Bab 3
Suara tut-tut-tut dari panggilan yang diputus sepihak oleh Clara menggema dingin di dalam area gym. Peringatan itu bukan sekadar ancaman kosong, Clara benar-benar sudah berada di rumah orang tua Hans bersama video tersebut.
Wika mencengkeram lengan Hans dengan jemari yang bergetar hebat. "Keluarga kamu... video itu... Hans, kalau keluarga kamu dan media tahu, nama baikku hancur! Karirku selesai!" air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipinya yang masih hangat.
Hans menyapu pandangan ke sekeliling. Beberapa member gym mulai menoleh curiga akibat suara Wika yang meninggi. Tanpa membuang waktu, Hans mencengkeram pergelangan tangan Wika—pegangan posesif yang tak membiarkan penolakan.
"Ikut aku sekarang. Kita selesaiin ini sebelum semuanya terlambat," desis Hans.
Hans menarik Wika menuju area parkir bawah tanah yang remang, lalu mendorongnya masuk ke dalam SUV hitam berkaca gelap miliknya. Pintu dibanting rapat, menyisakan keheningan yang mencekam. Udara di dalam kabin terasa begitu tipis, sarat akan ketegangan yang beradu dengan aroma tubuh Hans yang campuran keringat jantan, parfum maskulin mahal, dan sisa gairah dari gym tadi.
Hans masuk ke kursi kemudi, lalu menghantam lingkar setir dengan kepalan tangannya. "Sialan! Dia main bersih tapi membunuh!" umpatnya berulang kali dengan napas memburu.
Wika memeluk lututnya sendiri di kursi penumpang, terisak pelan. Ketakutan akan kehancuran nama baik dan masa depannya mendominasi otaknya. Namun, berada di dalam ruang tertutup bersama Hans membuat akal sehatnya berkhianat. Tubuhnya masih mengingat jelas bagaimana rasanya dihimpit oleh dada kekar itu beberapa menit lalu.
Hans menoleh. Melihat wanita yang pernah, dan ternyata masih sangat dicintainya, menangis ketakutan, amarah Hans meluluh menjadi naluri protektif yang liar.
"Wik, dengerin aku," suara Hans merendah, berat dan dalam. Ia memangkas jarak di antara kursi mereka, meraih jemari Wika yang dingin. "Clara sengaja nyerang mental kita. Dia manfaatin momen ini supaya kita panik dan salah langkah."
"Tapi dia di rumah orang tua kamu, Hans! Dia pegang bukti fisik saat kita... saat kita ngelakuin hal serendah itu di tempat umum!" ratap Wika. Wajahnya mendongak, menatap Hans dengan mata basah dan bibir yang masih sedikit bengkak.
Tatapan mata Hans terkunci pada bibir itu. Ketakutan dan kepanikan mendadak terbias menjadi adrenalin berbahaya. Bahaya selalu memicu gairah yang lebih pekat. Melihat Wika yang rapuh dalam balutan sport bra yang basah oleh keringat membuat akal sehat Hans terbakar habis.
"Serendah itu kamu bilang?" bisik Hans, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang sarat akan dominasi. "Kamu sebut kerinduan dan kepemilikan ini hal rendah, Wik?"
"Hans, jangan—"
Sebelum Wika sempat menolak, Hans mencondongkan tubuhnya. Kedua tangan besarnya mencengkeram tengkuk Wika, menarik wajah wanita itu dan langsung membungkam bibirnya dengan ciuman yang jauh lebih menuntut, jauh lebih kasar, dan sarat akan penegasan dibanding di gym tadi.
Wika terkesiap, namun ketakutan di dalam dadanya justru melebur menjadi kegilaan pasrah. Ia butuh pelarian dari rasa takut, dan Hans adalah satu-satunya candu yang ia kenal. Wika membalas ciuman itu dengan keliaran yang sama. Lidah mereka bertaut kembali, saling mengisap dan memburu ritme dengan terburu-buru, seolah esok hari dunia akan runtuh.
Hans menggeram nikmat di sela ciumannya. Tangannya bergerak cepat menekan tombol penyesuai kursi, merobohkan sandaran kursi Wika ke belakang. Pria itu merangkak naik, menindih tubuh Wika di bawah kungkungan otot-ototnya yang padat.
"Hnghh... Hans... video itu... rumah orang tua kamu..." Wika mendesah parau ketika bibir Hans turun memburu rahangnya, lalu menggigit kecil kulit sensitif di lehernya.
"Persetan dengan video itu. Aku nggak bakal biarin siapa pun hancurin kamu, Wik," bisik Hans dengan napas memburu di depan dada Wika yang naik-turun liar. "Sekarang... cuma ada kamu dan aku."
Tangan kekar Hans menyusup ke ujung sport bra Wika, menyingkap kain ketat itu ke atas dengan satu gerakan pasti, mengekspos keindahan tubuh Wika di bawah temaram lampu dasbor. Hans mengagumi bentuk tubuh yang selama setahun ini menghantui mimpi-mimpinya.
"Kamu cantik banget, Wik... selalu milik aku," gumam Hans sebelum menundukkan kepala, memagut lembut area sensitif di dadanya.
"Ahhh! Hans!" Wika memekik pelan, jemarinya meremas kuat rambut belakang Hans, menarik pria itu semakin erat. Desahan pasrahnya menggema intim di dalam kabin kedap suara.
Sentuhan Hans merambat turun ke pinggang, meraba kulit yang hangat dan lembap, lalu memburu tali legging Wika. Wika mengangkat panggulnya sedikit, membiarkan mereka benar-benar tenggelam dalam pusaran gairah terlarang yang tak memiliki jalan pulang.
BZZZT... BZZZT...
Ponsel Hans yang tergeletak di dasbor mendadak bergetar hebat. Kali ini bukan panggilan suara, melainkan sebuah notifikasi pesan singkat yang muncul besar di layar dasbor yang terhubung ke Bluetooth mobil.
Pesan gambar dari nomor tak dikenal.
Di bawah remangan lampu kabin, mata Wika secara tidak sengaja terbuka dan melihat layar dasbor. Gambar yang baru saja masuk adalah foto masa lalu Wika, sebuah rahasia kelam dari 3 tahun lalu yang bahkan belum pernah ia ceritakan pada Hans.
Dan di bawah foto itu, tertulis satu kalimat pesan:
"Mau aku tunjukkan foto ini ke Hans dulu, atau langsung kuunggah bersama video gym kalian, Wika?"
Tangan Wika membeku seketika di bahu Hans. Seluruh kehangatan gairahnya surut seketika, berganti menjadi ketakutan mutlak yang mendinginkan darahnya.
