Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Pernyataan yang Mutlak

Suasana di ruang privat Mami Rose terasa begitu tegang, kontras dengan dentuman musik yang masih terdengar samar dari lantai dansa. Aroma cerutu mahal milik Rayn kini bercampur dengan wangi bunga melati yang menjadi ciri khas ruangan sang mucikari.

Mami Rose duduk di balik meja eksekutifnya, menatap Rayn Jovanka dan Sasha bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan, antara serakah dan rasa kehilangan atas aset terbaiknya.

“Kau tahu sendiri, Rayn. Sasha adalah bintang di sini,” ujar Mami Rose sambil menyilangkan kakinya yang berbalut stoking jaring.

“Melepaskannya secara permanen berarti mematikan separuh cahaya The Velvet Underground. Penggemarnya bukan orang sembarangan. Pejabat, pengusaha, bahkan pangeran dari negeri tetangga rela mengantre berbulan-bulan hanya untuk satu jam bersamanya.”

Rayn tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Baginya, negosiasi ini hanyalah transaksi rutin, meski yang dibeli adalah manusia. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah buku cek berlambang emas dari Aethelgard Bank.

“Bagiku, uang bukan segalanya, Rose. Waktu adalah hal yang jauh lebih berharga,” potong Rayn dengan suara dingin yang mematikan. Ia lalu meletakkan cek kosong itu di atas meja dan mendorongnya ke hadapan Mami Rose.

“Tuliskan angka yang kau inginkan. Berapa pun yang kau butuhkan untuk menutup mulutmu dan menyerahkan seluruh dokumen identitas Sasha kepadaku malam ini juga.”

Mami Rose tertegun. Ia sudah sering berhadapan dengan orang kaya, tapi belum pernah ada yang memberikan cek kosong dengan kepercayaan diri setinggi itu. Ia menoleh ke arah Sasha yang berdiri tenang di samping Rayn.

Sasha kini sudah mengenakan jubah sutra hitamnya kembali, namun auranya telah berubah; ia tampak lebih tegak, seolah sudah tahu bahwa nasibnya akan segera berpindah tangan.

“Sasha,” panggil Mami Rose dengan nada serius. “Kau dengar itu? Pria ini ingin membelimu secara utuh. Tidak ada lagi panggung, tidak ada lagi tepuk tangan penonton, hanya dia. Apakah kau sudah menyepakatinya?”

Sasha menatap Rayn sekilas. Pria itu tidak menoleh padanya, namun tangan Rayn yang masih melingkar di pinggang Sasha terasa begitu posesif. “Aku sudah menyepakatinya, Mami,” jawab Sasha tegas. “Aku ingin ikut dengannya.”

Mami Rose menghela napas panjang, lalu jemarinya yang berhias cincin berlian mengambil pena bulu di atas meja. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menuliskan angka yang fantastis: $2.000.000. Dua juta dolar. Sebuah harga yang cukup untuk membangun sepuluh klub malam baru.

Rayn melirik angka itu tanpa berkedip. Tidak ada raut penyesalan, tidak ada keraguan. Ia hanya mengangguk kecil, memberikan isyarat bahwa transaksi selesai.

“Kirimkan semua berkasnya ke kantorku besok pagi,” ucapnya pendek sebelum menarik Sasha keluar dari ruangan itu.

Mobil Rolls-Royce Boat Tail berwarna biru gelap sudah menunggu di depan lobi VIP. Sang sopir membukakan pintu dengan hormat saat Rayn dan Sasha keluar. Begitu mereka masuk ke dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kulit premium, Rayn langsung menyandarkan punggungnya.

Perjalanan menuju pusat kota berlangsung dalam keheningan yang intens. Sasha menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang bergerak cepat.

Ia merasa seperti baru saja melompat dari tebing tanpa tahu apakah di bawah sana ada air atau batu tajam. Namun, saat melirik Rayn, ia merasa aman dalam cara yang sangat aneh.

Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, The Jovanka Tower.

Apartemen itu adalah mahakarya arsitektur, sebuah penthouse yang menempati tiga lantai teratas dengan pemandangan 360 derajat kota metropolitan.

Begitu pintu lift pribadi terbuka langsung di dalam ruang tamu, Sasha terpana. Lantai marmer putih, dinding kaca setinggi lima meter, dan furnitur minimalis yang harganya mungkin setara dengan rumah mewah.

“Ini tempat tinggalmu mulai sekarang,” kata Rayn sambil melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa. Ia berjalan menuju sebuah panel digital di samping pintu. “Kodenya adalah 0707. Jangan pernah melupakannya.”

Rayn kemudian mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari atas meja kerja dan sebuah kartu plastik berwarna hitam pekat tanpa angka yang timbul di permukaannya. The Black Centurion Card.

“Ini uang tunai untuk peganganmu malam ini, dan ini kartu hitam unlimited atas namaku. Gunakan sesukamu. Besok, asistenku akan membawamu belanja untuk memenuhi lemari pakaianmu. Aku tidak ingin wanitaku mengenakan kain murahan dari klub itu lagi.”

Sasha menerima kartu itu dengan jemari gemetar. Kehidupan yang selama ini hanya ada dalam mimpinya kini benar-benar ada di genggamannya. Namun, rasa penasaran mulai menggelitik nuraninya.

“Rayn,” panggil Sasha pelan. Rayn berbalik, menatapnya dengan mata elang yang tak pernah meredup. “Sampai kapan? Berapa lama aku harus menjadi... pemuasmu?”

Rayn melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Sasha bisa mencium aroma wiski dan kejantanan pria itu. Ia mencengkeram dagu Sasha, memaksanya menatap lekat wajahnya yang tampan namun dingin.

“Tidak ada perjanjian yang jelas, Sasha. Aku tidak suka batasan waktu,” bisik Rayn, napasnya terasa hangat di kulit wajah Sasha.

“Mungkin sebulan, setahun, atau mungkin sampai aku bosan melihat wajahmu. Aku tidak bisa menjanjikan berapa lama aku akan menggunakanmu sebagai wanita malamku.”

Sasha terdiam sebentar, lalu sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. Ia tampak tak peduli. Baginya, selama aliran uang ini tidak berhenti, selama ia bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dan tidak perlu lagi kembali ke jalanan yang kumuh, ia siap bermain.

“Itu adil bagiku,” sahut Sasha pelan.

Mendengar jawaban itu, cengkeraman Rayn berpindah ke pinggang Sasha. Ia menarik tubuh wanita itu dengan kasar hingga dada mereka bertabrakan. Tatapan Rayn berubah menjadi sangat gelap, penuh peringatan yang mampu membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.

“Dengarkan aku baik-baik, Lady,” bisik Rayn dengan suara yang rendah dan mengancam. “Jangan pernah menolakku dengan alasan apa pun. Tidak saat kau lelah, tidak saat kau sedang marah, tidak pernah.”

Ia mempererat pelukannya, seolah ingin meremukkan tulang rusuk Sasha. “Kau sudah dibayar dengan harga yang fantastis. Aku sudah membeli setiap tarikan napasmu, setiap tetes keringatmu, dan setiap jengkal kulitmu. Jadi, jika suatu saat aku memintamu untuk mati di tanganku sekalipun, kau harus bersedia tanpa bertanya!”

Sasha menelan ludah. Ia melihat kegilaan di mata Rayn, sebuah dominasi mutlak yang tidak mengenal kompromi. Namun, bukannya merasa takut, jantung Sasha justru berdegup kencang karena sensasi berbahaya yang diberikan pria ini.

“Aku mengerti, Tuan Jovanka,” bisik Sasha di depan bibir Rayn. “Lakukan apa pun yang kau mau. Aku milikmu.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel