Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

#BAB 6 Desahan Jian 6

Sesi terapi ketiga Jian berlangsung lebih berat dari sebelumnya. Psikolog kampus, Bu Rina meminta Jian menceritakan detail malam itu untuk pertama kalinya.

Jian menangis hampir sepanjang sesi. Saat keluar dari ruangan kecil itu, tubuhnya terasa ringan sekaligus lelah luar biasa, seperti habis mengangkat beban yang selama ini dia pikul sendirian.

Malam itu hujan lagi. Jian tak bawa payung. Dia berdiri di teras gedung fakultas, menatap air yang mengguyur deras, ragu mau pulang naik apa. Ponselnya bergetar. Pesan dari Ray.

Ray: Hujan deras lagi. Kamu di kampus? Aku bentar lagi selesai, bisa jemput kalau mau.

Jian menatap pesan itu lama. Jarinya gemetar saat mengetik balasan.

Jian: Iya. Di depan gedung sastra. Tapi nggak usah repot.

Ray: Tunggu 10 menit. Aku bawa payung.

Sepuluh menit kemudian, SUV hitam Ray muncul di depan gerbang. Ray turun, membuka payung besar hitam, lalu berjalan mendekat. Dia tak bicara banyak, hanya mengangguk dan mengajak Jian ke mobil. Di dalam, pemanas udara menyala hangat, aroma kopi samar dari termos di dashboard.

“Terima kasih,” kata Jian pelan.

Ray mengangguk. “Mau langsung pulang ke kost, atau… mau ke mana dulu?”

Jian diam sejenak. “Ke Lumina aja. Mau minum kopi. Aku… lagi butuh tempat tenang.”

Ray tak bertanya kenapa. Dia langsung mengarahkan mobil ke arah kafe. Malam itu kafe tutup lebih awal karena hujan, tapi Ray punya kunci cadangan dari owner. Dia membuka pintu belakang, menyalakan lampu kuning redup saja, tak semua.

Di dalam sepi, hanya suara hujan di atap dan deru AC. Ray membuat dua cangkir kopi panas, americano untuk Jian, latte untuk dirinya sendiri. Mereka duduk di pojok favorit Jian, meja kecil dekat jendela yang berkabut karena hujan.

Jian menatap cangkirnya. “Hari ini aku cerita detailnya ke psikolog. Semuanya. Sampai bagian yang… aku malu banget ngomonginnya.”

Ray mendengarkan tanpa menyela.

“Aku bilang ke dia… ada saat di mana tubuhku bereaksi. Meski aku takut, meski aku nangis. Dan itu bikin aku ngerasa aku ikut salah.”

Ray menarik napas pelan. “Bu Rina bilang apa?”

“Dia bilang itu respon fisiologis. Bukan persetujuan. Bukan keinginan. Tubuh kadang bereaksi otomatis, terutama kalau ada stimulasi fisik kuat. Itu nggak berarti aku mau atau setuju.” Jian menatap Ray untuk pertama kalinya malam itu.

“Tapi aku masih nggak percaya sepenuhnya. Aku masih ngerasa… kotor.”

Ray meletakkan cangkirnya. “Kamu nggak kotor, Jian. Kamu manusia. Dan manusia punya tubuh yang nggak selalu nurut sama hati.”

Jian menunduk lagi. “Aku pengen percaya itu. Tapi setiap kali mikirin sentuhan, aku takut. Tapi… anehnya, kadang aku mikirin kamu. Bukan yang malam itu. Bukan yang kasar. Tapi kamu yang sekarang. Yang kasih catatan kecil, yang jemput pas hujan, yang dengerin tanpa judge.”

Ray diam, matanya tak lepas dari wajah Jian.

“Aku takut,” lanjut Jian, suaranya hampir bisik. “Tapi aku juga… pengen coba percaya lagi. Percaya ke orang. Percaya ke sentuhan yang nggak menyakiti.”

Hening sejenak. Hujan semakin deras.

Jian bangkit pelan, berjalan mendekat ke Ray. Dia berdiri di depannya, tangannya gemetar saat menyentuh lengan Ray. “Bisa… kamu peluk aku? Cuma peluk. Tanpa apa-apa lagi. Aku pengen tahu rasanya dipeluk tanpa takut.”

Ray menatapnya lama, mencari tanda-tanda keraguan. Tak ada paksaan di matanya. Dia bangkit perlahan, membuka tangan. Jian melangkah masuk ke pelukannya. Tubuh Ray hangat, bau sabun dan kopi samar. Pelukannya kuat tapi lembut, tak mencengkeram, hanya menyangga.

Jian menutup mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan itu. Untuk pertama kalinya setelah malam buruk itu, sentuhan tak membuatnya mual. Malah membuat dadanya hangat.

Mereka berdiri begitu beberapa menit. Lalu Jian mengangkat wajah. “Ray… aku pengen coba lebih. Tapi pelan. Aku yang kontrol. Kalau aku bilang berhenti, kamu berhenti. Janji?”

