BAB 4 KEPUTUSAN
Suasana di pinggir jalan terlihat sangat sibuk dengan lalu lintas yang padat. Mobil-mobil melaju dengan cepat, motor-motor berdesing melewati dengan lincah, dan pejalan kaki bergegas menyeberang jalan. Bunyi klakson dan suara mesin kendaraan mengisi udara, menciptakan suasana yang hidup dan penuh energi.
Toko-toko dan warung makan di sepanjang jalan terlihat ramai dengan pengunjung. Orang-orang berjalan sambil membawa tas belanja, beberapa mengobrol di depan kedai kopi, dan ada juga yang menikmati makanan di warung makan pinggir jalan. Aroma makanan yang lezat dan wangi kopi tercium di udara, menambah daya tarik tempat ini.
Warna-warni reklame dan neon sign dari toko-toko menghiasi sisi jalan, menciptakan suasana yang ceria dan menyegarkan. Beberapa pengamen dan pedagang kaki lima juga berada di pinggir jalan, mencoba menarik perhatian orang-orang yang lewat dengan bakat dan dagangan mereka.
Meskipun suasana sangat sibuk, tetapi ada semacam kehidupan dan semangat yang terasa di pinggir jalan. Orang-orang dengan berbagai latar belakang dan tujuan bergerak di sekitar, menciptakan gambaran kota yang hidup dan beragam.
Marisa duduk di depan halte, memandangi lalu-lalang pejalan kaki di hadapannya. Wajahnya terlihat pusing dan terbebani. Sudah setengah jam dia duduk di sana, merenungi nasib yang sepertinya tidak pernah berpihak padanya. Dari ekspresi wajahnya yang terlihat, bisa terbaca bahwa dia baru saja menghadapi masalah besar.
Di tengah keramaian pejalan kaki yang sibuk, Marisa merasa seperti terisolasi dalam pikirannya sendiri. Mungkin dia berharap ada seseorang yang bisa mendengarkan dan memberikan nasihat yang dia butuhkan. Tapi saat ini, dia hanya bisa duduk di sana, memandangi lalu-lalang orang-orang, dan merenungi nasib yang baru saja menimpanya.
"Paman tidak bisa mempertahankanmu setelah kejadian ini. Sekarang paman sudah angkat tangan, kau tau sudah ketujuh kalinya dalam sebulan buat masalah, tapi...."
Kata-kata pamannya sekaligus Bos di restoran tersebut terus terngiang dalam benak Marisa, membuatnya semakin pusing dan khawatir.
Gadis itu menengadah ke langit, seraya memejamkan mata, mencoba membangkitkan harapan yang pupus. Namun, dia sudah lelah berpura-pura kuat, dan air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
"Mbak, ponsel anda berdering terus tuh," ujar gadis berponi seraya mencolek bahu Marisa yang tengah terpuruk dalam kesialan yang diterimanya hari ini.
Tersadar, dengan buru-buru Marisa menghapus air matanya lalu tersenyum ke gadis itu. Lantas, dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel tersebut.
Tanpa melihat siapa yang menelepon, dia langsung mengangkat teleponnya dengan suara yang lemah.
"Halo?" sapa Marisa kepada penelepon dengan suara yang penuh kekhawatiran.
"Selamat siang, nona! Saya Hasan, asisten dari Tuan Rassy," sapanya dengan tegas. "Tuan besar menginginkan nona untuk pulang ke rumah, katanya anda telah kalah dalam taruhan," kata Hasan.
"Apa?" Marisa terkejut dan tidak dapat mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Ayahnya benar-benar membuatnya merasa seperti orang bodoh.
"Baiklah," ujar Marisa dengan suara yang berat hati, menutup percakapan singkat dengan perasaan yang campur aduk.
Pernikahan yang selama ini dihindarinya kembali menghantui hidupnya. Apa kali ini dia tidak bisa lagi melarikan diri? Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di dalam pikiran Marisa. Dia merasa perlu untuk berdiskusi lagi dengan Rassy untuk mencari solusi terbaik dalam situasi yang sulit ini.
