#BAB 3 Desahan Jian 3
Jian membuka pintu kost dengan tangan gemetar. Kunci yang biasanya langsung masuk ke lubang sekarang terasa berat.
Begitu pintu terbuka, bau lembab dan bau masakan tetangga sebelah menyambutnya seperti tamparan realitas. Kamar kecilnya masih sama seperti kemarin, ransel tergeletak di lantai, gelas air setengah penuh di meja, dan seprai kusut yang belum sempat dirapikan.
Dia menutup pintu pelan, mengunci dua kali, lalu langsung ambruk ke kasur. Tubuhnya terasa seperti dipukuli habis-habisan. Setiap gerakan kecil membuat bagian bawah tubuhnya berdenyut perih.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi aroma sabun pria dari kaus oversize yang dipinjam Ray masih menempel di kulitnya. Bau itu membuatnya mual lagi.
Tas kecil yang dibawanya dari apartemen Ray dia letakkan di samping bantal. Di dalamnya ada tumpukan uang yang tadi dia masukkan dengan perasaan jijik.
Jian menatap tas itu. Empat juta lebih. Uang yang seharusnya melegakan, tapi malah terasa seperti beban.
Dia menutup mata, berharap bisa tidur dan melupakan semuanya. Tapi begitu kelopak matanya tertutup, kilasan malam tadi kembali muncul seperti film rusak yang diputar ulang tanpa henti.
… suara tawa pria-pria itu.
… tangan yang mencengkeram pinggulnya terlalu kuat.
… rasa penuh yang menyakitkan, lalu sensasi aneh yang membuat tubuhnya berkhianat.
… cairan hangat yang menyemprot berkali-kali di dalam dirinya.
Jian membuka mata lebar-lebar, napasnya tersengal. “Tidak… tidak…” bisiknya berulang-ulang.
Dia bangkit, berlari ke kamar mandi kecil yang hanya bersekat triplek. Di sana dia muntah sampai perutnya kosong, hanya air empedu yang keluar. Setelah itu dia membuka keran, membiarkan air dingin mengguyur wajahnya sampai terasa mati rasa.
Saat kembali ke kamar, ponselnya bergetar di atas meja. Pesan dari Esri.
Esri: Jian, sorry banget kemarin ga bisa nemenin. Kamu oke? Kok ga bales dari tadi malam?
Jian menatap layar itu lama sekali. Jarinya menggantung di atas keyboard, tapi tak ada kata yang keluar. Apa yang harus dia katakan? “Aku diperkosa beramai-ramai semalam dan dapat bayaran empat juta”? Atau “Aku baik-baik saja, cuma mabuk berat”?
Akhirnya dia mengetik singkat.
Jian: Gue baik2 aja. Lagi capek. Nanti chat lagi ya.
Dia melempar ponsel ke kasur, lalu duduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding. Pikirannya berputar liar. Haruskah dia ke polisi? Tapi apa buktinya?
Dia mabuk, dia sendiri yang pergi ke club sendirian, dia bahkan tak ingat wajah-wajah mereka dengan jelas, kecuali Ray. Dan Ray… dia yang membawanya pulang, yang memberikan uang itu.
Apakah Ray termasuk pelaku utama? Atau hanya penonton yang ikut-ikutan?
Jian menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Rasa sakit kecil itu justru membuatnya sedikit sadar. Dia harus melakukan sesuatu. Tak bisa terus begini.
Dia bangkit, membuka lemari, mengambil celana jeans longgar dan kaus polos. Dia ganti baju, membuang kaus oversize Ray ke keranjang cucian seolah-olah baju itu terkontaminasi.
Lalu dia mengambil dompet kecilnya, memasukkan sebagian uang dari tas, cukup untuk bayar kost dua bulan dulu dan menyimpan sisanya di dalam laci terkunci.
Sebelum keluar, dia berdiri di depan cermin kecil yang retak di dinding. Wajahnya pucat, mata sembab, bibir pecah-pecah. Dia mengambil concealer murah dari tas rias, menutupi bekas merah di leher dan bahu sebisanya. Tak sempurna, tapi setidaknya tak terlalu mencolok.
Jian keluar kost, berjalan cepat menuju warung makan kecil di ujung gang. Dia pesan nasi goreng biasa dan teh manis hangat. Saat makanan datang, dia makan pelan-pelan, mencoba mengisi perut yang kosong. Setiap suapan terasa hambar, tapi dia memaksa diri menelan.
Di meja sebelah, dua mahasiswi kampus sedang bergosip keras.
“Eh lo tau nggak, si Jian yang kemarin di kelas Sastra Modern? Katanya dia lagi susah banget. Kost nunggak, kerjaan juga cuma paruh waktu.”
“Serius? Kasian amat. Padahal cantik sih, tapi ya gitu deh, hidup susah.”
Jian menunduk lebih dalam, berpura-pura tak mendengar. Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk. Mereka tak tahu apa yang baru saja terjadi padanya. Mereka hanya melihat permukaannya, gadis miskin yang berjuang.
Setelah makan, Jian berjalan ke ATM terdekat. Dia menyetor sebagian uang ke rekeningnya, lalu mentransfer ke rekening bapak kost lewat mobile banking. Nominalnya tepat dua bulan plus denda yang diminta kemarin.
Pesan konfirmasi masuk, “Terima kasih atas pembayaran kost.”
Dia menarik napas lega, tapi lega itu hanya sesaat. Uang itu sudah “dibersihkan” sedikit, tapi nodanya tetap menempel di hatinya.
Sore itu, Jian memutuskan untuk ke kampus. Ada kelas malam yang tak boleh dia lewatkan, dosennya orang yang tegas soal kehadiran. Dia naik ojek online, duduk di belakang sambil memeluk pinggang pengemudi dengan lemah. Angin sore Surabaya terasa dingin menusuk tulang.
Di kampus, dia berusaha berbaur seperti biasa. Duduk di baris belakang, mencatat pelan-pelan. Tapi konsentrasinya buyar. Setiap kali dosen menyebut kata “trauma” dalam konteks sastra korban kekerasan, jantungnya berdegup kencang.
Saat istirahat, Esri mendekat.
“Jian! Lo kenapa mukanya pucet gitu? Sakit?”
Jian tersenyum paksa. “Nggak apa-apa. Cuma kurang tidur.”
Esri memandangnya curiga. “Lo bohong. Cerita dong. Kemarin lo ke club sendirian?”
Jian mengangguk pelan. “Iya. Tapi… nggak enak aja. Mabuk berat.”
Esri menghela napas. “Gue bilang kan, jangan sendirian. Bahaya, Jian. Banyak predator di sana.”
Jian menunduk. Kata “predator” itu terasa seperti pukulan. “Iya… gue tahu sekarang.”
Esri memeluk bahunya pelan. “Besok gue temenin lagi ya. Kita cari tempat yang lebih aman.”
Jian hanya mengangguk, tak sanggup bicara lebih banyak.
Malam itu, setelah pulang dari kampus, Jian mandi air dingin lagi. Dia berdiri di bawah pancuran sampai kulitnya keriput.
Saat keluar, ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.
Dia ragu sejenak, lalu mengangkat.
“Halo?”
Suara bariton yang familiar terdengar di ujung sana.
“Jian? Ini Ray.”
Jantung Jian langsung berdegup kencang. Dia hampir menutup telepon, tapi suara Ray melanjutkan dengan tenang.
“Aku cuma mau pastikan kamu sudah sampai rumah dengan selamat. Dan… aku mau minta maaf. Benar-benar minta maaf atas semalam.”
Jian diam. Air mata mulai menggenang lagi.
“Kamu nggak perlu bilang apa-apa sekarang,” lanjut Ray. “Aku tahu kamu benci aku. Tapi kalau suatu saat kamu butuh bicara, atau butuh apa saja… hubungi aku. Ini nomorku.”
Jian masih diam.
“Aku simpan nomormu,” kata Ray lagi. “Kalau kamu mau blokir, silakan. Tapi aku harap… suatu hari kamu bisa memaafkan. Atau setidaknya, nggak membenciku selamanya.”
Panggilan ditutup.
Jian menatap layar ponsel yang gelap. Tangannya gemetar hebat.
Dia melempar ponsel ke kasur, lalu menangis tersedu-sedu sampai tertidur kelelahan.
Di luar jendela, malam Surabaya terus bergerak. Lampu-lampu kota berkedip seperti mata yang tak pernah tidur, menyaksikan segalanya tanpa pernah ikut campur.
Dan di suatu apartemen mewah di Darmo Permai, Ray duduk di balkon, memandang kota yang sama. Rokok di tangannya sudah habis separuh, tapi dia tak bergerak untuk menyalakan yang baru.
Dia tahu, bayang-bayang malam itu tak akan hilang begitu saja, bagi Jian, dan juga bagi dirinya sendiri.
