Dia Adikku
Ponsel Dirham tiba-tiba berbunyi, dengan malas dia mengambil benda bermerk buah bekas kena gigit itu lalu didekatkan di telinganya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang pensil di atas kertas.
“Waalaikumussalam ma, sepertinya malam ini tidak bisa.”
(Kenapa? Tadi papa bilang kamu tidak enak badan, pulang ke sini saja, biar mama panggil dokter Rayyan) suara mamanya penuh rasa khawatir.
Dirham mengeluh kecil. Pasti PA papanya yang sudah memberi tahu mamanya.
“Am ada acara dengan teman-teman yang lain ma, besok kalau Am masih sakit baru pulang ke sana.”
(Oke, mama tunggu dan bilang saja mau makan apa biar mama masakkan)
“Bukannya mama sibuk di butik?”
(Butik gampang diurus, banyak staff bisa gantikan kerja mama disini)
“Iyes nyonya Nora yang cantik jelita, besok Am usahakan.”
(Am nggak kasihan sama mama)
“Bukan kasihan lagi ma, tapi banyak sayangnya, kan lebih enak tu, hehe.”
(Paling pinter kembangkan hati mama, ya udah. Take care Am).
“Sure ma, mama juga take care selalu ya.”
Panggilan berakhir setelah salam saling bersambut, Dirham memang sosok yang unik, di depan wanita tercintanya yaitu sang ibu, maka dia akan menjadi anak paling penurut bak kucing Parsi, tapi saat bersama orang yang dibenci maka kucing Parsi itu akan berubah jadi singa yang menakutkan siapa saja, baik itu musuh ataupun anak buahnya.
Pria itu keluar dari ruang kerjanya, sebuah kamar di tingkat atas bersebelahan dengan master bedroom yang sekarang sedang didiami Dinar, entah sedang apa gadis itu sekarang, sengaja sore ini dia membiarkan Dinar tenang tanpa tekanan.
Dirham menuruni tangga dan menghampiri dua anak buahnya yang sedang bermain catur di bawah.
“Jeff dan Steve, kalian belikan saya makanan untuk dinner dan setelah itu kalian bisa pulang, kembali lagi besok jam 6 pagi, sebelum saya pergi kerja.”
“Baik bos.” dua pria bertubuh kekar itu berdiri dan menerima selembar uang seratus ribuan lalu keluar lewat pintu utama. Dirham berfikir keras, Dinar akan di jaga dua pria itu, dia tidak ingin apa yang ada pada Dinar juga dilihat pria lain, dia masih menginginkan Dinar menjadi penghangat ranjangnya sebelum membuang gadis itu. Jeff sudah lama bekerja dengannya pasti bisa dipercayai. Sementara Steve baru tiga bulan, jadi masih perlu bukti kesetiaannya. Itu semua akan diserahkan pada Jeff, dia pasti tahu untuk mengatasinya.
*******
Sore itu Kinanti sedang mengeluarkan bahan kue di dapur rumah sederhananya, Arfa sudah selesai mandi untuk hilangkan capek dari pulang latihan basket.
“Ibuk hari ini mau buat kue apa ya?”
Arfa membantu ibunya mengambil telur dan gula yang agak jauh di atas meja dapur, Arfa memang anak yang cekatan dan mengerti, tanpa harus disuruh terlebih dahulu dia tahu harus melakukan apa, seperti kakaknya, Dinar. Pemuda itu mulai mencuci telur di baskom.
“Ibu mau coba buat bolu kering, Bu RT tadi bilang mau pesan Le” Kinanti memang tadi pagi bertemu istri pak RT di pasar, dan Bu RT meminta Kinanti untuk membuat bolu kering, ada acara pengajian di rumah pak RT tiga hari kedepan.
“Bu RT kesini buk?”
“Ora Le, tadi ketemu ibuk di pasar.” tangan Kinanti mulai mencampur beberapa bahan kedalam baskom. Dia begitu cekatan, dulu waktu sekolah dia paling suka mata pelajaran tata boga. Jadi semua ilmunya di masa muda bisa dipraktekkan sekarang.
“Le, Kakak mu ada telpon atau SMS Ndak?, Dua hari ini ibuk kepikiran mbak mu terus.”
“Ibuk kangen kak Dinar aja itu, dua hari lalu kakak masih kirim SMS kok buk, disana baik-baik saja dan pesan ibuk jangan terlalu capek.”
“Yowes kalau gitu, tolong ambilkan lap bersih Le,”
“Sebentar buk, ibuk nggak butuh uang buat beli bahan kue?”
Bu Kinanti mulai menghidupkan mixernya.
“Masih ada hasil jualan kemarin Le, kirimannya kakak mu biarkan dulu.”
“Nggihpun buk kalau gitu, ini lap nya tadi.” Arfa mengulurkan kain lap yang diminta ibunya tadi.
Begitulah keseharian Kinanti dan Arfa membuat kue sambil ngobrol berdua. Kadang membicarakan Dinar untuk mengusir rasa kangen. Kadang juga tentang kue buatan mereka, atau tentang teman-teman Arfa di sekolah.
******
Malam sudah melabuhkan tirainya. Dinar yang dari tadi cuma tiduran di dalam kamar besar itu merasa kebosanan, dua hari dikurung di rumah asing yang entah di wilayah kota apa, diapun tidak tahu pasti, sekalipun tidak pernah keluar kamar hanya boleh ke kamar mandi saja, itupun karena toilet ada di dalam kamar.
Dinar melangkah menuju kearah jendela, disingkapnya gorden kamar, gelap. Pasti hari sudah malam. Dinar cuma berdoa semoga dia tidak disakiti lagi oleh pria yang dibencinya sekarang. Keadaan tampak sepi, mungkin tidak ada orang didalam rumah. Gadis itu menuju kearah pintu, berharap ada keajaiban.
Dibukanya pintu bercat coklat itu tapi sayang pintu terkunci. Dinar duduk kembali di atas tempat tidur.
Ceklek.
Pintu dibuka, menampilkan sosok pria yang telah mengkhianati kepercayaannya. Dinar tidak mau melihat pada Dirham. Tapi hatinya berdebar penuh gemuruh, ada rasa takut menguasai dirinya. Dirham ternyata sangat menakutkan jika memasang wajah serius seperti itu, terlihat angkuh dan dingin, tidak seperti Dirham yang meminta menjadi temannya beberapa hari lalu.
“Makan malammu, jangan sampai aku bertindak kasar dan memaksamu.” Dirham meletakkan sebungkus makanan di atas meja. Matanya tajam menatap wajah Dinar. Gadis itu membuang muka tidak Sudi melihat wajah Dirham. Pria muda itu melangkah masuk kedalam kamar mandi. Tapi dia berbalik lagi, menatap Dinar sebentar.
“Aku keluar dari sana, kamu harus sudah selesai makan”
Diam tanpa jawaban. Masih tidak Sudi melihat ke arah Dirham.
“Aku ngomong sama kamu jalang, dengar tidak?” suara Dirham menggelegar memenuhi kamar itu, Dinar terlonjak kecil karena kaget.
Dia mengangguk lemah, tidak suka dibentak.
Dirham mendekati Dinar dengan langkah panjang, kesal dengan sikap acuh gadis itu.
Rahang Dinar dicengkeram dengan keras, gadis itu meringis kesakitan. Matanya terpejam dia tidak mau melihat orang yang sudah memaksanya.
“Look at me, don't you dare to ignore my word”
“Sakit, tolong lepaskan aku” Dinar meringis kesakitan.
“Aku akan lepas, kalau kamu dengarkan aku”
“Iya, aku dengar”
“Good, makan sebelum aku makan kamu. Dan ingat, jangan coba kabur, ada dua pria kekar di luar jadi jangan coba lari atau mereka akan menikmati tubuhmu.”
Dinar mengangguk laju, ngeri dengan ucapan pria muda di depannya, padahal di dalam atau di luar sama saja, bedanya dia kenal Dirham tapi tidak dengan dua pria di luar.
Dirham melepaskan cengkraman tangannya, rahang gadis itu merah, matanya berkaca-kaca. Ada setetes air jatuh di kedua pipinya. Dirham tersenyum puas. Dia kembali melangkah kedalam kamar mandi, dengan handuk di tangan.
Setelah pintu kamar mandi ditutup, Dinar segera membuka laci meja satu persatu dengan tergesa-gesa dan gugup, jaket Dirham juga menjadi sasarannya, semua saku diperiksa. Tidak menemui apa yang dicari, dia mencari kunci kamar yang ditempati sekarang. Dinar terduduk lemah di sofa panjang. Air matanya jatuh, dia menangis memeluk lututnya. Menyesali nasibnya kini. Kenapa malang sungguh kisahnya, tidak tahu pasti apa kesalahan yang dia perbuat dulu, kini derita yang dialami.
Air shower dari dalam kamar mandi sudah tidak kedengaran lagi, Dinar kembali duduk di atas sofa panjang dan menghadap makanan di atas meja. Teringat dengan ancaman dari Dirham tadi dia segera menghapus air matanya, kotak sterofoam di buka dan dengan perlahan dia mulai menyuap makanan dengan perlahan. Air mata yang masih ingin jatuh di kesat dengan lengan baju, Dia tidak mau lemah didepan pria brengsek itu, tidak mau berkeluh kesah didepan makanan, tidak baik, itu kata ibunya dulu.
‘Apa kabar ibu dan Arfa sekarang’ mengingat kedua orang kesayangannya juga dalam pengawasan pria itu, hati Dinar makin gelisah.
Pintu kamar mandi dibuka. Dinar tidak mau menatap sosok pria tinggi dan berotot itu, dia masih menunduk sambil mencoba menelan makanannya. Tenggorokan nya terasa berpasir sulit sekali menelan.
“Sudah selesai makan? Kenapa tidak dihabiskan?”
Suara pria yang amat di bencinya itu membuat Dinar terlonjak kecil.
“Jawab kalau aku bertanya, sial!”
Gadis itu masih diam dan memalingkan muka membuat Dirham dibakar amarah. Dirham membuka lemari besar di mana baju-bajunya berada, dia tidak ingin semakin emosi dengan sikap Dinar yang melawannya dengan berdiam diri.
Dirham memakai satu set kimono di sudut kamar berlindung di balik pintu lemari besar itu, tidak peduli kalau ada Dinar yang mati-matian membuang pandangan dari tadi, baju tidur yang kelihatan mahal itu menyempurnakan ketampanan pemuda itu. Haruman aroma sabun dari tubuh Dirham tercium oleh Dinar dan sempat membuat gadis itu terbuai seketika. Aura pria muda itu sangatlah dominan, berada di samping Dirham selalu membuat hati Dinar berdebar kencang, antara takut dan gelisah.
Dirham mendekati Dinar dengan langkah perlahan, Dinar ketakutan tapi dia segera berdiri tidak mau mengalah lagi pada pria berhati iblis itu. Dia menatap Dirham nanar.
“Apa lagi mau mu, bukankah apa yang kau mau kemarin sudah kau peroleh, lepaskan aku,”
“Tidak semudah itu.”
Wajah Dirham memerah, tangisan Fathia seakan mendayu-dayu di telinganya.
“Lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini, mereka pasti mencariku”
Dirham tertawa lirih, tawa penuh ejekan. Dia melipat kedua tangannya di depan dada.
“Hahaha, kau pikir sepenting itu dirimu? Kau hanya pelayan restoran rendahan, kamu tidak ada, mereka bisa cari ribuan pelayan restoran sepertimu lagi” mata Dinar berkaca-kaca, omongan Dirham ada benarnya tapi tidak perlulah diucapkan. Itu sangat menyakitkan hatinya.
“Dari pada kerja di restoran yang gaji tak seberapa itu, bagus tinggal disini, aku akan beri berapapun yang kau minta tapi syaratnya, puaskan aku.”
PLAKK
Kepala Dirham terteleng kesamping setelah menerima tamparan cukup keras dari Dinar.
“Aku bukan pelacur! Bajingan!” dipukulnya dada pria muda itu berulang kali.
Dirham merasakan pipinya panas seketika, tapi itu tidaklah berpengaruh banyak padanya,pukulan tangan lemah didadanya juga tidak berarti bagi dia, sementara Dinar mengepal tangannya menahan sakit karena menampar dengan penuh tenaga. Nafasnya memburu karena kelelahan.
“Kalau gitu, aku akan menjadikanmu sebagai jalangku, seperti mana kau sebut dia yang tidak bersalah dulu.”
“Tidak Dirham, kau pasti salah, apa maksudmu?” Dinar menjerit ketika
Dirham menyeret lengannya dan didorongnya gadis itu hingga terbaring di atas tempat tidur, Dinar berkeras melawan, dia hendak bangun tapi Dirham sudah mengunci gerakannya.
Gadis itu benar-benar membuatnya kesal dengan segala perlawanannya. Dirham menindih tubuh Dinar dengan tatapan buas.
“Fathia adikku, dia adikku.” kedua tangan Dirham menarik kemeja yang dipakai Dinar kearah berlawanan, kancing baju itu bertaburan dan kemeja terbuka menampilkan dada putih yang terlindungi oleh bra berwarna merah, sangat kontras dengan kulit putihnya dan menakjubkan.
Dinar mencoba melawan, dia menutup dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya memohon, matanya berkaca-kaca.
“Jangan lakukan lagi Dirham, kumohon.”
“Dia adikku, dia tidak bersalah tapi kalian menyakitinya, Zaky meninggalkannya saat dia hamil empat minggu.”
“Fathia? Jadi-- jadi Fathia menghilang karena-- mmmmmhhhh”
“Baru ingat kan?” Dirham berbisik sebelum menyatukan bibirnya dengan milik gadis dibawahnya. Dinar seperti terkena arus listrik dengan tegangan tinggi, ciuman dalam dan basah itu sangat menghanyutkan. Dirham seolah tidak mau mengakhiri ciuman panas mereka.
“Aaaaaah.” akhirnya keluar desahan dari bibir mungil yang berwarna merah natural itu, senyum sinis terukir di bibir Dirham. Napas gadis dibawahnya tercungap-cungap menambah kesan erotis yang sangat menggodanya. Dirham lalu melepas atasan kimono yang dipakainya, Dinar terbeliak kaget. Gadis itu menggeleng berusaha menolak kuasa pria itu atas dirinya.
"Kau akan menikmatinya, trust me." smirk di wajah pria berbadan atletis itu menyeramkan sekali.
"Tidak! Jangan," Dinar berulang kali memukul dada Dirham.
