Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Lepas kendali

Kasandra tidak memperdulikan teriakan Nick, air mata terus mengalir membasahi pipinya, dia berlari menuju mobil dan melajukan kencang tanpa arah dan tujuan jelas.

Nick berusaha untuk mengejar sampai ke gerbang utama. namun Kasandra tidak memperdulikannya, termasuk keselamatan dirinya yang hampir beberapa kali bertabrakan dengan pengendara lainnya. saat ini dia hanya ingin lari dan pergi dari beban berat yang terasa menghimpit dadanya.

Benteng pertahanan yang semula kuat, telah roboh seiring dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Kasandra merasa orang yang tidak berguna, bahkan di pernikahannya yang sudah lama, dia belum juga mampu meluluhkan hati mertuanya agar mendapatkan restu.

"Kasandra... tunggu, kamu kenapa berubah keras kepala seperti ini, sayang. please dengarkan penjelasan ku dulu." teriak Nick yang panik, dia langsung berbalik masuk kedalam mobil nya, berusaha untuk mengejar mobil Kasandra yang sudah menghilang.

"Kasandra sayang, kamu pergi kemana? aku takut terjadi sesuatu padamu yang pergi dalam keadaan marah." Nick cemas ditambah lagi ponsel Kasandra yang tidak bisa dihubungi.

Air mata seakan tidak pernah habis, untuk meratapi kehidupan nya yang harus berbagi suami yang sangat dicintainya.

Kasandra menghentikan mobilnya bibir jalan raya. sambil menatap kosong kedepan, air mata terus mengalir.

Setelah turun dari mobil, langkah kakinya terhenti disebuah jembatan, Kasandra menatap kebawah. Sungai dengan arus air yang sangat deras siap mencabik-cabik dirinya seandainya dia melompat kebawah.

"Aku tidak peduli apapun lagi, mungkin dengan kepergian ku untuk selamanya, Nick bisa bahagia dengan wanita pilihan orang tuanya. Karena aku sudah tidak sanggup lagi menerima semua ini sendirian." Ucap Kasandra mulai membuka perlahan alas kakinya, dan menaikkan kakinya kepembatas jembatan yang sangat tinggi.

Kasandra merentangkan kedua tangan, sambil memejamkan kedua matanya. Dia benar-benar sudah siap jika seandainya ajal sudah datang menjemput. mungkin dengan menceburkan diri kearah sungai yang deras ini semua penderitaan nya akan segera berakhir.

"Jika aku jatuh kebawah, penderitaan ku akan berakhir." Kasandra berharap malaikat pencabut nyawa segera mengambil nyawanya dan tidak ada lagi yang akan menyakiti dirinya.

"Satu..... dua.... ti... ga...." seiring tubuhnya yang jatuh melayang di udara.

"Aaaagghhh..."

Kasandra merasakan kematian semakin mendekati nya. namun Kasandra merasakan sebuah tangan kekar menarik tubuhnya kembali atas. seiring dengan kesadarannya yang mulai hilang dan tidak ingat apa-apa lagi.

"Aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan adil terhadap kalian berdua." ucap Nick seraya mengusap lembut rambut panjang bergelombang Kasandra yang menjadi kesukaan Nick untuk terus mengelus dan membelainya.

Nick membawa Kasandra kembali pulang, mengangkat tubuh mungil istrinya lalu membaringkan nya di ranjang, Nick ikutan berbaring disebelah Kasandra.

"Maafkan aku sayang, aku harap kamu bisa menerima dan mengerti dengan keputusan ku ini."

Nick tidak bisa memejamkan mata sama sekali, pikiran nya kembali menerawang membayangkan pada masa beberapa tahun silam, ketika dia bertemu dengan seorang gadis kecil yang sangat cantik bernama Ravela.

Kala itu, Gadis imut dan lucu dengan santainya mengajak Nick yang sudah beranjak remaja bermain boneka kesayangannya.

"Kakak Nick, kelak setelah dewasa aku ingin menikah dengan mu. seperti yang ada di televisi itu." ucap bibir mungil Ravela sambil menunjuk siaran televisi yang tengah menayangkan pernikahan mewah seorang selebriti ternama luar negeri.

"Boleh." Jawab Nick seraya tersenyum dengan perkataan spontan gadis tersebut.

"Ravela, seperti apa kamu sekarang dek?" gumam Nick dalam hatinya, hingga tertidur begitu saja.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel