Kau Yang Sakiti Engkau Pula Yang Obati
Dinar menggeliat, badannya seperti habis dihantam dengan satu tronton beton, sakit semua, terutama di bagian bawah tubuhnya. Kepalanya terasa sakit berdenyut, matanya menatap langit-langit kamar, otaknya diputar mengingat kejadian sebelumnya. Dia meraba sebelahnya, kosong. Berarti dia sudah pergi, Dinar menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Serta merta air matanya tumpah melihat banyak sekali love bite di sekujur tubuhnya. Dia bangun meski badannya terasa sakit bagaikan remuk, Dinar meraung mengingat semua kejadian yang dialaminya. Tiada apapun dalam dirinya kini, mahkota yang selama ini dijaga hanya untuk suaminya nanti telah direnggut dengan paksa.
Dinar duduk memeluk lututnya dengan Isak tangis lirih. ‘Kenapa kamu tega Dirham? padahal aku sudah mulai percaya kalau niatmu mendekatiku itu tulus, lelaki brengsek! maafkan Dinar Bu, Dinar tidak bisa jaga diri sendiri, maafkan Dinar’ gadis itu terus menangis dan berbicara sendiri.
Hampir setengah jam Dinar menangis meratapi nasibnya, dan kelebat Dirham tidak dilihatnya sama sekali, berarti dia memang sendirian sekarang. Gadis itu turun dari tempat tidur, dia membuka lemari di sudut ruangan, laci bawah dibuka berniat mencari handuk untuk mandi, dia harus segera pulang ke kosnya. Setelah menemukan apa yang dicari, segera dipakainya, langkah diatur menuju ke meja rias, di sana tasnya berada, dia harus menghubungi seseorang. Tapi kecewa yang ada setelah mencari ponselnya tidak ada di dalam tas, laci dibuka satu persatu tapi tidak juga dijumpai apa yang dicari. Matanya tertuju pada secarik kertas yang ditindih dengan botol parfum di sudut meja.
“Ponsel kamu aku bawa, jangan coba-coba mencari bantuan bahkan bermimpi untuk lari dariku, di luar ada anak buahku, jam 8 sarapan pagimu akan sampai, dan jangan tak makan, ikuti semua kemauanku atau ibu kamu dan Arfa akan kena akibatnya, mandi dan cari baju di lemari, atau anak buahku di luar akan melakukan sesuatu yang lebih kejam dari aku semalam.” tangan Dinar gemetar ketika nama kedua orang yang di sayangi meniti di bibir. Airmata seketika gugur membasahi kedua pipinya mengingat kekejaman yang dimaksud Dirham.
‘Apa salahku padamu Dirham, kenapa kamu buat aku seperti ini’
Batin Dinar, dia semakin membenci Dirham, dia tidak akan memaafkan pria muda itu.
Di restoran Azhar
Edo dan Delia menunggu kedatangan Dinar, sudah siang tapi tidak biasanya Dinar belum datang.
“Lia, Dinar ada cerita apa ke kamu, sakit atau gimana, sudah siang tapi belum datang kerja.”
“Nggak ada ngomong apa-apa,” Delia yang baru saja menempelkan kertas order segera menyeluk saku apronnya, dibuka chat dari Dinar, nggak ada sama sekali kabar dari temannya itu.
“Nggak ada Do, terakhir chat juga kemarin pagi.”
“Apa dia sakit ya?”
Delia mengedihkan bahunya tanda tidak tahu. Dia kembali menyimpan ponselnya.
“Ya udah, kamu kerja dulu seperti biasa, biar staf lain menggantikan kerja Dinar.”
“Oke bos.” tanpa mereka sadari ada sepasang telinga sedang mendengar obrolan kedua pekerja restoran itu sambil tersenyum penuh misteri.
Di perumahan Elit, jam satu siang.
“Gadis itu buat masalah?”
“Tidak bos, bahkan sepertinya dia tidak menyentuh makanannya, baru saja kami antar makan siang tapi yang tadi pagi saja belum di sentuh.” mendengar itu Dirham mengeraskan rahangnya.
“Keras kepala, kamu berdua bisa makan siang, biar aku urus dia.” Dua bodyguard sewaan Dirham hanya mengangguk dan meninggalkan bos mereka. Ponsel diraihnya dia perlu menghubungi seseorang.
“Mia, kalau papa cari aku, sampaikan aku half day karena tidak enak badan, dan bilang sama beliau aku pulang ke apartemen tidak ke rumah.”
Rupanya dia menghubungi PA papanya di kantor. Setelah mendengan jawaban dari orang diseberang Dirham menutup panggilan.
Ceklek
Suara orang membuka pintu mengagetkan Dinar yang duduk memeluk lutut di sudut kamar besar itu, sisa-sisa airmata masih terlihat jelasa di kedua pipinya. Dirham tersenyum melihat Dinar memakai baju kemejanya yang kebesaran dan rok plisketnya kemarin, mungkin dia tidak mau ada orang melihat dia memakai pakaian ketat baby T tadi malam, karena Dirham membaritahu ada dua bodyguard di luar. Dinar ketakutan melihat Dirham melangkah ke arahnya, dia menggeser duduknya semakin rapat ke dinding pojok kamar. Dirham menarik lengan gadis itu, tapi Dinar mengeraskan tubuh.
“Berdiri atau aku akan siksa kamu lebih sakit lagi” Dinar menggeleng, air matanya kembali jatuh. Dia berdiri dengan lemah, berjalan tertatih mengikuti tarikan tangan Dirham. Dirham mendudukkan Dinar di sofa panjang di tepi jendela kamar.
