BAB 1 MALAM KACAU
Kamar pengantin yang elegan dan mewah itu seperti dunia yang diciptakan khusus untuk Marisa dan Peras. Mereka berdua menikmati suasana yang romantis dengan sentuhan modern yang tetap mempertahankan kehangatan.
Di tengah kamar, terdapat tempat tidur yang besar dan nyaman. Sprei berwarna merah muda yang lembut dan selimut sutra yang halus mengundang mereka untuk bersantai dan menikmati momen intim. Tirai tipis yang menggantung dari langit-langit memberikan sentuhan romantis dan memberikan privasi yang sempurna.
Namun, dalam sekejap, semua keindahan itu hancur. Marisa tiba-tiba memukul lengan Peras dan mengeluh karena merasa sesak napas. "Yaelah, ngapain kamu, minggir nggak aku sesak napas, tau."
Yap! Pria berstatus suaminya itu sedang menindih tubuhnya.
Peras menghela napas kasar, lalu meletakkan jari telunjuk di bibir. "Mendesah," pinta Peras pelan seraya berbisik tepat di telinganya.
Marisa menahan napas saat mencium napas maskulin dan ia menyadari bahwa tangan Peras kini berada di pinggangnya.
Jantungnya berdetak seperti drum.
Marisa membulatkan matanya, apa pria ini salah minum obat, gila aja dia disuruh mendesah.
"Nggak, bakal aku turuti!" Marisa menendang kaki Peras, sontak lelaki itu meringis kesakitan.
Selimut yang membungkus mereka, untungnya nggak melorot. Tetapi suasana yang semula romantis berubah menjadi situasi yang kacau.
Peras tidak tahu harus melakukan apa, di malam pertama yang tidak diharapkan ini.
"Ayahmu dan ayah saya lagi ngintip di lubang pintu," ujar Peras menahan diri tidak menjerit kesakitan. "Dasar gadis sialan!" batinnya berusaha sabar.
Marisa menolehkan sedikit kepalanya ke arah pintu. Benar saja, dua lelaki paruh baya terlihat saling dorong-dorong untuk melihat mereka bercinta.
Marisa tidak habis pikir, begitu tidak percaya mereka hingga berbuat seperti itu. Sorotan matanya beralih pada Peras yang juga menatapnya dalam.
"Terus, aku cuma desah nggak karuan gitu?" tanya Marisa polos.
Peras mengedipkan mata, isyarat membenarkan perkataan Marisa. Sontak lelaki itu membuatnya, gagal fokus.
"Kok, kamu sexy banget," gumam Marisa tanpa sadar.
"Jangan pikir aneh-aneh, cepat lakukan!" seru Peras.
Marisa pun melakukannya mendesah tak karuan, layak orang bercinta pada umumnya. Namun, sayang jauh dari ekspektasi lelaki itu hingga dia pun ikut membantu.
"Woy, kamu sinting ! Sakit tau," hardik Marisa keras merasa cubitan pria itu di area pahanya.
"Lagian kamu, mendesah kurang enak didengar gimana gitu...," protes Peras tanpa merasa bersalah. Walaupun lelaki langsung ilfel dengan gadis itu namun perasaan tak suka hanya ditahan di dalam benak.
Marisa melihat Peras dengan sengit.
Ya, kali mendesah kenikmatan. Mana dia tahu suaranya gimana?
Merasakan saja nggak pernah!
Ia menepis tangan Peras yang masih nangkring di pahanya. "Terus, anda mau gimana?" Marisa mendadak formal saking kesalnya.
"Ya, kayak beneranlah! Kamu mendesah mirip orang kesurupan, tau nggak, "ujar Peras dengan entengnya.
Waw! Parah nih.
Marisa memasang tampang datar. "Banyak mau, lakuin aja sendiri kalau gitu," ujarnya membuang muka. Ia merasa tersinggung banget dengan perkataan pria itu.
Ketika hendak bangkit, karena lelah berpura-pura. Malah tenggorokan sampai kering malah dikatain mirip orang kesurupan.
Atit!
Namun, dengan cepat Peras mendorong Marisa. "Kau harus tanggung jawab, dong!"
Marisa memandangi Peras bingung. "Kapan saya hamili anda?"
Peras tidak tahu harus berkata apa lagi.
Ketukan dari luar menandakan bila itu adalah peringatan dari ayahnya.
"Mendesah!"
Marisa menghembuskan napas lelah. "Aku butuh air. Minggir dulu!"
Peras bergeming bak seonggok patung yang bernapas.
"Kita istirahat dulu, ya. Mana Panas lagi!"
Tangan Marisa mengibas wajahnya yang sudah berkeringat.
Peras menghela napas usai memindahkan tubuhnya. "Seharusnya tadi kau melakukannya dengan benar."
"Iya, nanti aku mendesah, deh! Sepuasmu."
Marisa bangkit dan meraih gelas yang ada di meja sebelah ranjang mereka.
Gluk!
Akhirnya dia bisa membasahi tenggorokannya, belum sempat menghabiskan air di dalam gelas.
Peras sudah lebih dulu menariknya.
Pecah gelas pun terdengar.
Bibir tipis Peras menempel padanya, dingin, tapi lembut. Kemudian dia mulai mengerahkan kekuatannya.
Lidahnya tidak mencapai mulut Marisa, tetapi di mata orang, terlihat seolah-olah mereka berciuman dengan begitu agresif.
Saat itu juga, tampak Rassy dan James membuka pintu, sontak pemandangan langkah terpampang jelas di depan mereka.
Sudut mata Marisa sedikit melirik ke sana, tangannya langsung menjepit leher Peras, dengan agak terpaksa dia memperdalam ciumannya.
James dan Rassy yang puas mengambil gambar mereka lalu dengan cepat meninggalkan kamar tersebut, memberikan Marisa dan Peras privasi yang mereka butuhkan sebagai pengantin baru.
****
Beberapa Bulan Yang Lalu
Kamar dihiasi dengan wallpaper dinding berwarna pink yang khas untuk perempuan. Lampu tidur minimalis menambah kecantikan tampilan kamar tersebut.
Pemilik kamar terbaring tidur dengan nyenyak, entah karena kantuk yang mendominasi atau karena malas untuk bangun. Gadis itu berusia tujuh belas tahun dengan sedikit sikap yang nakal.
Tiba-tiba, suara pintu terdengar jelas, diikuti dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Gadis remaja itu dengan cepat menarik selimut tebal dan menutupi seluruh tubuhnya. Tanpa disadari, dia mulai merasa sesak napas karena kekurangan oksigen. Dia menurunkan selimut sedikit agar saluran pernapasannya tidak terhalang, sambil pura-pura memejamkan mata.
Mbok Sum, pembantu rumah tangga, membuka gorden dengan cepat, memantulkan cahaya terang ke arah gadis tersebut. Dalam hati, gadis remaja itu bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Apakah ada sesuatu yang mendesak?
Meskipun ingin bersikap acuh, rasa penasaran mulai menguasainya.
Tiba-tiba...
Ada sentuhan lembut di bahunya. Gadis remaja itu terkejut dan dengan cepat membalikkan tubuhnya ke samping. Dia mengeluarkan dengkuran keras, menandakan bahwa dia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
"Non, bangunlah!" suara seorang wanita paruh baya mengguncang tubuh gadis yang bersembunyi di balik selimut.
Mbok Sum curiga dengan tingkah laku sang nona. Dia tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Namun, bukannya berhenti, Mbok Sum malah semakin keras memanggil gadis itu sambil mengguncang tubuhnya.
"Aduh... Mbok Sum, berisik sekali!" teriak gadis tersebut sambil menarik kembali selimutnya.
"Non, Tuan ada di bawah menunggu, dan waktunya..." Mbok Sum berhenti sejenak, melirik jam dinding.
Ayah?
Tidak mungkin ayahnya tiba-tiba pulang jika tidak ada alasan yang mendesak. Apalagi ayahnya menelepon semalam dan mengatakan bahwa dia tidak akan pulang pekan ini karena pekerjaan yang menumpuk di rumah sakit.
Mengapa ayahnya sekarang sudah ada di rumah? Pikirannya bergejolak, namun segera teralihkan saat Mbok Sum mengatakan bahwa ayahnya akan berangkat dalam 30 menit.
"Apa!" pekiknya dengan mata melotot dan raut wajah yang panik. Tanpa ragu, dia melompat keluar dari tempat tidur.
Dia tidak ingin melewatkan pertemuan dengan ayahnya. Kehilangan ibunya saat usianya 13 tahun membuatnya tidak ingin menjauh dari ayahnya. Terutama karena belakangan ini mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena kesibukan ayahnya di rumah sakit.
Gadis remaja itu bergegas masuk ke kamar mandi sambil berteriak, "Mbok Sum! Jangan biarkan ayahku pergi sebelum aku selesai!"
Dengan keras, pintu kamar mandi tertutup. Pakaian tidur yang menempel pada tubuh gadis itu tergeletak di lantai kamar mandi. Dengan santai, dia masuk ke dalam bak mandi ergonomis dan segera merasakan sentuhan kulitnya dengan air dingin.
"Arrgghh!" Dia berteriak histeris, dalam hati berkata, "Mengapa Mbok Sum lupa menyiapkan air hangat?"
Dia benar-benar benci dengan air dingin yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
