#BAB 2 Desahan Jian 2
Jian terbangun dengan kepala berdenyut. Cahaya pagi yang menyelinap lewat celah gorden tipis menusuk matanya, membuatnya meringis. Mulutnya kering, tenggorokan terasa seperti terbakar pasir.
Dia mencoba menggerakkan tubuh, tapi terasa remuk. Pinggulnya nyeri, paha bagian dalam terasa lengket dan perih, dan di antara kedua kakinya ada sensasi basah yang aneh, campuran antara darah, cairan, dan sesuatu yang lebih kental.
Dia menarik napas dalam, lalu menyesalinya karena bau keringat, alkohol, dan sesuatu yang amis langsung menyerang hidungnya. Tempat tidur yang dia tiduri bukan kasur kostnya yang keras. Ini ranjang king size dengan seprai satin hitam yang licin, bantal-bantal besar bertumpuk di kepala ranjang.
Dinding kamar berwarna abu-abu gelap, ada lampu tidur neon merah muda yang masih menyala samar, dan di sudut ruangan terdapat sofa kulit hitam dengan beberapa botol minuman kosong berserakan.
Jian duduk perlahan, menahan erangan. Busananya masih melekat di tubuh, tapi sudah compang-camping. Crop top merahnya robek di bagian bahu kiri, bra hitamnya tergeser ke atas sehingga payudaranya hampir terbuka sepenuhnya.
Rok pendeknya terlipat naik sampai pinggang, celana dalamnya hilang entah ke mana. Kulit pahanya penuh bekas merah keunguan, jari-jari yang mencengkeram terlalu kuat, gigitan kecil di bagian dalam paha, dan noda-noda kering yang membuatnya mual.
Matanya tertuju ke meja kecil di samping ranjang. Di atasnya ada setumpuk uang kertas, lembaran seratus ribuan, lima puluhan. Jian menghitung dengan jari gemetar. Sekitar empat juta lebih. Cukup untuk bayar kost lima bulan ke depan, plus makan, transportasi, bahkan mungkin cicil utang kuliah yang menumpuk.
Air matanya tiba-tiba jatuh. Bukan karena senang mendapat uang itu. Justru karena dia tahu dari mana uang itu berasal.
Potongan-potongan malam tadi mulai muncul seperti kilatan kilat di kepalanya.
… suara bariton yang menangkapnya saat terhuyung.
… gendongan pria itu, bau cologne mahal bercampur alkohol.
… suara-suara pria lain. “Widih… malah bawa cewek mulus.” “Dapet di mana, bro?”
… tangan-tangan yang mulai meraba. Awalnya pelan, lalu semakin kurang ajar.
… bibir yang mencium lehernya, gigitan di bahu, tangan yang menarik crop top-nya ke atas.
… lidah hangat yang menjilat putingnya, gigitan kecil yang membuatnya mengerang meski dia ingin menolak.
… roknya ditarik naik, celana dalamnya disobek kasar.
… jari-jari yang memasuki tubuhnya, mengaduk tanpa ampun sampai dia basah tak terkendali.
… lalu sesuatu yang jauh lebih besar, keras, dan panas menyodok masuk dengan satu hentakan kuat.
… rasa ngilu yang menusuk, diikuti gelombang aneh yang membuat tubuhnya berkedut.
… suara pria yang menggeram, “Sempit banget! Enak gilak!”
… hentakan demi hentakan, sorakan dari sekitar, tangan-tangan lain yang meremas dadanya, menjepit putingnya.
… cairan hangat yang menyemprot di dalam dirinya, berkali-kali.
… lalu pria lain bergantian. Kedua, ketiga, keempat… entah berapa.
Ada yang memaksa dia mengulum, ada yang menyetubuhinya dari belakang sambil menarik rambutnya, ada yang bahkan meminta “jatah lebih” sampai tubuhnya terjepit dua pria sekaligus.
Jian menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan yang ingin keluar. Tubuhnya gemetar hebat. Dia ingat semuanya sekarang, meski kabur dan terpotong-potong.
Dia ingat bagaimana dia mencoba menolak dengan suara lemah, tapi alkohol membuat lidahnya kelu dan tubuhnya lemas.
Dan yang paling menyakitkan: dia ingat ada momen ketika tubuhnya bereaksi sendiri, otot-ototnya mengejang, pinggulnya bergerak mengikuti irama tanpa sadar dan para pria itu tertawa, “Lihat, dia keenakan juga!”
Dia merosot ke lantai, lututnya lemas. Air mata mengalir deras tanpa suara. “Aku… aku jadi apa sekarang?” bisiknya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria masuk. Tinggi, berbadan atletis, rambut hitam pendek rapi, mengenakan kaus hitam polos dan celana jogger abu-abu. Wajahnya tampan, tapi ada sesuatu yang dingin di matanya, seperti predator yang sedang menilai mangsanya.
“Kamu sudah bangun,” tanya-nya dengan suara bariton yang Jian kenali. Suara yang menangkapnya tadi malam. “Bagus. Aku kira kamu bakal tidur sampai siang.”
Jian menatapnya dengan mata merah dan bengkak. “Kamu… kamu yang bawa aku ke sini?”
Pria itu mengangguk santai, seolah kejadian semalam adalah hal biasa. “Iya. Namaku Ray. Kamu hampir jatuh di club tadi malam. Aku cuma bantu.”
“Bantu?” Jian tertawa getir, suaranya pecah. “Bantu sampai berapa orang yang… yang…” Dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Ray menghela napas, lalu duduk di ujung ranjang, menjaga jarak. “Aku nggak bohong kalau bilang aku yang bawa kamu ke sini. Tapi setelah itu… ya, kejadiannya memang lepas kendali. Teman-temanku ikut-ikutan. Aku nggak bisa kendalikan mereka semua.”
Jian memeluk lututnya sendiri, tubuhnya masih gemetar. “Uang itu… dari kalian?”
Ray mengangguk. “Iya. Sebagai… kompensasi. Kami tahu kamu butuh uang. Kost nunggak, kan? Aku dengar kamu ngomong sendiri di club tadi malam.”
Jian menunduk. Dia memang pernah bergumam tentang tagihan kost saat minum sendirian. Ternyata mereka mendengar.
“Aku nggak mau uang kotor begini,” katanya pelan, tapi suaranya tak meyakinkan.
Ray tersenyum tipis. “Kotor atau nggak, uang tetap uang. Dan kamu butuh itu sekarang. Ambil saja. Anggap saja… bayaran atas ‘waktu’ kamu semalam.”
Jian menatap tumpukan uang itu lagi. Empat juta lebih. Cukup untuk bernapas lega beberapa bulan ke depan. Tapi setiap lembar kertas itu terasa seperti noda yang tak bisa dicuci.
“Aku mau pulang,” katanya akhirnya, suara hampir tak terdengar.
Ray mengangguk. “Baju kamu sudah aku suruh cuci. Ada baju cadangan di lemari. Mandi dulu kalau mau. Kamar mandinya di sana.” Dia menunjuk pintu di sudut kamar. “Aku tunggu di luar. Nanti aku antar pulang.”
Jian tak menjawab. Dia hanya bangkit perlahan, menahan rasa perih di seluruh tubuhnya, lalu berjalan tertatih ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, dia langsung membukanya keran air panas dan berdiri di bawah pancuran. Air mengalir deras, membasahi wajahnya yang basah air mata.
Dia menggosok tubuhnya dengan sabun berulang-ulang, seolah bisa menghapus jejak malam tadi. Tapi bekas merah di kulitnya, bengkak di antara pahanya, dan rasa kosong di dadanya tak bisa hilang begitu saja.
Di balik pintu, Ray menyalakan rokok, menatap jendela besar yang menghadap ke kota Surabaya pagi itu. Pikirannya melayang ke gadis di kamar mandi.
Bukan pertama kalinya dia membawa pulang cewek mabuk dari club. Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan Jian. Dia tak tahu apa. Mungkin karena dia terlihat begitu rapuh, atau karena dia tak langsung meminta uang seperti kebanyakan.
Atau mungkin karena, di tengah erangan dan tangisannya semalam, ada sesaat ketika matanya bertemu dengan mata Jian dan di sana Ray melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Dia menghembuskan asap rokok panjang-panjang.
“Gila,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Kenapa gue ngerasa bersalah sekarang?”
Di dalam kamar mandi, Jian mematikan keran. Dia mengambil handuk, mengeringkan tubuh, lalu membuka lemari kecil yang ditunjuk Ray. Di dalamnya ada kaus oversize hitam dan celana pendek olahraga. Bau sabun pria tercium samar.
Dia mengenakannya, lalu mengambil napas dalam-dalam.
Saat keluar, Ray sudah berdiri di dekat pintu, kunci mobil di tangan.
“Ayo, aku antar pulang,” ucapnya lembut, tapi Jian bisa mendengar nada lain di baliknya, penyesalan, atau mungkin hanya rasa kasihan.
Jian mengangguk pelan. Dia mengambil tumpukan uang itu dengan tangan gemetar, memasukkannya ke dalam tas kecil yang entah bagaimana sudah ada di samping ranjang.
Mereka keluar dari apartemen mewah itu, lantai 18 sebuah gedung tinggi di daerah Darmo Permai. Lift turun dalam diam. Jian menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. Rambut basah, wajah pucat tanpa riasan, mata sembab. Dia tak lagi seperti gadis liar yang keluar kost malam tadi.
Saat mobil Ray (sebuah SUV hitam mengkilap) melaju di jalanan Surabaya pagi yang mulai ramai, Jian menatap keluar jendela. Tak ada kata yang terucap.
Tapi di dalam hatinya, satu pertanyaan berulang tanpa henti.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
