Bab 5. Come on!
Jarum jam di dinding apartemen yang berlapis emas itu menunjuk tepat ke angka sepuluh. Suasana kamar utama begitu sunyi, hanya menyisakan aroma lilin terapi beraroma sandalwood dan mawar hitam yang memberikan kesan erotis sekaligus mewah.
Sasha duduk di atas sofa beludru berwarna zamrud, kakinya yang jenjang bersilang dengan anggun. Lingerie merah menyala yang ia pilih tadi siang tampak kontras dengan kulit putih porselennya, membungkus tubuhnya dengan cara yang sangat provokatif, memamerkan punggung polos dan belahan dada yang menantang maut.
Suara lift pribadi berdenting pelan, disusul langkah kaki yang berat dan berwibawa di atas lantai marmer. Pintu terbuka, menampakkan sosok Rayn Jovanka yang masih mengenakan kemeja putih dengan dasi yang sudah sedikit longgar.
Wajahnya tampak lelah akibat urusan bisnis, namun matanya langsung berkilat tajam begitu menangkap sosok Sasha yang menunggunya bagaikan hidangan penutup yang paling lezat.
Sasha bangkit berdiri dengan gerakan yang sengaja diperlambat, membiarkan setiap lekuk tubuhnya terayun mengikuti langkah kakinya yang anggun.
Ia menghampiri Rayn, lalu dengan lembut mengambil jas abu-abu gelap yang tersampir di lengan pria itu, menaruhnya dengan rapi di sofa tanpa mengalihkan pandangan.
“Selamat datang kembali, Tuan Rayn,” bisik Sasha dengan suara yang sengaja dibuat serak dan rendah. Ia berdiri sangat dekat, hingga ia bisa merasakan sisa hawa dingin dari luar yang menempel di tubuh Rayn.
“Apakah Anda lelah? Perlu mandi air hangat terlebih dahulu untuk melemaskan otot-otot Anda?”
Rayn menatap Sasha dari ujung rambut hingga ujung kaki, memperhatikan bagaimana lingerie transparan itu nyaris tidak berfungsi menutupi apa pun.
“Tidak perlu,” jawab Rayn dengan suara berat yang menggetarkan udara di antara mereka. “Kita bisa mandi bersama nanti, setelah urusan ranjang kali ini selesai. Aku sedang tidak ingin membuang waktu.”
Sasha terkekeh pelan, sebuah tawa nakal yang menggoda. Jemarinya yang lentik mulai merayap di atas dada bidang Rayn, merasakan detak jantung pria itu yang mulai berpacu. “Baiklah, jika itu yang Anda inginkan, Tuan yang tidak sabar.”
Sasha meraih tangan besar Rayn, menuntunnya menuju ranjang king size yang sudah disiapkan dengan sprei sutra hitam yang dingin.
Di tepi ranjang, Sasha tidak langsung naik. Ia justru perlahan turun ke lantai, berlutut tepat di hadapan Rayn yang kini duduk di tepi kasur. Dengan posisi yang sangat submisif namun penuh kendali, ia menatap ke atas, mencari mata Rayn.
“Katakan padaku, Tuan... dari mana Anda ingin aku memulainya?” tanya Sasha, suaranya terdengar seperti madu yang manis sekaligus beracun.
Rayn menjulurkan tangannya, mencengkeram dagu Sasha dan mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya langsung.
“Mulailah dari mana pun yang kau suka. Aku akan menerima setiap inci pelayananmu malam ini,” ucap Rayn dengan tatapan predator yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup.
Sasha tersenyum puas. Ia mulai membuka kancing kemeja Rayn satu persatu dengan gerakan yang sangat telaten. Setiap kancing yang terbuka mengekspos kulit tan dan otot perut Rayn yang keras.
Sementara itu, Rayn hanya diam, mengamati setiap gerakan Sasha seolah-olah sedang membedah pikiran wanita itu.
“Sasha,” panggil Rayn tiba-tiba di tengah keheningan yang panas itu. “Kau pernah melayani dua pria sekaligus?”
