Aku Benci Kamu
“Ingat baik-baik, aku tidak akan melapaskanmu, sampai aku puas membalas sakit hatiku, sampai aku puas bermain denganmu.”
Plakk!!
Dinar menampar pipi Dirham, berani sekali dia berbicara seenaknya, tangan Dinar gemetar, sekuat tenaga dia mempertahankan kewarasan dirinya, dia berusaha melawan hasrat yang semakin menggila kini munguasainya. Entah obat apa yang dimasukkan dalam minumannya tadi.
“Oh, mau main kasar? Aku suka, aku lebih suka kalau kamu mau main kasar.”
Rahang Dinar kembali dicengkram dengan kasar. Gadis itu dipaksa mendongak untuk menatap wajah Dirham.
Airmata jatuh di pipi, semakin deras,
“Apa maumu Dirham, tolong jangan lakukan ini padaku, apa maumu sebenarnya?”
“Kamu, itu yang aku mau”
“Bukan begini caranya, aku tidak bersalah. Bahkan aku tidak mengerti apa maksudmu." Dinar menaikkan nada bicaranya, muak karena dituduh melulu.
“Aku membantu seseorang menuntut balas, atas kematiannya!” Dinar kaget mendengar ucapan pria itu.
Dia menggeleng dengan linangan air mata.
“Kamu salah orang, aku tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan aku tidak pernah ada musuh.” Dirham mendengus marah.
“Jangan berlagak baik didepanku, gadis murahan! karena kamu dia harus mengakhiri hidupnya.” bentakan Dirham membuat Dinar menggigil ketakutan. Mata tajam itu bak bilah pedang yang siap menguliti tubuhnya.
“Lepaskan aku,” Dirham tertawa mendengar permohonan dari gadis didepannya. Dia semakin menggeser tubuhnya kedepan, menghilangkan jarak diantara mereka berdua. Obat perangsang itu sudah bekerja sangat baik atas tubuh gadis itu.
“Kamu mau apa, tolong bantu aku, tubuhku terasa panas.” Dinar menjauh, matanya meliar mencari sesuatu. Dia beranjak hendak ke kamar mandi. Sungguh dia sangat kacau sekarang ini, mungkin dengan mandi air dingin, panas di tubuhnya bisa hilang.
Dirham menangkap lengan Dinar dan dipegang dengan kuat.
“Mandi tidak akan menghilangkan panas tubuhmu,”
Dengan sekali tarik, cardigan yang dipakai Dinar terlepas dan dilempar ke lantai. Mata Dirham membulat melihat gadis didepannya hanya memakai atasan baby T, lengan putih itu begitu menggiurkan. Leher jenjang dan mulus seketika membuat Dirham susah payah menelan salivanya.
Dinar terbeliak kaget, masih berusaha mati-matian menahan hasratnya.
‘Sial, dia sangat menggairahkan’ Dirham sekali lagi menggeram, tubuh Dinar ditarik dan didorong supaya terbaring di tempat tidur empuk itu.
‘Sekali jalang tetap jalang’ umpatnya dalam hati. Dirham menarik dirinya dan duduk agak condong kedepan. Baju Baby T Dinar diangkat keatas dan dipakai mengikat kedua tangan gadis itu. Dinar ketakutan. Sepertinya kesadarannya mulai pulih.
“Kamu mau ngapain? tolong lepaskan aku!”
“Kita baru akan mulai kepermainan inti, melepaskanmu? nonsense !”
Dirham hanya mendengus kasar tidak perduli dengan permohonan gadis itu.
‘Apa yang dirasakan adikku harus kamu rasakan juga’ hanya itu yang bermain di kepalanya kini.
“Saat kalian menyakitinya, apa kalian pernah pikir bagaimana sedihnya dia?” mata Dirham merah, ada luka dan kepedihan disana.
“Kamu salah orang, kamu salah orang.” Dinar berusaha menyadarkan pemuda itu dengan lirih.
“Tidak ada yang salah, kalian yang salah!”
Tangan Dirham menarik betis bunting padi gadis itu, kulit mulusnya begitu menggoda. Siapa sangka gadis sederhana tanpa make up itu bisa menjaga kulitnya sedemikian rupa.
Hasrat Dirham kembali datang ketika tangannya menyentuh kulit putih halus bak permadani pilihan.
“Kau sangat memabukkan sayang.”
Perbuatan pria muda itu tidak mungkin dilupakan seumur hidupnya. 'Aku benci kamu brengsek, aku benci!' tangisan gadis itu bahkan tidak mampu mengusir jiwa iblis yang sudah menguasai Dirham. Dirham telah merenggut harta berharganya, mahkota seorang wanita yang seharusnya dijaga hanya untuk orang yang berhak nantinya.
Selesai menuntaskan permainannya Dirham menyarung pakaiannya dan keluar dari kamar itu, dibantingnya pintu dan dikunci dari luar lagi. Dia masuk menuju ke ruang kerjanya, membersihkan diri disana dan termenung memikirkan kejadian barusan, ada rasa puas dihatinya karena berhasil menyakiti orang yang menyebabkan kematian adiknya, 'Lihat Fa, kakak sudah membalaskan sakit hatimu, dan setelah ini giliran lelaki itu' Dirham menghubungi kedua bodyguard yang berada di tingkat bawah, meminta mereka agar tidak lengah, kuatir Dinar nekad dengan melompat jendela.
Sementara didalam kamar, Dinar yang tadi menggulung dirinya di dalam selimut tebal mengangkat kepalanya, melihat apakah dia hanya sendirian. Setelah memastikan tiada orang Dinar melangkah memunguti baju-bajunya yang bertaburan diatas lantai, lalu dia membersihkan dirinya didalam kamar mandi, dan kembali duduk di atas tempat tidur empuk itu tapi dia harus keluar sekarang juga, gadis itu berjalan kearah pintu dan mencoba membuka pintu.
Terkunci.
Dinar akhirnya mengerti kalau dia sudah berada dalam neraka ciptaan Dirham, pria yang disangkanya baik sebelum ini ternyata menyimpan niat jahat padanya. Air mata kembali mengalir ketika wajah orang-orang yang disayanginya silih berganti muncul diingatan. Ibu dan adiknya di desa nun jauh di sana. Dia menyesal dan merasa bersalah karena gagal memegang janji pada ibunya dulu, dia diberi izin kerja jauh dengan syarat akan menjaga diri dan kehormatannya. Tapi lihatlah kini, dia sudah salah melangkah. Dia sudah memberi kepercayaan pada orang yang salah.
'Maafkan aku Bu, ayah,' Dia teringat dengan Almarhum ayahnya yang selalu menjaga dan melindunginya, ayah yang tidak mungkin akan kembali lagi, dia teringat teman-teman kerjanya di restoran, pasti mereka bertanya-tanya tentang kepergiannya yang tiba-tiba. 'Apa kabar kamu Delia, mas Zaky juga Edo, apa kalian ingat aku' sekarang dia benar-benar merasa sendirian. Dinar merebahkan dirinya di tepat tidur berukuran king itu, sedu sedannya tertutup dengan tangannya.
Setelah sekian lama menangis dan memikirkan nasibnya, kantuk datang menyerang, akhirnya dia terlelap dengan sisa air mata di kedua pipinya.
Pintu terbuka dan Dirham masuk dengan langkah perlahan, dia mengintai gadis yang sedang tidur di atas tempat tidurnya, sisa-sisa airmata itu ditatap lekat, cantiknya wajah polos itu seperti tanpa dosa, begitu bersih tanpa make up tebal menutupi.
'Wow, nyaman juga kau tidur disana ya.' gumam pria muda itu, lalu dia turut merebah kan diri disamping Dinar, dia menatap wajah polos yang sedang Lena tertidur itu, dalam diam mengagumi kecantikannya. Wajahnya yang putih bersih tanpa satu jerawat pun menghiasi, alisnya tersusun rapi meskipun tanpa dibentuk, hidungnya mancung sederhana, pipinya sedikit cabi dan bibir yang sudah dirasakannya tadi berwarna merah natural, matanya semakin turun ke bawah, melihat leher jenjang dan putih itu membuatnya menelan saliva, hasratnya tiba-tiba datang lagi.
Aaaaargh, ini gila. Dirham tidak ingin terus hanyut dalam pesona gadis itu, dia mengingatkan dirinya sendiri tentang tujuannya mendekati Dinar selama ini, dan hasrat itu diusir dengan bayangan air mata adiknya beberapa bulan lalu. Dirham membalikkan tubuh membelakangi Dinar, membangun kembali kebencian pada gadis yang sekarang tengah berbagi tempat tidur dengannya. Sehingga tanpa terasa matanya ikut terpejam karena kantuk yang menguasai dirinya. Mereka tertidur di atas tempat tidur yang sama juga kebencian yang sama-sama tumbuh di hati keduanya.
