

Mungkin ini adalah hari paling bahagia bagi mereka berdua dalam beberapa tahun terakhir.

Qin Wuyou, begitu mereka meninggalkannya, sorot matanya berubah serius.

“Satu puisi konyol, bisa membuat Permaisuri tertarik?”

Ia mencoba mengingat kembali potongan ingatan dari tubuh aslinya, mencari jejak atau petunjuk tersembunyi.

Pemilik tubuh ini dulunya pria tanpa ambisi dan tak banyak tahu urusan penting. Tapi setidaknya, dari kepingan-kepingan memori itu, Qin Wuyou bisa menyusun gambaran yang lebih jelas.

Permaisuri Ye Feng’er, meskipun memegang gelar tinggi, tidak pernah berhasil melahirkan anak untuk Kaisar Dinasti Zhou. Kini, sang Kaisar sudah tua, dan kemampuannya di ranjang pun jauh menurun. Harapan Ye Feng’er untuk punya anak kandung pun pupus.

Untuk mempertahankan posisinya dan memperkuat pengaruh keluarga Ye, ia mengadopsi Pangeran Keenam sebagai anak angkatnya.

Sejak itu, hubungan Ye Feng’er dengan Putra Mahkota menjadi buruk. Ia bahkan ingin menggulingkan Putra Mahkota dan mengangkat Pangeran Keenam sebagai penggantinya.

Memikirkan semua itu, barulah Qin Wuyou sadar apa yang sebenarnya terjadi.

“Pantas saja… Putri Changning adalah adik kandung Putra Mahkota. Keluarga Qin sudah merosot, dan aku, sebagai menantu, tidak bisa memberikan keuntungan politik bagi Putra Mahkota. Maka, Ye Feng’er tak perlu takut posisinya tergoyahkan. Aku ini hanya ‘pion aman’ dalam rencananya.”

Qin Wuyou sadar betul, dirinya telah dimanfaatkan oleh Ye Feng’er. Kalau tidak, mana mungkin puisi iseng seperti itu membuatnya terpilih jadi menantu kekaisaran?

Ia pun menghela napas dan mencibir, “Andai aku tahu begini, lebih baik sekalian kutulis puisi salju yang bagus sekalian. Setidaknya, tidak dianggap tolol begini.”

Sekarang sudah terlanjur jadi menantu, hidup ke depan pasti tak akan tenang.

Terlebih, ia sama sekali tak tertarik ikut campur dalam perebutan takhta. Bukankah lebih enak hidup bebas dengan mengandalkan kemampuan sendiri?

Saat ia sedang merenung, tiba-tiba seorang pelayan istana dari Istana Timur datang berkunjung.

“Tuan Qin, Yang Mulia Putra Mahkota memanggil Anda ke Istana Timur sekarang juga.”

“Putra Mahkota?”

Ekspresi Qin Wuyou sedikit berubah. Baru saja ia ditunjuk sebagai menantu kerajaan, sekarang Putra Mahkota sudah memanggilnya ke Istana Timur. Apa maksudnya?

Ia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba tertawa kecil, “Hehehe... Gonggong, rasanya aku tidak perlu pergi ke Istana Timur. Tapi ke kediaman Putri… bolehkah? Aku ini sudah jadi calon suaminya, tapi belum pernah melihat wajah Putri. Kudengar katanya, beliau sangat cantik. Aku jadi tak sabar, ingin cepat-cepat bertemu.”

‘Tak sabar’ untuk apa, Qin Wuyou memang tak jelaskan. Tapi kasim itu—meski sudah "tidak punya bagian bawah"—masih cukup peka untuk menangkap makna cabul di balik kata-katanya.

“Kamu…!” sang kasim hampir mendidih karena marah. Belum juga menikah, Qin Wuyou sudah bicara seperti itu?

Mengingat reputasi Qin Wuyou yang selama ini buruk, si kasim semakin yakin: keluarga Qin benar-benar melahirkan satu bajingan kelas kakap.

“Apa salahku? Aku ini calon suami resmi. Masa mau ketemu istri sendiri saja tidak boleh? Dan kalaupun aku mau melakukan ‘sesuatu’... memangnya kenapa?”

“Kamu…!”

Si kasim nyaris muntah darah karena terlalu emosi.

Ia menatap tajam ke arah Qin Wuyou, menghembuskan napas dengan keras, lalu berbalik dan pergi dengan marah menuju Istana Timur.

Melihat punggung kasim itu menghilang, bibir Qin Wuyou melengkung membentuk senyum sinis.

‘Setelah aku bersikap tak tahu malu seperti itu, apakah Putra Mahkota masih mau menikahkan adik kandungnya denganku?’

Terlebih lagi, bukankah Putra Mahkota sendiri sebenarnya juga tak sudi menjadikan Qin Wuyou—dari keluarga yang sedang merosot—sebagai menantunya?

Istana Timur.

Cuaca sangat dingin. Putra Mahkota Zhou Qian duduk di dekat tungku, selimut bulu musang tergeletak di atas pahanya.

