Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Suamiku Roti Sobek

"Mas, apa-apaan ini. Kamu udah janji gak bakal sentuh aku, kenapa sekarang tiba-tiba nagih hak begini?"

Aku ketakutan dan reflek menarik selimut hingga menutupi separuh tubuh. Aku gemetar saat sorot mata elangnya menatapku dengan tajam. Wajahnya serius sampai aku merinding.

"Aku minta maaf Mas soal tadi, aku janji gak bakal pulang malam-malam lagi. Sana pergi gak, atau aku teriak nih!"

Semakin ku suruh pergi, Husein malah semakin mendekat dan sekarang malah menarik selimut yang sedang ku pegang.

"Aaarrghh!!" Aku berteriak dan meraih bantal lalu ku buat memukuli tubuhnya. "Kurang ajar, dasar laki! Gak bisa pegang janji!"

Ku pukul terus tubuhnya sampai tangan Husein terangkat dan berusaha menutupi wajahnya. "Dasar kadal buntung!"

"Mba kamu kenapa?" Aku membuka mata seketika saat tersadar bahwa runtutan peristiwa yang barusan terjadi adalah hanya sebuah mimpi. Aku melihat Husein di depanku hanya memakai kaos putih dan celana hitam panjang dan sedang berusaha membangunkan aku. "Mba, kamu mimpi ya? Istighfar Mba!" katanya yang mencoba menenangkan aku. Ku coba menarik napas pelan-pelan, berbarengan dengan berubahnya posisiku menjadi duduk. "Jauh-jauh sana!" Sumpah, masih trauma sama mimpi sendiri. Aku menjauhkan tubuh Husein supaya aku bisa bernapas lebih lega.

"Mba, ini jam dua belas malam. Kamu ketiduran tadi, belum sholat juga. Segera bersih-bersih diri."

Duh, mengingat ekspresi anehnya tadi bikin aku pengen tempeleng mukanya saat ini juga.

"Iya, mim-mimpi menyeramkan sekali," ucapku terbata-bata.

"Pasti mimpiin aku ya Mba?"

"Enak aja!" Aku buru-buru menyanggahnya. Emang iya sih, tapi masa aku harus mengaku di depannya? Gengsi lah!

"Itu tadi, ngigau nya Mas jangan, Mas jangan. Curiga deh, mimpi erotis ya?"

Aku begidik mendengarnya.

"Mas, jauhkan deh pikiran-pikiran kayak gitu tuh, aku bakalan mikir 1000x untuk memasukkan Mas, bahkan ke mimpiku."

Bukannya panik, Husein malah tersenyum tipis. Gak munafik sih, senyumnya emang bikin klepek-klepek, ikan kali ah!

"Minggir, aku mau mandi!"

"Jangan lupa sholat, magrib dan isya. Jangan ditunda!"

Aku mendelik sebentar, "Iya bawel!" sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan dia di kamar.

"Jangan ngintip!" teriakku sesudah membuka pintu kamar.

Husein!! Adalah atu-satunya spesies berbahaya kalau dibiarkan terus. Keliatannya lugu, tapi sebenarnya menipu. Lihat, di mimpi aja udah sembarangan sentuh- sentuh tubuh aku, apalagi aslinya nanti, bikin merinding!

Tak mau lama menghayal, lebih baik aku segera merilekskan tubuh dalam pancuran air shower kamar mandi.

***

"Pagi, pak, bu." Aku menyapa mereka yang ku lihat sudah duluan hadir di meja makan rumahnya, dan kami berkumpul untuk menikmati sarapan.

Aku melihat sekilas ke arah Husein yang sedang menyendok nasi dengan lauk dan sayur.

Sebenarnya, mau ngucapin makasih dikiiiitttt sih, karena tadi malam tanpa aku minta, dia tidur di sofa kamar. Dia ngerti kalau aku masih gak bisa satu ranjang sama dia. Dan tadi pagi setelah sholat subuh juga dia yang ajak aku sarapan sama-sama di rumah orang tuanya. Tapi, berhubung aku masih ilfeel sama mimpi gak jelas itu, aku nolak dan suruh dia keluar duluan. Makanya dia bisa hadir di meja makan tanpa aku.

"Diajakin dari tadi, baru keluar sekarang!" Gak heran, itulah ibu mertua aku yang ucapannya gak pernah disaring, nyelekit.

"Maaf," jawabku sangat pelan.

"Nak Rey, sekarang kan kamu sudah tinggal di lingkungan pesantren, kamu juga sudah nikah sama salah satu guru di sini, otomatis kamu harus tau sedikit-sedikit tentang ilmu agama."

Waduh, bentar! Dari pembukaannya sih udah feeling gak enak deh. Jangan macem-macem Pak, urusan Husein aja belum selesai.

