Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Merah Menyala untuk sang Raja

Mentari pagi baru saja menyelinap masuk melalui jendela kaca raksasa penthouse Rayn Jovanka, namun Sasha sudah terjaga dengan semangat yang meluap.

Di atas meja rias marmernya, kartu hitam unlimited itu berkilau, seolah memanggilnya untuk segera memulai pesta. Inilah hidup yang selama ini hanya ia tonton dari balik layar televisi atau kaca butik yang dingin; kini, dunia adalah taman bermainnya.

Sebuah sedan mewah telah menunggunya di lobi. Di sana, Ben, asisten pribadi Rayn yang berperawakan kaku dengan setelan jas hitam sempurna menyambutnya dengan anggukan hormat.

“Nona Sasha, Tuan Rayn telah mengatur agar Anda mendapatkan akses prioritas di Grand Astoria Mall. Anda bisa mengambil apa pun yang Anda suka,” ucap Ben saat mobil mulai membelah jalanan kota yang sibuk.

Begitu menginjakkan kaki di mal paling bergengsi di negara itu, Sasha merasa seperti seorang ratu. Ia melangkah masuk ke butik-butik kelas dunia, Hermès, Chanel, hingga Dior.

Tanpa perlu melirik label harga, ia menunjuk tas kulit buaya, sepatu tumit tinggi bertahtakan kristal, hingga gaun sutra yang harganya setara dengan biaya hidup orang biasa selama setahun.

Setiap kali kartu hitam itu digesek di mesin EDC, bunyi beep yang dihasilkan terasa seperti musik paling indah di telinga Sasha. Tidak ada penolakan, tidak ada batas.

Saat mereka melewati sebuah koridor eksklusif, Ben mendekat dan berbisik pelan. “Tuan Rayn memiliki permintaan khusus untuk koleksi pribadi Anda, Nona. Beliau ingin Anda memperbarui 'seragam' malam Anda.”

Sasha tersenyum mengerti. Matanya berkilat nakal. “Tentu saja. Bawa aku ke tempat terbaik.”

Mereka berhenti di depan sebuah butik lingerie kelas atas yang tersembunyi namun sangat termasyhur di kalangan sosialita.

Begitu masuk, Sasha langsung memburu koleksi paling berani. Ia memilih lingerie transparan dengan berbagai motif, mulai dari renda tipis yang nyaris tak terlihat, motif macan tutul yang liar, hingga bahan lateks yang menantang.

“Aku mau ini, ini, dan semua yang ada di rak itu,” tunjuk Sasha pada deretan lingerie yang hampir tidak menutupi apa pun.

Ia hampir menghabiskan stok eksklusif di butik itu dalam satu kunjungan. Baginya, pakaian-pakaian minim ini adalah senjatanya untuk memastikan Rayn tetap berada dalam genggamannya.

Dua jam kemudian, Sasha kembali ke apartemen megah itu dengan perasaan lelah namun sangat bahagia. Di belakangnya, beberapa staf apartemen kewalahan membawa puluhan kantong belanjaan bermerek.

“Bawa semuanya ke walk-in closet,” perintah Sasha dengan nada memerintah yang mulai terbiasa ia gunakan.

“Terutama koleksi lingerie. Susun semuanya dengan rapi, pajang berdasarkan warna di rak paling depan. Aku ingin Tuan Rayn bisa melihat semuanya dengan jelas begitu dia masuk.”

Sasha merebahkan tubuhnya di sofa kulit yang empuk, mengagumi kemewahan di sekelilingnya. Tiba-tiba, ponsel pintarnya bergetar. Sebuah panggilan video masuk. Nama 'Rayn Jovanka' tertera di layar. Dengan cepat, Sasha memperbaiki tatanan rambutnya dan menerima panggilan itu.

Layar menunjukkan wajah tampan Rayn yang sedang berada di dalam jet pribadinya. Pria itu melonggarkan dasinya, menatap Sasha dengan tatapan yang intens meski terhalang layar.

“Sudah selesai menghabiskan uangku, hm?” suara berat Rayn terdengar, sedikit serak namun penuh otoritas.

Sasha tersenyum manis, memiringkan kepalanya untuk memperlihatkan sebuah kalung berlian murni yang baru saja ia beli. Berlian itu berkilau memantulkan cahaya lampu ruangan.

“Belum habis, Tuan Rayn. Uangmu sepertinya terlalu banyak untuk dihabiskan dalam sehari. Tapi lihat ini... bukankah ini indah? Kalung ini akan menjadi pajangan yang sangat cantik di leherku saat aku melayani Anda nanti malam.”

Rayn menyeringai, sebuah ekspresi yang menunjukkan ketertarikan sekaligus nafsu yang tertahan. “Aku suka seleramu. Perhiasan itu memang cocok di kulitmu. Tapi malam ini, aku ingin sesuatu yang lebih mencolok.”

Rayn terdiam sejenak, menatap Sasha seolah-olah dia bisa menembus pakaian yang dikenakan wanita itu sekarang. “Kenakan lingerie warna merah menyala untuk malam ini. Merah darah. Aku akan tiba pukul sepuluh tepat setelah urusan bisnis ini selesai. Pastikan kau sudah siap.”

Sasha merasakan debaran di dadanya. “Dengan senang hati, aku akan menunggumu, Tuan Rayn. Jangan terlambat, atau aku mungkin akan mulai 'bermain' tanpamu.”

“Jangan berani-berani, Sasha. Kau tahu konsekuensinya jika kau mendahuluiku,” ancam Rayn dengan nada bercanda yang berbahaya sebelum memutus sambungan.

Sasha terkekeh pelan. Ia segera beranjak dari duduknya dan melangkah menuju walk-in closet raksasanya yang kini sudah dipenuhi barang-barang baru. Ia berjalan melewati deretan tas dan sepatu, lalu berhenti di area khusus lingerie.

Dengan senyum mematikan yang menghiasi bibirnya, Sasha mulai memilah. Jarinya berhenti pada sebuah potong pakaian yang sangat provokatif. Itu adalah sebuah lingerie yang menyerupai mini dress, namun seluruh bahannya terbuat dari renda merah transparan yang sangat halus.

Sasha mengambilnya dan menempelkannya ke tubuhnya di depan cermin besar. Desainnya sangat gila; bagian punggungnya benar-benar bolong hingga ke batas bokong, memperlihatkan lekuk punggungnya yang mulus.

Belahan dadanya dibuat sangat rendah dan lebar, sedemikian rupa sehingga meski ia mengenakannya, puting payudaranya tetap akan terekspos dengan jelas karena kain tipis itu tidak mampu menutupi apa pun.

“Merah menyala untuk sang Raja,” bisik Sasha pada pantulannya sendiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel