Bab 5
Sementara video panas Hans dan Wika bergulir di situs privat yang sengaja ia buat, Clara sedang duduk di kursi belakang mobil sedan mewah miliknya. Gaun malamnya yang anggun sengaja ia biarkan sedikit melorot di bagian bahu. Di balik kemudi, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun dengan potongan rambut undercut yang rapi tengah memandangnya dari spion tengah.
Nama pemuda itu adalah Aris. Secara resmi, ia adalah sopir pribadi baru yang disewa keluarga Clara sebulan lalu. Namun secara tidak resmi, Aris adalah mantan kekasih Clara saat duduk di bangku SMA dulu, ada seorang brondong tampan dengan tubuh atletis yang selalu tahu bagaimana cara memuaskan dahaga Clara yang tak pernah cukup.
"Kamu kelihatan puas banget malam ini, Cla," ucap Aris, suaranya terdengar renyah namun menyimpan nada menggoda yang berani.
Clara terkekeh, sepasang matanya yang dilapisi eyeliner tajam berkilat penuh kepuasan dendam. Ia memutar-mutar ponselnya yang memuat dasbor admin dari situs streaming privat tadi. "Puas? Itu bahkan belum seberapa, Ris. Hans pikir dia bisa membodohi aku dengan tubuh mantan pacarnya yang murahan itu? Dia nggak tahu kalau semua akses ke dunianya ada di tangan aku. Aku kan istrinya? Apa dia lupa?!"
"Jadi, umpan kamu berhasil?" Aris membelokkan mobil ke arah kawasan vila elit yang sepi di pinggiran kota, menjauh dari keramaian.
"Lebih dari berhasil. Aku menyuruh orang memasang kamera mata-mata nirkabel di mobil Hans minggu lalu saat dia servis rutin. Dan malam ini... mereka berdua memberikan pertunjukan langsung terbaik untuk semua orang yang berpengaruh dalam hidup mereka," Clara tertawa sinis, melempar ponselnya ke kursi sebelah. "Hans akan kehilangan warisan ibunya, dan perempuan jalang itu akan dipecat besok pagi."
Aris menghentikan mobil tepat di depan gerbang sebuah vila pribadi milik keluarga Clara yang dikelilingi pepohonan rindang. Suasana di sana sangat sunyi, hanya ada sorot lampu mobil yang menerangi kegelapan.
Aris mematikan mesin, lalu membalikkan tubuhnya ke belakang, menatap Clara dengan pandangan mata yang lapar. "Lalu, sekarang setelah balas dendammu selesai... apa imbalan buat aku yang udah bantuin kamu memantau mereka?"
Clara memajukan tubuhnya, memotong jarak di antara kursi depan dan belakang. Ia menjangkau kerah kemeja seragam sopir yang dikenakan Aris, menariknya dengan sentakan kuat hingga wajah tampan berondong itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Kamu mau imbalan, sayang?" bisik Clara, suaranya mendadak berubah menjadi desahan manja yang menuntut. "Sini, naik ke belakang. Layani aku seperti waktu kita di gudang sekolah dulu."
Tanpa perlu perintah kedua, Aris langsung membuka pintu kemudi dan melompat ke kursi belakang. Sifat patuh seorang sopir lenyap seketika, berganti menjadi keliaran seorang lelaki muda yang sudah lama mendambakan tubuh majikannya.
Aris merangkak naik, langsung menghimpit tubuh Clara ke sudut kursi kulit yang empuk. Tanpa banyak bicara, bibir Aris yang panas langsung menyerang leher Clara, menggigit dan mengisapnya dengan kasar, menimbulkan sensasi kejut yang membuat Clara langsung melenguh panjang.
"Ahhh... Aris... pelan-pelan..." Clara merintih, namun jemari tangannya justru bergerak liar merobek kancing kemeja Aris hingga terlepas satu per satu, mengekspos dada bidang sang brondong yang liat dan bebas dari bulu.
"Kamu yang minta ini, Cla. Kamu selalu suka yang kasar, kan?" bisik Aris di sela-sela ciumannya. Tangannya yang besar dan kekar merayap masuk ke dalam balik gaun malam Clara, meraba paha mulusnya dengan cengkeraman yang meninggalkan bekas kemerahan.
Clara mendesah sangat keras, gairah yang sempat tersulut oleh amarah melihat perselingkuhan Hans kini beralih sepenuhnya menjadi hasrat seksual yang membakar bersama Aris. Di mata Clara, Hans adalah masa depan finansial dan status sosial, namun Aris adalah pemuas dahaga biologis yang sesungguhnya. Meniduri sopir brondongnya di saat sang tunangan sedang hancur karena skandal adalah puncak kenikmatan tertinggi bagi ego Clara.
Aris mengangkat tubuh Clara dengan mudah, mendudukkan wanita itu di atas pangkuannya. Gerakan itu membuat gaun Clara tersingkap sepenuhnya sampai ke pinggang. Di dalam mobil sedan yang bergoyang perlahan di bawah keremangan malam, suara desahan Clara bersahut-sahutan dengan napas Aris yang memburu.
"Hnghh... kamu jauh lebih berenergi daripada suamiku- Hans... ah!" Clara menjerit kecil saat Aris memberikan hentakan yang tak terduga, mengunci pinggang Clara dengan kedua tangannya yang kuat.
"Jangan sebut nama pria brengsek itu saat kamu lagi di bawah kendaliku, Cla," geram Aris, matanya menggelap penuh kepemilikan. Ia mempercepat ritmenya, memanfaatkan vitalitas mudanya untuk membawa Clara ke puncak berkali-kali tanpa ampun. Keringat membasahi tubuh mereka berdua, berbaur dengan aroma parfum mahal Clara dan bau maskulin tubuh Aris yang adiktif.
Clara mencengkeram bahu Aris dengan kuat, kepalanya mendongak ke langit-langit mobil, matanya terpejam rapat menikmati setiap gelombang kenikmatan yang dihantarkan oleh mantan pacar SMA-nya itu. Di dalam benaknya, ia merasa telah memenangkan segalanya. Ia menghancurkan Hans, dan di saat yang sama, ia mendapatkan kepuasan yang selama ini tak pernah diberikan oleh tunangannya yang kaku itu.
Satu jam kemudian, pergolakan panas di kursi belakang sedan itu mereda. Clara berbaring dengan posisi acak-acakan di dada Aris, napasnya masih menyisakan sisa-sisa kelelahan yang nikmat. Aris mengusap punggung polos Clara dengan jemarinya, tersenyum puas melihat mahakarya yang baru saja mereka selesaikan.
Clara meraih ponselnya yang tergeletak di lantai mobil dengan tangan yang masih sedikit lemas. Ia berniat memeriksa kembali situs privatnya, ingin melihat seberapa jauh kehancuran yang telah dialami Hans dan Wika saat ini.
Namun, begitu layar ponselnya menyala, dahi Clara berkerut dalam.
Ada sebuah email masuk dari alamat anonim yang dikirimkan tepat lima menit yang lalu. Clara mengkliknya dengan malas, mengira itu hanyalah laporan sistem dari situs buatannya.
Namun, begitu lampiran di dalam email itu terbuka secara otomatis, seluruh tubuh Clara mendadak kaku seperti batu. Seluruh gairah dan kepuasan yang baru saja ia rasakan menguap seketika, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang rawan lehernya.
Di dalam email tersebut terdapat sebuah file video berdurasi pendek dengan kualitas super jernih—definisi tinggi (HD).
Video itu merekam dengan sangat jelas kejadian yang baru saja terjadi di dalam mobil sedan ini. Dari sudut kamera tersembunyi yang tampaknya terpasang di sela-sela lampu kabin atas, video itu memperlihatkan wajah Clara yang sedang mendesah liar di bawah kungkungan Aris, memperlihatkan setiap detail intim yang baru saja mereka lakukan tanpa sensor sedikit pun.
Di bawah video tersebut, ada satu baris kalimat ancaman tertulis dalam huruf kapital tebal:
"KAMU PIKIR KAMU SATU-SATUNYA SUTRADARA DI SINI, CLARA? TERIMA KASIH ATAS KONTEN SPREI NYATA BERSAMA SOPIR BRONDONG MU. JIKA DALAM WAKTU SEPULUH MENIT KAMU TIDAK MENGHAPUS VIDEO HANS DAN WIKA SERTA MENUTUP SITUS PRIVAT MU, VIDEO INI AKAN LANGSUNG TERKIRIM KE AYAHMU, KELUARGA BESAR BESAN, DAN SELURUH DEWAN DIREKSI PERUSAHAAN AYAHMU. WAKTU BERJALAN."
Clara menjerit histeris, melempar ponselnya hingga menghantam kaca depan mobil. "Nggak mungkin! Siapa yang masang kamera di mobil aku?!" pekiknya dengan suara melengking penuh kepanikan yang luar biasa.
Aris yang ikut panik langsung bangkit dan meraih ponsel tersebut, membaca pesannya dengan mata melotot. "Cla... ini... ini alamat IP pengirimnya lokal! Seseorang ada di sekitar sini!"
"Hah! Apa?"
