#BAB 4 Desahan Jian 4
Hari-hari berikutnya berlalu seperti kabut tebal yang menyelimuti Jian. Pagi dimulai dengan bangun terlambat, mata sembab karena menangis di malam hari, lalu mandi air dingin yang sudah jadi ritual untuk “membersihkan” tubuh yang terasa kotor meski sudah digosok berkali-kali.
Siang hari dia ke kampus kalau ada kelas, duduk di pojok belakang, mencatat seperlunya, lalu pulang sebelum matahari terbenam. Malam hari adalah musuh terbesar, saat lampu kost padam dan suara-suara kota meredup, kenangan malam itu datang lagi, lebih tajam, lebih detail.
Jian mulai menghindari Esri. Pesan temannya yang bertubi-tubi, “Lo lagi kenapa sih? Cerita dong!”, dia balas dengan singkat atau malah tak dibalas sama sekali. Dia takut kalau bicara, semuanya akan keluar. Air mata, amarah, rasa malu yang membakar.
Esri pasti akan bertanya, “Kenapa lo nggak cerita dari awal? Kenapa lo pergi sendirian?” Dan Jian tak punya jawaban yang layak selain, “Karena gue bodoh.”
Uang dari Ray sudah dia gunakan sebagian. Kost lunas, utang kecil ke teman sekelas dibayar, bahkan dia beli buku teks yang selama ini dipinjam. Tapi setiap kali dia membuka dompet dan melihat sisa lembaran kertas itu, tangannya gemetar.
Dia memutuskan untuk menyimpannya di amplop cokelat tua, disembunyikan di bawah kasur, seperti menyembunyikan rahasia yang memalukan.
Suatu sore, setelah kelas selesai lebih awal, Jian memutuskan berjalan kaki pulang. Jarak kampus ke kost sekitar empat kilometer, cukup jauh untuk membuatnya lelah dan mengalihkan pikiran.
Dia melewati jalan-jalan kecil di daerah Wonokromo, melewati warung kopi, minimarket, dan gang-gang sempit yang penuh anak kecil bermain bola.
Angin sore membawa bau gorengan dan asap knalpot, aroma yang biasanya membuatnya nyaman, tapi hari ini terasa menyesakkan.
Di salah satu persimpangan, dia berhenti di depan sebuah kafe kecil bernama “Lumina”. Kafe itu baru buka beberapa bulan, interiornya minimalis dengan lampu kuning hangat dan rak buku di dinding.
Jian sering melihatnya dari jauh, tapi tak pernah masuk karena harganya agak mahal untuk kantongnya. Hari ini, entah kenapa, kakinya berhenti di depan pintu kaca.
Dia mendorong pintu masuk. Bel kecil berdenting lembut. Di dalam, hanya ada beberapa pengunjung. Sepasang mahasiswa yang sedang belajar, seorang wanita paruh baya membaca novel, dan di belakang counter seorang barista pria yang sedang menyeduh kopi.
Jian duduk di pojok dekat jendela, memesan americano hitam yang paling murah di menu. Saat menunggu, dia menatap keluar jendela, melihat orang-orang berlalu lalang. Hidup mereka terlihat normal. Tertawa, bergandengan, berjalan cepat menuju tujuan. Jian merasa seperti orang asing, sendiri.
Kopi datang. Jian menyeruput pelan, rasa pahit langsung menyebar di lidahnya. Dia suka rasa pahit, mengingatkannya bahwa hidup memang tak selalu manis.
Tiba-tiba, suara familiar terdengar dari arah counter.
“Jian?”
Jian menoleh cepat. Di belakang counter, barista itu melepas topi baseball-nya, memperlihatkan wajah yang Jian kenal dengan baik.
Ray.
Jantung Jian langsung berdegup kencang. Dia hampir menjatuhkan cangkir kopi. Ray keluar dari balik counter, mendekat dengan langkah hati-hati, seolah takut Jian akan lari.
“Kamu… kerja di sini?” tanya Jian, suaranya serak.
Ray mengangguk. “Part-time. Owner-nya temen lama. Aku shift sore kadang-kadang.”
Jian menunduk, tangannya mencengkeram pinggir meja. “Aku… aku nggak tahu. Kalau tahu, aku nggak akan masuk.”
Ray duduk di kursi seberang tanpa diminta, tapi menjaga jarak. “Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini. Surabaya kecil, ya.”
Jian tak menjawab. Dia hanya menatap kopinya.
Ray menghela napas panjang. “Aku tahu kamu benci aku. Dan kamu berhak benci. Aku nggak minta maaf lagi karena kata-kata itu udah nggak cukup. Tapi aku mau bilang… aku berhenti dari circle itu. Teman-teman yang malam itu… aku putus kontak. Aku nggak mau lagi ikut-ikutan hal begitu.”
Jian mengangkat wajah, matanya merah. “Kenapa? Takut ketahuan? Atau cuma pura-pura baik sekarang?”
Ray menatapnya langsung. “Karena aku nggak bisa tidur nyenyak sejak malam itu. Setiap kali nutup mata, aku lihat muka kamu. Tangisan kamu. Erangan kamu yang campur takut dan… ya, yang lain. Aku tahu aku bagian dari itu. Aku nggak bisa hapus apa yang udah terjadi, tapi aku bisa berhenti jadi orang yang sama.”
Jian tertawa kecil, tapi pahit. “Kamu pikir bilang gitu bikin aku lupa? Bikin aku maafin kamu?”
“Enggak,” jawab Ray pelan. “Aku nggak harap kamu maafin. Aku cuma… nggak mau kamu sendirian nahan ini. Kalau kamu mau lapor polisi, aku siap jadi saksi. Aku ingat nama-nama mereka. Aku bisa kasih bukti kalau ada.”
Jian terdiam.
Dadanya sesak. Dia tak pernah memikirkan lapor polisi lagi setelah hari pertama. Takut ribet, takut malu, takut orang tahu. Tapi mendengar Ray menawarkan diri sebagai saksi… itu membuat segalanya terasa lebih nyata.
“Aku belum siap,” kata Jian akhirnya. “Mungkin nanti. Mungkin juga... nggak akan pernah.”
Ray mengangguk. “Aku ngerti. Ambil waktu kamu. Kalau suatu saat kamu butuh bicara, atau butuh tempat aman buat nangis, atau cuma butuh kopi gratis… aku di sini. Shift aku Selasa, Kamis, Sabtu sore.”
Jian menatapnya lama. Wajah Ray tak lagi terlihat seperti predator malam itu. Ada garis lelah di bawah matanya, ada kerutan kecil di dahi. Mungkin dia juga sedang berjuang dengan rasa bersalahnya sendiri.
“Aku pergi dulu,” kata Jian pelan. Dia bangkit, meninggalkan kopi setengah.
Ray tak menghalangi. Dia hanya berkata, “Hati-hati di jalan, Jian.”
Jian berjalan keluar kafe. Dia berjalan cepat, tapi langkahnya tak lagi terasa berat seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah, kecil, hampir tak terasa, tapi ada. Retak di dinding hatinya mulai terlihat, dan mungkin, suatu hari, retak itu akan membiarkan cahaya masuk.
Malam itu, tumben Jian tidur tanpa mimpi buruk. Dia bermimpi tentang kopi pahit, lampu kuning hangat, dan suara bariton yang tak lagi menakutkan, melainkan… menenangkan.
Di kafe Lumina, Ray membersihkan meja Jian yang kosong. Dia mengambil cangkir setengah penuh, menatapnya sejenak, lalu menuang isinya ke wastafel. Tapi sebelum mencuci, dia mencium aroma kopi yang masih tersisa, aroma yang sama seperti yang Jian minum tadi.
Dia tersenyum tipis, tapi sedih.
“Mungkin suatu hari,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Surabaya terus berdenyut di luar sana, tak peduli dengan luka kecil yang mulai sembuh di dua jiwa yang terluka.
