Lelaki Dengan Segel Kuat
"Kenapa diam? Berarti kamu memang tidak memperhatikan pelajaran saya kan?" sambungnya lagi sambil menatap ku dengan serius.
Wow, ternyata dia beda sekali ya image nya waktu di kamar dan waktu mengajar seperti ini. Ternyata dia seserius itu kalau sedang menerangkan pelajaran.
Apa bagi dia agama bukan main-main ya, sehingga mau itu istrinya, atau mungkin anaknya kelak, dia tidak akan pernah memberikan toleransi bagi yang acuh.
"Iya maaf Mas, eh Pak. Saya kurang memperhatikan tadi!" Tiada daya, akhirnya aku nyerah dan lebih baik ngaku aja, daripada tergagap-gagap dan makin malu.
"Kalau begitu, jangan dulu keluar setelah ini. Buat essai, dan tulis semua apa yang ada di bab pembagian air, termasuk contoh hadistnya juga. Kalau sudah selesai baru boleh keluar dan temui saya."
Galak amat sih, baru tau ternyata dia bisa dalam mode serem begini. Rasanya pengen buka baju aja di depannya, biar dia ketar ketir lagi kan?
Duh, gimana nih, apa yang harus aku tulis? Aku mengambil buku itu dan ku lihat bab yang dia jelaskan tadi.
Hah, 7 halaman? Bukan tangan robot kali Mas, masa sebanyak itu aku harus nulis. Ini namanya penjajahan!
"Iya." Tapi mau gak mau deh, toh memang aku juga salah kan!
"Baik, yang lain ada yang mau ditanyakan sebelum saya tutup pelajaran hari ini."
"Tidak Pak, sudah jelas," jawab salah satu muridnya yang duduk di bangku paling depan. Dih, sok imut banget pakek tebar senyuman segala. Gak ngaruh kali! Kenapa nih, aku jadi sok kepanasan begini?
***
Aku nulis sebisaku, semampuku dan se-mood ku. Padahal baru dua halaman, tapi pegel banget tangan ini. Kurang asem memang, liat aja bakal aku balas entar di kamar!
"Apaan lagi ini arabnya, kecil banget!!" Akhirnya amarahku meledak dan ku lempar pulpen yang sedari tadi ku pegang hingga terpental ke lantai. Emosi ini udah sampai di puncak, aku begitu frustasi dengan mengomel tanpa henti. Bisa-bisanya aku diperbudak begini gara-gara ustadz sialan itu, makin geram aja deh bawaannya.
"Permisi!"
Seorang berhasil membuat aku menoleh ke pintu dengan daya tarik suaranya. Ku lihat seperti seorang santri yang semasa belajar tadi duduk di sampingku. "Boleh aku masuk?" tanyanya dengan seulas senyuman.
"Masuk aja!" kataku dengan ketus. Ku ambil lagi pulpen yang tadi terjatuh di lantai. "Ada apa?" tanyaku kemudian.
"Enggak ada apa-apa. Nama saya Retno kak, saya tinggal di pesantren ini sudah satu tahun."
Gak mau tau deh! Ngapain pakek perkenalan diri segala. Aku cuma senyum tipis aja, setelah itu meraih buku sialan itu lagi.
"Sorry ya aku sambil nulis!" ucapku dan memang sedikit gak menghiraukan kehadirannya.
"Gak apa-apa kak, santai aja. Aku cuma mau kenalan sama kakak. Kakak masih muda, cantik banget."
Sontak, ku hentikan aktivitas itu dan mencoba untuk merespon ucapannya.
"Makasih, kamu umur berapa?"
"Aku 19 tahun, kalau kakak?"
"Uhm, aku 23 tahun," jawabku.
Oh, jadi rata-rata santri di sini adalah lulusan SMA sederajat yang tak melanjutkan ke jenjang kuliah. Eh, tapi aku gak tau deh, kali aja ada yang lebih tua dariku.
"Berarti beda lima tahun dong sama ustadz Husein!" ujarnya dan membuat aku terkejut. Jadi dia masih muda, pantesan aja mukanya masih fresh.
Kalau di Korea Selatan sana, umur segitu usia produktif buat ngejar karir dan popularitas, bukan malah menikah begini. Aku, lagi-lagi cuma tersenyum tipis menanggapi ucapan perempuan itu.
***
"Kak, bagaimana ustadz Husein kalau di dalam kamar, romantis gak?" Dia tiba-tiba tertawa cekikikan, aku mengerutkan kening.
"Kok kamu penasaran banget sama dia, emangnya murid-murid di sini pada suka ya sama ustadz Husein?"
Sekalian aja aku tanya begitu, toh aku juga jadi penasaran bagaimana sosok Husein di mata mereka.
"Bangett! Semua murid di sini gak ada yang nggak suka sama ustadz Husein kak. Beliau adalah laki-laki yang sering kami sholawat-in ketika berdoa dan sholat tahajud. Kita berharap bisa jadi pendamping hidupnya. Tapi apalah daya, jodoh di tangan Allah, dan kak Rey yang beruntung."
Speechless sih, mereka sampai berusaha dan bersusah payah sholawat buat dapatkan hatinya Husein, tapi kenapa malah aku yang gak kenal dia sama sekali yang jadi jodohnya. Tapi, bukan berarti aku menerima kehadiran dia loh ya! Aku cuma bilang speechless, alias gak bisa berkata-kata lagi aja!
"Oh, hehe. Padahal aku gak kenal dia loh, dan gak berharap juga nikah muda."
"Tapi takdir Allah kan kak yang merubah semuanya? Beruntung kakak sama beliau, ustadz Husein adalah laki-laki yang menyedikitkan pandangan matanya untuk lawan jenis. Jangankan sentuhan, teguran sapa aja jarang banget. Sebatas assalamualaikum aja."
Beda banget sama aku! Aku yang dari atas sampe bawah udah di sentuh pria, jadi minder. Cuma keperawanan dan bagian dada aku aja yang masih ke segel, sisanya bekas! Kecupan, pelukan, rangkulan pinggang, sudah ku lakukan dengan Reza.
Apa kelak Husein bakal terima aku yang second begini ya, seandainya nanti dia tahu semua, apa dia bakal langsung ceraikan aku? Duh, management bakal nerima aku lagi gak ya meski aku janda?
**
Seiring waktu berjalan, perempuan itu akhirnya bercerita segala sesuatu yang dia ketahui tentang Husein. Kadang, bila lucu aku pun ikut meresponnya dengan tertawa juga, meski semua hal tentang Husein tidak memberikan ketertarikan buat aku.
Ya, lumayan lah, berkat ceritanya tadi kerjaan ku sudah selesai dan kini tinggal ku serahkan aja ke yang bersangkutan.
"Makasih ya udah nemenin sampai tugas aku selesai, kamu tau ustadz Husein ada di mana?"
"Ini jam 11, kayaknya beliau ada di kantin deh kak. Kami juga memiliki kantin yang menjajakan banyak makanan lezat. Ustadz adalah pelanggan terfavorit di sana. Tiap hari selalu datang, meski hanya minum es teh," terangnya yang membuat aku mengangguk paham.
"Kalau begitu, bisa antar aku ke sana?"
"Baik kak, ayok!" Untunglah anaknya baik hati, bersedia membantu aku sampai selesai. Next, ku teraktir lah ya.
***
Kami menyusuri lorong demi lorong pondok yang berdiri megah di tempat ini. Bangunan dengan tiga lantai itu terisi penuh oleh santriwati yang mengabdikan dirinya untuk mendalami agama islam.
Ternyata, setelah ku telusuri lebih dalam, mereka ada yang baru masuk SMP, ada yang baru masuk SMA, ada juga yang sudah lulus seperti Retno ini. Dulu sempat ada yang umurnya di atas 25 tahun, tapi kini semakin bertambahnya zaman, mereka lebih memilih hidup bebas di luaran sana.
Benar, pilihan mereka itu paling benar, gak ada orang sadar yang suka rela mau tinggal di tempat terkurung seperti ini. Aku pun jika diberi pilihan bebas, maka akan hidup bebas.
"Ini kak sudah sampai, itu ustadz Husein." Retno menunjuk salah seorang laki-laki yang sedang duduk tertawa bersama santri laki-laki lainnya di meja kantin. Dari kejauhan, kenapa hatiku merasa sedikit bergetar ya lihat senyum manisnya?
Tidak!!!
***
