Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Fatir Resah

”Ghaida,” lirih Galuh. Dirinya terkejut mendapati istrinya ada di luar pintu. Kedua matanya menangkap sosok istrinya tengah diam berdiri di depan pintu bagaikan patung tak bernyawa.

”Biarkan saja dia, Mas. Toh sudah seharusnya dia tahu akan hal ini, jadi tidak perlu capek-capek lagi menjelaskannya pada wanita mandul itu.”

”Dia itu masih istriku dan aku masih mencintainya, faham!" bentak Galuh. Buru-buru pria itu segera berpakaian mengejar istrinya.

Ghaida sendiri segera berlari meninggalkan kantor suaminya setelah mendengar perdebatan kecil di ruangan tersebut, demi apa dia masih bertahan di sana jika hanya untuk melihat pergulatan panas keduanya di meja kerja. Ya, keduanya melakukan hal gila di meja kerja Galuh bahkan kertas berserakan di bawah tidak dipedulikan lagi.

”Tega kamu ya, Mas. Padahal selama ini aku selalu diam bahkan saat direndahkan oleh mamamu, kenapa seperti ini balasan yang aku terima,” lirih Ghaida air matanya terus mengalir membuat orang-orang yang melihatnya keheranan terlebih mereka tahu jika wanita itu adalah istri dari atasan mereka.

Ghaida terus berjalan menjauh, dirinya tak kuat lagi hingga akhirnya terjatuh bersimpuh di rerumputan. Kesakitan, itulah yang tengah dirasakan olehnya. Ghaida merasa tertipu dengan sikap baik suaminya selama ini. Ternyata Galuh berselingkuh di belakangnya bahkan dengan pegawainya. Ghaida ingat betul wajah wanita itu, yang belakangan kerap dilihatnya jika dirinya mengantar makanan di siang hari. Beberapa kali Ghaida memukul dadanya sendiri berharap apa yang dia alami saat ini hanyalah mimpi.

Ponselnya terus saja bergetar namun dia mengabaikannya karena dia tahu jika itu adalah panggilan dari Galuh suaminya. Ghaida mematikan ponselnya kemudian dirinya ingin menenangkan dirinya.

***

”Kenapa dia belum juga kasih jawaban?” gumam Fatir bolak-balik di ruangannya. ”Mm ... Ehsan, apa Ghaida ada kasih kabar sama kamu?”

”Eh? Maksudnya wanita yang kemarin itu? Kamu sedang menantikannya?”

”Ish, aku menantikannya karena butuh kepastiannya jika dia menolaknya maka akan aku lempar pada yang lain,” bantah Fatir.

Ehsan tersenyum penuh arti, anak dari bos papanya ini memang benar-benar sedang jatuh cinta. Hal yang tidak biasa dan tidak pernah terjadi sebelumnya.

”Kenapa tersenyum apa ada yang lucu?”

”Tidak ada, maaf jika membuatmu tersinggung. Mungkin saja dia lupa atau kamu bisa menghubunginya kan?” saran Ehsan.

”Malas lah, yang butuh juga siapa? Dia kan, bukan aku. Aku bisa kok mencari gantinya,” sanggah Fatir.

”Tapi belum tentu dia itu sama seperti Ghaida dan aku yakin wanita itu meninggalkan kesan lebih padamu sehingga kamu mencarinya sekarang, ayo ngaku!”

”Dipikir saja lah secara logikanya aku bayar dia lebih mahal loh dari perusahaan lain bahkan berani bayar dua kali lipat masa iya dia tidak tertarik dengan penawaran yang aku berikan.”

Ehsan mengangguk membenarkan perkataan Fatir. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

Fatir terdiam memikirkan langkah apa yang harus diambilnya. ”Tunggu hingga nanti malam jika tidak ada jawaban darinya, berarti dia menolaknya dan kita buka lowongan baru.”

"Oke.”

Fatir masih berkutat pada keyboard laptopnya, sesekali dia melirik ke arah jam yang ada di depannya jam lima, tak terasa sudah sore dan dia belum menerima jawaban dari Ghaida. "Apa artinya dia menolak tawaranku?"

”Kamu mau kemana di luar hujan loh.”

”Pulang, pekerjaanku sudah selesai mau ngapain nginap di sini yang benar saja yang ada daddy marah karena putranya yang tampan ini tidak pulang dan seisi rumah pasti geger mengira aku kencan di luar.”

”Hahaha, bisa saja kalau ngelawak!”

”Siapa yang ngelawak ini serius, bro! Secara anak kesayangan daddy dan mommy, gitu loh."

”Kamu lupa masih punya dua adik, ya.”

”Mereka kan jarang di rumah apalagi Abiyan masih di luar negeri sedangkan Aisha? Masa iya dia disebut tampan lari lah kamu nantinya,” seloroh Fatir jumawa karena merasa tak ada saingannya.

”Sudahlah aku pulang dulu ya," pamit Fatir segera keluar dari ruangannya dirinya segera menunggu mobil yang sedang diambil oleh pegawainya.

Baru saja akan melangkah masuk ke mobil suara meneriakinya membuatnya urung dan berbalik.

”Pak Fatir, tunggu!”

”Ghaida? Kenapa Anda ke sini?” Fatir menatap ke arah Ghaida, nafas wanita itu terengah-engah dan lagi pakaiannya basah kuyup.

”Maaf, pak Fatir saya ke sini mau ... ”

Tiba-tiba tubuh Ghaida ambruk beruntung Fatir sigap sehingga mampu menangkap tubuh wanita itu. Dengan cepat Fatir membawanya ke ruang kesehatan.

”Ehsan, panggil Dokter cepat!” teriak Fatir. Dirinya tidak bisa sabar terlebih yang ada di depannya adalah Ghaida, wanita yang sejak tadi pagi mengganggu pikirannya.

Ehsan pun tak mau membuat atasannya marah dengan cepat memanggil adiknya Rhean untuk segera datang ke kantornya.

”Sepertinya dia terkena hipotermia,” ucap Ehsan.

”Kamu benar, tolong minta pegawai wanita mengganti pakaiannya cepat!”

Ehsan pun mengikuti instruksi dari Fatir memanggil karyawati untuk membantu menggantikan pakaiannya dan juga menyelimutinya.

”Mas, dimana pasiennya?" tanya Rhean begitu tiba di kantor tersebut.

”Ada di dalam, cepat!” Rhean mengikuti kakaknya ke ruang rawat dilihatnya wanita terbaring dibungkus kain selimut dengan wajahnya tertutup oleh kain.

Tanpa melihat lagi Rhean langsung memeriksanya, ”Siapa wanita ini?” Rhean menoleh ke arah Fatir dan Ehsan, keduanya tak menjawab. ”Dia terkena hipotermia, langkah yang diambil sudah benar tapi jika sudah tidak kunjung membaik segera bawa ke rumah sakit.”

”Baiklah terima kasih, Rhean,” ucap Fatir.

”Sama-sama, Bang. Aku balik dulu ya, Mas Ehsan mau ikut?”

”Pulanglah, aku akan menunggunya sadar lebih dulu baru balik.”

”Oke.”

Fatir pun menunggu Ghaida hingga dia tersadar, tepat pukul tujuh wanita itu mengerakkan kedua matanya.

”Alhamdulillah, akhirnya Anda tersadar juga.”

Ghaida meraba dirinya sendiri dan mencerna apa yang baru saja dialaminya. ”Dimana saya?”

”Kantor saya, tadi Anda pingsan di depan jadi saya membawa Anda ke ruang kesehatan."

”Pakaian saya?”

”Sebentar saya ambilkan.”

Fatir keluar dan meminta karyawannya untuk membantu Ghaida memakai bajunya kembali.

”Terima kasih.”

Fatir berbalik mendapati Ghaida kembali memakai bajunya sendiri. Fatir bahkan tak berkedip meskipun Ghaida memakai cadar aura kecantikannya tetap terlihat cantik.

”Apa Anda sudah baikkan?”

”Tentu, saya ke sini hanya ingin mengatakan jika saya mengiyakan pekerjaan yang pak Fatir tawarkan kemarin.”

”Anda yakin?”

Ghaida hanya mengangguk.

”Baiklah jika memang demikian besok Anda bisa mulai bekerja dengan saya, selamat bergabung di perusahaan ini!”

”Terima kasih, kalau begitu saya permisi, maaf telah merepotkan pak Fatir.

”Apa Anda yakin bisa pulang dalam keadaan seperti ini? Saya akan mengantar Anda.”

”Silakan!”

Kedua saling bungkam di mobil namun sesekali Fatir melirik singkat ke samping, hingga akhirnya mobil pun sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar.

”Terima kasih pak Fatir.”

”Kenapa rumahnya sebesar ini tapi istrinya dibiarkan keluyuran bekerja, apa suami Anda bermasalah?”

Deg.

Ghaida kebingungan menjawab pertanyaan dari Fatir.

”Benar kan Anda sedang bermasalah?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel