Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3

Kereta kuda itu melaju dengan kecepatan tinggi, seolah seluruh jalan adalah miliknya sendiri. Air yang terpercik mengenai pejalan kaki yang tengah menikmati jeda hujan, membuat tak seorang pun luput dari basah. Kereta itu melesat begitu cepat hingga langsung menimbulkan kemarahan. Seorang lelaki yang temperamental langsung melontarkan makian:

“Berlari begitu kencang, mau mati atau buru - buru lahir kembali, hah?!”

Namun makiannya belum juga selesai, sudah ada yang cepat - cepat menarik bajunya sambil berbisik,

“Pelankan suara! Itu kereta dari rumah Jenderal An. Kalau sampai terdengar, bisa celaka…”

Baru berjalan sebentar lagi, kereta itu tiba - tiba berhenti mendadak. Suara ringkikan kuda mengoyak keheningan jalanan, bergema di sepanjang ruas kota. Namun yang lebih memilukan dari itu adalah jeritan penuh duka yang menyusul tak lama setelahnya—nyaring, menyayat hati.

“Anakku…!”

Aroma darah mulai samar - samar tersebar di udara. Gadis berpayung biru langit itu mendorong tunggangannya maju sedikit, namun jalanan sudah dipenuhi kerumunan orang yang keluar dari toko - toko di sekitar. Mereka mengepung tempat kejadian, selapis demi selapis, hingga tak ada celah tersisa.

Kini kereta mewah itu terhenti di depan sebuah warung mie yang sederhana. Di atas kereta berdiri seorang pemuda berpakaian mewah. Wajahnya angkuh dan tak tahu malu, dan meski terhalang kerumunan, suara sinisnya terdengar sangat jelas.

“Kalau bukan karena bocah itu tiba - tiba lari ke tengah jalan, mana mungkin kereta tuan muda ini menabraknya?! Kalian para rakyat jelata—sekarang mau melempar kesalahan ini ke kepala tuan muda?! Dasar tidak tahu diri!”

“Sudahlah, sudahlah, anggap saja aku sedang sial!” Pemuda itu mengeluarkan sebatang perak dari dalam jubahnya dan melemparkannya ke tanah dengan gerakan seolah sedang mengusir pengemis.

“Perak ini cukup untuk mengobati anakmu. Setelah ini, entah hidup atau mati, itu bukan urusanku lagi!”

Di tengah suara cacian dari kerumunan, pemuda itu membalikkan badan dengan angkuh, mengibaskan lengan bajunya lalu masuk kembali ke dalam kereta. Kusir segera mengangkat cambuk tinggi - tinggi, dan kereta pun kembali melaju. Dalam sekejap, bayangan mewah itu sudah menghilang dari pandangan.

Aroma darah di jalan semakin menyengat. Tangisan penuh duka dan jeritan menggema pilu. Semakin banyak orang keluar dari toko, rumah arak, dan kedai teh untuk melihat keributan. Kerumunan yang tadinya sudah padat, kini menjadi semakin sesak, tak ada celah sedikit pun.

Gadis berpayung biru langit itu menepuk kepala tunggangannya. Aroma darah tampaknya membuat tunggangannya mulai gelisah.

“Nuomi, terlalu banyak orang. Kita kurangi sedikit, ya.”

Mendengar perintah itu, tunggangan gadis itu tiba - tiba mengangkat kepalanya dan meraung keras ke langit—suara raungan itu adalah auman harimau. Dentuman suara khas sang raja rimba menggema dan menggetarkan udara. Getaran itu sampai mengguncangkan bingkai - bingkai jendela di kiri - kanan jalan.

Auman itu langsung membuat kerumunan yang memenuhi jalan menjadi kacau balau. Orang - orang yang tadinya berkerumun kini berhamburan, ketakutan dan menjerit. Beberapa toko cepat - cepat menutup pintu dan jendela mereka. Dalam sekejap, jalan yang semula padat berubah menjadi lengang, terbuka lapang.

Di tengah jalan batu biru yang basah itu, hanya tersisa seorang perempuan berbaju kasar warna biru kehijauan, berlutut di tanah sambil memeluk anaknya. Kaki kiri si anak penuh darah—terputus, dan potongan kakinya tergeletak di samping. Wajah anak itu pucat kebiruan, jelas sudah pingsan karena kesakitan.

Perempuan itu menatap dengan tubuh gemetar ke arah depan. Seorang gadis berpakaian ungu perlahan mendekat, memegang payung biru langit, dan di belakangnya mengikuti seekor harimau besar. Harimau itu bertubuh besar dengan bulu abu kebiruan, belang hitam di sekujur tubuhnya, dan di dahinya terdapat tanda "王" (raja). Sepasang matanya yang keemasan bersinar tajam, penuh energi, menatap lurus ke depan.

Gadis berbaju ungu itu mengangkat payungnya lebih tinggi, memperlihatkan wajahnya yang luar biasa indah, seolah tercetak langsung dari lukisan kuno. Yang paling mencolok adalah tanda lahir merah darah berbentuk tetesan air mata di bawah sudut matanya. Ia menunduk, menatap si anak sejenak, lalu berkata dengan suara tenang:

“Aku bisa menyambungkan kembali kaki anakmu. Tapi tidak bisa menjamin dia tidak akan pincang setelahnya. Mau kucoba?”

Mendengar kalimat itu, mata si ibu langsung terbelalak. Ia menatap gadis itu seolah melihat sang penyelamat, seorang Bodhisattva yang turun ke dunia. Ia meraih ujung rok gadis itu dan berkata tergagap,

“Gadis… gadis muda, kamu tabib? Tolong selamatkan anakku… mohon selamatkan dia!”

Suara gadis itu dingin dan jernih,

“Aku? Hanya seorang tabib lonceng saja.”

Bongkahan es yang masih menghembuskan hawa dingin ditata menjadi alas darurat. Di atas ranjang sederhana dalam penginapan, terbaring seorang anak laki - laki. Celana di kaki kirinya sudah digunting, memperlihatkan luka parah—kakinya terputus dan berdarah hebat. Darah merembes diam - diam dari luka itu. Dengan kondisi seperti ini, tanpa tindakan segera, anak itu bisa saja mati karena kehabisan darah, meski tanpa harus kehilangan kakinya sekalipun.

Cahaya perak berkilat. Dalam sekejap mata, sembilan titik akupunktur di tubuh si anak telah tertancap sembilan jarum perak. Begitu jarum - jarum itu menancap, pendarahan dari luka langsung berkurang drastis.

Su Wen mengenakan sarung tangan yang terbuat dari benang sutra langka Tian Can. Ia mengambil jarum jahit dan penjepit, lalu mulai menjahit luka dengan penuh kehati - hatian. Ia menyatukan pembuluh darah dan jaringan otot yang terputus satu demi satu. Keringat membasahi dahinya, menetes pelan, tapi ia tak punya waktu untuk mengusapnya. Gerakannya begitu cepat dan terlatih, seperti saat ia menusukkan jarum emas ke tubuh si anak tadi. Meskipun titik - titik itu adalah titik akupunktur besar yang bahkan tabib biasa tak berani sentuh, namun ia tetap melakukannya dengan keteguhan yang tak tergoyahkan.

Bukan pertama kalinya Su Wen melakukan operasi dalam kondisi lebih buruk. Tapi satu tahun lalu, ia tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi jiwa asing di dunia yang asing ini.

Dulu, ia adalah seorang dokter di abad ke - 21. Ia berasal dari keluarga pengobatan tradisional Tiongkok kuno, yang silsilahnya bisa ditelusuri sampai zaman Chunqiu dan Zhanguo. Andai waktu itu ia tidak memilih masuk akademi kedokteran modern, Su Wen yakin dirinya sekarang sudah menjadi seorang tabib Tiongkok yang luar biasa. Ia adalah jenius paling berbakat dalam keluarganya—memiliki ingatan luar biasa, dan telah menghafal berbagai kitab medis kuno dan teori pengobatan sejak kecil.

Jika saja setelah lulus ia menerima tawaran profesornya untuk tetap tinggal di rumah sakit, bukannya memilih menjadi Dokter perang, mungkin takdirnya akan berbeda.

Su Wen tidak tahu bagaimana dirinya bisa bertahan hidup. Ingatan terakhirnya adalah saat rumah sakit tempatnya bekerja di negara yang dilanda perang dihantam oleh serangan udara. Api berkobar di mana - mana, jeritan manusia memenuhi udara. Ledakan mengguncang langit, dan bangunan mulai runtuh. Saat ia sadar kembali, ia telah menjadi Su Wen yang lain—anak angkat dari seorang tabib lonceng biasa di Benua Dongyue.

Jika langit memberinya kesempatan kedua, Su Wen merasa ia harus menjalani hidup ini dengan sebaik - baiknya. Ia akan hidup menggantikan perempuan malang yang sebelumnya bernama Su Wen—seorang anak yang disebut anak setan, dibuang oleh keluarga sejak kecil.

Sekarang, ia hidup dengan baik, dan sudah sampai di Kota Wushuang, Negara Yue. Orang - orang yang hidup sesuka hati, menyakiti orang lain dan tetap bisa merasa tenang, harus mulai menerima ganjarannya.

Kereta mewah yang menyebabkan tragedi itu kini berhenti di depan pintu gerbang utama Kediaman Jenderal. Jejak darah di roda kereta telah tersapu bersih oleh sisa air hujan.

An Jin Yi turun dari kereta sambil tersenyum. Begitu kakinya menginjak ambang pintu besar kediaman itu, para pelayan dan dayang yang lewat segera membungkuk dengan sopan sambil memanggil,

“Salam, Tuan Muda Ketiga.”

Salah satu dayang bersuara lembut,

“Tuan Muda Ketiga, Nyonya meminta Anda segera menemuinya setelah pulang ke kediaman.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel