BAB 2 LEMBARAN BARU
Pukul setengah tujuh pagi, terlihat sosok pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya duduk santai di teras rumahnya. Cahaya matahari perlahan menyinari sekeliling, menciptakan bayangan yang indah di sekitar taman. Udara segar dan sejuk menyapa wajahnya, memberikan kesegaran dan ketenangan.
Rasya menikmati momen ketenangan ini sambil memegang erat secangkir kopi hangat. Aroma kopi yang harum menyebar di udara, menggugah indera penciumannya dan menciptakan suasana yang nyaman. Ia merasakan kehangatan kopi menyentuh bibirnya, memberikan sensasi yang menyenangkan di pagi hari.
Pemandangan di sekitar teras rumahnya begitu menenangkan. Tanaman hijau yang rapi dan bunga-bunga yang bermekaran menambah keindahan taman. Bunyi kicauan burung di kejauhan mengiringi langit yang biru cerah, menciptakan melodi alam yang menyejukkan hati.
Sambil menyeruput kopi, Rasya membiarkan pikirannya melayang ke masa lalu. Ia teringat percakapannya dengan James tentang perjodohan anak-anak mereka. Rencana tersebut telah diatur sejak mereka masih muda.
Namun, kehadiran Marisa, putri semata wayang yang keras kepala dan sulit diatur, membuat Rasya merasa cemas. Ia tidak ingin putrinya hidup dalam kekuasaan dan ingin Marisa mengerti arti sejati dari kehidupan. Rasya merasa bahwa saat ini, di usia Marisa yang memasuki masa dewasa, adalah waktu yang tepat untuk melatihnya secara fisik dan mental.
Rasya berencana untuk membicarakan perjodohan tersebut dengan Marisa, meskipun ia sadar bahwa Marisa mungkin akan menolak. Namun, Rasya juga melihat peluang dalam situasi ini untuk memuluskan rencananya yang lain. Ia yakin bahwa dengan komunikasi yang baik, Marisa akan akhirnya setuju dan memahami apa yang Rasya harapkan.
Terkadang, hidup mengajarkan kita bahwa dengan satu tindakan, kita bisa mendapatkan hasil yang lebih dari yang kita harapkan. Rasya berharap bahwa dengan langkah ini, ia dapat mencapai tujuan yang diinginkan dan membawa kebahagiaan bagi Marisa.
*****
Tak berselang lama, Marisa tiba-tiba berlari ke arah meja makan. "Ayah...," sapanya seraya mencium pipi Rassy. Ia menarik kursi dan duduk dengan antusias.
Mbok Sum membuka tudung saji dan menaruhnya di sebelah hidangan.
Tanpa menunggu, Marisa langsung membuka piring dan mengelapnya dengan tisu yang ada di depannya. Mbok Sum menawari untuk mengambilkan nasi.
"Non, mau Mbok ambilkan nasi?" tanya Mbok Sum dengan ramah.
"Nggak usah, Mbok. Aku ambil sendiri aja," jawab Marisa sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Mbok Sum mengangguk mengerti dan meninggalkan mereka.
Marisa mulai menyendok nasi goreng dan menyuapinya dengan cepat. Ia mengunyah dengan lahap, sesekali tersenyum ke arah Rassy.
Rassy menggelengkan kepalanya, sedikit pusing dengan sikap Marisa saat makan. Ia merasa bahwa Marisa seharusnya menutup mulut sesuai dengan etika dan sopan santun. Namun, Marisa malah makan dengan lahap, seolah-olah ia tidak makan selama tiga hari.
Meskipun demikian, Marisa terlihat menikmati sarapan paginya. Apalagi saat ia ditemani oleh orang tersayangnya. Sambil mengunyah suapan terakhir, Marisa mengambil gelas air dan memegangnya dengan tangan kanan. Ia menunggu hingga makanan yang dikunyahnya ditelan, baru kemudian ia meminum air minumnya.
"Marisa, Ayah mau bicara hal penting," ujar Rassy sambil mengoles selai pada roti yang ada di tangannya.
Marisa menyandarkan diri ke kursi dengan santai. "To the point, aja, Ayah," kata Marisa sambil mengelus-elus perutnya.
"Ayah sudah menjodohkanmu," kata Rassy dengan serius.
Marisa mendongak dan memasang ekspresi datar, sambil meminum susu satu teguk.
"Aku menolak," sahut Marisa dengan tegas.
"Kamu tidak bisa menolak," jawab Rassy dengan tegas pula.
"Kenapa?" tanya Marisa, wajahnya penuh dengan keraguan.
"Karena Ayah sudah terikat janji perjodohanmu dengan sahabat Ayah."
"Apa alasan Ayah melakukannya?" tanya Marisa dengan rasa penasaran.
"Tidak ada alasan," jawab Rassy singkat.
"Itu tidak masuk akal. Aku menolak," ucap Marisa dengan tegas.
Rassy mengambil tisu dan mengelap mulutnya seraya berkata, "Kamu tidak bisa, kecuali..."
"Kecuali apa, Ayah?" tanya Marisa penasaran.
"Kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri. Ayah menjanjikan bahwa kamu tidak perlu melanjutkan perjodohan ini jika kamu bisa memenuhi persyaratan yang sudah Ayah tentukan. Bagaimana?" tawar Rassy.
Marisa terdiam, memikirkan penawaran Ayahnya. Persyaratan yang diajukan terasa mustahil baginya. Mandiri bukanlah gaya hidupnya, dan dia tidak yakin apakah dia bisa melakukannya. Namun, Marisa tidak ingin dijodohkan.
"Aku..." Marisa terhenti sejenak, ragu-ragu dalam menanggapi penawaran Ayahnya.
"Persyaratan yang Ayah anjurkan tidak akan kau sesali, Marisa. Pilihlah antara dijodohkan dengan orang asing atau hidup mandiri," kata Rassy dengan tegas, matanya penuh harapan.
Marisa menatap dalam-dalam ke mata Rassy, seraya meneguk susunya teguk demi teguk sampai habis.
"Aku setuju," ucap Marisa akhirnya dengan mantap.
******
Di tempat lain, menjelang jam istirahat di ruang kerja yang hanya dipisahkan oleh dinding kaca, suasana terasa tegang. Seorang lelaki bernama Peras Darwin duduk di meja kerjanya dengan wajah yang penuh kegelisahan. Ia merasa tertekan dengan situasi yang sedang dihadapinya.
Peras, seorang pewaris dari SH Group, sebelumnya menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut. Namun, nasibnya berubah ketika ayahnya memaksakan perjodohan dan mengancamnya. Akibatnya, Peras terpaksa terjun ke dalam pekerjaan yang tidak bisa dihindari.
Kini, Peras bekerja di bawah perusahaan milik sahabat ayahnya. Ia diangkat sebagai Manajer Auditor di PT Cahaya Putra, sebuah perusahaan BUMN, dengan beban tugas yang semakin berat. Tugasnya adalah mengaudit seluruh keuangan perusahaan yang sedang mengalami masalah. Banyak divisi di perusahaan tersebut diduga melakukan penggelapan uang.
Peras merasa tertekan dengan tanggung jawab yang diembannya. Ia merasa bahwa masa depannya tergantung pada keberhasilan misi ini. Ia mendekati meja kerjanya dan duduk dengan tubuh yang tegang.
Saat melihat keluar jendela, Peras melihat awan berkejaran di langit. Matanya menerawang, mencoba mencari ketenangan dalam pikirannya yang kacau.
Namun, ingatan akan ancaman ayahnya terus menghantuinya. Ayahnya memberikan persyaratan pertaruhan yang sulit untuk ditolak. "Kamu harus memberantas tindak korupsi di perusahaan itu. Jika misimu berhasil, kamu berhak menolak perjodohan ini. Ayah tidak akan mengganggu urusan pribadimu dan kamu bisa kembali menjabat CEO di SH Group."
Peras mengucek mata yang terasa gatal. Lamunan itu berlanjut. "Tapi jika kamu kalah, kamu harus menerima perjodohan itu. SH Group akan menjadi milikmu dan keuntungan lainnya menunggumu."
Mata abu-abu Peras mencerminkan keputusasaan dan tekad yang kuat. Ia merasa terjepit antara impian dan kewajiban. Jemari tangan kanannya menyisir rambutnya dengan kasar, mencoba meredakan ketegangan yang ada.
"Aku tidak akan kalah!" teriak Peras dengan keras. Alisnya tertarik ke bawah, dan kelopak matanya menegang. Ia menatap ke depan dengan penuh tekad.
"Lihat saja, Ayah! Aku akan memenangkan taruhan ini dan membuktikan bahwa aku bisa berhasil tanpa diatur-atur. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi pemimpin yang hebat!" Rahang bawahnya menonjol keluar, menunjukkan tekad yang bulat.
