BAB 5 HAL BARU
Di kantor Peras bekerja, Marisa dan Talia, dua office ladies (OB), sedang sibuk dengan tugas mereka. Keduanya mengenakan seragam biru muda yang di beberapa bagian dihiasi dengan warna orange. Seragam tersebut memiliki bagian punggung yang divariasi dengan kain biru tua.
Marisa membawa sapu sementara Talia membawa kemoceng dan lap kanebo. Sambil melakukan tugas rutin mereka, mereka juga berbincang tentang rapat yang akan digelar.
"Sa, jam berapa nanti rapat tim auditor dimulai?" tanya Talia kepada Marisa sambil menyapu lantai dengan hati-hati, menjangkau celah-celah yang sulit dijangkau.
Marisa menghentikan kegiatannya mengelap meja dan menoleh ke arah Talia. "Nggak tahu, ya. Biasanya sih jam setengah sembilan," jawab Marisa sambil melanjutkan pekerjaannya. Setelah pulang dari rumah kemarin, Marisa berharap mendapatkan satu kesempatan terakhir. Namun, dia malah harus bekerja sebagai OB di perusahaan sahabat karib ayahnya.
Sambil mengelap meja dan menata kursi yang sudah disapu oleh Talia, Marisa memikirkan betapa pekerjaannya sebagai OB di PT Cahaya Putra lebih mudah dibandingkan saat dia menjadi pramusaji di dua cabang restoran milik pamannya.
"Dengar-dengar... hari ini akan membahas agenda khusus. Tahu nggak kamu?" lanjut Talia sambil terus menyapu.
"Nggak dengar aku. Kata siapa?" balas Marisa dengan rasa penasaran.
Tentu saja Marisa tidak tahu, karena sekitar satu hari yang lalu dia memberikan alasan palsu kepada Talia bahwa dia sedang sakit. Padahal sebenarnya Marisa bekerja di restoran pada hari itu.
"Astaga, aku lupa! Kamu sudah sembuh?" Talia berhenti menyapu dan mendekat ke Marisa sambil meletakkan tangannya di dahinya.
"Seperti yang kamu lihat." Marisa menepis lembut tangan Talia dan sedikit gugup. Marisa mendorong Talia dengan lembut ke samping, berusaha melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
Talia menghela napas lega dan kembali ke tempatnya. "Ya, nggak ada yang langsung ngomong ke aku. Kemarin, saat aku membersihkan lantai depan kamar mandi, aku mendengar dua anggota tim auditor sedang berbicara. Aku tidak sengaja mendengar mereka menyebutkan bahwa hari ini akan ada agenda khusus."
"Agenda khusus apa itu?" tanya Marisa penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Saat aku mendekati mereka, pembicaraannya berkurang volume suaranya. Jadi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan," jelas Talia.
"Mungkin itu berkaitan dengan masalah penggelapan keuangan. Sepertinya sedang marak sekarang, kan?" tebak Marisa.
"Bisa jadi. Katanya, semakin banyak kasus korupsi di perusahaan ini. Mereka harus memilih mana yang harus diutamakan dan mana yang bisa ditangani kemudian," tambah Talia.
Talia sudah tidak asing dengan kasus korupsi yang terjadi tahun lalu dan masih ada kasus baru di tahun ini. Talia merasa kasihan dengan Manajer Auditor yang baru diangkat setahun yang lalu.
Marisa tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia malah teringat percakapan dengan ayahnya kemarin yang terus berputar di pikirannya.
Sambil memandang foto calon suaminya, Marisa merasa lelah. Bukan karena calonnya jelek, sebaliknya, dia sangat tampan.
Tajir? Jangan ditanya.
Ganteng dan keren? Sudah pasti karena wajah calonnya di atas rata-rata. Marisa sendiri merasa terpesona ketika memandang fotonya.
Sexy? Oh, jangan ditanya. Pasti calonnya memiliki gairah tinggi. Marisa terbayang-bayang hal-hal yang membuatnya berlari-lari dalam pikirannya.
Tapi ada satu masalah, yaitu usia. Marisa tidak tahu mengapa ayahnya sangat keras kepala memasangkannya dengan seorang pria yang berusia tiga puluh delapan tahun!
Sungguh, itu terlalu jauh. Perbedaan usia dua puluh tahun, bagaimana Marisa bisa melawan? Dia hanya bisa menerima keadaan ini dengan lapang dada. Setidaknya setelah menyelesaikan tugas hidupnya yang mandiri dalam perjodohan ini, Marisa bisa melupakan semuanya.
Oh, nama calonnya? Itu juga masalah lain. Ayahnya tidak memberitahunya, tapi katanya calonnya adalah anggota tim auditor di perusahaan tempat dia bekerja sekarang.
