Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2. Tawaran dari sang Predator

Gairah di dalam kamar nomor tujuh itu kini telah mencapai titik didih. Rayn Jovanka bukanlah pria yang terbiasa dengan basa-basi atau kelembutan yang membosankan. Baginya, penaklukan adalah insting, dan Sasha adalah wilayah baru yang harus ia kuasai sepenuhnya malam ini.

Rayn mencengkeram paha mulus Sasha, mengangkat satu kaki wanita itu hingga melingkar di pinggang kekarnya. Tanpa peringatan, ia menerobos masuk. Batang kekarnya yang panas dan berurat menghujam telak ke dalam inti milik Sasha yang sudah basah dan berdenyut, siap untuk diterkam.

"Ahhh! Mr. Rayn... stoppp... jangan langsung sedalam itu," rintih Sasha, namun suaranya justru terdengar seperti undangan daripada larangan. Matanya terpejam erat, kuku-kukunya yang merah meruncing mencengkeram bahu jas Rayn yang kini sudah berantakan.

Rayn tidak peduli. Ia justru semakin menghentakkan pinggulnya, membiarkan tubuh mereka beradu tanpa celah. "Kau bilang kau ingin uangku, Sasha? Maka kau harus merasakan bagaimana cara seorang Jovanka membayar apa yang ia inginkan," geram Rayn di depan wajah Sasha.

Pria itu kemudian meraup bibir Sasha, melumatnya dengan kasar. Bukan ciuman yang manis, melainkan sebuah dominasi yang menuntut kepatuhan. Lidahnya menjelajahi rongga mulut Sasha sementara tubuhnya terus mendorong, menghunjam hingga mentok ke dasar milik Sasha, mencari titik terdalam yang bisa ia capai.

"Nghhh... ahh... kau... kau terlalu besar, Rayn... kau menghancurkanku!" Sasha mendesah di sela-sela ciuman mereka yang panas. Tubuhnya gemetar hebat, merasakan setiap gesekan kulit mereka yang membakar. Gairah liar yang dipancarkan Rayn membuatnya merasa hidup sekaligus tak berdaya.

Seakan belum puas dengan posisi itu, Rayn tiba-tiba melepaskan pautan mereka. Ia memutar tubuh Sasha dengan kasar, memaksa wanita itu berbalik membelakanginya dan menungging di tepi sofa.

"Tetap di posisi ini. Jangan bergerak," perintah Rayn dingin.

Rayn kembali menghajar Sasha dari belakang dengan gerakan yang jauh lebih liar dan brutal. Setiap hantaman membuat tubuh Sasha terdorong ke depan, rambutnya yang panjang tergerai menutupi wajahnya yang kini basah oleh keringat dan air mata kenikmatan. Suara tamparan kulit yang beradu memenuhi ruangan, mengalahkan kesunyian area VIP yang kedap suara.

"O-oh God! Rayn! Terus... jangan berhenti... ahhh!" teriak Sasha. Suaranya menggema, memantul di dinding-dinding mewah kamar itu. Ia tidak lagi peduli pada martabatnya. Di bawah kuasa pria ini, ia hanya ingin satu hal: pelepasan.

Sasha merasakan tekanan di dalam dirinya semakin memuncak. Dinding-dinding intinya berdenyut kencang, menjepit milik Rayn dengan paksa. Hingga akhirnya, ledakan itu datang. Sasha mengejang hebat, tubuhnya melengkung ke belakang sementara orgasme pertamanya menghantam seperti ombak besar yang menelan seluruh kesadarannya.

Namun, Rayn Jovanka adalah seorang pemburu yang memiliki stamina tanpa batas. Meski Sasha sudah lemas, milik Rayn masih berdiri kokoh, keras seperti baja dan menuntut lebih. Ia tidak membiarkan Sasha beristirahat.

Dengan satu gerakan kuat, Rayn membanting tubuh Sasha ke atas tempat tidur king size yang berada di sudut ruangan. Ia segera menindihnya dan melebarkan kedua kaki wanita itu hingga terbuka lebar, mengekspos area sensitifnya yang kini tampak kemerahan dan basah oleh cairan mereka berdua.