Setelah mendengar laporan dari kasimnya, ekspresi Zhou Qian langsung berubah muram. “Apa benar Qin Wuyou berkata seperti itu?”

Kasim itu tampak sangat gusar. “Yang Mulia, setiap kata yang hamba ucapkan adalah kenyataan. Qin Wuyou itu benar-benar cabul. Dia berani bicara hal-hal yang merendahkan Putri Changning. Orang seperti itu… mana layak jadi menantu kerajaan? Kalau Putri Changning benar-benar dinikahkan dengannya, bukankah hidupnya akan hancur?”

Zhou Qian berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir di aula, angin dingin menyelinap masuk dan membuat tubuhnya menggigil.

Setelah hening sejenak, Zhou Qian akhirnya memerintahkan, “Siapkan tandu. Aku akan masuk istana dan menghadap Ayahanda Kaisar.”

Mendengar perintah itu, kasim itu langsung tersenyum puas. ‘Akhirnya! Kalau Putra Mahkota turun tangan langsung, Qin Wuyou pasti batal jadi menantu. Semua penghinaan yang kuterima di rumah keluarga Qin tadi… akan segera terbalaskan!’

“Baik, hamba akan segera menyiapkan semuanya.”

Istana Kekaisaran.

Salju tebal telah menyelimuti seluruh lingkungan istana, menjadikannya lautan putih perak yang membisu.

Di dalam Paviliun Kekaisaran, Kaisar Zhou Zhi—yang telah berusia lebih dari lima puluh tahun—berdiri di depan jendela, menatap hujan salju yang turun di luar. Di balik sorot matanya yang dalam, terselip secercah kekhawatiran, meskipun nyaris tak terlihat.

Di belakangnya, seorang kasim tengah melaporkan kejadian terbaru.

“Yang Mulia Permaisuri telah memilih putra ketiga mendiang Jenderal Qin, yakni Qin Wuyou, sebagai menantu Putri Changning. Qin Wuyou juga menulis sebuah puisi…”

Kasim itu melaporkan seluruh peristiwa secara rinci.

Setelah mendengarnya, wajah Zhou Zhi sempat tertegun sesaat, kemudian tersenyum tipis.

“Bagus juga bait ‘Anjing hitam bertompok putih, anjing putih seluruh tubuh bengkak.’ Jadi ini calon menantu yang dipilih Permaisuri untuk putri kita?”

Nada ucapannya datar, tak terbaca emosi. Kasim yang berdiri di belakang pun tak berani menanggapi, hanya berdiri kaku dengan penuh rasa hormat.

Pada saat itulah, seorang kasim lain tergesa-gesa masuk dan melapor, “Yang Mulia, Putra Mahkota memohon bertemu.”

Zhou Zhi berbalik. Berbeda dengan tubuh Putra Mahkota yang agak gemuk, tubuh Zhou Zhi lebih kurus dan ramping. Wajahnya memberi kesan dingin dan tegas, dan tatapan matanya begitu dalam seolah tak berujung.

“Suruh dia masuk.”

Kasim itu segera mundur dan tak lama kemudian, Putra Mahkota Zhou Qian masuk ke dalam ruangan dengan tubuh bersalju.

“Ananda memberi hormat kepada Ayahanda Kaisar.”

Zhou Zhi mengangguk. “Putra Mahkota datang menembus salju, ada urusan apa?”

Zhou Qian berkata, “Ayahanda, kedatangan ananda kali ini berkaitan dengan urusan perjodohan Putri Changning. Permaisuri telah memilih Qin Wuyou sebagai menantu. Walau Qin Wuyou memang berasal dari keluarga pahlawan, namun dirinya adalah seorang yang tidak tahu ilmu dan tidak punya keahlian. Putri Changning tidak seharusnya dipasangkan dengan orang seperti itu. Ananda memohon Ayahanda mencabut keputusan ini.”

Zhou Zhi mendengarkan dengan tenang hingga Zhou Qian selesai bicara, lalu perlahan membuka suara:

“Adalah Putri Changning sendiri yang meminta pada Ayahanda agar dicarikan seorang suami. Dan Ayahanda telah menyerahkan seluruh urusan ini kepada Permaisuri. Kini Permaisuri telah memilih Qin Wuyou, maka dialah menantu yang sah.”

“Urusan dalam keluarga kerajaan tak bisa begitu saja diubah. Jika kita cabut titah sesuka hati, bukankah rakyat akan berkata bahwa istana kerajaan tidak punya integritas? Sebagai Putra Mahkota Dinasti Zhou, engkau seharusnya mengerti prinsip ini lebih dari siapa pun.”

“Tapi… Qin Wuyou…”

“Qin Wuyou adalah keturunan keluarga pahlawan. Apa salahnya?” potong Zhou Zhi dengan suara tenang namun tegas.

Ketegangan pun menggantung di udara, membekukan ruang yang bahkan sudah dingin karena salju.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel