Bab 1
Sebuah cincin pernikahan emas putih tergelincir dari saku celana olahraga yang tergeletak di atas bangku gym. Bunyi tingting logamnya yang halus tenggelam di antara dentuman musik bas dan deru mesin treadmill.
Wika membeku. Matanya tertuju pada lingkaran kecil berkilau di lantai. Cincin dengan ukiran nama yang sangat ia kenali, namun bukan namanya.
"Lari sendirian aja, Wik? Nggak takut ambruk?"
Suara berat dan serak itu menginterupsi pendengarannya. Hans—pria yang menghilang dari hidupnya setahun lalu tanpa kejelasan, kini berdiri hanya beberapa jengkal darinya. Kaos olahraganya basah oleh keringat, menempel ketat memamerkan otot dadanya yang naik-turun seirama napasnya yang memburu.
Tangan Wika gemetar saat menekan tombol stop pada panel treadmill. Karpet karet di bawah kakinya berhenti mendadak, membuat tubuhnya sedikit terhuyung sebelum ia mencengkeram pegangan mesin.
"Bukan urusan kamu, Hans," desis Wika. Ia berusaha menjaga nada suaranya setenang mungkin, meski dadanya bergemuruh hebat, bukan karena kardio 45 menit, melainkan karena aroma maskulin bercampur keringat yang mendadak mengepung indra penciumannya. Aroma adiktif yang dulu selalu menenggelamkannya.
Hans terkekeh rendah. Kekeh'an bergetar yang membuat bulu-bulu halus di tengkuk Wika meremang seketika. "Galak banget. Padahal dulu, kamu paling suka kalau aku yang nemenin kamu keringetan sampai pagi."
Pipi Wika menyengat panas. Memori tentang malam-malam panas masa lalu menghantam otaknya tanpa ampun. Hubungan mereka kandas karena cemburu buta dan keputusasaan, meninggalkan luka menganga yang belum sepenuhnya pulih. Namun, melihat Hans kembali dalam jarak se-jangkau tangan, membuat benteng pertahanan yang ia bangun selama 365 hari hancur lebur dalam hitungan detik.
"Itu dulu. Sekarang kita asing," tegas Wika sembari menyambar handuk dan berbalik cepat menuju area free weights di sudut gym, area temaram yang terhalang pilar beton raksasa.
Namun, langkah Hans lebih lebar dan penuh intimidasi. Pria itu menyelimuti pergerakannya dari belakang, memangkas jarak hingga Wika bisa merasakan radiasi panas dari tubuh pria itu.
Untuk mengalihkan perhatian, Wika menyambar sepasang dumbbell seberat 4 kg. Ia membuka kakinya selebar bahu, mencoba memfokuskan pikiran pada gerakan squad. Namun, bayangan tubuh Hans yang mengawasinya dari belakang membiaskan konsentrasinya. Tatapan pria itu terasa bagai sentuhan fisik yang membakar permukaan legging ketatnya.
"Postur kamu salah, Wik. Pinggul kamu terlalu miring ke kanan. Beban itu bisa merobek otot punggungmu," bisik Hans mendadak.
Sebelum Wika sempat mengelak, tubuh Hans sudah menempel rapat di punggungnya.
Deg.
Sepasang telapak tangan Hans yang besar, hangat, dan agak kasar melingkari pinggang Wika. Tangan satunya naik perlahan ke punggung atasnya, menekan lembut agar tulang belakang Wika menegak sempurna. Sentuhan itu seperti sengatan arus listrik bertegangan tinggi yang menjalar cepat ke seluruh sarafnya.
"Hans... lepasin..." Suara Wika tercekat di kerongkongan, terdengar pasrah alih-alih mengusir.
"Aku cuma benerin posisi kamu, Mantan," bisik Hans tepat di celah antara leher dan telinganya. Hembusan napas panas Hans menerpa kulit sensitif di sana, memicu gelombang tremor hebat di sekujur tubuh Wika. "Sekarang, turun pelan-pelan... feel the burn."
Wika kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Saat ia menundukkan pinggulnya, gesekan antara bagian depan tubuh Hans yang mengeras dan panggul belakangnya tak terelakkan. Gerakan itu begitu intim, sinkron, dan liar—membangkitkan gairah purba yang sengaja mereka kubur rapat-rapat.
"Ah..." Desahan halus tanpa sadar lolos dari tenggorokan Wika.
Hans menggeram rendah. Geraman predator yang lapar. Pegangannya di pinggang Wika mengencang, menarik panggul wanita itu hingga benar-benar menempel rapat pada dadanya. Wika dapat merasakan debaran jantung Hans yang berpacu liar, beradu dengan detak jantungnya sendiri yang menggila.
"Kamu masih sensitif kayak dulu, Wik," desah Hans dengan suara yang kian berat. "Desahan ini... selalu bikin aku hilang akal."
"Hans, kita di tempat umum..." jemari Wika justru mencengkeram erat lengan kekar Hans, mencari tumpuan karena lututnya mendadak lemas bagai jeli.
focus Hans tidak terganggu. Suasana di balik pilar beton ini sangat sepi, tersembunyi dari pantauan cermin utama dan resepsionis depan. Ia membalikkan tubuh Wika dengan satu hentakan lembut namun dominan, memenjarakan wanita itu di antara pilar dingin dan dadanya yang membara.
Dua pasang mata bertabrakan. Tatapan Hans menggelap, dipenuhi hasrat berburu yang kelam. Hans menunduk, mengikis sisa jarak di antara mereka, lalu menyapukan bibirnya di atas bibir Wika yang sedikit terbuka.
Ciuman itu tidak lembut. Ciuman itu menuntut, penuh rasa lapar dan keputusasaan yang tertahan selama setahun. Wika melenguh pasrah. Tangannya melepas dumbbell begitu saja, menghasilkan dentangan besi yang berat saat menghantam lantai. Tangannya menyusup ke rambut tebal Hans, menarik pria itu semakin dalam ke dalam pautannya.
Lidah mereka bertaut, saling bertukar kehangatan dan kenangan manis yang beracun. Hans merapatkan tubuhnya, membiarkan dinginnya pilar beton menekan punggung Wika sementara bagian depan tubuhnya membakar setiap inci kulit wanita itu.
Tangan Hans mulai merayap naik, mengusap lekuk punggung Wika yang terbuka di balik sport bra, lalu turun meremas tegas panggulnya. Desahan-desahan kecil Wika makin tak terkendali di dalam kungkungan ciuman Hans.
Hans melepaskan tautan bibirnya selapis, berpindah menggebu-gebu memburu rahang dan leher jenjang Wika, memberikan kecupan-kecupan basah yang meninggalkan tanda kemerahan.
"Katakan kalau kamu cuma milik aku, Wik. Cuma aku," bisik Hans serak di ceruk lehernya.
"Ya... Hans... cuma kamu..." Wika terengah, matanya terpejam erat, menyerahkan seluruh kesadarannya pada sensasi yang membakar.
BRAK!
Pintu darurat di samping pilar mendadak terdorong keras. Cahaya terang dari koridor luar menerobos masuk, memecah kegelapan sudut gym.
"Hans? Kamu di dalam?" suara wanita yang sangat anggun dan berwibawa menggema di ruangan itu, diikuti langkah kaki sepatu hak tinggi yang mendekat. "Cincin pernikahan kita jatuh di mobil, kamu lihat—"
Wika mendadak membuka matanya lebar-lebar. Darahnya mendadak berdesir dingin bagai es. Tangannya membeku di dada Hans.
Pria yang sedang menghimpitnya dan menciumnya dengan liar ini... ternyata sudah menikah.