“Hubungi nomor ini, dan katakan kamu pulang kampung karena ibumu sakit.”
Dirham menyerahkan ponsel Dinar, disana sudah ada nomor Zaky.
“Cepat!” suara Dirham meninggi karena Dinar hanya diam memandang ponsel di tangan kanannya. Dinar terlonjak kecil mendengar bentakan dari pemuda itu. Tangannya menggigil menerima ponselnya. ‘Akhirnya ponselku diberikan padaku’
“ Cepat hubungi dia, dan bilang seperti apa yang aku katakan tadi”
Dengan ragu Dinar menerima ponsel itu, nomor Zaky di hubungi. Panggilan tersambung.
“Mas Zaky, aku pulang ke kampung mendadak, ada telfon dari ibu kalau beliau sakit/ iya/ paling bebera... ”
Klik, ponsel sudah beralih tangan.
“Dasar pembangkang, aku bilang apa tadi? cuma memberitahu, panjang bener obrolan. Mas ya? wow, mesranya kamu panggil dia, cinta mati dengan dia hah?” Dirham melangkah dan mengambil sebuah polysterin berisi makan siang Dinar, dibukanya dan diletakkan di depan Dinar.
“Makan ! aku tidak mau merawat orang sakit di sini.”
“Aku tidak lapar, tidak mau makan.”
“Masih berani melawan?” Dirham mengeluarkan ponselnya, air mata Dinar jatuh melihat foto siapa yang ada di ponsel pria itu. Dirham tersenyum sinis.
“Ibu Kinanti bersama Arfa, lihatlah pagi ini mereka sudah keluar rumah bersama, satunya ke pasar dan satunya ke sekolah. Ini foto tadi jam 6.30.”
Dinar mengangkat wajah, menatap wajah Dirham.
“Tolong jangan sakiti mereka, aku akan penuhi perintahmu tapi ku mohon jangan sakiti mereka,” air mata Dinar deras di tengah permohonannya pada Dirham.
“Good, sekarang makan, nanti saat aku kembali pastikan makan siang mu ini habis.” Dirham menarik selimut kelantai, matanya tertancap pada seprei kusut didepannya. Tompokan warna merah darah disana. Bukti kalau dialah pria pertama Dinar. Mengingat malam panas bersama Dinar, membuat ada yang mengeras dibawah sana, masih terbayang di benak nya, betapa nikmat gadis itu.
‘Dia memang masih perawan’ senyum sinis terbit dibibir nya, ada rasa puas disana. ‘Kalau nanti kau menikah dengan pria bangsat itu, dia cuma dapat bekasku.’
Seprei itu di tarik lalu digulung bersama selimut yang tergeletak diatas lantai.
Dirham melirik kebelakang, Dinar makan dengan lahap. Senyumnya mengembang, ‘siapa sangka tanpa make up pun kamu tetap cantik, dan aroma alami tubuhmu sangat menggodaku.’
Dirham membawa keluar selimut dan seprei itu, Dinar menarik nafas lega, karena kini dia sendiri, berada satu kamar bersama Dirham membuatnya sesak nafas, seolah kekurangan udara. Dinar berlari menuju kepintu kamar, mencoba nasib siapa tahu bisa lari dari tempat ini. Tapi hampa, pintu terkunci dari luar.
Dengan langkah gontai dia kembali menuju sofa tempat dia duduk tadi, lalu mengambil botol air dan minum dengan rakusnya.
‘Ternyata dia tahu semua tentang ibu, tentang Arfa, kalau aku melawannya pasti mereka akan disakiti, tapi bagaimana bisa dia tahu tentang ibu, tentang rumah ku, siapa Dirham sebenarnya,’
Dinar berpikir keras. Tanpa disadari Dirham masuk ke dalam kamar, suara pintu ditutup membuatnya melihat ke arah pintu, Dirham sudah berdiri disana, membawa sesuatu.
Langkah Dirham diatur munuju ke arah sofa yang didudukinya. Dinar geser mundur saat Dirham duduk di sampingnya. Lalu
pemuda itu tiba-tiba merosot berlutut di lantai bawah kaki Dinar kakinya dipegang dengan kuat, Dinar kaget dengan tindakan tiba-tiba itu. Wajah Dinar pucat membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu padanya.
Dinar mengeraskan diri mencoba bertahan tidak mau mengalah pada Dirham lagi.
Tapi tangan kiri Dirham semakin kuat memegang paha kanannya, dan tangan kanannya masuk kedalam rok plisket gadis itu, dia tersenyum karena Dinar tidak memakai celana dalam, Dinar seperti terkena sengatan listrik ribuan volt ketika merasakan jari tangan pria itu sudah mengelus lembut di bibir inti tubuhnya dan jari telunjuk itu berhenti di celah bukaannya di bawah sana, ada sensasi dingin terasa dibawah sana, dia malu dengan prasangkanya tadi, rupanya Dirham mau mengobati lecet bekas perbuatannya tadi malam. Dirham menarik tangannya lalu berdiri dan meletakkan tube cream di dalam laci meja rias.
“Aku mau memakainya lagi, jangan pikir aku mengobatinya karena kasihan padamu, nonsense dengan perasaanmu.”
Dinar hanya diam tanpa kata, tindakan pria itu tidak bisa diduga. Ucapan galaknya selalu menyakitkan, lebih baik Dinar tidak mencari masalah dengannya, dia takut Dirham bisa menyakitinya, atau mungkin memutilasi tubuhnya. Gadis itu bergidik ngeri sambil menggeleng, asik dengan lamunannya dia tidak menyadari ada sepasang mata elang yang tajam menatapnya, mungkin juga siap menerkamnya sewaktu-waktu.