Marisa menghentikan lamunannya. Toh, mereka akan bertemu nanti. Dia melirik Talia yang sedang asyik mengoceh dengan berbagai ekspresi wajah yang berubah-ubah.
"Sudah, Lia, kamu terlalu panjang bicaranya," kata Marisa sambil tertawa kecil, sambil menggeser kursi.
"Kasihan, aku merasa iba dengan Pak Peras. Dia dan timnya harus bekerja keras siang dan malam untuk menghentikan kasus korupsi di perusahaan ini," keluh Talia.
Marisa menggelengkan kepala tanpa berkata apa-apa. Keduanya kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Marisa mengeluarkan botol pewangi dari kantong celananya. Ia membuka kanebo yang dibawanya tadi dan menyemprotkan sedikit pewangi ke kanebo tersebut. Setelah itu, Marisa melipat kanebo dan menggunakannya untuk membersihkan meja pimpinan rapat yang dilapisi dengan kaca. Ia kemudian beralih ke meja lain yang juga memiliki permukaan kaca.
Tugas mereka hampir selesai. Kursi-kursi sudah dilap dan dirapikan oleh Talia. Ia berdiri dengan tangan di pinggang, memperhatikan Marisa yang masih belum selesai dengan pekerjaannya.
"Sa, sudah selesai belum? Aku sudah selesai nih," ujar Talia santai, sambil memperhatikan Marisa yang terlihat agak lambat.
Marisa merasa ada yang mengoceh tentang dirinya. Kenapa ia terlambat? Talia pasti sudah bisa mengetahui bahwa Marisa sedang dalam pikiran yang berat. Marisa tidak bisa melewatkan kesempatan ini, Talia pasti akan mencari tahu.
"Belum, tinggal sedikit lagi. Kalau sudah selesai, bolehkah kamu membantu merapikan kursi?" sahut Marisa, meminta bantuan.
"Ah, kamu begitu saja meminta bantuan. Tinggal sedikit lagi kan. Lanjutkan saja. Aku akan menunggu," tolak Talia sambil tersenyum.
"Dasar kamu, Lia! Tidak setia pada teman," gerutu Marisa kesal.
"Iya, iya! Tapi, aku punya satu syarat. Kamu mau nggak?" Talia tersenyum sambil mengayunkan jarinya.
"Nggak ada yang aneh-aneh kan?" jawab Marisa sambil melanjutkan mengelap meja.
Talia mengganguk kuat. "Tentu saja tidak, tapi pilihannya cuma yes aja."
"Kampret kau! Pemaksaan dong itu," balas Marisa sambil tertawa kecil.
Talia memandang Marisa dengan tatapan tajam. "Nggak dong! Mau atau nggak nih?"
"Iya, deh! Awas aja, kamu mintanya aneh-aneh," kata Marisa, mengikuti lelucon Talia.
Talia mengangkat dua jarinya dengan cepat. "Tentu, tidak akan ada yang aneh-aneh. Ada yang bisa aku bantu?"
"Rapikan saja kursi yang sudah aku lap tadi. Tinggal empat kursi lagi. Aku akan melanjutkan mengelap meja dan kursi, tinggal dua lagi," pinta Marisa.
Talia dengan senang hati merapikan kursi yang sudah dilap oleh Marisa. Sementara itu, Marisa melanjutkan pekerjaannya mengelap meja.
Setelah selesai merapikan kursi, Talia tersenyum puas. "Nah, sudah selesai kan? Setelah ini, apa yang akan kamu kerjakan?"
"Paling membersihkan ruang kerja lainnya," jawab Marisa sambil berjalan ke arah pintu. "Ayo!"
"Ayo!" sahut Talia, mengikuti Marisa keluar dari ruang rapat.
"Saatnya pulang, Sa. Pak Manajer Auditor menyuruh agar besok kamu membersihkan ruang kerjanya," ujar Talia sambil menoleh ke arah Marisa, memastikan bahwa kursi sudah rapi. Ia menahan pintu agar tetap terbuka.
"Apa? Bukannya itu tugas kamu?" Marisa merasa heran karena sebelumnya ia tidak pernah diminta untuk membersihkan ruang Auditor.
Talia melirik sejenak, lalu memalingkan wajahnya ke depan. "Belum tahu? Katanya tugas itu sudah dialihkan ke kamu. Aku mendapat informasi dari koordinator OB." Talia yakin bahwa kursi sudah rapi, lalu ia keluar dari sana.
"Baiklah," jawab Marisa, masih agak bingung dengan situasinya. Namun, ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya karena ada hal yang lebih penting saat ini.
"Sa, setelah pulang kerja, kamu mau menginap di rumahku, kan? Sesuai dengan syarat yang tadi aku minta," kata Talia, menyamakan langkahnya dengan Marisa.
"Malam ini?" tanya Marisa, sambil melirik Talia yang menanggapi dengan anggukan kuat.
"Bisa, diatur."
Meskipun baru beberapa hari bekerja di sini, Marisa sudah merasa akrab dengan Talia. Wanita itu sangat ramah dan mudah bergaul dengan semua orang. Marisa merasa bersyukur bisa memiliki teman seperti Talia. Sebelumnya, dia bahkan tidak pernah dekat dengan rekan kerjanya. Memikirkan hal itu, senyuman manis terukir di bibir Marisa.
"Terima kasih, Lia. Kamu memang sahabat yang baik. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," ucap Marisa, sambil tersenyum.
Talia menyikut lembut lengan Marisa. "Enak aja, Sa. Tuhan yang membalas, gimana? Kan aku membantu kamu, jadi kamu yang harus membalasnya, ha...ha..." kata Talia sambil bercanda.
Marisa mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Talia. "Jangan cari balasan atau ingin dipuji oleh orang lain, Lia. Lakukanlah dengan tulus," kata Marisa memberikan nasihat.
"Yaelah, tahu, Sa. Just kidding! Jangan ambil hati. Hehehe..." lanjut Talia.
Talia melirik Marisa dengan diam. "Marisa..." ucapnya dengan suara lembut, sambil memasang wajah memelas.
Marisa memandang Talia, mempertimbangkan apa yang akan dia katakan. Akhirnya, ia mengangguk singkat, dan Talia bersorak sambil mengangkat kedua tangannya dan memeluk Marisa erat.
Senyuman tipis terukir di bibir Marisa. "Sudah, cukup. Aku merasa sesak," kata Marisa sambil melepaskan diri dari pelukan Talia.
Meskipun baru beberapa hari bekerja di sini, Marisa sudah merasa akrab dengan Talia. Wanita itu sangat ramah dan mudah bergaul dengan semua orang. Marisa merasa bersyukur bisa memiliki teman seperti Talia. Sebelumnya, dia bahkan tidak pernah dekat dengan rekan kerjanya. Memikirkan hal itu, senyuman manis terukir di bibir Marisa.
Mereka berjalan bersama-sama, menuju ke ruang kerja lainnya. Marisa merasa lega memiliki seseorang seperti Talia yang selalu ada untuknya. Mereka berbicara dan tertawa sepanjang perjalanan, membuat waktu terasa lebih cepat berlalu.
Sesampainya di ruang kerja lain, Marisa segera memulai tugasnya. Ia membersihkan meja dan kursi dengan hati-hati, memastikan semuanya bersih dan rapi. Talia membantu dengan merapikan barang-barang di sekitar ruangan.
"Sudah selesai," ucap Marisa dengan senyuman puas setelah beberapa saat. "Terima kasih sudah membantu, Lia."
Talia mengangguk dan tersenyum. "Tidak ada masalah, Sa. Kita adalah tim, kan? Selalu saling membantu."
Marisa merasa beruntung memiliki seorang teman seperti Talia. Mereka saling mendukung dan selalu ada satu sama lain. Meski pekerjaan mereka kadang melelahkan, tetapi dengan kehadiran Talia, semuanya terasa lebih ringan.
Sekitar 30 menit kemudian, Talia dan Marisa dipanggil oleh Kepala OB. Mereka melihat sosok pria itu sedang menyilangkan kedua tangan di belakang tubuhnya sambil mengamati hasil kerja mereka. Dengan senyum puas di wajahnya, ia keluar dari ruangan dan mengucapkan terima kasih kepada Marisa.
"Oke, Dek. Terima kasih atas kerja keras kalian. Tolong beritahu bagian konsumsi untuk menyiapkan minuman dan snack," kata Kepala OB dengan ramah.
"Baik, Pak," jawab Marisa dengan senang hati. Ia melangkah menuju ruang belakang, diikuti oleh Talia.
"Sudah selesai, Lia," kata Marisa kepada Talia.
Talia memastikan, "Sudah? Tidak ada yang perlu dikerjakan lagi?"
Marisa menggelengkan kepala. "Tidak, kita sudah menyelesaikan tugas dengan baik. Ayo, kita beritahu bagian konsumsi untuk menyiapkan snack dan minuman."
Marisa dan Talia melanjutkan langkah mereka ke bagian konsumsi. Mereka dengan antusias memberitahukan pesan dari Koordinator OB kepada petugas konsumsi.
"Bu, Pak Kepala meminta agar snack dan minuman segera disiapkan di ruang rapat," ucap Marisa dengan semangat.
Petugas konsumsi yang bertugas tersenyum manis dan menjawab, "Eh, sudah siap? Iya, Neng. Terima kasih atas informasinya."
Marisa menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih, dan mereka berdua melanjutkan pekerjaan membersihkan ruang kerja yang lain
