BAB 3 DUNIA NYATA
Di sebuah restoran yang ramai, suasana begitu hidup dan riuh. Meja-meja dipenuhi oleh pelanggan yang menikmati hidangan mereka, sementara suara percakapan dan tawa riang terdengar di sekeliling.
Para pelayan dan pelayan wanita sibuk berlarian dari satu meja ke meja lain, dengan cekatan mengambil pesanan dan mengantar hidangan. Bau harum makanan yang lezat tercium di udara, membuat siapa pun yang berada di restoran ini menjadi lapar.
Di dapur, para koki bekerja dengan semangat, memasak dan menyajikan hidangan dengan presisi dan keahlian. Suara sizzle dari panci dan wajan, serta aroma rempah yang menyebar, menciptakan suasana yang menggugah selera.
Pelanggan duduk dengan antusias, menikmati hidangan yang disajikan di depan mereka. Terdengar suara garpu dan sendok beradu dengan piring, serta desahan kepuasan saat mereka menikmati hidangan yang lezat.
Marisa, seorang pelayan dengan rambut pirang terurai, membawa nampan berisi minuman dan makanan melewati beberapa meja. Ia dengan senyum ramah dan sopan melayani pelanggan yang duduk di meja nomor empat.
Namun, di balik senyumannya, Marisa menyimpan beban yang berat. Ia telah menjalani hidupnya sebagai seorang pekerja keras yang berjuang untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa ia bisa mandiri. Marisa bekerja di tiga tempat sekaligus, tetapi pekerjaan-pekerjaan tersebut tidaklah stabil dan ia hanya mampu bertahan selama tiga bulan di setiap tempat.
Marisa sering dianggap sebagai tipe pekerja yang ceroboh dan sering bolos. Ia juga harus bergantian antara pekerjaan dan sekolah. Marisa berusaha keras untuk tidak membuat wali kelasnya melaporkan kekurangannya kepada ayahnya, karena hal itu bisa berakibat buruk baginya.
"Jangan melamun terus, Anak Baru!" Marisa mendongak, terkejut dengan hardikan seorang wanita tinggi dan berbadan kurus.
"Maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Marisa dan berlalu membawa pesanan ke depan.
"Hey!" Wanita itu terlihat kesal melihat Marisa yang tak acuh dan meninggalkannya begitu saja.
"Kalian lihat, kan dia tidak memiliki sopan santun!" Wanita itu berkacak pinggang mengajak bicara dua pramusaji lainnya.
"Aku heran, kenapa dia masih bisa bekerja di sini. Jika diingat-ingat dia sudah melakukan kesalahan lebih dari tiga kali. Padahal dia masih sebelum bekerja." Wanita satunya juga sama tidak sukanya pada Marisa. Mereka melirik Marisa yang tampak tergopoh-gopoh dari satu meja ke meja lain.
"Aku setuju denganmu. Kurasa dia memanfaatkan kecantikannya untuk merayu si Bos." Kini seorang koki ikut dalam topik pembicaraan itu.
Sang Koki semakin memanasi berbicara. "Kemarin aku melihat dia jalan dengan si Bos saat restoran baru ditutup."
Sontak mereka bersamaan melayangkan tatapan jijik pada Marisa. Dalam hati masing-masing iri, terbilang Marisa termasuk kategori beruntung bisa jalan dengan Bos Restoran ini.
Sang Pemilik Restoran bukan pria tua paruh baya yang botak dan berbadan gempal. Melainkan pria tampan yang berkarisma dan sexy, bahkan perempuan mana pun rela naik ke ranjangnya tanpa diminta.
Marisa menyadari arti tatapan dari senior-seniornya. Dia adalah pembicaraan yang menarik selama sebulan ini. Merasa muak pun tidak ada gunanya, ia hanya bisa menghela napas, menghiraukan mereka.
Bicarakanlah dirinya sepuas mereka mau, Marisa tidak akan peduli. Toh, dia tidak akan dirugikan sama sekali. Marisa kembali fokus pada pekerjaannya, namun tak disadari kakinya terjegal meja, sehingga meja di sebelahnya penuh dengan beraneka makanan serta minuman ikut terseret bersama alas meja yang tidak sengaja Marisa tarik saat terjatuh.
Keributan pecahan piring dan makanan yang jatuh ke lantai memecah keheningan di restoran. Semua mata tertuju pada Marisa. Gadis itu merasa malu dan takut, tetapi ia tetap meminta maaf dengan rendah hati, meskipun merasakan rasa sakit di pinggangnya.
"Maaf ... maaf, kan, saya." Marisa membungkuk meminta maaf, sembari menahan rasa sakit yang menjalar di pinggangnya.
Beberapa pelanggan menatapnya dengan iba, sementara yang lain mencibir dan memandangnya dengan sinis. Marisa tahu bahwa ada konsekuensi yang akan ia hadapi setelah kejadian ini. Ia merasa pasrah dan menahan emosi yang tercampur di dadanya.
Suaranya melengking telinga, Marisa tersentak dengan kepalanya yang tetap menunduk. Telapak tangannya yang sudah dibanjiri dengan keringat dikepal kuat-kuat.
"Kembali ke dapur. Tunggu di sana!" Raut marah tergambar di wajah wanita tinggi kurus yang tadi membicarakannya.
Saat wanita senior yang tadi membicarakannya dengan marah memerintahnya untuk kembali ke dapur dan menunggu di sana, Marisa mengangguk dan berusaha untuk berjalan dengan tegak. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahan atau emosi yang ia rasakan. Air mata tidak akan menyelesaikan masalahnya.
Marisa menyadari bahwa semua ini disebabkan oleh kecerobohannya sendiri. Ia tidak ingin menyalahkan orang lain yang pernah menarik minatnya. Ia menghela napas dan mengabaikan tatapan sinis yang masih terasa di sekelilingnya.
Di dapur, Marisa menggigit kukunya hingga pendek, terlalu takut dan gugup menghadapi nasibnya ke depan. Dia yakin kali ini tidak bisa lolos dari ancaman pemecatan.
"Lagi," bisiknya. Dia tidak mengerti mengapa sulit baginya untuk bekerja dengan benar. Selama ini, bukan dia tidak berusaha sebaik mungkin, tapi tetap saja sikap cerobohnya selalu membawanya pada satu titik "dipecat" dan ini sudah lebih dari sekian tempat kerja sejak dia mulai hidup mandiri tanpa ada campur tangan ayahnya.
Mungkin karena belasan tahun lalu, dia jarang melakukan pekerjaan rumah, hidup layak seorang putri yang ada di negeri dongeng. Area dapur adalah tempat terlarang baginya, semua serba dilayani, hingga tumbuh menjadi sosok yang manja.
Awal malapetaka dalam hidup Marisa Rastati, tapi selepas dewasa, sikap manja itu berganti namun sifat ceroboh yang ada dalam dirinya masih melekat dan sulit untuk dilepaskan. Meskipun dia mencoba berkali-kali, dia selalu jatuh ke tanah.
Suara tak asing menghentikan lamunannya. Dan tatapan Marisa bertabrakan dengan wanita tinggi dan kurus itu.
"Kau! Apa kau ingin membuat restoran ini tercemar karena ulahmu?!" Wanita tinggi tadi mendekati Marisa dengan langkah buru-buru, menunjuk wajah Marisa yang pucat dengan jari-jari yang tak berisi.
"Maaf, kan saya. Ini tidak akan terjadi lagi." Marisa mengiba dengan raut penyesalan pada wanita itu, namun parahnya semua orang yang ada di dapur malah menatapnya dengan sinis.
Marisa sadar dengan kesalahan yang diperbuat hari ini. Tidak akan dimanfaatkan, tapi setidaknya dia diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Namun, ia merasa kesempatan itu adalah sesuatu yang 'mustahil' bagaimanapun ini sudah dari sekian kesalahan yang dilakukan olehnya.
Seorang pria sekitar usia dua puluh lima tahun mendatangi gerombolan kecil yang mengelilingi Marisa, dia berdehem, membuatnya mendapatkan ruang yang cukup untuk berbicara.
"Ikut saya ke ruangan," katanya dengan suara tajam pada Marisa yang menutupi kegugupan.
Langkah Marisa terasa berat mengikuti pria itu, hatinya merasa was-was. Dia pergi meninggalkan dapur diiringi tatapan semua orang.
