Bab 2
Sensasi dingin di balik punggung Wika seketika berubah menjadi hawa membakar yang mematikan. Nama istri yang baru saja diucapkan dari balik pilar menghantam kesadarannya bagai hantaman gada besi.
Pria yang membakar gairahnya, yang menciumnya hingga ia lupa daratan... ternyata sudah milik wanita lain.
"Sembunyi di ruang loker sekarang, Wik. Aku yang atasi ini," bisik Hans panik. Ia menyapu bibir Wika yang bengkak dengan ibu jarinya, lalu mendorong bahu Wika pelan untuk menutupi tubuh wanita itu dari pandangan luar.
Dengan dada bergemuruh dan mata memanas oleh rasa malu serta dikhianati, Wika berlari menyelinap ke ruang loker wanita. Ia menutup pintu rapat-rapat, bersandar di baliknya sembari mencengkeram dadanya yang naik-turun liar. Di depan cermin, bayangannya nampak kacau: bibir merah merona, leher berbekas jejak kemerahan, dan mata yang masih menyisakan sisa-sisa gairah terlarang.
Bodoh. Kamu bodoh banget, Wika! maki Wika pada dirinya sendiri.
Ia memutar keran wastafel, membasuh wajahnya dengan air dingin berulang kali demi menghapus sisa sentuhan Hans. Namun, belum sempat ia menyapu air di wajahnya, suara gesekan pintu loker kembali terdengar.
Bukan Hans.
Seseorang berdiri di ambang pintu yang temaram. Seorang wanita bergaun elegan dengan riasan sempurna yang kini pias. Di jemari lentiknya, melingkar cincin berlian yang sama persis dengan cincin emas putih yang sempat tergeletak di lantai gym tadi.
Clara.
Di tangan kanannya, sebuah ponsel pintar menyala terang. Layar itu sedang memutar rekaman video berdurasi pendek, mengabadikan detik demi detik adegan panas di balik pilar. Video di mana tangan Hans meraba panggul Wika, dan bibir Wika melenguh pasrah menempel pada leher pria itu.
Darah Wika mendadak surut ke ujung kaki. Seluruh persendiannya mengunci.
"Jadi... ini kelakuan kamu di belakang aku?" Suara Clara terdengar tenang, namun bergetar hebat menahan badai murka yang siap meledak.
"Clara... aku... ini nggak seperti yang kamu lihat..." suara Wika tercekat, nyaris tenggelam oleh deru mesin pendingin ruangan.
Clara tidak berteriak. Ia tidak melabrak atau menjambak rambut Wika seperti wanita yang dikuasai emosi buta. Sebaliknya, Clara terkekeh sinis—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Wika berdiri. Jemarinya yang memegang ponsel menari di atas layar, seolah sedang bersiap menekan tombol tertentu.
"Aku bisa hancurkan karir kamu, nama baik kamu, dan semua yang kamu punya cuma dalam satu kali klik," bisik Clara penuh racun. Ia menatap Wika dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan nada menjijikkan. "Satu video ini cukup buat bikin kamu dicap perusak hubungan orang seumur hidupmu."
"Clara, tolong—"
Sebelum Wika sempat melangkah, Clara mundur satu langkah ke kegelapan koridor luar loker. Ia membalikkan badan dan berjalan cepat, menghilang menuju lorong pintu darurat tanpa suara.
"Clara! Tunggu!"
Wika berlari keluar dari ruang loker dengan jantung yang serasa mau melompat keluar dari rongga dadanya. Namun, koridor samping itu sudah kosong melompong. Clara lenyap seperti hantu, meninggalkan ancaman tak kasat mata yang siap meruntuhkan dunianya dalam hitungan menit.
Panik dan berderai air mata, Wika berlari kembali ke area free weights. Di sana, Hans sedang berpura-pura mengobrol santai dengan instruktur gym untuk mengalihkan perhatian. Begitu mata Hans menangkap kepanikan mutlak di wajah Wika yang pucat pasi, senyum kepalsuan pria itu langsung luntur.
Hans berpamitan seadanya pada sang instruktur, lalu menyambar handuknya dan menghampiri Wika dengan langkah lebar.
"Ada apa, Wik? Kenapa muka kamu pucat banget?" tanya Hans setengah berbisik, tangannya berkeinginan meraih bahu Wika.
Tetapi Wika menepis tangan itu dengan kasar. Matanya menyalang penuh kemarahan dan ketakutan.
"Clara ada di sini tadi, Hans!" bisik Wika dengan suara gemetar hebat. "Dia ngeliat semuanya. Dia merekam kita... dan dia punya bukti video saat kamu nyentuh aku!"
Wajah Hans seketika berubah kelabu. Otot rahangnya mengeras tajam. "Apa? Nggak mungkin, dia bilang—"
Sebelum Hans menyelesaikan kalimatnya, ponsel di dalam saku celana Hans bergetar nyaring. Layar ponsel itu menyala, menampilkan nama kontak Clara.
Hans menerima panggilan itu dan langsung menempelkannya ke telinga dengan tangan gemetar. Loudspeaker secara tidak sengaja tertekan.
"Hans..." suara Clara terdengar dari seberang telepon, tenang namun mematikan. "Aku udah ada di rumah orang tua kamu sekarang. Papa dan Mama lagi nunggu kamu di meja makan... bareng video manis yang baru aja aku kirim ke grup keluarga besar."
Klik.
Sambungan diputus sepihak.
Wika memegang dadanya yang sesak, sementara Hans membeku dengan wajah yang kehilangan seluruh warna kehidupan.