Rayn menundukkan kepalanya. Tanpa ragu, ia mengisap klitoris Sasha dengan isapan yang kuat dan suara yang sangat provokatif.

"TIDAAAK! RAYN! AHHH!" Sasha menjerit hebat, tangannya meremas sprei sutra hingga kusut. Sensasi lidah Rayn yang kasar namun ahli di sana membuatnya kehilangan kendali. Orgasme kedua menyerangnya lebih dahsyat dari yang pertama, membuat kakinya gemetar dan perutnya kencang.

Rayn mendongak sebentar, menatap Sasha yang terengah-engah dengan mata sayu yang mulai kehilangan fokus. Pria itu menyeringai, lalu kembali merunduk untuk menyedot milik Sasha, seolah ingin menghabiskan sisa cairan yang masih tertinggal di sana.

"Kau sangat responsif, Sasha. Aku suka wanita yang tahu cara menikmati rasa sakit dan nikmat sekaligus," bisik Rayn sambil merangkak naik, mensejajarkan tubuhnya dengan Sasha.

Tangannya yang besar kini meraup payudara Sasha yang berisi. Ia meremasnya dengan posesif, sebelum akhirnya mengulum puting merah muda itu satu persatu. Ia menyedotnya dengan isapan yang sangat kuat, seolah ingin memerah sesuatu dari sana, membuat Sasha kembali memekik dan melengkungkan punggungnya.

"Sshhh... kau milikku malam ini," gumam Rayn di sela isapannya.

"Apapun... ahh... lakukan apapun, Rayn... aku milikmu," sahut Sasha dengan suara yang hampir habis. Ia menatap pria gagah di hadapannya itu dengan pandangan memuja. Ia belum pernah bertemu pria sekuat dan sedominan ini. Semua uang yang ia harapkan terasa sebanding dengan pengalaman gila ini.

Rayn berhenti sejenak, menatap mata Sasha dalam-dalam. Napasnya masih menderu, keringat menetes dari dahinya jatuh ke dada Sasha.

"Aku sudah berkeliling dunia, menemui banyak wanita kelas atas, tapi aku tak pernah mendapatkan kepuasan murni yang seperti ini sebelumnya," bisik Rayn dengan suara berat yang jujur.

Sasha tersenyum tipis, sebuah senyuman menggoda yang muncul di balik wajahnya yang kelelahan. Ia mengusap rahang tegas Rayn dengan ujung jarinya. "Maka... Sasha siap memuaskan Mr. Rayn kapan pun Anda menginginkannya. Bukan hanya malam ini, tapi setiap saat Anda membutuhkan tempat untuk melepas penat."

Rayn terdiam, lalu sebuah senyuman miring yang penuh rencana muncul di wajah tampannya. Kalimat Sasha adalah apa yang ingin ia dengar, namun ia menginginkan lebih dari sekadar kontrak satu malam di klub ini.

"Kalau begitu, aku punya penawaran yang lebih baik daripada sekadar tips dari Mami Rose," kata Rayn, suaranya kini terdengar seperti seorang pengusaha yang sedang menutup kesepakatan besar.

Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sasha, membisikkan sesuatu yang akan mengubah hidup wanita itu selamanya.

"Jadilah wanita malam pribadiku. Mulai malam ini, kau berhenti bekerja di tempat sampah ini. Kemasi barang-barangmu, ikut denganku ke apartemenku, dan jadilah milikku sepenuhnya. Aku akan memberikan apa pun yang kau minta—uang, kemewahan, segalanya—selama kau bisa memberikan apa yang aku inginkan di atas ranjang."

Sasha tertegun. Ini adalah tiket emas yang ia cari, namun ia tahu bahwa masuk ke dalam kehidupan Rayn Jovanka berarti ia tidak akan pernah bisa keluar lagi. Ia akan menjadi burung dalam sangkar emas milik sang Presdir.

"Bagaimana, Sasha? Apakah kau siap menjual jiwamu padaku?" tanya Rayn lagi, tangannya kembali bergerak turun, mengancam akan menghantam milik Sasha sekali lagi jika ia tidak segera menjawab.

Sasha menatap Rayn, lalu mengangguk pelan dengan binar ambisi di matanya. "Bawa aku, Rayn. Jadikan aku milikmu."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel