Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2

"Apa kamu sudah lupa apa yang dikatakan oleh Biksuni Cian?" bentak Nyonya Duan dengan suara tajam.

Tadinya, hati An Qingyun masih menyisakan sedikit belas kasihan. Namun setelah teringat kembali semua hal yang dikatakan ibunya—tentang bencana yang menimpa keluarga An selama tiga hari terakhir—tekadnya pun mengeras. Anak ini memang tidak bisa dibiarkan tinggal di rumah mereka. Dia adalah anak setan!

Biksuni Cian dikenal luas karena kebijaksanaannya dan juga merupakan sahabat dekat Nyonya Duan. Ia telah menyatakan dengan tegas bahwa anak ini adalah 鬼子—anak setan, pembawa kutukan bagi keluarga An, dan kutukan itu tidak akan berhenti sebelum kematian memisahkan. Meskipun An Qingyun enggan percaya sepenuhnya pada perkataan biksuni itu, tapi peristiwa - peristiwa yang terjadi dalam tiga hari ini terlalu jelas untuk diabaikan.

Akhirnya, An Qingyun tak lagi ragu. Ia menggendong bayi itu dan, meskipun suara tangisan dan jeritan Nyonya Mo menggema di belakangnya, ia melangkah mantap keluar lewat pintu belakang. Di luar sudah menunggu sebuah kereta kuda, dan seorang perempuan tua berdiri di sampingnya.

Tanpa ragu sedikit pun, An Qingyun menyerahkan bayi itu ke tangan perempuan tua itu.

"Bawa anak terkutuk ini sejauh mungkin dari sini. Tak peduli hidup atau mati, aku tak ingin pernah melihatnya lagi."

Perempuan tua itu menerima bayi itu dan naik ke dalam kereta. Kusir segera mencambuk tali kekangnya, dan kereta itu pun melaju menjauh dari rumah keluarga An, menuju gerbang kota. Tujuan mereka: perbatasan paling jauh—ujung negeri yang tak akan pernah mereka kembalikan jejaknya.

An Qingyun kembali ke halaman dalam rumah. Nyonya Duan dan Su-shi sudah tidak ada di sana. Yang tersisa hanya Nyonya Mo yang masih berlutut dengan wajah hampa, seolah jiwanya telah pergi entah ke mana. Hujan deras mengguyur, membasahi tubuh kurusnya tanpa ampun.

An Qingyun hendak menghampiri dan menolongnya berdiri, namun terdengar suara lirih Nyonya Mo, nyaris seperti bisikan:

"Aku takkan bisa punya anak lagi… takkan pernah lagi… Putriku… bahkan namamu belum sempat kami berikan… Dunia ini begitu luas, Ibu harus ke mana mencarimu…"

Ia memang takkan bisa punya anak lagi. Tabib sudah lama berkata bahwa tubuhnya kekurangan darah dan tenaga, dan kelahiran kali ini pun sangat dipaksakan. Ke depannya, sudah hampir mustahil baginya untuk mengandung lagi.

Tiba - tiba, Nyonya Mo tertawa terbahak - bahak. Tawa itu semakin keras, semakin menggila. Ia berdiri, tubuhnya basah kuyup diguyur hujan, lalu mulai berputar - putar di halaman seperti sedang menari. Matanya menatap ke arah An Qingyun yang berdiri di bawah atap rumah, dan ia tertawa cekikikan sambil mengangkat kedua tangannya dan bergerak seperti sedang bermain - main.

"Suamiku… suamiku… suamiku… suamiku… hahahaha…"

Wajah An Qingyun langsung menegang. Ia menatap Mo-shi dengan tatapan terkejut—dia… gila?

Tak sampai seperempat jam kemudian, kabar tentang Mo-shi yang menjadi gila pun sampai ke telinga Su-shi. Ia sedang memangku putranya, sambil menggoyangkan mainan berbentuk lonceng kecil untuk menghiburnya. Saat mendengar kabar itu, ia tidak tampak terkejut sedikit pun. Ia hanya tersenyum tipis, dan menggoyangkan mainan itu semakin keras. Bunyi tok tok tok yang berirama membuat si kecil tertawa bahagia dalam pelukannya.

"Qingyu, kamu suka, ya?" Su-shi tersenyum lembut. "Ini hadiah dari Ibu. Mulai sekarang, di kediaman ini, kamulah yang paling mulia. Tak seorang pun akan berani menginjak kepalamu. Tunggu saja… sebentar lagi, Ibu akan menjadikanmu putri sah rumah ini—putri sah dari Kediaman Jenderal."

Su-shi tertawa pelan.

Kalau saja Mo-shi tidak terikat janji pertunangan sejak kecil dengan An Qingyun, posisi istri sah itu sudah pasti menjadi miliknya! Dalam hati, Su-shi merasa semua yang terjadi sangat wajar. Ia hanya mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi miliknya—status istri sah, putra sah, dan putri sah. Semua itu miliknya. Tak seorang pun boleh menyentuhnya.

Bulan Kedelapan, Tahun ke - 20 Era Jian Yuan

Pada suatu siang musim panas, Kota Wushuang disapu oleh hujan deras yang turun secara tiba - tiba. Seluruh kota tertutup oleh kabut hujan yang tipis, membuat hawa panas musim panas sedikit mereda, dan menyulap suasana kota menjadi sejuk dan teduh, seperti lanskap indah dari daerah selatan.

Hujan lebat yang tak terduga ini membuat para pejalan kaki di jalanan tak sempat menghindar, dan mereka buru - buru masuk ke kedai teh dan rumah arak untuk berteduh. Jalan utama yang sebelumnya ramai mendadak menjadi lengang. Hanya beberapa pedagang kaki lima yang tetap bertahan di tengah hujan, gigih mempertahankan lapaknya.

Di lantai dua sebuah paviliun belajar yang menghadap jalan utama, sebuah ruangan tenang dipenuhi oleh para pelajar muda. Para pelajar ini selalu tertarik membicarakan urusan negeri, merasa bahwa jika mereka tidak tahu peristiwa besar yang terjadi di Negara Yue, maka mereka tak ada bedanya dengan orang kampung yang tak tahu dunia luar.

Saat ini, bencana sedang melanda: karena curah hujan yang berlebihan tahun ini, Sungai Wei di dalam wilayah Yue meluap dan menyebabkan banjir besar. Tak sedikit rakyat yang kehilangan tempat tinggal, dan dikabarkan pula penyakit mulai menyebar di daerah bencana.

“Yang Mulia Pengawas Agung Péi Yi, Tuan Péi, telah berangkat ke daerah yang terdampak paling parah dengan tergesa - gesa. Aku yakin bencana ini akan segera diatasi.”

Belum selesai ucapan pelajar itu, seorang pelajar lain langsung menyahut.

“Saudara, itu berita sepuluh hari yang lalu, sudah basi,” katanya sambil menampakkan ekspresi puas. Ia menatap sekeliling, dan setelah memastikan semua perhatian tertuju padanya, barulah ia berbicara lagi, “Aku punya kerabat jauh yang baru - baru ini datang lewat jalur Sungai Wei. Katanya, bahkan sebelum Tuan Péi tiba, wabah sudah berhasil dikendalikan oleh seorang tabib lonceng yang lewat. Konon, tabib itu telah menghabiskan lebih dari seratus ribu tael perak untuk menyalurkan bantuan ke daerah bencana. Para korban di sepanjang Sungai Wei kini memanggilnya ‘Bodhisattva Salju’, sebagai tanda terima kasih atas bantuan yang datang bak bara dalam salju.”

Raut wajah pelajar itu begitu bangga, seolah dirinyalah yang mengeluarkan perak untuk membantu korban bencana. Namun, tak lama kemudian, pelajar lain segera menanggapi dengan nada mencibir,

“Saudara, dustamu itu terlalu berlebihan. Kalau soal menahan wabah, mungkin masih masuk akal. Tapi sepuluh ribu tael perak untuk bantuan bencana? Mana mungkin seorang tabib lonceng mampu mengeluarkan sebanyak itu? Kalau ingin mengarang cerita, lain kali pakailah otak dulu.”

Pelajar yang sebelumnya bicara pun menjadi merah padam dan langsung berdebat sengit dengan penentangnya. Dalam waktu singkat, ruang belajar yang tadinya tenang itu berubah menjadi lebih gaduh dari pasar. Suara cekcok dan cemoohan pun tak kunjung reda.

Saat suasana di paviliun belajar riuh dan kacau, di jalan utama yang telah dibersihkan hujan, tampak sebuah payung berwarna biru langit perlahan - lahan mendekat dari kejauhan. Payung itu dibawa oleh seorang gadis berpakaian ungu. Ia duduk menyamping di atas tunggangannya. Ujung rok dan sepatunya terkena cipratan air, warnanya jadi lebih gelap dan tampak suram.

Di pergelangan tangannya yang memegang gagang payung, tergantung sebuah lonceng emas kecil yang diikat dengan tali merah. Warnanya sudah agak pudar karena termakan usia, namun saat tunggangan gadis itu melangkah, lonceng itu masih mengeluarkan suara nyaring yang jernih—ting ting ting—menggema di jalan basah yang sepi.

Gadis itu duduk dengan sikap yang amat santai, hampir seluruh tubuhnya bersandar malas di atas tunggangannya. Payung biru langit yang ia pegang diturunkan sangat rendah hingga hampir menutupi seluruh wajahnya, membuat orang lain sulit menebak siapa dirinya. Yang tampak hanyalah pakaian ungu yang ia kenakan dan sebuah kotak bambu kekuningan yang nyaris memerah karena usia dan pemakaian.

Hujan perlahan mulai reda, hanya menyisakan tetesan kecil yang jatuh ke permukaan payung, menciptakan suara lembut menyerupai lantunan musik yang merdu.

Saat suara roda kereta terdengar menggema di atas jalanan batu biru di belakangnya, gadis itu menepuk lembut kepala tunggangannya dan bersuara jernih dan ringan,

“Nuomi, geser sedikit ke samping, jangan sampai menghalangi jalan orang lain.”

Tunggangan itu mengeluarkan dengusan ringan, lalu benar - benar bergerak ke tepi dengan patuh, menunjukkan kecerdasannya. Tak lama berselang, sebuah kereta kuda melaju dari belakang. Kereta itu tampak mewah dan dibuat dengan penuh kemewahan. Kecepatannya luar biasa, dan saat melintas di samping gadis itu, cipratan air dari jalanan basah pun menghujam ke segala arah. Gaya lewatnya yang seenaknya dan penuh kesombongan menunjukkan sikap yang sangat angkuh dan kasar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel