Bab 6
Tepat pada detik itu, dari arah kegelapan pepohonan di luar vila, sebuah lampu sorot tinggi dari sebuah mobil lain mendadak dinyalakan, langsung menembak lurus ke arah kaca belakang mobil sedan mereka, membutakan pandangan mereka seketika.
Seseorang di dalam mobil misterius itu membunyikan klakson panjang yang memekakkan telinga, seolah sedang menertawakan jebakan balik yang sempurna ini.
Sorot lampu tinggi itu seperti menelanjangi sisa-sisa kegilaan yang baru saja terjadi di kursi belakang sedan mewah Clara. Aris menutupi wajahnya yang silau, sementara Clara menjerit kecil, buru-buru menarik gaun malamnya yang robek di bagian bahu untuk menutupi dadanya yang naik-turun karena panik.
Klakson panjang dari mobil misterius itu akhirnya berhenti. Suara pintu mobil di seberang sana terbuka, disusul ketukan langkah kaki yang santai di atas kerikil tajam pelataran vila. Langkah yang begitu tenang, seolah si pemilik kaki tahu betul bahwa mangsanya tidak akan bisa lari ke mana-mana.
Sesosok pria tinggi dengan jaket kulit hitam berjalan membelah sorot lampu. Begitu ia mendekat ke kaca mobil Clara, ia sengaja menyalakan korek api zippo-nya, menerangi wajahnya sendiri yang dihiasi senyum miring penuh kemenangan.
Mata Aris melotot sempurna. "Reno?!"
Clara hampir kehilangan napasnya. "Re... Reno? Bagaimana bisa..."
Reno adalah potongan masa lalu Clara yang jauh lebih kelam daripada Aris. Jika Aris adalah cinta monyetnya di SMA, maka Reno adalah mantan kekasih Clara saat awal kuliah, pria badung yang juga merupakan sahabat dekat Aris di lingkungan tongkrongan yang sama. Hubungan mereka dulu kandas karena Reno mengetahui Clara berselingkuh dengan pria kaya, yang tak lain adalah Hans.
Reno mengetuk kaca mobil dengan ujung korek apinya yang dingin. "Buka pintunya, atau video ini mendarat di grup WhatsApp keluarga besar kamu dalam hitungan detik, Cla," ucap Reno dari luar, suaranya terdengar renyah melalui celah kaca yang sedikit terbuka.
Dengan tangan gemetar, Aris menekan tombol unlock. Pintu belakang terbuka, membawa angin malam yang dingin menusuk kulit mereka yang masih basah oleh keringat. Reno masuk tanpa permisi, duduk di kursi penumpang depan, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Clara dan Aris yang membeku di belakang.
"Sialan kamu, Ren! Kamu menjebak kami?!" bentak Aris, emosinya tersulut melihat sahabatnya sendiri memegang kartu as mereka.
Reno terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan sambil menggoyang-goyang ponsel di tangannya. "Aku nggak menjebak kalian, Ris. Aku cuma melanjutkan permainan yang dimulai sama Clara. Dia pikir dia paling pintar dengan menghancurkan Hans pake kamera tersembunyi. Dia lupa, kalau aku yang dulu mengajari dia cara main kotor."
Reno menatap Clara dari atas ke bawah. Tatapan matanya yang tajam dan penuh damba lama tak tersalurkan itu membuat bulu kuduk Clara meremang. Namun, anehnya, ketakutan Clara mendadak bergeser menjadi sesuatu yang lain. Adrenalin yang terpacu karena ancaman kehancuran total, bercampur dengan kehadiran dua pria dari masa lalunya di dalam satu ruang sempit, mulai menyelimuti hawa panas yang berbeda di dalam pembuluh darahnya.
"Apa mau kamu, Ren? Uang? Aku bisa kasih berapa pun yang kamu minta, asal hapus video itu!" seru Clara, mencoba menegosiasikan harga dirinya.
Reno mematikan korek apinya, membuat kabin mobil kembali temaram, hanya diterangi sisa sorot lampu mobilnya di luar. Ia memajukan tubuhnya, menembus ruang antara kursi depan dan belakang hingga wajahnya berada tepat di samping telinga Clara.
"Aku nggak butuh uang kamu, Cla. Aku cuma kangen... kangen bagaimana kamu mendesah sebut nama aku dulu, sebelum kamu memilih uangnya Hans," bisik Reno, suaranya berubah menjadi serak dan penuh intrik. "Dan melihat kamu lagi main sama Aris... jujur, bikin aku iri. Gimana kalau kita bagi adil malam ini?"
Aris terperangah. "Ren, kamu gila?! Dia tunangan orang!"
"Istri orang yang baru saja ditiduri sama kamu, Aris," potong Reno cepat sambil menatap tajam sahabatnya. "Jangan munafik. Kita tahu betul siapa Clara. Dia nggak akan pernah puas cuma dengan satu laki-laki."
Tangan Reno yang kasar bergerak berani, meraih tengkuk Clara dan menariknya mendekat. Bukannya menolak, Clara justru melepaskan desahan pasrah yang berat. Logikanya yang sudah terkikis sejak melihat video Hans, kini benar-benar lumpuh.
Ego Clara yang terluka sebagai wanita yang diselingkuhi kini menuntut balas dengan cara yang paling ekstrem: menyerahkan dirinya pada dua pria sekaligus.
"Hapus... hapus videonya dulu, Ren..." rintih Clara, napasnya mulai memburu saat jemari Reno mulai bermain di tengkuknya.
"Video ini aman selama kamu bisa bikin aku dan Aris puas malam ini, Cla," jawab Reno sebelum langsung membungkam bibir Clara dengan ciuman yang liar dan menuntut.
Ciuman Reno terasa jauh lebih kasar dan penuh dominasi dibanding Aris. Ia melumat bibir Clara seolah ingin menghapus jejak Hans dan Aris dari sana. Clara melenguh panas, tangannya yang tadi memegang gaunnya kini beralih mencengkeram jaket kulit Reno, menarik pria itu agar menghimpitnya lebih dalam.
Atmosfer di dalam kabin sedan mewah itu meledak dalam hitungan detik, berubah menjadi pusaran gairah tiga arah yang pekat dan berdosa. Aris, yang awalnya merasa terkhianati oleh sahabatnya, kini justru tersulut oleh pemandangan di depannya. Gairah mudanya yang kompetitif bangkit. Ia tidak mau kalah dari Reno.
Aris kembali merangkak mendekat, memeluk tubuh Clara dari belakang, sementara Reno menguasai bagian depan dari sela kursi. Clara berada di tengah-tengah dua pusaran energi jantan yang begitu liar. Aroma keringat, kulit, dan parfum mahal berbaur menjadi satu, menciptakan udara yang begitu pekat dan memabukkan.
"Ahhh! Reno... Aris... hnghh..." desahan Clara menggema keras di dalam mobil yang kedap suara itu.
