#BAB 1 Desahan Jian 1
Jian berdiri di depan gerbang kostnya yang sudah usang, tangannya masih gemetar karena amarah yang baru saja meledak.
Ranselnya yang lusuh terlempar begitu saja ke meja kecil di kamar sempitnya, membuat gelas air di atasnya bergoyang dan hampir tumpah.
Hari ini benar-benar sial. Bapak kost, seorang pria paruh baya dengan wajah selalu muram seperti awan mendung, telah mencegatnya tepat di depan pintu masuk.
"Kapan bayar, Jian? Sudah dua bulan nunggak! Kalau nggak bisa, cari tempat lain saja!" katanya dengan suara kasar, mata melotot seolah Jian adalah musuh bebuyutannya.
Jian tahu dia salah. Uang kiriman dari orang tuanya di desa selalu telat, dan pekerjaan paruh waktunya sebagai barista di kafe kecil hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Tapi cara bapak kost itu bicara, seolah dia adalah sampah masyarakat, membuat darahnya mendidih.
"Nyebelin banget!" gumamnya sambil menendang kaki meja.
Kamarnya yang hanya seluas enam meter persegi terasa semakin pengap. Dinding cat lusuh berwarna krem yang mulai mengelupas, tempat tidur single yang kasurnya sudah tipis, dan lemari kecil yang penuh pakaian bekas, semuanya seperti mengingatkannya pada kegagalan hidupnya.
Dia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit yang penuh noda air hujan bocor. Umurnya baru 22 tahun, tapi rasanya seperti sudah lelah dengan segala rutinitas ini.
Kuliah di jurusan sastra yang seharusnya menyenangkan malah jadi beban, dengan tugas menumpuk dan dosen yang tak pernah puas.
Teman-temannya di kampus sibuk dengan dunia mereka sendiri, dan Jian? Dia sendirian, seperti biasa. Kecuali Esri, satu-satunya teman yang mengerti sisi liarnya.
Esri adalah gadis yang dikenalnya dua tahun lalu di sebuah pesta kampus. Rambut panjang bergelombang, senyum nakal, dan aura percaya diri yang membuat Jian iri.
Esrilah yang pertama kali mengajaknya ke dunia malam, club-club murah di pinggir kota, di mana musik menghentak dan minuman mengalir deras.
"Hidup cuma sekali, Jian. Nikmati saja!" kata Esri waktu itu, sambil menyeretnya ke dance floor.
Sejak itu, Jian ketagihan. Bukan karena suka, tapi karena di sana dia bisa melupakan segalanya, tagihan, kuliah, dan rasa kesepian yang menggerogoti.
Jian meraih ponselnya dari saku celana jeans ketatnya. Jarinya dengan cepat mengetik pesan ke Esri: "Es, malam ini ke club yuk? Gue lagi kesel banget. Butuh ngefly."
Dia menunggu balasan, sambil menggigit bibir bawahnya. Ponsel bergetar tak lama kemudian.
"Sorry, Jian. Malam ini gue lagi ada urusan keluarga. Besok aja ya?"
Balasan itu seperti tamparan. Jian melempar ponsel ke kasur, mata memerah. "Dasar! Sendiri lagi, sendiri lagi!"
Kesal campur putus asa membuatnya nekat. "Gue pergi sendiri aja!" gumamnya.
Dia bangkit, membuka lemari, dan memilih pakaian yang paling berani, rok pendek hitam yang menempel di pinggulnya, atasan crop top merah yang memperlihatkan perut rata, dan sepatu hak tinggi yang jarang dipakainya.
Riasan tebal, eyeliner hitam tebal, lipstik merah menyala. Dia menatap cermin kecil di dinding. Wajahnya cantik, mata almond, hidung mancung, dan bibir penuh, tapi hari ini terlihat lelah. "Biarin. Malam ini gue mau lepas kendali."
Club murahan di dekat kostnya bernama "Neon Shadow", tempat yang selalu ramai dengan anak muda miskin tapi haus hiburan.
Jian berjalan kaki ke sana, angin malam Surabaya yang lembab menyapu wajahnya. Jaraknya hanya sepuluh menit, tapi setiap langkah terasa berat.
Di dalam kepalanya, suara bapak kost masih bergema. "Bayar atau keluar!"
Pikiran tentang uang yang menipis membuatnya semakin gelisah. Dompetnya sekarang hanya berisi lembaran seratus ribuan yang bisa dihitung jari.
Pintu club terbuka lebar, musik EDM menghentak keluar seperti gelombang. Jian membayar tiket masuk, sepuluh ribu rupiah, murah meriah. Di dalam, suasana redup diterangi lampu neon berkedip-kedip. Asap rokok tebal bercampur bau minuman keras dan keringat manusia.
Puluhan orang berdesakan di dance floor, tubuh-tubuh bergoyang liar mengikuti irama. Jian berjalan di antara mereka, sesekali bahunya tersenggol.
"Hei, cantik! Mau dansa?" panggil seorang pria bertato dengan senyum genit. Jian menggeleng, terus berjalan.
Ada yang memanggilnya dengan panggilan manja, "Sayang, sini dong!" Tapi dia abaikan.
Dia memilih sudut pojok club, di belakang bar, agar tak terlalu terlihat. Bartender, seorang pria botak dengan kumis tebal, mendekat. "Mau pesan apa, mbak?"
Jian ragu sejenak, tapi ingat tujuannya ke sini untuk melupakan segalanya. "Vodka, yang kadar alkoholnya tinggi. Satu botol kecil."
Bartender mengangguk, menyodorkan botol dengan label asing. "Empat puluh persen, mbak. Hati-hati ya, jangan kebablasan."
Jian bayar dengan uang terakhirnya, sisanya tinggal cukup untuk pulang naik ojek online.
Dia menuang vodka ke gelas plastik, meneguknya pelan. Rasa panas menyengat tenggorokannya, tapi segera diikuti rasa hangat yang menyebar ke seluruh tubuh. Pandangannya mulai kabur sedikit, tapi justru itulah yang dia inginkan.
"Biar ngefly," gumamnya. Kenangan hari ini mulai pudar, bapak kost, pesan Esri, kesepian. Di sudut mata, dia lihat pasangan-pasangan bergandengan, tertawa.
"Kenapa gue selalu sendiri?" Pikirannya melayang ke masa kecil di desa, ketika ibunya masih ada, sebelum ayahnya menikah lagi dan mengirimnya ke kota.
Botol pertama hampir habis. Jian merasa lebih ringan, tapi belum cukup. "Satu lagi," bisiknya pada diri sendiri.
Dia pesan botol kedua, meski tahu ini berbahaya. Minuman kedua habis lebih cepat, pandangannya membayang, dunia berputar.
"Pulang aja," gumamnya, tapi saat berdiri, kakinya goyah. Dia terhuyung ke depan, hampir jatuh.
Tiba-tiba, sepasang tangan kekar menangkapnya. "Hati-hati, dek. Kalau jatuh sakit lho," suara bariton dalam terdengar di telinganya.
Jian mengangkat kepala, tapi wajah pria itu kabur. Rambut pendek, bahu lebar, senyum samar.
"Terima kasih," racau Jian tak jelas. Dia coba berjalan lagi, tapi hampir jatuh kembali.
"Aku gendong aja ya, cantik. Biar gak jatuh," kata pria itu lagi.
Jian menggeleng lemah, "Nggak... gue bisa sendiri..." Tapi suaranya tak jelas, dan pria itu sudah mengangkatnya ke gendongannya.
Bau cologne pria itu bercampur alkohol, membuat Jian semakin pusing. Entah ke mana dia dibawa, Jian tak tahu. Matanya berat, dunia mulai gelap.
Suara-suara samar pun terdengar.
"Widih... malah bawa cewek mulus."
"Dapet di mana, bro?"
"Eh cantik banget lho. Enak nih!"
Banyak kalimat berbeda dari suara pria berbeda yang Jian dengar. Tapi matanya tak satu pun mengenali siapa pria dengan wujud samar yang mulai menyentuhnya.
Awalnya cuma menjamah wajahnya. Terus ada yang bahkan nekat menciumnya. Lama kelamaan, tangan mereka makin kurang ajar. Mulai menyentuh di bagian yang tak pantas disentuh.
"Jang....an..." cuma itu yang mampu Jian ucapkan
Gadis itu cuma merasa busananya ditarik tarik. Lalu dadanya yang kenyal dijamah dari luar bra yang dia pakai. Kemudian ada yang menelusup masuk di bawah rok pendeknya. Kemudian... dingin.
Sekarang tangan-tangan itu benar benar menyentuh langsung kulitnya.
"Nenen nya montok banget"
SLUP SLUP
"Aaaaa... Jang...aaaan"
Jian merasakan benda kenyal dan hangat menjamah dada kirinya. Putingnya yang mengeras digigit kecil lalu diisap kuat sambil dijilat dengan cepat. Kemudian hal yang sama dia rasakan di puting kanannya. Jian pikir, pelakunya dua orang. Pria. Jian tak sanggup menolak. Pengaruh alkohol membuat dirinya hanya mampu mengerang dan mendesah.
Jian bergidik saat beberapa tangan menjamah paha dan bokongnya. Satu pasang tangan meremas gemas bokongnya. Satu pasang tangan lainnya membuka pahanya lebar dan...
SLUP SLUP CLAK CLAK
Bunyi erotis terdengar lagi diikuti dengan rasa geli karena area Vnya dibelai benda kenyal tak bertulang yang hangat.
"Hen..ti...kan..." erang Jian sekaligus mendesah.
Sodokan dan belaian lidah hangat itu menyapu area Vnya tanpa ampun. Satu benda panjang juga bergerak keluar masuk (jari pria) di sana. Mengaduk aduk Vnya yang basah tak terkendali.
"Siapa duluan?"
Satu suara pria bertanya.
"Aku ya? Kan aku yang bawa dia ke sini" kata pria lain.
Jian dilepaskan, tapi bukan untuk dipulangkan. Sesuatu yang keras dan berlendir terasa menggesek gesek bibir area Vnya. Lalu...
SLAK!
"Uuuugh" erang Jian. Ada sensasi ngilu sekaligus nikmat menghantam area Vnya. Lubang basah itu terasa penuh dan sesak.
"Anjing! Sempit banget! Enak gilak!" geram pria yang memasukkan batang Pnya ke dalam Vnya Jian.
Pria itu memaju mundurkan pinggulnya. Disertai sorakan dari para pria lainnya. Jian disetubuhi di depan mereka semua. Bahkan benda kenyalnya dengan buah ceri yang menegang kembali menjadi bulan-bulanan mereka.
"Bangsat! Aaaargh aku mau keluar!"
CRAT! Berkali kali pria itu menembakkan cairannya di dalam Jian yang menangis. Meski dia mabuk, dia tahu resikonya jika cairan itu masuk ke rahimnya.
Lalu mimpi buruk itu belum juga berakhir ketika pria kedua, ketiga, keempat, dan kelima menjamahnya bergantian. Bahkan ada dua orang yang nambah minta jatah diurut dan dijepit di area Vnya Jian.
Tubuh Jian kebas, terasa remuk di mana-mana. Kemudian dia tak sadarkan diri.
