Bab 4
Satu jam berlalu dalam kabut gairah yang intens. Kaca-kaca mobil kini sepenuhnya berembun karena hawa panas dari dalam. Wika berbaring di dada bidang Hans yang naik turun teratur, mencoba menata kembali napas dan detak jantungnya yang perlahan normal. Selimut handuk gym menutupi tubuh polos mereka.
Hans mengusap rambut Wika dengan lembut, mencium puncak kepalanya. "Aku nggak bakal biarkan Clara nyakitin kamu, Wik. Aku janji," bisik Hans dengan nada protektif yang mutlak.
Wika hanya diam, menatap kosong ke arah langit-langit mobil. Rasa bersalah dan ketakutan yang sempat hilang karena pelepasan gairah tadi kini perlahan merayap kembali, terasa lebih dingin dan mencekam.
Tiba-tiba, ponsel Hans yang tergeletak di dasbor bergetar. Layarnya menyala, memecah kegelapan mobil.
Bukan panggilan telepon. Melainkan sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor yang tak dikenal, namun pesannya ditujukan langsung untuk mereka berdua.
Hans meraih ponsel itu dengan kening berkerut. Wika ikut bangkit, menarik handuk untuk menutupi dadanya, lalu mengintip ke layar ponsel Hans.
Pesan itu berisi sebuah tautan situs web privat, diikuti oleh satu kalimat pendek yang membuat seluruh bulu kuduk Wika meremang, dan membuat jantung Hans seolah berhenti berdetak seketika.
"Kalian pikir aku cuma merekam dari luar loker? Coba buka link ini. Selamat menikmati pertunjukan kalian sendiri di dalam mobil, Hans, Wika. Siaran langsungnya baru saja selesai, dan tebak siapa saja yang sudah menontonnya?"
Tangan Hans gemetar hebat saat ia mengklik tautan tersebut. Layar ponselnya menampilkan sebuah halaman situs streaming tersembunyi yang kini menunjukkan rekaman hitam, namun di bawahnya tertera jumlah penonton: 35 Orang. Dan di kolom komentar, nama-nama yang sangat mereka kenal, mulai dari bos di kantor Wika, hingga ibu kandung Hans sendiri, baru saja meninggalkan komentar makian.
Wika menatap layar itu dengan mata melotot horor, napasnya tercekat, sementara suara langkah kaki berat mendadak terdengar mendekati mobil mereka dari arah luar parkiran yang gelap.
Langkah kaki berat di luar mobil hitam itu semakin mendekat, bergaung mengerikan di lantai beton parkiran bawah tanah yang sunyi. Wika mencengkeram lengan Hans begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Ketakutan yang mencengkeramnya kali ini bukan lagi sekadar cemas, melainkan horor mutlak yang melumpuhkan sendi-sendi tubuhnya.
'35 penonton. Bos kantor. Ibu kandung Hans.' Dunia seolah runtuh dalam hitungan detik. Di layar ponsel yang masih menyala, komentar-komentar makian terus bergulir, menghujat apa yang baru saja mereka lakukan di dalam mobil berembun itu.
Tok! Tok! Tok!
Kaca jendela mobil di samping Hans diketuk kasar. Hans, dengan sisa keberanian yang dipaksakan, menyambar kaos singlet nya, memakainya dalam sekali sentakan, lalu menurunkan kaca mobil hanya beberapa sentimeter.
Di luar, berdiri seorang petugas keamanan gedung dengan wajah bingung dan curiga. "Selamat malam, Pak. Ada masalah? Kami melihat mobil ini bergoyang agak lama dari CCTV, dan ada laporan masuk mengenai aktivitas mencurigakan di area parkir."
Hans menelan ludah, berusaha mati-matian menjaga suaranya agar tetap stabil dan berwibawa. "Nggak ada apa-apa. Hanya masalah mesin. Kami akan segera jalan."
Petugas itu menatap tajam ke dalam, berusaha mengintip Wika yang menyembunyikan seluruh tubuh polosnya di balik handuk besar di kursi penumpang. Setelah beberapa detik yang terasa seperti siksaan abadi, petugas itu mengangguk kaku. "Baik, mohon segera selesaikan. Area ini akan dikunci dalam lima belas menit."
Begitu petugas itu berbalik pergi, Hans langsung menghidupkan mesin SUV-nya. Kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat ban mobil mencit keras di atas lantai semen, melesat keluar dari gedung gym yang kini terasa seperti neraka jahanam. Di sepanjang jalan, keheningan di dalam mobil begitu pekat, hanya diselingi isak tangis Wika yang histeris dan gemetar tubuhnya yang tak kunjung usai.
Mereka tidak tahu bahwa di belahan kota yang lain, sang sutradara dari mimpi buruk ini sedang merayakan kemenangannya dengan cara yang jauh lebih kotor.