"Jadi bapak rasa, kamu harus ikut kelasnya Husein mempelajari ilmu Fiqih. Karena kamu harus tahu dasar-dasar hukum syara. Seperti harus tahu halal atau haramnya mengenai perbuatan manusia berdasarkan dalil-dalil yang terperinci dalam nash Al-Qur'an dan hadist. Gak boleh gegabah, semua perbuatan manusia ada hukumnya."

Glek! Mati deh gue. Mending gue jadi lompat aja waktu itu.

Gini amat nasib nikah ama anak kiayi.

"Gak cuma fiqih Pak, tapi dia juga harus diajari tajwid yang benar sama Mba Aisyah. Karena membaca Alquran tanpa mempelajari ilmu tajwid yang benar itu haram hukumnya."

Duh, gak anak, gak emak hobi ceramah semua.

Lagian yang mau baca Alquran siapa sih? Kan mereka, bukan aku. Tak bisa lagi ku sembunyikan wajah kesal ku pada mereka.

Husein juga diam aja lagi. Bisa gak sih soal gini belain aku, bilang kek ke mereka kalau aku belum siap belajar kayak begituan.

"Kok gak dijawab? Kan ditanya sama kami!" sambung ibu mertuaku lagi. Terpaksa, dengan terpaksa aku menjawabnya. Ku buang napas kasar sebelum berkata "Iya!" Sesingkat itu dan sejudes itu jawabanku.

"Ya sudah kalau begitu, lekas sarapan. Jam delapan kelasnya Husein sudah dimulai."

Apa sarapan? Siapa yang mood sarapan kalau udah dikasih ultimatum suruh belajar kek tadi. Coba, bisa gak sih kasih taunya tu pas udah makan. Minimal gak bakal kelaparan kan meski marah-marah.

Untuk mengambil centong nasi aja tanganku lemes banget! Dahlah, baik gak usah sarapan aja. Aku memutuskan untuk beranjak dari tempat duduk, dan mendekam di kamar aja sebelum nanti belajar.

Tapi, ketika aku mengangkat sedikit dari tubuhku, terlihat Husein sedang mengambilkan nasi dan lauk pauk yang kemudian dia taruh di atas piring milikku.

"Makan dulu Rey sebelum belajar, biar ada tenaga," ucapnya singkat.

Syukurlah, ada yang peka. Ku kira dia bakal biarin aku pergi dan kelaparan sampai siang, tapi sejatinya dia tahu bahwa aku lagi terguncang dengan informasi yang baru disampaikan ayahnya.

"Harusnya seorang suami yang dilayani dan disiapkan makanannya. Ini malah kebalik!" sindir perempuan tua itu lagi. Napa, sirik ya? Andai aku bisa bilang begitu di depannya! Sudahlah, mengumpat juga perlu tenaga. Aku meraih sendok dan mulai menyantap nasi yang sudah diambilkan oleh Husein. Walaupun seret, tapi tetap ku paksakan tetap menelan makanannya.

Reza, aku kangen kamu.

***

"Mas, itu tadi kata bapak beneran ya aku disuruh ikut kelas kamu?"

Waktunya aku mengeluarkan semua unek-unek di dada ketika cuma kuta berdua di kamar. Aku perlu penjelasan

langsung dari yang bersangkutan.

"Jawab Mas, kamu kok gak nahan mereka sih Bang?" Aku terus meminta penjelasannya.

"Iya, maafkan aku Rey. Aku gak bisa mencegah permintaan itu, karena memang semua demi kebaikan kamu."

Sok tahu loh, kata siapa demi kebaikan aku? Suruh disandingkan dengan santri-santri yang lain gitu, udah ketebak nantinya.

"Gak, bukan untuk kebaikan aku. Tapi untuk menaikan martabat kalian sebagai keluarga dari kiayi pondok pesantren kan? Jelas-jelas bapak kamu bilang gitu kok tadi!" selaku lagi. Itu memang fakta yang terjadi di lapangan kan bang?

Ku lihat Husein juga terdiam, artinya dia juga gak bisa nyanggah ucapan aku!

"Aku tunggu di kelas C ya. Pakai pakaian bebas pantas."

"Mas bentar ah!" Aku menahan bajunya dengan kuat dan gak sengaja ku tarik hingga kancing-kancing yang mengait itu terlepas seketika.

Alhasil, pemandangan di depan mata yang gak bisa terlewatkan adalah lekukan roti sobeknya yang ternyata eksotis.

"Mubazir nih kalau aku ngedip!" ucapku nelan liur.

Aslinya nanti, bikin merinding!

Tak mau lama menghayal, lebih baik aku segera merilekskan tubuh dalam pancuran air shower kamar mandi.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel