Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1. Wanita Malam yang Memuaskan

Cahaya lampu neon berwarna ungu dan merah remang-remang memantul di lantai marmer Night Club The Velvet Underground. Musik techno dengan dentum bas yang menggetarkan dada memenuhi setiap sudut ruangan, bercampur dengan aroma alkohol mahal dan asap rokok yang menggantung tipis di udara. Bagi sebagian orang, tempat ini adalah surga dunia, tetapi bagi Sasha, ini hanyalah medan perang tempat ia mempertaruhkan harga dirinya demi lembaran-lembaran rupiah.

Sasha duduk di sudut ruang ganti yang tenang, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang dikelilingi lampu bohlam kuning. Matanya yang tajam dihias dengan eyeliner tebal, memberikan kesan misterius sekaligus menggoda. Ia tahu ia cantik. Ia tahu bahwa setiap lekuk tubuhnya adalah aset yang bisa ditukar dengan kenyamanan hidup yang selama ini tidak pernah ia miliki.

Pintu ruang ganti terbuka dengan kasar. Mami Rose, wanita paruh baya dengan riasan wajah yang tebal dan perhiasan emas yang mencolok di tangan dan lehernya, melangkah masuk.

"Sasha," panggil Mami Rose dengan suara serak khas perokok berat. "Ada tamu spesial di VIP Room nomor tujuh. Dia tidak suka menunggu."

Sasha memutar kursinya, menatap Mami Rose dengan tenang. "Siapa dia? Dan berapa yang dia tawarkan?"

Mami Rose tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan angka nol yang banyak di belakang sebuah nominal. "Seorang pria yang bisa melunasi hutang-hutang pengobatan ibumu dalam semalam jika kau bisa membuatnya senang. Bukankah kau sangat butuh uang sekarang?"

Sasha terdiam sejenak. Kata-kata 'uang' selalu menjadi pemicu adrenalin baginya. Ia berdiri, merapikan jubah sutra yang menutupi tubuhnya. "Apa instruksinya?"

"Lakukan apa saja yang dia perintahkan. Jangan membantah, jangan bertanya terlalu banyak, dan pastikan dia keluar dari ruangan itu dengan perasaan puas. Ini kuncinya," ucap Mami Rose sambil melempar sebuah kartu akses berwarna hitam ke atas meja rias.

Sasha mengambil kartu itu. Jemarinya yang lentik mengelus permukaan kartu yang dingin. Tanpa sepatah kata pun, ia melepas jubah sutranya, memperlihatkan apa yang ada di baliknya: sebuah lingerie berwarna merah marun berbahan renda transparan yang sangat minim. Pakaian itu nyaris tidak menutupi apa pun, memperlihatkan kulit mulusnya yang seputih porselen dan lekuk tubuh yang akan membuat pria mana pun kehilangan akal sehat.

Dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, Sasha keluar dari ruang ganti. Setiap langkah kakinya yang mengenakan stiletto hitam setinggi dua belas sentimeter bergema di lorong sunyi menuju area VIP. Ia tidak merasa malu. Rasa malu sudah lama mati tertimbun tumpukan tagihan rumah sakit.

Ia sampai di depan pintu kamar nomor tujuh. Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya, ia menggesekkan kartu akses tersebut. Klik. Pintu terbuka perlahan.

Suasana di dalam kamar itu sangat berbeda dengan kebisingan di luar. Ruangan itu luas, mewah, dan didominasi oleh perabotan kayu gelap. Di atas sofa kulit yang besar, seorang pria duduk dengan kaki bersilang. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang tampak sangat mahal, menyesuaikan dengan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu sedang menyesap cerutu, asapnya mengepul perlahan menutupi sebagian wajahnya yang tegas.

Sasha melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup otomatis di belakangnya. Ia berdiri tepat di hadapan pria itu, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian.

Pria itu mendongak. Matanya tajam seperti elang, menelusuri setiap inci tubuh Sasha dari bawah ke atas tanpa keraguan. Ia tidak tampak terkejut, melainkan lebih seperti seorang kolektor yang sedang menilai kualitas barang antik yang baru saja ia beli.

"Siapa namamu?" suara pria itu berat dan dalam, memberikan getaran aneh di perut Sasha.

"Sasha," jawabnya dengan suara lembut yang sudah ia latih berkali-kali untuk terdengar memikat.

Pria itu meletakkan cerutunya di asbak kristal di samping sofa. "Sasha. Nama yang manis untuk wanita yang berani masuk ke sini hanya dengan pakaian seutas tali."

Sasha tidak membalas dengan kata-kata. Ia justru melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin yang elegan—campuran kayu cendana dan musk, masuk ke indra penciumannya. Ia berlutut di antara kedua kaki pria itu, menatapnya dengan tatapan sayu yang menggoda.

Tangan Sasha bergerak perlahan, meraih kerah jas pria itu. Dengan gerakan yang sangat lambat dan sensual, ia mulai membuka satu demi satu kancing jas tersebut. Matanya tidak pernah lepas dari mata sang pria.

"Dan siapa nama pria tampan yang harus kulayani malam ini?" bisik Sasha sambil menyapukan telapak tangannya di atas dada bidang pria itu yang kini hanya terhalang kemeja putih tipis. Ia bisa merasakan otot-otot keras di bawah sana.

"Rayn," jawab pria itu singkat. "Rayn Jovanka."

Sasha sedikit tertegun, namun ia segera menguasai diri. Nama itu tidak asing. Rayn Jovanka adalah Presdir dari Aethelgard Corp, sebuah perusahaan konglomerat yang bergerak di bidang teknologi dan persenjataan tingkat tinggi. Pria ini adalah salah satu orang terkaya dan paling berpengaruh di negeri ini.

Sasha mengangguk pelan, memberikan senyuman kecil yang misterius. "Sebuah kehormatan bagi saya, Mr. Rayn."

Tanpa membuang waktu lagi, Sasha menarik tengkuk Rayn dan mendaratkan ciuman lembut di bibir pria itu. Awalnya hanya sentuhan ringan, namun Sasha mulai memberikan sedikit tekanan, membiarkan lidahnya menyapu bibir bawah Rayn dengan irama yang menggoda.

Rayn tidak tinggal diam. Tangan besarnya tiba-tiba merayap ke pinggang ramping Sasha, mencengkeramnya dengan kuat hingga Sasha memekik kecil di tengah ciuman mereka. Cengkeraman itu posesif, seolah menegaskan kepemilikan.

Rayn melepaskan ciumannya sedikit, napasnya mulai memberat. "Sudah berapa pria yang kau layani malam ini?" tanya Rayn dengan nada menginterogasi, matanya berkilat penuh gairah.

Sasha mengatur napasnya yang mulai memburu. "Baru satu... Anda pria pertama malam ini. Aku hanya menerima satu pria untuk tiga hari sekali, Mr. Rayn. Kualitas di atas kuantitas, bukan?"

"Menarik," gumam Rayn. "Berarti kau masih segar untukku."

Sasha tersenyum nakal. Tangannya kini turun ke bawah, melewati perut kencang Rayn dan berhenti di resleting celana pria itu. Dengan gerakan pasti, ia menurunkan resleting tersebut. Seketika, sesuatu yang besar dan keras menonjol di balik celana dalam Rayn, menunjukkan betapa pria itu sudah sangat terangsang oleh kehadiran Sasha.

Sasha mengusap tonjolan itu dengan telapak tangannya, merasakan denyutan dan urat-urat yang menonjol di sana. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap Rayn dengan tatapan lapar.

"Apakah Mr. Rayn menginginkan mulutku untuk memanjakan 'aset' berharga ini?" bisik Sasha tepat di telinga Rayn, embusan napasnya membuat pria itu mengerang rendah.

"Tentu saja. Lakukan sekarang!" perintah Rayn dengan nada yang tak terbantahkan.

Sasha tersenyum puas. Ia menarik turun pakaian dalam Rayn, membiarkan kejantanan pria itu yang besar dan kokoh terbebas sepenuhnya. Tanpa ragu, Sasha membawanya masuk ke dalam mulutnya yang hangat. Ia memainkannya dengan maju-mundur, memberikan irama yang liar namun terkendali. Ia menggunakan lidahnya untuk menelusuri setiap bagian, memberikan sensasi yang membuat Rayn memejamkan mata rapat-rapat.

"Ssshh... damn it, Sasha..." desah Rayn. Tangannya terjulur ke depan, menjambak rambut Sasha dengan lembut namun bertenaga, mengarahkan gerakan kepala wanita itu agar masuk lebih dalam ke kerongkongannya. Rasa nikmat yang luar biasa mulai menjalar di sekujur tubuh Rayn, membuatnya nyaris gila.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara hisapan dan desahan berat. Hingga akhirnya, tubuh Rayn menegang. Dengan satu sentakan terakhir, cairan pekat itu keluar di dalam mulut Sasha. Sasha tidak membuangnya; ia menelannya sebagian dan membiarkan sisanya diusap di sudut bibirnya dengan jari telunjuknya, menatap Rayn dengan pandangan penuh kemenangan.

Sasha kemudian berdiri perlahan. Ia melepaskan tali lingerie-nya, membiarkan kain tipis itu jatuh ke lantai marmer dengan gerakan tubuh yang meliuk indah, memamerkan keindahan tubuh polosnya secara utuh di depan Rayn yang masih terengah-engah.

Sasha merangkak naik ke atas pangkuan Rayn, membisikkan kata-kata yang menjadi awal dari malam panjang mereka.

"Ready for tonight, Mr. Rayn?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel