#BAB 5 Desahan Jian 5
Seminggu berlalu sejak pertemuan tak terduga di kafe Lumina. Jian tak pernah ke sana lagi. Bukan karena benci, tapi karena takut. Takut kalau melihat Ray lagi, dia akan ingat segalanya.
Takut kalau Ray bicara lagi soal maaf atau saksi, dia akan pecah di depan orang asing. Tapi anehnya, nama Ray tak lagi membuatnya mual seperti dulu. Ada rasa campur aduk antara marah, jijik, tapi juga… rasa ingin tahu.
Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa dia berubah? Atau ini cuma topeng baru?
Jian mulai mencoba rutinitas baru untuk mengisi hari-harinya yang kosong. Pagi-pagi dia jogging kecil di taman dekat kost, hanya dua putaran, cukup untuk membuat napasnya tersengal dan pikirannya lelah.
Dia membeli buku catatan murah dan mulai menulis. Mulai menulis curahan hati mentah-mentah. Kalimat-kalimat pendek, penuh coretan, kadang hanya kata-kata tunggal seperti sakit, malu, marah, kenapa, tubuhku, mereka, dia.
Suatu malam, setelah menulis sampai larut, Jian membuka ponsel dan melihat nomor Ray yang masih tersimpan. Dia hampir menekan tombol blokir, tapi jarinya berhenti. Sebaliknya, dia membuka chat kosong dan mengetik satu kalimat.
Jian: Kopi di Lumina masih pahit?
Pesan terkirim sebelum dia sempat menyesal. Jian melempar ponsel ke kasur, menutup wajah dengan bantal, dan berharap Ray tak membalas. Tapi tak sampai lima menit, ponsel bergetar.
Ray: Masih. Tapi aku bisa tambahin gula kalau kamu mau.
Jian menatap pesan itu lama. Ada senyum kecil yang tak sengaja muncul di bibirnya, senyum pertama setelah kejadian itu. Dia tak membalas malam itu, tapi pesan itu tak dia hapus.
Keesokan harinya, Jian memutuskan untuk ke Lumina lagi. Bukan karena Ray, melainkan karena kopi americano-nya enak dan tempatnya tenang untuk membaca. Dia datang di jam yang sama, sore menjelang maghrib, saat kafe mulai sepi.
Ray ada di balik counter, sedang menyeduh latte art untuk pelanggan lain. Saat melihat Jian masuk, matanya sedikit melebar, tapi dia tak langsung mendekat. Dia hanya mengangguk pelan dari jauh, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Jian duduk di meja pojok yang sama, memesan americano hitam tanpa gula. Saat minuman datang, dibawakan oleh pelayan lain, ada secarik kertas kecil di bawah cangkir.
Tulisan tangan rapi. “Tanpa gula, seperti yang kamu suka. Kalau butuh tempat duduk lama, pojok ini selalu kosong buat kamu. – R”
Jian melipat kertas itu, menyimpannya di saku celana. Dia minum kopi pelan-pelan, membuka buku catatan, dan mulai menulis lagi. Kali ini bukan curahan amarah, tapi deskripsi kecil tentang kafe, cahaya kuning yang hangat, suara mesin espresso yang berdesis pelan, aroma biji kopi yang baru digiling.
Ray sesekali melirik dari counter, tapi tak mendekat. Dia memberi ruang yang Jian butuhkan.
Setelah hampir dua jam, Jian bangkit untuk pulang. Saat melewati counter, dia berhenti sejenak.
“Terima kasih,” katanya pelan, tanpa menatap langsung.
Ray mengangguk. “Sama-sama. Hati-hati di jalan.”
Itu saja. Tak ada pertanyaan, tak ada pembicaraan panjang. Tapi bagi Jian, itu sudah cukup untuk hari itu.
Kebiasaan itu mulai terbentuk. Dua kali seminggu, Jian datang ke Lumina. Kadang dia hanya minum kopi dan menulis, kadang dia membaca novel pinjaman dari rak kafe.
Ray tak pernah memaksa bicara. Paling-paling dia meninggalkan catatan kecil lagi. “Hari ini ada promo croissant, mau coba?” atau “Kopi hari ini aku roast sendiri, coba rasain bedanya.”
Lambat laun, Jian mulai membalas catatan itu. Dia menulis di belakang kertas yang sama dan meninggalkannya di meja. “Croissant enak, tapi kopinya masih lebih enak.” Atau “Aku suka yang ini. Lebih pekat dari biasa.”
Suatu sore hujan deras, Jian terjebak di kafe. Hujan deras sekali, jalanan banjir kecil, ojek online tak mau masuk gang. Dia duduk lama, menatap hujan di jendela.
Ray mendekat dengan dua cangkir kopi panas. Satu untuk Jian, satu untuk dirinya sendiri. Dia duduk di kursi seberang, tapi tetap menjaga jarak satu meja.
“Boleh duduk?” tanyanya pelan.
Jian mengangguk kecil.
Mereka diam lama. Hanya suara hujan dan musik akustik pelan dari speaker.
Akhirnya Ray bicara. “Aku nggak akan tanya apa-apa kalau kamu nggak mau cerita. Tapi kalau suatu hari kamu siap… aku dengar.”
Jian menatap cangkirnya. Uap kopi naik memburamkan pandangannya. “Aku… masih takut tidur malam. Kadang bangun tengah malam, rasanya ada tangan-tangan lagi yang nyentuh. Aku mandi berkali-kali sampe kulitku lecet.”
Ray diam, tak menyela.
“Aku benci tubuhku sendiri sekarang,” lanjut Jian, suaranya hampir hilang. “Setiap lihat cermin, aku ingat mereka. Aku ingat… aku sempat nikmatin juga di tengah-tengah itu. Dan itu bikin aku benci diri sendiri lebih lagi.”
Ray menarik napas dalam. “Itu bukan salah kamu, Jian. Tubuh manusia punya reaksi sendiri. Itu nggak berarti kamu setuju atau mau. Itu cuma… biologis. Bukan pilihan hati.”
Jian mengangkat wajah, matanya basah. “Tapi kenapa rasanya aku kotor?”
“Karena mereka yang kotor,” jawab Ray tegas. “Bukan kamu. Kamu korban, Jian. Dan korban nggak pernah kotor. Yang kotor adalah pelakunya.”
Kata-kata itu seperti angin sepoi yang menyentuh luka yang terbuka. Sakit, tapi juga menyegarkan.
Jian menangis pelan. Tak tersedu, hanya air mata yang mengalir diam-diam. Ray tak bergerak mendekat, hanya mendorong tisu ke arahnya.
Setelah hujan reda, Jian bangkit. “Aku pulang dulu.”
Ray mengangguk. “Kalau hujan lagi deras, kabarin. Aku bisa antar pulang. Nggak ada maksud lain. Cuma antar.”
Jian tak menjawab, tapi dia tak langsung menolak.
Malam itu, di kamar kostnya, Jian membuka amplop cokelat tua yang berisi sisa uang dari malam itu. Dia menghitung lagi, masih ada sekitar dua setengah juta. Dia memutuskan untuk menggunakan sebagian untuk sesuatu yang selama ini dia tunda. Pergi ke psikolog kampus.
Besok paginya, dia mendaftar konseling gratis di pusat bimbingan kampus lewat website. Sesi pertama dijadwalkan dua hari lagi.
Saat menutup ponsel setelah konfirmasi jadwal, Jian melihat pesan baru dari Ray.
Ray: Hujan udah reda. Semoga kamu selamat sampai kost. Kalau butuh apa-apa, kabarin.
Jian mengetik balasan singkat, untuk pertama kalinya tanpa ragu.
Jian: Terima kasih. Besok aku ke psikolog. Doain ya.
Ray membalas cepat.
Ray: Pasti. Kamu kuat, Jian. Satu langkah dulu.
Jian meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit kamar yang penuh noda bocor. Untuk pertama kalinya, dia merasa ada harapan kecil seperti cahaya lilin di kegelapan yang tak pernah padam sepenuhnya.
Di luar, Surabaya tidur dalam keheningan malam. Hujan sudah berhenti, meninggalkan udara segar dan genangan kecil yang memantulkan lampu jalan.
Dan di suatu tempat, dua orang yang pernah terluka mulai belajar berjalan lagi, meski langkahnya masih gemetar.
