Bab 4 — Perempuan yang Selalu Ada di Sisi Arga
Tidak semua pertemuan kembali membawa kebahagiaan.
Kadang, pertemuan itu juga membawa sebuah pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani kita tanyakan.
Apakah aku masih memiliki tempat di dalam hidupmu?
Pertanyaan itulah yang terus mengganggu pikiran Aira sepanjang perjalanan pulang dari kantor.
Hari pertama yang seharusnya menjadi awal yang membahagiakan justru berakhir dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Ia berhasil mendapatkan pekerjaan impiannya.
Ia bertemu dengan rekan-rekan yang ramah.
Dan yang paling mengejutkan…
Ia kembali bertemu dengan Arga.
Bukan hanya sebagai kenangan masa lalu.
Tetapi sebagai seseorang yang akan ia lihat hampir setiap hari.
Seharusnya itu menjadi kabar baik.
Dulu, Aira pernah berandai-andai.
Jika suatu hari aku bertemu Mas Arga lagi, aku ingin memiliki lebih banyak waktu bersamanya.
Kini keinginannya terkabul.
Namun hidup memang senang bercanda.
Ketika ia akhirnya memiliki kesempatan untuk berada dekat dengan Arga, ia juga menyadari satu kenyataan yang menyakitkan.
Delapan tahun adalah waktu yang sangat lama.
Cukup lama untuk menghadirkan orang lain dalam kehidupan Arga.
---
Malam itu, Aira berdiri di balkon apartemen kecil yang baru ia sewa di Jakarta.
Tangannya memegang secangkir teh hangat.
Pemandangan lampu kota membentang di hadapannya.
Tetapi pikirannya masih tertinggal di koridor kantor.
Pada perempuan yang berdiri jauh di ujung lorong dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Perempuan yang terlihat mengenal Arga dengan sangat baik.
Perempuan yang membuat Aira bertanya-tanya.
Siapa dia?
Apakah dia pacarnya?
Pertanyaan itu membuat dadanya terasa berat.
Aira menggeleng pelan.
"Kenapa aku memikirkan ini?"
Ia tertawa kecil mengejek dirinya sendiri.
"Delapan tahun berlalu dan aku masih sama."
Masih mudah gelisah ketika menyangkut Arga.
Masih merasa takut mengetahui bahwa pria itu mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Padahal ia sendiri tidak pernah memiliki hak apa pun atas Arga.
Ia hanya seorang gadis yang menyukai sahabat kakaknya.
Seseorang yang menyimpan perasaan sendirian.
Tidak lebih.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Nama Dimas muncul di layar.
Aira mengangkat telepon itu.
"Hallo?"
"Bagaimana hari pertama kerjamu?"
Suara Dimas terdengar seperti biasa.
Santai dan sedikit menjengkelkan.
"Baik."
"Jawabanmu terlalu singkat. Biasanya kalau sesuatu terjadi, kamu akan berbicara selama satu jam tanpa berhenti."
Aira memutar mata.
"Mas menganggapku cerewet?"
"Akhirnya kamu sadar."
"Mas Dimas."
Dimas tertawa puas.
Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi hubungan mereka tidak pernah berubah.
Mereka tetap saling mengejek.
Namun Aira tahu, kakaknya adalah orang yang paling melindunginya.
"Jadi, ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dimas lagi.
Aira diam beberapa detik.
Ia ragu apakah harus mengatakan tentang Arga atau tidak.
Akan tetapi, sebelum ia sempat membuka mulut, Dimas sudah berbicara.
"Kamu bertemu Arga, ya?"
Aira langsung duduk tegak.
"Mas tahu?"
"Tentu."
"Kok tidak memberi tahuku?"
"Karena Arga melarang."
Aira terdiam.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Melarang?"
"Iya. Dia bilang ingin melihat ekspresimu ketika kalian bertemu."
Aira menggertakkan gigi.
"Dia benar-benar menyebalkan."
Dimas tertawa.
"Lucu juga mendengar kamu berkata begitu setelah bertahun-tahun."
"Apa maksudnya?"
"Tidak ada."
"Mas Dimas."
"Baik, baik. Aku tidak akan menggoda."
Aira menyipitkan mata.
Ia tidak percaya.
Dimas tidak mungkin melewatkan kesempatan menggoda dirinya.
Benar saja.
Dua detik kemudian, kakaknya berkata,
"Tapi aku senang kalian bertemu lagi."
Nada suara Dimas berubah menjadi lebih lembut.
"Ternyata dunia memang kecil."
Mendengar kalimat itu, Aira terdiam.
Kalimat yang sama.
Kalimat yang dulu diucapkan Arga saat pergi.
Entah kenapa, hatinya kembali terasa hangat.
---
Keesokan paginya, Aira datang lebih awal ke kantor.
Ia tidak ingin terlihat tidak profesional.
Terutama di depan Arga.
Bagaimanapun juga, sekarang Arga adalah atasannya.
Ia harus menjaga jarak.
Harus bersikap dewasa.
Tidak boleh lagi gugup hanya karena satu senyuman.
Tidak boleh.
Benar-benar tidak boleh.
Namun semua tekadnya hancur kurang dari lima menit setelah ia duduk di mejanya.
"Selamat pagi."
Suara itu terdengar dari belakang.
Aira hampir menjatuhkan cangkir kopinya.
Ia menoleh cepat.
Arga berdiri di sana dengan kemeja biru tua dan senyum yang sangat ia kenal.
"Mas Arga! Jangan muncul tiba-tiba."
"Jadi sekarang aku menakutkan?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
Aira membuka mulut.
Kemudian menutupnya lagi.
Karena ia tidak memiliki jawaban.
Arga tertawa kecil.
Masih sama.
Selalu senang membuatnya kehilangan kata-kata.
"Ikut aku."
Aira mengernyit.
"Ke mana?"
"Ruang kerja."
"Kenapa?"
"Takut?"
Aira langsung berdiri.
"Siapa yang takut?"
Arga tersenyum.
"Masih mudah terpancing."
Aira ingin membantah.
Tetapi tidak bisa.
Karena itu memang benar.
---
Begitu mereka sampai di ruang kerja Arga, Aira langsung menyadari sesuatu.
Ruangan itu sangat rapi.
Buku-buku arsitektur tersusun dengan baik.
Meja kerja tertata sempurna.
Dan di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah foto lama.
Foto saat Arga masih kuliah bersama beberapa temannya.
Dan di sana…
Ada Dimas.
Aira tidak menyadari bahwa ia tersenyum.
"Mas masih menyimpan foto itu?"
Arga menatap foto tersebut.
"Tentu."
"Sudah lama sekali."
"Beberapa hal tidak perlu dibuang hanya karena waktu berlalu."
Kalimat sederhana.
Namun entah kenapa, jantung Aira kembali berdebar.
Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, pintu ruangan terbuka.
Seorang perempuan masuk tanpa mengetuk.
Perempuan yang sama seperti kemarin.
Perempuan yang berdiri di koridor dan memperhatikan mereka.
Ia mengenakan pakaian formal berwarna krem dengan rambut panjang yang tertata rapi.
Tatapannya berhenti pada Aira.
Sedetik.
Dua detik.
Senyumnya muncul.
Namun tidak mencapai matanya.
"Maaf mengganggu."
Nada suaranya terdengar sopan.
Terlalu sopan.
"Arga, kamu ada rapat dengan klien dalam sepuluh menit."
Aira memperhatikan satu hal kecil.
Perempuan itu memanggilnya Arga.
Bukan Pak Arga.
Bukan Mas Arga.
Hanya Arga.
Sangat akrab.
Dan Arga tidak terlihat keberatan.
"Terima kasih, Nadia. Aku segera ke sana."
Nadia.
Jadi itu namanya.
Nadia tersenyum.
Kemudian ia menoleh kepada Aira.
"Kamu karyawan baru?"
Aira mengangguk.
"Iya."
"Aira Maheswari."
"Ah."
Senyum Nadia sedikit berubah.
"Jadi kamu Aira."
Tiga kata sederhana.
Namun cukup membuat suasana menjadi dingin.
Aira menangkap sesuatu dari cara Nadia mengatakannya.
Seolah-olah…
Ia sudah mengetahui namanya sejak lama.
Tetapi bagaimana mungkin?
Mereka belum pernah bertemu.
Sebelum Aira bisa bertanya, Nadia kembali tersenyum.
"Selamat bergabung di Aruna Design Studio."
Setelah itu, ia pergi meninggalkan ruangan.
Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Aira sempat melihat perubahan ekspresi wanita itu.
Senyumnya menghilang.
Tatapannya menjadi dingin.
Dan Aira tahu.
Instingnya tidak salah.
Nadia tidak menyukainya.
---
Setelah pintu tertutup, suasana menjadi hening.
Aira berusaha bersikap biasa.
"Dia siapa?"
Arga mengambil berkas di mejanya.
"Senior project manager di sini."
"Sudah lama bekerja dengan Mas?"
"Enam tahun."
Enam tahun.
Lebih lama dari Arga berada di Jakarta.
Lebih lama dari siapa pun yang pernah mengenal kehidupan profesionalnya.
Aira menunduk.
Ada rasa aneh yang muncul.
Rasa yang tidak ingin ia akui.
Cemburu.
Arga yang melihat perubahan wajahnya bertanya,
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu yakin?"
Aira tersenyum kecil.
"Mas Arga."
"Ya?"
"Delapan tahun itu waktu yang lama."
Arga menatapnya tanpa berkedip.
Seolah memahami maksud kalimat yang tidak selesai itu.
Namun sebelum ia sempat menjawab, ponselnya berdering.
Sebuah panggilan yang mengakhiri percakapan mereka.
Aira tidak tahu.
Bahwa pertanyaan yang tidak sempat ia ucapkan hari itu akan menjadi awal dari rahasia yang selama ini disimpan Arga.
Dan Nadia…
Perempuan yang selalu berada di sisi Arga selama enam tahun terakhir…
Ternyata menyimpan perasaan yang tidak pernah ia ungkapkan.
Sama seperti Aira dulu.
Tetapi berbeda dengan Aira.
Nadia tidak berniat menyerah.
—