Gerakan tangan Sasha terhenti sejenak, namun ia tidak tampak terkejut. Ia justru terkekeh pelan, kepalanya sedikit mendongak menatap Rayn dengan binar pengalaman yang kelam di matanya.
“Bahkan tiga pria sekaligus pun aku pernah melakukannya, Tuan Rayn. Di duniaku yang dulu, permintaan aneh seperti itu adalah makanan sehari-hari.”
Rayn menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terkesan dengan kejujuran yang dingin itu. “Sudah berapa lama kau masuk ke dalam dunia malam ini?”
“Baru dua tahun,” jawab Sasha pendek sambil melanjutkan tugasnya. Ia kini sudah berhasil menanggalkan kemeja Rayn, membiarkan tubuh bagian atas pria itu telanjang sepenuhnya.
“Kenapa bertanya tentang itu? Apakah Anda punya rencana mengajak rekan bisnis Anda untuk aku puaskan juga?”
Rayn menggeleng pelan, tangannya kini meraba rambut pirang Sasha. “Hanya bertanya. Aku ingin tahu sejauh mana 'barang' yang kubeli ini sudah pernah digunakan.”
Sasha mengangguk patuh, meski ada sedikit kilat tantangan di matanya. Ia kini beralih ke celana panjang Rayn.
Dengan gerakan yang penuh gairah, ia mengusap paha keras pria itu sebelum membebaskan kejantanan Rayn yang sudah berdiri kokoh dan berdenyut, menuntut perhatian segera.
Sasha menatap batang besar di hadapannya itu dengan lapar. Sebelum melumatnya, ia memberikan usapan lembut dengan ujung jarinya, merasakan urat-urat yang menonjol di sana.
Lalu, tanpa aba-aba, ia membawa masuk batang keras itu ke dalam mulutnya hingga penuh.
“Nghhh... damn, Sasha!” Rayn menggeram keras, punggungnya menegang saat merasakan kehangatan mulut Sasha yang membalutnya dengan sempurna.
Sasha bekerja dengan sangat lihai. Ia menggunakan lidahnya untuk memanjakan setiap inci kejantanan Rayn, memberikan gerakan maju-mundur yang liar namun penuh teknik.
Suara hisapan yang basah memenuhi ruangan, bercampur dengan geraman kepuasan dari sang Presdir.
“Kau benar-benar jalang yang hebat, Sasha!” maki Rayn, namun suaranya penuh dengan nada pujian yang gelap.
Tangannya menjambak rambut pirang Sasha, memberikan dorongan agar kepala wanita itu masuk lebih dalam ke kerongkongannya. Rayn tidak membiarkannya beristirahat, ia terus memacu irama itu hingga peluh mulai membasahi dahi Sasha.
Setelah beberapa saat yang intens, Sasha perlahan melepaskan pautannya. Ia bangkit berdiri di hadapan Rayn yang masih terengah-engah dengan dada naik-turun. Dengan tatapan yang sayu namun penuh kemenangan, Sasha membungkuk, dengan sengaja membiarkan payudaranya yang sintal dan padat hampir menyentuh wajah Rayn.
Ia meraih ke bawah, melepaskan g-string merahnya yang tipis, lalu memberikannya kepada Rayn dengan jari telunjuknya. Rayn menerima kain tipis itu, mendekatkannya ke hidungnya, dan menghirup aroma tubuh Sasha dalam-dalam seolah itu adalah heroin yang mematikan kewarasannya.
Sasha kemudian melepaskan sisa lingerie transparannya, membiarkan kain itu jatuh begitu saja ke lantai. Sekarang, ia berdiri polos sepenuhnya, memamerkan lekuk tubuh yang sempurna, pinggang ramping, pinggul yang berisi, dan payudara yang membusung indah.
“Jangan hanya menatapku, Tuan Rayn,” bisik Sasha sambil merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya di depan pria itu. “Come on, Sayang. Aku siap memuaskanmu lagi, dan kali ini aku ingin kau memberikan semuanya padaku.”