Ray mengangguk tegas. “Janji. Kamu yang pegang kendali sepenuhnya.”

Jian menarik napas dalam. Dia menarik Ray duduk kembali di kursi, lalu naik ke pangkuannya pelan-pelan, menghadap langsung. Mereka saling tatap. Jian meletakkan tangan di dada Ray, merasakan detak jantung yang cepat tapi teratur.

Dia mencium Ray dulu, bibir yang lembut, ragu-ragu. Ray membalas pelan, tak mendesak, membiarkan Jian memimpin ritme. Ciuman itu lambat, penuh kehati-hatian. Jian merasakan bibir Ray hangat, lidahnya menyentuh pelan, tapi tak memaksa masuk.

Tangan Jian naik ke leher Ray, menariknya lebih dekat. Ray meletakkan tangan di pinggang Jian tak meraba lebih jauh, hanya menyangga. Jian mulai melepas kancing baju atas Ray satu per satu, membuka dada lebar yang berotot tapi tak mengintimidasi. Dia mencium leher Ray, merasakan denyut nadi di sana.

“Sentuh aku,” bisik Jian. “Tapi pelan. Mulai dari atas dulu.”

Ray mengangguk. Tangannya naik perlahan ke punggung Jian, mengusap lembut melalui kain kaus. Lalu ke bahu, ke lengan. Jian menggigil, bukan takut, tapi karena sensasi yang lama tak dirasakan, sentuhan yang diinginkan.

Jian melepas crop top-nya sendiri, membiarkan bra hitam sederhana terlihat. Dia memandu tangan Ray ke dadanya. “Pelan…”

Ray menyentuh dengan ujung jari dulu, mengelus lembut di atas bra. Jian mendesah pelan, desahan yang tak lagi penuh ketakutan, tapi campuran antara gugup dan nikmat.

Ray membuka kait bra dengan izin tatapan dari Jian, lalu menurunkannya pelan. Puting Jian mengeras karena udara dingin dan sentuhan. Ray menciumnya lembut, lidahnya menyapu pelan, tak menggigit, hanya menjilat dan menghisap ringan.

Jian memejamkan mata, tangannya mencengkeram bahu Ray. “Lanjut… ke bawah.”

Dia bangkit sebentar, melepas celana jeans dan celana dalamnya sendiri. Tubuh telanjangnya terlihat di bawah lampu kuning redup, bekas luka kecil sudah memudar, tapi masih ada. Ray menatapnya dengan tatapan penuh hormat, bukan nafsu.

Jian kembali ke pangkuan Ray, membuka resleting celana Ray, mengeluarkan Mr.P yang sudah keras tapi dia tak buru-buru. Dia menggenggam pelan, mengusap naik-turun sambil mencium Ray lagi. Ray mengerang pelan di mulut Jian, tapi tetap diam membiarkan Jian mengatur.

“Aku mau masuk,” bisik Jian. “Tapi aku yang gerak.”

Ray mengangguk. Jian memposisikan diri, mengarahkan batang Ray ke Mrs.V yang sudah basah karena gairah perlahan yang tumbuh. Dia turun pelan-pelan, merasakan penuh yang kali ini tak menyakitkan, malah terasa pas, terasa aman.

Jian mulai bergerak naik-turun pelan, tangannya di bahu Ray untuk penyangga. Ray memeluk pinggangnya, membantu ritme tanpa mendominasi. Mereka bergerak selaras, napas saling bercampur. Jian mendesah lebih keras, kepalanya terdongak saat sensasi enak mulai menumpuk.

“Ray… lebih cepat sedikit…”

Ray mengikuti, pinggulnya ikut bergerak naik menyambut turunnya Jian. Tapi tetap terkendali. Jian merasakan gelombang orgasme mendekat, yang dia kendalikan sendiri. Saat akhirnya datang, tubuhnya mengejang, otot-otot rahimnya mengencang di sekitar Mr.P, membuat Ray ikut mengerang keras.

“Aku… mau keluar…” bisik Ray.

“Di dalam…” jawab Jian, suaranya parau.

Ray menahan beberapa detik lagi, lalu melepaskan di dalam Jian, cairan hangat yang kali ini terasa seperti pelepasan manis. Jian ambruk ke dada Ray, napas tersengal. Mereka diam begitu lama, hanya mendengar hujan dan detak jantung masing-masing.

“Aku… nggak takut lagi sama kamu,” bisik Jian akhirnya.

Ray mencium keningnya pelan. “Terima kasih udah percaya aku. Satu langkah lagi.”

Mereka membersihkan diri di kamar mandi kecil belakang kafe. Ray meminjamkan jaketnya untuk Jian. Saat keluar, hujan sudah reda.

Di mobil menuju kost, Jian memegang tangan Ray sepanjang jalan. Tak ada kata. Hanya kehangatan yang baru lahir.

Malam itu, Jian tidur nyenyak tanpa mimpi buruk, hanya aroma kopi dan pelukan yang masih terasa di kulitnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel