Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kepikiran Tubuh Sixpack nya

Mataku nge-frezz setelah beberapa detik memandangi tubuh suamiku. Memang kenyataan kan, satu minggu kita nikah, aku sama sekali gak pernah melihat seluk beluk tubuh dia kecuali wajah, tangan, dan telapak kakinya.

Dia gak pernah sekalipun memakai celana pendek atau sampai bertelanjang dada. Benar-benar menjaga auratnya meski ke istrinya sendiri. Beda sama aku yang udah tebar keseksian sana sini, bahkan dia juga pernah melihat aku yang cuma pakai tank top doang.

"M-Mas maaf, gak sengaja!" Lucunya, dia juga membeku saat mata kita tak sengaja bertemu. Dia reflek menjatuhkan tangan aku dan segera menutup bajunya yang terbuka.

"Mba maaf!"

Kok jadi dia yang minta maaf? Oh, mungkin karena dia menepiskan tanganku dengan kasar ya barusan.

"Ternyata tubuh Mas atletis juga ya! Kalau jadi bintang iklan keren juga loh, mau gak aku kenalin ke produser yang biasa kerja sama aku?"

"Produser apaan Rey? Enggak lah, bukan bidang ku!" katanya sambil mengancingkan kancing bajunya.

"Eh serius Mas, misal iklan susu pria, atau iklan kaos singlet kan bisa." Entah kenapa, pembicaraan tentang dunia entertainment membuat aku lebih semangat untuk mengobrol sama dia.

"Susu pria? Emang ada?" Dia ketawa sedikit mengejek.

"Ada lah, makanya kalau nonton serial di televisi tuh iklannya jangan diskip!" seruku lagi.

"Emangnya iklan apa yang udah kamu bintangi, kok aku gak pernah lihat ya?"

Aku terpekik, bisa-bisanya ada orang yang gak tau aku bintang iklan. Iya sih, karena aku juga cuma seorang figuran, atau kadang munculnya bentar.

Tapi tetap aja kan kalau digeluti lebih lama, aku bisa jadi aktris yang terkenal apalagi bisa debut di Korea Selatan. Ketemu sama Oppa-oppa sana kan pasti membahagiakan!

"Iklan air mineral, deterjen, susu, sama pemba...." Aku gak jadi melanjutkannya.

"Itu deh pokoknya! Tapi ya cuma sebagai aktris ke dua."

Dia pun manggut-manggut yang ku tarik kesimpulan bahwa dia sudah paham. "Uhm, sudah ceritanya? Yuk ngaji, aku tunggu di ruangan C ya!"

Aish, baru aja aku mengalihkan pembicaraan dan berharap dia melupakan tentang ngaji, eh ingat lagi.

"Mas, kalau diundur besok aja gak bisa toh?"

"Besok bukan jadwal ngajarku Rey, besok aku ada jam dakwah."

Aku mendengus pasrah. Pintar lagi entar otak gue nih kalau diasah terus.

***

"Permisi!" kataku saat aku udah sampai di depan ruangan C tempat di mana Husein akan mengajar hari ini. Ruangan itu sekilas mirip sebuah kelas ala-ala sekolahan, lengkap dengan meja dan kursi-kursinya.

Anehnya, semua jejeran bangku paling depan sudah terisi penuh, hanya menyisakan satu bangku di paling belakang. Serius gue duduk di sana?

"Kok bengong, silakan masuk?" ucap Husein lagi. Huhft, tak ada pilihan lain, aku dengan malas, segera berjalan ke sana. Ku rasa, karena buku-buku mereka masih pada tertutup rapat, mungkin kelas memang belum dimulai. Nungguin aku ya??

"Baiklah, bismillahirrahmanirrahim assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu." Semua serentak menjawab salam dari laki-laki itu.

"Setelah cuti lebih dari tujuh hari, ingsyallah saya akan kembali mengajar pada hari ini. Bagaimana sudah siap?"

"Siap ustadz!" sahut mereka pada bersemangat. Kenapa sih? Seneng ya, ustadznya ganteng, cuci mata? Aku nih problematika tiap hari. Antara otak dan batin bertolak belakang.

Aku ... Kenapa aku masih terngiang-ngiang dengan bentuk tubuhnya yang sixpack nya tadi ya, astaga, pikiranku!

***

"Ustadz, ada murid baru ya?" Salah satu murid ricuh dan sok tertarik dengan kehadiranku mulai berbicara. Padahal mah gak harus gitu kan, anggap aja aku taek cicak yang jatuh dari plafon, kenapa harus dihiraukan?

Aku malah jadi pusat perhatian sekarang.

"Benar, tapi bukan murid baru ya! Lebih tepatnya anggota baru yang ingin sama-sama melangkah ke jenjang yang lebih baik. Maka dari itu, jika Mba Rey kesulitan tolong dibantu ya!"

"Iyaaaa Pak Ustadz!"

Eh, aku dengar nada mereka kok berubah jadi lebih lemas? Ketahuan nih cuma suka sama ustadz nya doang, istrinya gak dihargai.

"Kita lanjutkan di bab terakhir yang kita bahas, yaitu tentang macam-macam pembagian air dalam ilmu fiqih yakni air suci dan menyucikan, air musyammas (air yang terkena langsung atau efek dari sinar matahari), air suci tidak mensucikan (air mustakmal), Air Mutaghayar dan air mutanajjis."

Suara dia yang lagi ngajar di depan semakin lama semakin samar aku dengar, justru fokus ku berpindah pada sebuah memori manis yang tiba-tiba terlintas, di mana aku sedang membuka pintu pada jalan itu.

***

"Reynata Adizti?" ujar seorang asisten sutradara yang memanggilku saat kami melakukan casting untuk iklan sebuah produk sampo.

Saat itu umurku baru menginjak 20 tahun, pertama kalinya aku menginjakkan kaki di dunia entertainment.

Awalnya sederhana! Hanya karena tergoda dengan makanan tteokbokki dan ramyeon yang selalu muncul di drama Korea yang aku tonton akhirnya membuat hati kecil meronta-ronta ingin mencoba hidup dan menata karier di sana. Aku yang masih berstatus mahasiswa jurusan seni acting di UI memang benar-benar bertekad ingin mewujudkan mimpi untuk bisa merambah dunia akting di negeri Ginseng sana.

Terkesan sulit kan? Tapi kalau dijalani dan ditekuni lama kelamaan mimpi itu pasti akan terwujud.

"Hai, saya Reynata Adizti. Saya penyuka makanan, saya juga suka bertraveling, dan berakting. Saya menjajal dunia entertainment karena bagi saya berada di sana seperti hidup kembali dalam dunia yang baru. Dunia yang tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Artinya orang-orang pilihan, dan saya yakin saya salah satunya."

"Keren filosofi nya. Oke, kali ini acting yang harus kamu lakukan adalah peragakan kesedihannya hati seorang istri yang sering dianiaya oleh suaminya, seperti kekerasan fisik, tamparan, atau bentakan suara, atau misalkan suasana seperti suami kamu sedang mengalami kesedihan tentang keluarganya tapi melampiaskannya padamu, bisa?"

Aku mengangguk yakin. "Bisa Pak, saya siap!" sahutku dengan cepat. Memang, sebagai seorang calon artis, aku dituntut harus selalu bisa memerankan tokoh siapapun, dalam kondisi apapun, termasuk peran istri yang sering dianiaya seperti kata sutradara tadi. Pikiranku langsung terbang pada situasi menyengsarakan itu.

"Oke, siap ya. Satu, dua, tiga, action!!"

Aku menunduk dan berkonsentrasi untuk bisa mengeluarkan air mata. Hebatnya, dalam hitungan detik ternyata air mata itu sudah keluar. Langsung ku pegang pipi, dan berakting merasa kesakitan karena telah menerima sebuah tamparan.

***

Aku tertawa kecil ketika mengingat masa-masa itu, dan akhirnya berkat casting itu aku diterima shooting lalu berperan sebagai adik dari seorang artis yang berperan sebagai bintang utama iklan shampo itu, yakni Mba Shandy Aulia. Keren kan? Aku cekikikan mengingatnya.

"Itu yang di bangku paling belakang, perhatikan pelajaran saya tidak?"

Aku tersadar saat ruangan tiba-tiba hening dan mereka yang berada di barisan depan menoleh ke belakang, termasuk Husein yang berdiri di papan tulis.

O ow! Kayaknya situasinya gawat nih!

"Saya?" Aku menunjuk tubuh sendiri dengan jari telunjuk. Menengok kiri kanan pun untuk sekedar memastikan jawabannya.

"Iya, kamu perhatikan apa yang saya sampaikan tentang bab pembagian air dalam ilmu fiqih?"

Gila, apaan itu? Udah, jawab aja iya kali ya, biar selesai perkara. "I-iy-ya mengerti Mas..eh Pak!" Duh sampe grogi mau manggil apa kan jadinya.

"Baik, kalau mengerti, bisa tolong dijelaskan atau dirangkum kembali apa saja yang telah saya jelaskan."

Mampus! Mau jelasin apaan nih? Jelasin tentang air mata yang jatuh karena dijodohin sama kamu aja deh, banyak yang keluar soalnya. Aku memaku dan akhirnya gak bisa jawab apa-apa.

Dah lah, nyerah aja.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel