Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3

Ucapan petugas pengadilan itu membuat Meng Manjiao kebingungan. Ia langsung menoleh ke arah Qin Wuyou.

Qin Wuyou sedikit panik. Ia tak menyangka Zhao Jing akan bergerak secepat itu dan langsung melibatkan Kantor Pengadilan Ibu Kota. Licik sekali orang itu.

“Apa yang sudah kamu lakukan?” tanya Meng Manjiao.

Qin Wuyou ragu sejenak, tapi kemudian teringat bahwa dirinya kini adalah orang yang telah mengalami dua kehidupan. Tak perlu bersikap pengecut lagi. Ia pun membusungkan dada dan menjawab lantang, “Aku memukul Zhao Jing.”

“Kamu memukul Zhao Jing?” suara Meng Manjiao langsung meninggi. Tapi ekspresinya bukannya khawatir, justru tampak senang.

“Anjing itu memang sudah seharusnya dipukul! Bagus, aku mendukungmu, Sanlang!”

Reaksi Meng Manjiao mungkin membuat orang lain terkejut, tapi kalau dipikir-pikir, memang bisa dimengerti. Keluarga Zhao adalah musuh bebuyutan keluarga Qin. Mereka sejak lama menyimpan dendam, hanya saja Qin Wuyou yang dulu terlalu penakut untuk berani melawan keluarga Zhao.

Sekarang, Qin Wuyou memukul Zhao Jing? Bagi mereka, ini seperti melihat secercah harapan.

Petugas pengadilan mendengus dingin. “Jangan senang dulu. Zhao Jing sudah resmi melaporkan Qin Wuyou karena melakukan penganiayaan. Qin Wuyou, ikut kami ke Kantor Pengadilan.”

Meng Manjiao mencibir. “Sanlang, biar Ersao (kakak ipar kedua) yang menemanimu ke sana. Aku mau lihat sendiri siapa yang berani macam-macam padamu.”

Meskipun keluarga Qin sudah kehilangan semua lelaki andalan mereka, bukan berarti mereka bisa diinjak-injak begitu saja.

Tak lama kemudian, mereka bertiga pun mengikuti para petugas menuju Kantor Pengadilan Ibu Kota.

Di pengadilan, Pang Tong—Kepala Kantor Pengadilan—sudah duduk di kursi utama. Zhao Jing berdiri di hadapan sidang, penuh amarah. Begitu melihat Qin Wuyou datang, ia langsung berseru:

“Yang Mulia, Qin Wuyou telah memukuli saya hingga begini. Mohon Yang Mulia menegakkan keadilan bagi saya!”

Pang Tong adalah sosok yang sangat lihai membaca situasi. Di ibu kota, para pejabat tinggi sebanyak semut. Sedikit saja salah langkah, bisa menyinggung orang yang tak seharusnya disinggung.

Karena itu, ia sangat berhati-hati dalam bertindak.

Dan Zhao Jing adalah putra seorang Perdana Menteri. Sudah jelas ia tahu ke arah mana harus berpihak.

“Qin Wuyou! Berani-beraninya kamu memukul orang di jalan! Kamu tahu itu melanggar hukum?”

Pang Tong bertubuh tambun, matanya kecil dan bulat. Saat menatap Qin Wuyou, ekspresinya seakan ingin memangsa.

Kalau ini adalah Qin Wuyou yang dulu, mungkin sudah ketakutan. Tapi sekarang, Qin Wuyou bukan lagi orang yang sama.

“Yang Mulia, mohon pertimbangkan dengan bijak. Justru Zhao Jing yang lebih dulu menyerang. Aku hanya membela diri.”

Zhao Jing segera berseru, “Jangan dengarkan dia, Yang Mulia! Jelas-jelas dia yang memulai! Lihat saja wajahku ini, bukankah bukti sudah jelas?”

Pang Tong mengangguk berulang kali. Ia menatap tajam Qin Wuyou dan berkata, “Kamu memukul orang di depan umum, masih mau membela diri? Penjarakan dia! Cambuk sepuluh kali, lalu masukkan ke sel!”

Melihat Pang Tong sama sekali tak adil dan langsung menjatuhkan hukuman, Meng Manjiao langsung maju dengan marah.

“Siapa yang berani menyentuh adik iparku, coba saja! Kalian pikir keluarga Qin bisa seenaknya dihina begitu saja?”

Namun, para petugas tak peduli, mereka langsung bergerak untuk menangkap Qin Wuyou.

Saat mereka hampir berhasil, tiba-tiba terdengar suara dari luar Kantor Pengadilan.

“Qin Wuyou! Mana Qin Wuyou?!”

Begitu suara itu terdengar, seorang kasim istana berlari masuk tergesa-gesa. Karena cuaca dingin, wajahnya memerah, dan ia terengah-engah sambil berlari.

Semua orang langsung terdiam.

Begitu melihat Qin Wuyou, kasim itu berseru dengan gembira, “Astaga, Qin Wuyou! Akhirnya ketemu juga! Cepat, terima titah! Permaisuri telah menetapkanmu sebagai menantu kerajaan!”

Kata-kata itu membuat seluruh ruangan hening.

Zhao Jing terpaku di tempat. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

Bagaimana mungkin Permaisuri memilih Qin Wuyou menjadi menantu kerajaan? Itu… tidak masuk akal!

“Yang kamu katakan itu… benar?”

Kasim itu melirik ke arah Zhao Jing, sempat tampak kebingungan karena hampir tidak mengenalinya, lalu berkata, “Titah resmi dari Permaisuri, mana mungkin palsu? Kamu siapa, sampai begitu peduli dengan urusan ini?”

“Aku… aku Zhao Jing.”

Si kasim menatap Zhao Jing dari atas ke bawah, baru setelah itu menepuk dahinya dan berkata, “Aduh! Jadi ini Tuan Muda Zhao? Bagaimana bisa wajahmu jadi seperti ini?”

Namun segera ia menyadari itu bukan urusannya, lalu berbalik menatap Qin Wuyou dan berkata, “Tuan Qin, silakan terima titah.”

Saat itu Qin Wuyou sedang mengeluh dalam hati. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa bisa terpilih jadi menantu kerajaan hanya dengan puisi konyol seperti itu.

Apa mungkin standar puisi di dunia ini sangat rendah?

Tapi menurut ingatan dari tubuh lamanya, seharusnya tidak begitu.

Pasti ada sesuatu yang tidak beres di balik ini semua.

“Aduh, terima kasih, Gonggong. Sanlang kami ini mungkin terlalu senang sampai tak bisa bicara. Biar aku saja yang mewakilinya menerima titah,” ujar Meng Manjiao dengan sangat bersemangat.

Kasim itu mengangguk dan menyerahkan gulungan titah kepada Meng Manjiao.

“Menurut titah Permaisuri, lusa adalah hari yang sangat baik. Maka Tuan Qin akan menikah dengan Putri Changning pada hari itu. Urusan ini sepenuhnya diserahkan Kaisar kepada Permaisuri, dan beliau pasti akan menyelenggarakannya secara meriah.”

Setelah menyampaikan semuanya, kasim itu pun buru-buru kembali ke istana untuk melapor.

Di Kantor Pengadilan, semua orang masih terpaku cukup lama sebelum akhirnya suasana kembali normal.

Pang Tong menatap kedua orang yang berdiri di hadapannya, raut wajahnya terlihat sangat kebingungan. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Yang satu anak perdana menteri.

Yang satu… calon menantu Putri Changning!

Siapa yang berani ia sakiti?

Titah ini… benar-benar datang di saat yang tidak tepat.

“Pan Daren, berani kamu memukul calon menantu kerajaan?” tanya Meng Manjiao pelan.

Meng Manjiao mengangkat gulungan titah dan menatap Pang Tong dengan dingin, “Seorang menantu kerajaan, berani kamu cambuk, Pang Daren?”

Pang Tong hanya bisa tersenyum kecut sambil menggeleng cepat.

“Kalau begitu, kami pamit.”

Meng Manjiao pun menarik Qin Wuyou pergi meninggalkan Kantor Pengadilan. Zhao Jing berdiri di tempat dengan wajah merah padam karena amarah, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

“Pang Daren! Jadi aku dipukul begitu saja oleh Qin Wuyou, tanpa pembalasan?”

Pang Tong hanya bisa tersenyum pahit, “Tuan Muda Zhao, dia… dia menantu kerajaan. Kalau aku menyentuhnya, apa aku tidak sedang menggali kubur sendiri?”

Kediaman Putri Changning.

Titah Permaisuri Ye Feng’er telah sampai.

Di dalam kamar Putri Changning, beberapa tungku api menyala untuk menghangatkan ruangan. Putri Changning duduk dekat tungku, namun tetap merasa dingin hingga ke tulang.

“Adikku, tubuhmu lemah, sebaiknya berbaring di ranjang saja,” ujar seorang pria bertubuh agak gemuk yang duduk di sampingnya, penuh perhatian. Ia adalah Putra Mahkota Dinasti Zhou, Zhou Qian. Begitu mendengar kabar bahwa Permaisuri telah menentukan pilihan untuk suami sang putri, ia segera datang dari Istana Timur.

Wajah Putri Changning tampak pucat, tubuhnya lemah. Namun kelemahannya itu justru menonjolkan kecantikan luar biasanya—menambah kesan lembut dan memikat, membuat siapa pun merasa iba saat menatapnya.

“Tak perlu kakanda Putra Mahkota mengkhawatirkan diriku. Aku tahu kondisi tubuhku, ini bukan hal besar. Hanya saja… aku sudah bersusah payah membujuk Ayahanda Kaisar agar mencarikan menantu, tujuannya tak lain untuk membantu kakanda mengumpulkan kekuatan, demi mengukuhkan kedudukan kakanda sebagai Putra Mahkota. Siapa sangka, Permaisuri justru menyisipkan tangan dan memilih Qin Wuyou sebagai menantu. Seluruh rencana kita… sia-sia sudah.”

Zhou Qian berkata dengan nada menyesal, “Adinda harus berkorban seperti ini demi diriku, membuatku merasa sangat tidak berguna. Jika sekarang rencananya gagal dan kamu tidak suka dengan perjodohan ini, aku akan pergi menghadap Ayahanda dan meminta beliau membatalkannya.”

Putri Changning mendengar itu dan menggelengkan kepalanya perlahan.

“Kalau kakanda menghadap Kaisar karena masalah ini, bukankah justru akan membuat Ayahanda semakin tak senang? Lagipula, walau keluarga Qin telah merosot, mereka tetaplah keturunan pahlawan, setia hingga akhir. Masih ada sedikit pengaruh mereka di dalam istana. Meski tak besar, aku yakin pengaruh sekecil itu tetap bisa kumanfaatkan untuk membantu kakanda.”

Putri Changning bukan perempuan biasa. Ia adalah perempuan yang berhati lembut, cerdas, dan penuh perhitungan.

Zhou Qian, melihat keyakinan adiknya, akhirnya menghela napas dan tak memaksa lagi. Namun, dalam hatinya ia bertekad: begitu urusan ini reda, ia harus menyelidiki siapa sebenarnya Qin Wuyou itu. Jika orang itu ternyata tak layak mendampingi adiknya, maka meskipun harus kehilangan gelar Putra Mahkota, ia tidak akan membiarkan adiknya dinikahkan dengan orang yang tak pantas.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel